Embun Di Bawah Hujan

Embun Di Bawah Hujan
Om Juna, mana?


__ADS_3

"Perasaan! Ngga usah kepedean jadi orang." Keduanya saling menatap tajam. Hingga suara bel istirahat berbunyi. Semua orang berhamburan keluar. Tidak terkecuali Embun juga Naura.


"Mbun, kamu mau pesan apa?" tanya Naura saat mereka sudah tiba di kantin.


"Mie ayam aja enak kayaknya, ya."


"Oke." Naura memesan makanan, sedangkan Embun mencari tempat duduk yang tidak begitu ramai. Di meja dan kursi kayu panjang bercat biru muda itu, ia dihampiri oleh Siska.


Gadis berwajah jutek itu melipat tangan di depan dada sembari menyeringai menatap Embun.


"Apa?" tanya Embun mendongak melihat Siska dan teman-temannya yang berdiri di hadapannya.


"Udah merasa cantik, ya?"


"Ngomong apa, sih? Nggak jelas!" balas Embun malas dan langsung kembali fokus pada ponselnya. Siska menggerakkan kepalanya pelan seolah memberi isyarat pada temannya untuk mengganggu Embun.


Tangan Embun dipegang keduanya, ia memberontak. Salah satu siswi terlihat membawa es jeruk, ia melintasi kedua wanita itu. Siska mengambil gelas dan langsung menyiramkannya di kepala Embun.


Byur


Mulut Embun menganga tidak percaya atas perlakuan Siska. Setelah melakukan itu, Siska tersenyum puas dan pergi meninggalkan Embun.


"Siska!" bentak Naura yang membuat Siksa dan gengnya menoleh. Ia seperti akan melakukan hal yang sama. Namun, terlebih dulu Galang yang menyiram dari belakang.


"Argh!" teriak semua orang. Termasuk Siska dan gengnya. Embun menutup mulut dengan kedua tangannya. Ia tidak percaya Galang membalas perbuatan Siska.


Galang langsung menarik pergelangan tangan Embun. Meninggalkan kekacauan yang baru saja ia buat. Embun hanya bisa pasrah sembari mengusap bajunya yang basah.


Mereka sudah tiba di ruang ganti para pemain basket. Tempat di mana hanya ada mereka berdua di sana. Galang terlihat membuka loker untuk mengambil pakaian.


"Pakai ini, Bee." Embun membuka seragam yang tertera nama Galang dan ukurannya cukup besar jika ia kenakan. Embun mengangkatnya cukup tinggi di hadapan Galang.


"Ck! Pakai aja, Bee. Apa mau aku yang pakein?"


Embun langsung membola, tatapannya menaruh curiga pada Galang.


"Ya udah cepetan pake!" perintah Galang yang membuat Embun lagi-lagi pasrah. Saat ini dia memang nggak punya pilihan lain. Galang merogoh saku celananya, mengambil ponsel.


"Buat perhitungan sama Siska." Mendengar kata yang terlontar, Embun masih cengo. Ia takut kalau Galang akan berbuat yang tidak-tidak pada Siska.

__ADS_1


"Lang, kamu mau apain Siska?"


Galang masih menatap Embun tidak percaya. Raut wajahnya masih menunjukkan rasa iba pada gadis yang merundungnya.


"Kamu belum ganti baju, Bee? Bener-bener tunggu aku yang pakein?" Galang sengaja mengubah topik pembicaraan.


"Nggak!" jawab Embun cepat. "Kamu keluar dulu."


"Ngapain, Bee? Aku udah lihat semuanya." Galang terkekeh kecil melihat wajah Embun yang tampak lucu dan menggemaskan menurutnya.


"Lang, aku malu. Atau minimal kamu balik badan, gih!" Galang menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia tidak habis pikir dengan sikap Embun. Dengan terpaksa, ia memutar tubuhnya untuk membelakangi Embun.


Gadis bermata bulat itu tetap mengawasi pergerakan Galang. Meski Galang sudah sah menjadi suaminya, tapi rasa malu itu lebih bersarang di dadanya. Embun membuka kancing satu persatu.


Kini, ia hanya menampilkan kaos dalam berwarna hitam. Galang yang usil berbalik, Embun sontak mematung. Tangannya menyilang di depan dada. Galang melangkah mendekat.


"Lang, kamu mau ngapain?" tanya Embun yang mundur perlahan saat Galang melangkah maju. Jakunnya terlihat naik turun, gemuruh di dada sudah seperti roller coster.


"Lang, kita di sekolah sekarang," ucap Embun mengingatkan. Galang terus saja melangkah tanpa menghiraukan perkataan Embun.


Hap


Tangan Galang berhasil meraih pinggang Embun. Beberapa helai rambut Embun menutupi wajahnya karena menoleh kaget sebentar tadi. Galang merapikan anakan rambut yang menghalanginya menikmati keindahan wajah Embun.


Tubuh kedua remaja ini sudah menempel sempurna dan tak berjarak. Dapat Embun rasakan embusan napas dan suara detak jantung Galang yang berdegup dengan sangat kencang.


Sebelah tangan Galang membawa jemari Embun memegang dada sebelah kirinya.


"Kamu bisa rasain, Bee?" Embun mengangguk, pandangan keduanya bertemu. Manik mereka mencari arti dalam diam. Hingga Galang memulai semuanya duluan.


Cup


Galang mengecup bibir ranum Embun, gadis itu masih diam mematung. Galang memandang Embun dengan lekat. Tidak ada balasan atau penolakan dari Embun. Padahal, ini bukan kali pertama mereka melakukannya.


"Masih marah, Bee?" tanya Galang lembut. Embun menundukkan pandangannya. Ibu jari dan telunjuk Galang mengapit dagu Embun, ia mengangkatnya agar isti kecilnya ini dapat melihat wajah tampannya.


"Bee, kok nggak dijawab? Masih marah, hm?" tanya Galang lagi. Embun justru mengalungkan tangannya di leher Galang. Ia memeluk erat Galang.


"Hei, bukannya dijawab malah kayak gini, sih?" Embun masih menenggelamkan wajahnya di bahu Galang. Galang mengusap punggungnya lembut.

__ADS_1


"Bee," panggil Galang lagi. Embun melepaskan pelukannya.


"Maafin aku, Lang."


"It's ok. Sekarang pakai baju kamu, ya."


Embun mengangguk, ia menunduk dalam. Sebenarnya dia masih marah dengan Galang. Tapi melihat sikap Galang tadi membuat Embun merasa bersalah. Sampai sebegitunya Galang membelanya.


"Hei, kok melamun? Pakai bajunya, sebelum aku berubah pikiran," ancam Galang yang mencubit pelan hidung mancung Embun. Embun pun menurut akan perintah suaminya.


***


Pulang sekolah, Embun sudah berada di atas motor Galang. Ya, sesuai yang disepakati mereka tadi. Galang yang mengantar Embun, padahal lebih efisien jika Fandy yang membonceng Embun ke rumahnya.


"Lang, udah sampe sini aja." Galang yang keras kepala mana mau menuruti kemauan Embun begitu saja. Ia mengantar Embun hingga ke gazebo.


Fandy mensandartkan motornya di garasi rumahnya yang masih dapat dilihat oleh Embun juga Galang.


"Nanti pulang jam berapa?"


"Belum tahu, Lang. Ini juga baru sampe," jawab Embun yang sudah membuka sepatunya dan duduk di tepi gazebo.


"Pulang aku jemput ya, Bee." Hanya anggukan yang diberikan Embun pada Galang. Pria remaja itu memarkir motornya lalu mengecup kening Embun singkat. "Nanti telepon aku kalau udah selesai, ya."


"Ya."


Baru saja Galang akan keluar dengan mengendarai motornya, Fandy datang dengan membawa setangkai mawar warna putih dan menyerahkannya pada Embun.


"Mbun, ini untuk kamu," ucap Fandy tanpa dosa. Ia tidak tahu kalau Galang saat ini tengah siap menghunus jantungnya dan mencabik-cabik daging di tubuhnya itu. Namun, mengingat ia berada di lingkungan rumah Fandy membuat Galang tidak bisa berbuat apa-apa.


Ia melajukan motornya dengan kencang. Dia tidak mau kalah dengan sikap lemah lembut Fandy. Hatinya terbakar cemburu.


Fandy juga Embun melanjutkan pelajaran kemarin yang sempat tertunda. Febby datang dengan nampan yang berisi roti juga jus jeruk.


"Kalian lagi belajar apa?"


"Apa sih, Kak? Sana-sana!" usir Fandy yang tampak terganggu oleh kehadiran Febby.


"Oh, ya, Mbun. Om Juna kok udah lama nggak kelihatan?" tanya Febby dengan segala rasa pengen tahunya. Embun masih diam, ia tidak tahu harus berbuat apa.

__ADS_1


Sejujurnya Embun malu, karena sudah memberi kabar pada orang tua Febby. Namun, ia hanyalah gadis remaja yang belum tahu menahu soal perjalan hidup.


"Kak! Sana!" Fandy mendorong tubuh Febby dengan susah payah agar gadis itu mau meninggalkan mereka berdua. Dia memang sedang ingin berduaan saja dengan Embun.


__ADS_2