
Juna bergegas pulang, dinas malamnya sudah berakhir. Mengendarai motor sembari wajah yang lelah karena bekerja semalaman, meski ada tidur.
Ia bingung harus ke mana, pulang ia malas untuk bertemu semua orang yang begitu mengecewakannya. Ah, akhirnya ia berhenti di mini market tempatnya dulu kejadian yang menimpa Ahmad dan Ratna.
Ia memarkir motornya, masuk mengambil minuman dingin juga roti. Lalu duduk di kursi dengan sebelah kaki bertumpu di sebelahnya.
Minuman isotonik menjadi pilihannya pagi ini. Menyandarkan tubuh atletisnya sembari melihat aspal hitam yang dipenuhi kendaraan lalu lalang.
Jam sibuk para pekerja, kalau di lingkungan rumahnya, banyak bapak-bapak yang berjalan sembari membawa pacul lengkap dengan topi. Begitu juga dengan para ibu-ibu yang bekerja di perkebunan.
Juna melahap roti rasa srikaya tadi, hatinya begitu patah melihat Embun menikah. Ia menghela napas, meruntuhkan bahunya yang tetap itu.
"Salut sih sama Galang. Kenapa aku nggak bisa berani seperti dia, ya."
"Bisa kok, Dok," sambung suara wanita yang berada tepat di samping pipi Juna. Juna melengos, malas menanggapi gadis itu.
Ya, Febby. Siapa lagi kalau bukan dia. Juna masih belum membuka hati untuk siapa pun. Terlebih lagi pada Febby. Gadis itu tadi membungkukkan setengah badannya, kini sudah duduk di kursi sebelah Juna. Kini mereka hanya dibatasi oleh meja bulat.
Febby menopang dagu memandang Juna, sedangkan Juna menatap lurus ke depan. Muak berlama-lama dengan Febby, Juna mutusin untuk beranjak dari sana.
"Mau ke mana?" tanya Febby yang ikut bangkit.
"Ck, bukan urusan kamu!" Juna melangkah menuju motor, ia menyalakannya. Sebuah tangan sudah melingkar di pinggang Juna. Sontak ia melepaskan pegangan tangan perempuan itu.
"Turun!" perintah Juna.
"Enggak," ucapnya yang justru semakin memeluk tubuh Juna, bahkan sekarang ia menikmati aroma tubuh Juna. Parfum maskulin begitu menyegarkan hidung Febby. "Aku suka wangi parfum ini, Dok."
Juna menarik paksa tangan yang melingkar, ia turun dari motornya. Febby bersungut sebal, ia mengerucutkan bibirnya.
Ia menatap Juna dengan saksama, Juna mengusap wajahnya gusar seraya berkacak pinggang.
"Turun!" perintah Juna dengan mata yang sudah melotot. Febby justru anteng di atas sana. Juna yang geram akhirnya, menarik paksa Febby.
Setelah Febby turun, Juna dengan cepat melakukan motornya. Tidak peduli rengekan atau teriakan dari Febby. Juna hanya melihat dari kaca spion di sampingnya dengan menaikkan sudut bibir.
"Awas kamu, Jun. Kamu akan aku dapatkan, lihat aja. Aku akan buat kamu bucin parah!" ucap Febby menyemangati diri sendiri.
__ADS_1
Benar, kulkas lima pintu seperti Juna perlu tantangan untuk didapatkan. Sedangkan Juna, ia sama sekali tidak tertarik dengan Febby. Entahlah, mungkin kekosongan hatinya atas pernikahan Embun bisa membuatnya untuk mulai memikirkan masa depannya.
"Assalamualaikum," ucap Juna saat sudah tiba di rumahnya. Marni menyambut anak kesayangannya, ya sebab sekarang Embun sudah punya Galang. Juna mencium takzim tangan Marni.
Biasanya, saat pulang tidak melihat Embun, Juna langsung bertanya. Tapi tidak kali ini, ia masih merasa dongkol dengan peristiwa semalam.
"Kamu kok baru pulang, Jun?"
Juna menenteng helm menuju kamar, ia tidak menjawab pertanyaan Marni. Ia justru ngeloyor tanpa nyawa.
"Jun," panggil Marni yang membuatnya menoleh ke asal suara. "Kamu kenapa baru pulang?" tanya Marni lagi.
"Ya, Bu. Singgah bentar tadi di mini market."
"Beli apa? Ibu nggak ada lihat kamu bawa bungkusan."
"Beli kesabaran, Bu."
"Kamu ini, ditanya betul-betul kok jawabnya gitu." Marni terkekeh dengan ucapan Juna. Juna langsung saja masuk tanpa membalas ocehan Marni.
"Mbun, lagi, yuk."
"Ih, Galang. Ini aja masih terasa sakitnya," ucap Embun yang di bawah sana kedua paha dan goa itu masih amat sakit.
"Lang, kamu nggak pake pengaman, loh. Aku takut."
Galang mengeratkan pelukannya, ia masih lelah dengan sisa pertempuran semalam. Ia juga merasakan sakit yang sama pada lumba-lumbanya.
Embun menggeser tangan Galang yang masih memeluknya. Galang menopang kepala melihat Embun yang seperti akan turun.
"Mau ke mana, Bee?"
"Mau mandi, Lang. Ini udah siang," ucap Embun. Ia terlihat meringis, pasalnya itu benar-benar membuatnya susah bergerak.
Di sprei mereka tertinggal bercak darah, Embun langsung meminta Galang untuk turun. Menggulung sprei itu, dengan menyembunyikannya di belakang pinggang.
"Kenapa sih, Mbun?" Galang penasaran ia terus saja mencoba mengambil sprei itu. Embun juga baru sadar kalau semalam ia berdarah.
__ADS_1
"Lang, apaan sih."
"Siniin, nggak!"
"Nggak." Embun pikir ia mens, makanya ia begitu malu.
Tok Tok
"Embun, Galang," panggil Marni yang sudah berada di balik pintu sana. "Yuk, sarapan, Sayang."
Ceklek
Bukan, bukan Embun atau Galang yang membuka pintu kamar, melainkan Juna. Wajahnya sudah bersungut sebal, ia mencoba istirahat tapi suara berisik terus saja mengganggunya. Ya, kamar Embun dan Galang bersebelahan hanya dibatasi dengan kayu triplek tebal.
"Ngapain dibangunin, Bu. Kalau laper juga makan."
"Ibu nggak manggil kamu, kenapa kamu yang keluar!"
Juna menaikkan sudut bibirnya, ia masih menguap sesekali. Benar, jika sudah shif malam ia pasti akan kekurangan tidur. Balas dendamnya, ya siang jadi bangkai seharian.
"Ibu masak apa?" tanya Juna masih menggaruk kepala bagian belakangnya.
"Kamu nanyyaaaa?"
"Ish! Ibu! Sok anak zaman banget!" Juna ngeloyor berjalan menuju dapur. Sebenarnya dia masih kenyang makan roti tadi, tapi mendengar Marni yang memanggil Embun ia jadi ikutan keluar.
Juna duduk di meja makan, cumi goreng tepung sama sayur kangkung. Juna langsung mengambil piring, menyantap yang ada di hadapannya.
Benar, itu memang masakan kesukaan Juna. Jika Febby paham, ia bisa mengambil hati Juna lewat makanan yang ia suka. Siapa coba yang bisa menolak, jika dihidangkan makanan favorit. Pria kulkas lima pintu seperti Juna pun pasti akan menghangat.
Embun keluar dari kamar, Juna menoleh. Ia menaikkan satu alisnya. Ia memperhatikan Embun intens. Ia sangat tahu dengan apa yang terjadi pada keponakan kesayangannya itu. Cara jalan Embun saja, sudah berbeda. Seperti menahan sesuatu, ya Juna tahu apa itu.
Suara pintu kamar mandi terdengar, Embun menutup rapat bilik. Galang masih berdiri di ambang pintu. Ia bingung harus apa, Juna menatap kesal padanya.
"Ngapain di situ! Sini duduk!" perintahnya dengan gerakan kepala menunjuk kursi tepat di sebelahnya. Sebelah tangan Juna menekan pundak Galang.
"Kamu nggak pake pengaman kan tadi malam?" bisik Juna yang menyatukan bibirnya, Galang hanya meneguk salivanya berat. "Jawab!" bentak Juna yang membuat tubuh Galang tersentak.
__ADS_1