Embun Di Bawah Hujan

Embun Di Bawah Hujan
Juna Pengen Sendiri


__ADS_3

Juna meninju otot lengan Galang pelan. Roy melemparkan gunting rumput asal dan masuk ke rumah. Ia sedikit membanting pintu, pasalnya bukan karena marah. Ia malu dengan ucapan Galang yang memang benar.


Marni membiarkan para gadis itu berkreasi, ia duduk santai di depan sofa ruang tamu sembari memakan roti kering. Ia berselonjor menopang kepala dengan sebelah tangannya.


"Loh? Ibu kok malah santai-santai di sini?" Roy terbengong melihat ke arah dapur juga Marni bergantian.


"Ya, mau apa, Pak?" Roy mendaratkan bokongnya di samping Marni.


"Pantau mereka atau paling nggak lihatin Embun, Bu."


"Mereka udah pada dewasa, Pak. Embun juga udah nikah, biarin. Biar dia tahu caranya di dapur."


Tercium bau menyengat, aromanya sangat tidak enak dan terkesan pahit. Suara benda terdengar jatuh di lantai. Begitu nyaring di telinga.


Marni juga Roy bergegas ke asal suara. Nia menjatuhkan loyang oven panas di lantai. Juna yang sigap langsung mengangkat tubuh Nia untuk duduk di atas meja dapur.


"Kamu nggak apa-apa?" Tubuh Nia bergetar, ia tampak ketakutan. Juna memeluknya, debaran jantung Nia tidak beraturan.


"Nggak apa-apa, Ni." Juna mengusap kepala bagian belakang Nia lembut. "Yang penting kamu baik-baik aja, kan?" tanya Juna setelah melepaskan pelukannya. Nia mengangguk pelan.


Febby bersungut sebal, dia meremas tangan kuat-kuat. Embun hanya jadi penonton di antara kisah cinta Juna. Marni dan Roy saling pandang.


"Ini masih mau dilanjutin, Bu?" tegas Juna. Marni menggelengkan kepalanya pelan, menaikkan sudut bibir.


"Lanjutkan. Kasihan Febby juga Embun yang udah kerja capek-capek. Kalau dia mau ikut lanjutin, silakan. Kalau nggak juga nggak masalah."


Enteng sekali Marni berkata, ia tidak benar-benar memprioritaskan keselamatan. Juna mengeraskan rahangnya. Atensinya beralih ke arah Nia.


"Gimana, Ni?"


"Aku nggak apa-apa, Jun. Aku bisa selesaikan ini. Selagi mereka pakai ovennya, aku akan membersihkan ini." Nia bergegas mencari sapu.


Juna menahan tangan Nia yang hendak mengumpulkan sisa kue buatannya.


"Jun, aku bisa. Keep calm, oke?" Juna membantu Nia karena ia bersikeras. Mereka berdua berjongkok bersama sembari mengutip kue yang tercecer di lantai.


"Dia nggak lolos jadi menantu Ibu!" ucap Marni yang sontak membuat harapan Nia yang setinggi langit jatuh masuk ke jurang. Matanya mulai mengembun saat Marni meninggalkan keduanya.


"Juna yang menikah, Bu. Juna juga yang pilih istri untuk Juna."

__ADS_1


Nia menyapu bahu Juna lembut. Ia sadar, sejak dirinya tiba di sana, Marni memang terlihat jelas tidak menyukainya. Menurutnya, kegiatan yang sedang mereka lakukan sekarang hanya untuk menjauhkan Juna darinya.


"Aku antar kamu pulang, ya. Di sini kondisinya udah nggak kondusif. Seleksi menantu, apanya! Dari awal juga nggak ada acara beginian."


Juna ngedumel sendiri, Febby juga Embun hanya jadi penonton. Meski dalam hati Febby merasa senang karena mendapat lampu hijau dari Marni. Tinggal meluluhkan hati Juna yang beku dan kaku itu.


"Aku masih bisa lanjutin ini, Jun. Aku nggak apa-apa."


"Nggak, Ni. Aku nggak mau kamu jadi perbandingan. Hidup bukan untuk dibanding-bandingkan. Setiap manusia memiliki standar hidup masing-masing. Jangan pernah ikutin kemauan orang lain yang hanya mengubahmu untuk memenuhi kepuasannya sendiri. Sekarang aku antar kamu pulang."


Juna menarik pergelangan tangan Nia. Nia sampai kewalahan mengikuti langkah jenjang Juna. Tidak lupa dia menyabet tasnya yang masih berada di sofa ruang tamu.


Semua mata memandang punggung Juna yang hilang perlahan.


"Udah, nggak apa-apa. Juna emang begitu. Kamu tetap yang jadi menantu Ibu, Feb."


Febby hanya diam mematung, hatinya sebenarnya telah luka. Namun, cintanya pada Juna mampu menutupi lukanya untuk sekarang.


"Kak," panggil Embun yang melihat Febby diam membisu bahkan mematung. Febby menoleh ke arah Embun.


"Aku ngelamun ya, Mbun?" Embun nyengir kuda ditanya begitu.


Dia tersenyum datar, Marni juga Roy hanya diam dengan suasana yang tampak canggung. Sedangkan Galang, dia sibuk menyapu melanjutkan yang Juna tinggalkan.


"Oh, ya, Nek. Sabtu ini kami ada camping dari sekolah. Embun boleh pergi kan, Nek?"


"Boleh. Asal Galang juga pergi."


Marni menatap Galang yang masih menyapu. Dia diam dan bingung harus berbuat apa.


"Kamu pergi kan, Lang?" tanya Embun yang semua orang menantikan jawaban Galang.


"Emh, ya."


"Berarti Fandy juga ikut, dong." Febby terlihat antusias, pasalnya adik kesayangannya itu terlihat menyukai Embun.


Galang memasang wajah masam, dia amat sangat cemburu jika sudah menyangkut Fandy. Galang selalu mengajak gelud Fandy.


Entah mengapa mereka berdua nggak bisa akur, padahal duduknya juga bersebelahan.

__ADS_1


***


Hari yang ditunggu tiba, Embun dan Galang berangkat bersama. Mereka masih satu rumah dengan Marni.


Pagi ini, Embun menyisir rambut basahnya. Ya, apalagi kalau bukan kelakuan Galang yang sibuk menggodanya malam tadi. Meski Embun menolak, Galang terus saja merengek. Alhasil, mau nggak mau dia harus melayaninya.


"Mbun, ayo dong. Masih lama?"


"Apa sih, Lang. Ini juga gara-gara kamu!" protes Embun yang mendelik melihat Galang dari kaca bening di depannya.


Galang duduk berselonjor di ranjang mereka. Embun masih sibuk dengan rambutnya. Mereka memakai pakaian bebas, mengingat acara camping yang akan diadakan di daerah pegunungan.


Embun memakai overall jeans dengan kaos putih sebagai dalemannya. Galang memakai celana jeans warna navy, kaos warna senada dengan Embun dilengkapi dengan kemeja kotak-kotak tanpa dikancing.


"Ayo, Lang," ajak Embun yang langsung bangkit dan kini berdiri di samping tempat tidur.


"Cium dulu," ucap Galang yang menyodorkan pipinya.


"Nggak, Lang."


Galang justru menarik pinggang Embun, hingga ia menindih Galang. Tatapan mereka bertemu, Galang mendaratkan kecupan tipis di bibir ranum Embun.


Setelahnya bangkit bersama dan berjalan lebih dulu.


"Kan? Liptint aku belepotan. Galang, ih." Embun mencak-mencak, ia kembali duduk di depan cermin merapikan lipstiknya.


Kepala Galang mengembul dari pintu, "Mbun, buru!"


"Sabar! Ini gara-gara kamu, tau nggak!" ucap Embun bersungut sebal lalu membawa tas sedang yang sudah diisi pakaiannya beberapa pasang.


Milik Galang sengaja dipisah, takut ketahuan kalau mereka sudah nikah. Mereka berjalan menuju motor Galang yang ada di halaman depan rumah.


Juna masih belum kelihatan di rumah Marni. Embun menghentikan langkahnya sebentar saat melintasi kamar Juna.


"Om, Embun kangen Om Juna."


"Embun, ayo. Om Juna masih pengen sendiri dulu kayaknya."


Mereka mencium punggung tangan Marni juga Roy takzim. Keduanya pamit dengan mengendarai motor kesayangan Galang.

__ADS_1


"Peluk, Mbun!" perintah Galang yang jelas saja Embun memutar bola mata malas. Meski mereka sudah suami istri, tapi tak banyak yang tahu.


__ADS_2