Embun Di Bawah Hujan

Embun Di Bawah Hujan
Sikap Aneh, Juna


__ADS_3

"Biarin aja, Jun. Kamu apa mau Bapak jodohin aja?" goda Roy pada putra semata wayangnya. Juna jelas bersungut mendengar ocehan Roy yang menurutnya tidak masuk akal.


"Udah kayak zaman Siti Nurbaya aja, Pak. Ini tuh udah zaman Siti Nurhaliza, masih aja nggak bisa move on dari Datuk Maringgi," timpal Juna yang tidak menanggapi ocehan Roy.


"Eh, apa ini. Kok bawa-bawa Siti Nurbaya sama Siti Nurhaliza," timpal Marni yang baru saja pulang dari pasar. Keranjang rotannya ia letakkan sebentar di dekat kompor lalu melangkah untuk bergabung dengan kedua lelaki yang memenuhi hari-harinya.


"Bapak itu, Bu. Masa' mau jodoh-jodohin aku, segala! Sekali Juna kedip mata, semua wanita datang kemari minta dilamar sama Juna," imbuhnya yang membanggakan diri. Roy dan Marni saling pandang meremehkan.


Marni menyapu lembut bahu Juna. "Ya udah, Ibu doain kamu cepet-cepet kedipin mata sama cewek-cewek, biar Ibu bisa pilih mantu yang baik untuk kamu."


Juna hanya mengangkat kedua alisnya, ia sadar betul jika direspons lebih maka akan menjalar ke mana-mana. Roy kembali melanjutkan aktivitasnya hingga selesai yang dibantu Juna.


Marni sibuk menata belanjaannya yang masih berantakan setelah ia keluarkan dari keranjang. Marni membeli lauk-pauk yang disukai Embun juga Juna.


Marni melamun sebentar, ia meratapi dirinya yang mengerjakan semuanya sendirian. Harusnya, jika Ratna masih hidup ia yang akan sibuk di dapur.


Matanya mengembun mengingat Ratna yang berpulang, meski sudah lama. Namun, masih sangat dirindukan oleh Marni.


"Mau masak apa, Bu?" tanya Juna yang tiba-tiba hadir di belakang Marni. Ia segera menyapu bulir bening yang sempat jatuh.


"Ibu masih bingung. Kamu maunya dimasakin apa?"


"Em, Ibu belanja apa aja?"


"Ini, ada ikan, sayur, kentang, juga buah."


"Ikannya di sambel aja, Bu. Daripada repot."


Marni pun menuruti apa yang dikatakan Juna. Juna ikut membantu di dapur. Entah itu menggoreng ikan atau mengupas bawang.


"Ibu senang kalau kamu di rumah, Jun," ucap Marni yang tengah membersihkan ikan di westafel.


"Kenapa, Bu?" tanya Juna yang sibuk mengupas bawang dengan mata yang sudah mulai berair, ia berkedip dan mendongak sebentar menahan air mata yang jatuh.


"Ya, Ibu jadi ada yang bantuin. Semenjak Kakakmu nggak ada, siapa lagi coba yang bantu Ibu." Marni menghela napas panjang.


"Embun kan ada, Bu."

__ADS_1


"Embun masih kecil, Jun. Mana bisa diajari ke dapur. Tapi, kadang Ibu ajari juga pelan-pelan."


Juna sibuk mengupas bawang sambil mengelap air matanya. Tidak menanggapi ocehan Marni. Hanya suara ingus yang terdengar, Marni sontak berbalik menatap Juna.


"Haha. Kamu ini, Jun. Bikin lucu aja," ucap Marni yang sudah tergelak tawa.


"Ibu, kok malah ngeledekin Juna."


"Udah, sana cuci mukamu. Biar Ibu yang ngelanjutin." Juna pun menurut dan pergi ke kamar mandi, Marni melanjutkan sisa kupasan Juna tadi.


Setelahnya, Juna pergi ke kamar. Marni telah selesai memasak. Suara seorang wanita terdengar di pintu. Juna sangat terusik akan hal itu.


Ia menerka-nerka suara yang membuat bising di rumahnya. Juna keluar dari kamar dan berdiri di ambang pintu. Marni yang tampak sibuk merapikan rambutnya.


"Waalaikumsalam," jawab Marni dengan langkah cepat. Ia melihat Juna yang bersedekap tangan di depan dada seraya menaikkan sebelah alisnya.


"Kamu ini, ada tamu bukannya dijawab salamnya malah bengong begitu," omel Marni yang kemudian menyambut Febby dengan senyuman ramah.


"Oh, ternyata Nak Febby. Ada apa?"


"Eh, dokter," sapanya yang membuat Marni sontak menoleh ke arah Juna. Juna hanya berdehem.


"Kalian saling kenal?" tanya Marni menunjuk keduanya. Juna hanya mengangkat alisnya. Febby justru tertunduk malu dan menyelipkan rambutnya di daun telinga.


"Sini, Jun. Kenalin, ini anak Pak Lurah."


Sebenarnya langkah Juna berat untuk mendekat pada Febby, ia malas berurusan dengan wanita. Apalagi sikap Febby tempo hari yang mengundang rumor di rumah sakit.


"Juna," ucap Juna yang mengulurkan tangannya.


"Febby," balasnya dengan menyambut lembut uluran tangan Juna.


"Udah selesaikan, kan?"


Febby mengangguk lemah, sebenarnya hatinya sedang berbunga-bunga. Sejak kejadian di rumah sakit tempo hari, ia tidak bisa berhenti memikirkan Juna. Setiap kali melihat Juna, ia selalu memegang dadanya yang berdegup kencang.


Juna menarik paksa tangannya yang tidak dilepaskan oleh Febby sejak tadi. Febby tersentak dan menggigit bibir bagian dalam.

__ADS_1


"Maaf," ucapnya yang masih sibuk menata hati.


"Kamu kenapa kasar begitu sih, Jun. Ibu nggak pernah ngajarin yang nggak sopan begitu," protes Marni yang hanya dibalas dengan pergi meninggalkan keduanya.


"Mau ke mana kamu, Jun?"


"Mau siap-siap, Bu."


"Kebetulan, sekalian anter Febby pulang, ya?" pinta Marni yang jelas penolakan besar-besar ditanggapi Juna.


"Enggak mau, Bu. Suruh aja dia pulang sendiri," ucap Juna yang mengambil handuk di kamarnya. Berjalan sambil bersiul menuju kamar mandi.


"Maaf, ya, Febby. Mungkin karena faktor pekerjaannya yang buat dia stres, jadi bersikap begitu. Kamu maklum, ya."


"Ya, Bu. Kalau gitu, saya permisi."


"Loh, nggak mau minum dulu?"


"Nggak usah, Bu. Udah ditungguin sama Mama."


Marni akhirnya pasrah, Febby pulang dengan perasaan yang sedikit sebal. Tapi, semua itu terbayar kala ia melihat wajah tampan sang pujaan hatinya.


"Syukur aja dia ganteng, coba kalau nggak udah aku tonjok itu mukanya. Belagu banget, mentang-mentang dokter," cibirnya seraya terus menendang batu kecil yang ia lewati.


Sementara Marni merasa malu akan sikap Juna. Juna kena omel habis-habisan. Dasar memang pria dingin, mau dikata-katain apapun nggak mempan padanya. Ia justru sibuk menjejali mulutnya dengan masakan Marni.


"Udah dong, Bu ngomelnya. Juna lagi menikmati masakan Ibu, ini," protes Juna yang kembali menyuapkan nasi ke mulutnya.


"Ibu malu, Jun. Kamu bersikap kurang ajar kaya tadi. Febby tuh salah apa sama kamu. Coba kamu lihat, lihat ini," tunjuk Marni yang membuka bungkusan dari Febby tadi. Juna hanya melirik sekilas.


Bahan sembako juga amplop putih ada di sana. Juna berdecap kesal.


"Bu, kita ini keluarga mampu. Nggak perlu yang begini-beginian. Juna sanggup memenuhi kebutuhan rumah ini, Bu."


"Benar, dan Ibu yakin kamu sangat mampu. Tapi, ini bentuk perhatian mereka terhadap Embun. Kamu lupa? Embun itu anak yatim piatu, Juna!"


Juna terdiam sebentar, ia tidak pernah terima jika Embun dianggap anak yatim oleh orang-orang. Namun, kenyataan tetaplah kenyataan yang tidak bisa ia ubah, meski mampu. Takdir yang Tuhan pilih untuk Embun, tidak bisa ia ubah.

__ADS_1


__ADS_2