
"Mbun, kamu...." Embun langsung meletakkan jari telunjuk di bibir Galang. Ia membungkam Galang yang terlihat kaget dengan sikap Embun yang tiba-tiba. Embun sebenarnya takut jika Galang memutuskan hubungannya.
"Lang, aku nggak mau dengar apa pun dari kamu. Please, aku minta maaf yang melukaimu tanpa sengaja."
Galang bukan marah pada Embun, hanya saja ia takut dengan Juna. Galang perlahan menurunkan jari telunjuk Embun. Menggenggamnya lembut dan tidak ingin melepaskannya.
"Aku takut sama Om Juna, Mbun."
"Ya, aku juga. Tapi, cuma Om Juna yang aku punya. Om Juna mengorbankan semuanya demi aku, Lang." Mereka berdua berdiri di balkon sambil menatap ke arah luar.
"Besok, aku akan datang sama keluarga aku. Aku takut Om Juna menolaknya, Embun."
"Kita berdoa aja, ya. Semoga semua dilancarkan, hati Om Juna juga bisa luluh."
Galang mengangguk, menarik lengkungan senyum. Kedua remaja yang tengah dimabuk cinta ini akan melewati setiap rintangan. Belum lagi Galang, jika sudah bertekad ia tidak akan pernah mundur.
Mata bulat Embun berhenti di satu titik kamar. Daun pintu dengan cat hitam itu tampak mengusik Embun. Ia penasaran dengan isinya. Juna yang mengerti dengan arah pandangan Embun langsung mengajaknya untuk mendekat.
"Kamu mau lihat apa yang ada di dalam?"
Embun mengangguk yakin, ia memang penasaran sejak tadi. Mereka melangkah masuk, Embun menatap kagum ruangan itu. Kamar dengan cat abu-abu, terdapat piano juga gitar listrik di sana.
"Ini punya kamu semua?"
"Ya, kebetulan hobiku sama Papa sama. Jadi, kalau Papa lagi bosan kerja, Papa ngajak aku ke sini untuk main salah satu alat musik ini."
Embun begitu kagum dengan pacarnya, ia berharap bisa mendengarkan Galang memainkan satu alat musik saja di sana.
Galang duduk di kursi kecil, ia mengambil gitar listrik dan memainkannya. Meski berisik, tapi Embun suka akan hal itu.
Embun terkesima dengan permainan Galang, ia memetik senar gitar dan menyanyikan lagu romantis untuk Embun.
Kedua pipi Embun sudah memerah sekarang, ia begitu malu. Sebab, dirinya diperlakukan dengan amat manis dan istimewa.
Perut Embun keroncongan, ia menjadi tengsin. Galang mendengar suara itu, lalu terkekeh sebentar. Embun berusaha mengalihkannya, tapi sikap Embun begitu kentara. Galang jadi menyadarinya kalau Embun tengah lapar.
"Ayo, kita makan," ajak Galang yang menakutkan jemarinya di jari Embun.
__ADS_1
Perasaan Embun campur aduk, malu sekali rasanya. Di saat tengah romantis justru diganggu oleh rasa lapar. Embun menggerutu dalam hati.
"Mbun, kamu duduk di sini, ya."
"Ya, makasih, Lang."
"Ma, Mama ikut makan bareng kami kan?"
"Enggak, Mama nunggu Papa aja, ya. Kalian makan berdua aja, Mama mau ke kamar dulu. Mbun makan yang banyak, ya."
"Ya, Tante. Makasih."
Mereka berdua menyantap hidangan yang ada di hadapannya. Embun mengunyah dengan malu-malu. Ini pertama kalinya bagi Embun menginjakkan kaki di rumah Galang.
"Setelah ini, kamu mau lihat kamarku, Mbun?'
"Hah? Apa?" Embun kaget bukan kepalang mendengar penuturan Galang barusan. Mereka remaja yang belum bisa mengontrol hawa nafsu, Embun ada sedikit rasa takut di hatinya.
"Kamu nggak penasaran sama kamar aku?"
"Emh, gimana, ya? Besok-besok aja, ya, Lang. Takut kemaleman," tolak Embun halus. Ia takut jika pulang terlalu lama, jam segini Juna pasti sudah berada di rumah.
Setengah jam lamanya setelah makan, Galang mengantar Embun pulang. Sebenarnya perasaan kedua masih tidak nyaman. Galang takut dengan Juna, sedangkan Embun takut melihat keduanya berseteru.
Sampai di rumah Marni, Juna langsung berkacak pinggang berdiri di ambang pintu. Embun menunduk dalam lalu melangkah masuk.
"Masih berani kamu antar Embun?"
"Aku nggak akan pernah mundur, Om!"
"Aku juga akan menjadi penghadang paling depan agar Embun nggak bisa sama kamu!"
Marni yang melihat keduanya semakin sengit, menyapu lembut bahu Juna. Ia sangat paham, jika Juna sudah berucap, itu pasti dilakukannya.
"Galang, kamu sebaiknya pulang, ya. Udah malam."
"Ya, Nek. Permisi, assalamualaikum."
__ADS_1
Galang pergi ke arah motornya, meninggalkan kediaman Embun. Gadis itu terus menekuk wajahnya, ia tidak terima dengan sikap Juna yang keras padanya.
"Om Juna, sebenarnya sayang nggak sih sama Embun?"
"Embun! Pertanyaan macam apa itu!" bentak Juna yang menatap tajam Embun. Embun sendiri tahu bagaimana Juna yang menyayanginya dengan sepenuh hati.
"Embun, kamu nggak boleh begitu sama Om Juna, Sayang." Marni mengusap pucuk kepala Embun untuk menenangkan hati cucunya. "Om Juna itu sayang sama kita semua."
"Tapi, Nenek lihat sendiri sikap Om Juna kayak gimana tadi sama Galang. Embun sayang Galang, Nek!"
"Terserah kamu, Mbun. Mulai sekarang, Om tidak akan ikut campur urusan kamu. Mau apa pun itu, jangan pernah lagi hubungi, Om. Om Juna kecewa sama kamu!" tandas Juna yang langsung masuk ke kamarnya dengan membanting pintu itu.
Juna mengembuskan napas kasar, ia meluapkan segala emosinya pada Embun. Meski hatinya miris, sebab Embun pengisi jiwanya saat ini.
Memang, Juna terlalu berlebihan menjaga Embun. Hingga gadis itu menjadi memberontak padanya. Roy masuk ke rumah entah dari mana, pria paruh baya itu memang hobi mencari angin. Hingga jarang mengetahui apa yang terjadi di rumah, setelah keadaan menjadi dingin dan mencekam baru ia sadar ada yang tidak beres di rumahnya.
"Ke mana semua orang, Bu? Kok sepi?" tanya yang menyapu bajunya.
"Bapak ini dari mana aja, sih? Nggak lihat rumah udah kayak kuburan seremnya?"
"Ya, makanya Bapak tanya. Pada ke mana, kok sepi."
"Biasa, Juna sama Embun bertengkar lagi."
Roy berjalan menuju meja makan, ia merasa lapar. Meminta Marni melayaninya, kalau sudah begini sikap Roy menjadi manja. Ia mengambil kesempatan untuk merayu sang istri.
"Bu, ambilin makan." Marni segera menuju rak piring untuk mengambil piring, kemudian meletakkannya di depan Roy. "Sekalian lauknya, Bu."
"Ck! Bapak ini, lauk di depan mata masih aja minta diambilin."
"Sekali-kali, Bu. Mumpung cuma kita berdua," ucapnya menggoda Marni seraya mencolek dagunya. Marni tersipu malu, persis Embun yang tengah merasakan manisnya cinta pertama.
"Malu, ih, Pak. Nanti kalau anak-anak lihat, gimana?"
Mereka berdua terkekeh sebentar, Marni juga ikutan genit dengan mencolek pinggan Roy. Keduanya seperti dimabuk kasmaran. Roy melahap makanan yang sudah disediakan Marni tadi. Kini, pembicaraan mereka berubah menjadi serius.
Marni mengatakan bagaimana keluarga Galang akan datang besok, juga saat tadi Ambar mengajak Embun pergi berbelanja.
__ADS_1
"Gimana besok ya, Pak. Ibu takut kalau Juna masih keras hati."