
Setelah mengantar Febby, Marni dan Roy pamit pulang. Marni mengembuskan napas kasar melihat sikap Juna. Juga, ada rasa was-was di hatinya.
"Pak, Ibu kok khawatir sama pacarnya Juna, ya." Marni perlahan membuka jilbabnya dan duduk di kursi ruang tamu.
"Khawatir kenapa, Bu? Ketemu aja belom."
"Ya, justru itu Ibu makin khawatir, Pak!" Marni malah pusing sendiri. Padahal dia yang sibuk untuk meminta Juna membawa kekasihnya. Meski Juna sendiri saat ini tengah bingung.
Juna mencoba menelepon Nia. Ya, hanya gadis berbodi goals itu yang bisa membantunya. Siapa lagi coba? Febby juga tahunya Nia pacarnya Juna.
"Halo, Nia. Kamu lagi sibuk, nggak?"
"Lumayan. Kenapa emang?" Juna mondar-mandir kayak setrikaan sembari bertolak pinggang di dekat kolam renang rumah Ratna.
"Gini, maaf nih sebelumnya. Aku bener-bener minta maaf. Sumpah, Nia aku nggak tahu kalau keadaan jadi makin rumit begini," katanya sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
Nia menghentikan aktivitasnya yang tengah menuliskan sesuatu di lembar kertas keadaan pasien. Ia mendengarkan dengan serius apa yang bakal Juna bicarakan.
"Ada apa, sih? Kok dari suara kamu kayaknya serius banget."
Juna mengatur napas, lalu membuangnya perlahan. "Ibuku mau jodohin aku sama cewek gila yang ngelamar aku di rumah sakit kemarin."
"What? Serius?" tanya Nia kaget hingga ia berdiri. Tangan menopang di meja, lalu mengusap wajah gusar. Hatinya tidak rela jika Juna menikah dengan Febby yang memang tidak kalah cantik darinya.
"Itu makanya! Aku butuh bantuan kamu, Ni."
"Oke. Apapun itu aku akan bantu kamu."
"Yakin? Apapun?" tanya Juna memastikan. Nia dengan sangat percaya dirinya mengatakan 'apapun.' Juna langsung saja to the point.
"Aku minta kamu temui orang tuaku. Bisa?"
"Bisa. Kapan?" tantang Nia yang penuh dengan semangat empat lima. Dia berharap bisa menjadi menantu Marni dan menikah dengan Juna adalah impiannya.
***
Nia mengenakan baju one shoulder dengan celana jeans juga tas sling bag duduk manis di atas motor Juna. Ia memakai sepatu kets warna putih.
Juna menggenggam jemari Nia, mereka melangkah yakin menuju ke dalam rumah. Nia memakai bando cantik warna putih tulang. Marni sudah berdiri menyambut kedatangan Juna dan Nia.
__ADS_1
Nia mencium takzim punggung tangan Marni juga Roy.
"Assalamualaikum, Tante, Om. Saya Nia."
"Waalaikumsalam. Masuk, masuk." Marni menyambut hangat kedatangan Nia, Juna masih saja memperhatikan sikap ibunya yang sangat tenang.
"Huh, syukur deh kalau ibu setuju aku sama Nia," desis Juna sambil mengelus dada sekilas. Baginya, menikah dengan Febby adalah musibah. Masih lebih baik dengan Nia, ia sudah mengenalnya lama.
"Assalamualaikum."
Juna juga Nia kompak menoleh ke arah pintu. Febby datang dengan wajah semringah. Ia memakai kemeja warna hitam digulung hingga siku, celana jeans sedikit sobek di bagian lutut. Rambut ia ikat satu kuncir kuda. Terlihat manis meski memakai pakaian santai.
"Bu?" Juna menunjuk ke arah Febby yang masih berdiri di ambang pintu sambil cengar-cengir. Lalu pandangannya mengarah pada Nia.
Keduanya saling melempar tanya dengan situasi sekarang. Pantas saja, Juna merasa ada yang tidak beres dengan sikap Marni sejak awal. Rupanya ini rencananya, Marni pasti ingin menilai kedua gadis itu.
"Kamu diam aja. Ibu yang pilih menantu Ibu."
"Nggak fair dong, Bu!" protes Juna yang memang sebelumnya belum ada pembicaraan soal ini.
"Nggak fair apa, Om?" Embun tiba-tiba berada di samping Juna. Juna sampai terjengkit kaget.
"Kelakuan nenek kamu, tuh. Pake acara seleksi segala!" gerutu Juna yang sudah menaikkan sudut bibir.
"Embul, anak kecil mending diam aja!"
"Kenapa, Sayang?" Galang ikut gabung setelah mengganti pakaiannya. Ia mengusap pucuk kepala Embun dan menghirup aroma rambutnya.
"Wangi banget, Sayang."
Juna memutar bola mata malas melihat kemesraan bocah tengil dan ingusan ini.
"Eh, bocah! Ngapain masih di sini? Mesra-mesraan di depan umum lagi!"
Galang masih diam enggan menanggapi ocehan Juna yang ia tahu saat ini sepertinya Juna sedang dilanda stres.
"Apa sih, Om. Galang itu suami aku!" bela Embun yang membuat Galang menyunggingkan senyuman.
"Apa?" Febby juga Nia sontak menatap Embun dan turun pandangan ke arah perut Embun yang masih rata.
__ADS_1
"Jun ...."
"Bukan. Bukan karena MBA. Emang nih bocah aja yang kegatelan!" sanggah Juna cepat sembari menunjuk ke arah Galang nyengir kuda.
Nia dan Febby kompak membulatkan mulutnya.
"Kak Febby, diam-diam aja, ya. Soalnya pihak sekolah nggak ada yang tahu soal ini," pinta Embun meletakkan jari telunjuk di depan bibir. Febby menaikkan ibu jarinya pertanda setuju.
"Ayo, langsung aja ke dapur," ajak Marni. Juna mengerutkan alisnya.
"Ke dapur ngapain, Bu?"
"Ini urusan perempuan. Sana, kamu temeni Bapak kamu aja di halaman belakang!" usir Marni yang kemudian ia memandu Febby juga Nia.
Embun ikut serta bersama mereka, sedangkan Galang dan Juna mau tidak mau harus menemani Roy.
"Ini ada beberapa bahan-bahan untuk membuat kue. Saya mau kalian buat kue apa aja, terserah. Embun, kamu juga bisa coba, ya. "
"Ya, Nek."
Galang dan Juna melewati mereka yang sudah siap di posisi masing-masing. Bentuk meja dapur yang leter L itu dipenuhi dengan ketiga wanita cantik di sana.
Juna menyempatkan diri mengusap lembut pucuk kepala Nia. Sengaja untuk mempertegas ikatan pura-pura mereka. Tak lupa ia menyentuh pipi Nia untuk memberi semangat.
"Kamu pasti bisa," ucapnya kemudian sembari mengusap-usap punggung Nia. Febby menyeringai, melotot ke arah Juna.
"Aku juga, dong. Bisa kali dikasih semangat juga!" goda Febby yang menyodorkan pipinya ke arah Juna. Juna memutar bola mata malas dan berlalu begitu saja.
"Ck! Dingin banget!" gerutu Febby yang masih bisa didengar oleh Nia. Ia tersenyum penuh kemenangan.
Meninggalkan para gadis yang masih berkutat di dapur, Juna juga Galang sudah berada di samping Roy. Meski mereka masih bisa melihat para wanita itu dari jendela yang berhadapan langsung dengan halaman belakang.
"Pak, itu Ibu ngapain sih." Juna sigap mengambil sisa potongan tanaman yang berserak di bawah. Galang tanpa disuruh membawa sapu juga serokan.
"Enggak tau. Ibumu itu suka aneh-aneh." Roy sibuk memotong tanaman.
"Perasaan pohonnya masih belum tinggi, Kek. Kok udah dipotong lagi?"
Roy berkedip cepat, Juna juga terdiam memperhatikan tanaman pagar yang ada di hadapannya. Benar yang dikatakan Galang.
__ADS_1
Krik Krik Krik
Hanya suara jangkrik garing di masing-masing pikiran yang terdengar. Roy mendadak bengong sambil pegang gunting tanaman.