Embun Di Bawah Hujan

Embun Di Bawah Hujan
Rumor Juna Terendus di Desa


__ADS_3

Dengan berat hati juga langkah, Tian mengikuti Juna yang kini berjalan menuju ruangannya. Semua orang yang melihat keduanya masuk tampak berbisik, mungkin mereka membenarkan rumor tentang mereka berdua.


Juna sudah duduk di kursi kebesarannya, ia menarikan tinta di atas kertas putih lalu berisi amplop yang sudah direkatkan. Tian menunduk dan hanya melihat Juna sekilas, ia tidak berani.


"Kenapa nunduk terus? Uang kamu ada yang hilang?" tanya Juna yang menyeringai dingin. Tian sontak menggeleng. Juna melemparkan amplop itu di depannya.


Tian terbelalak dan memandang Juna dengan raut wajah bingung.


"A-apa ini, Dok?"


"Saya akan cuti selama lima hari. Itu surat hasil magang kamu dari saya."


Tian masih tidak percaya, masih ada beberapa hari lagi baginya untuk menunjukkan kinerja sebagai dokter koas di rumah sakit dan di bawah naungan Juna. Namun, ia tidak menyangka sudah mendapatkan hasilnya.


"Setelah ini, kamu akan pergi ke Dokter Clara, bukan?" Tian mengangguk ragu, matanya melotot tidak percaya.


"Tapi, Dok. Bukannya... ini terlalu cepat kasih nilai ke saya?"


"Kenapa? Nggak mau? Oke, sini," ucap Juna yang meminta kembali surat yang langsung ditarik oleh Tian dan ia sembunyikan dibalik jas dokternya. Juna tersenyum simpul, dia emang suka iseng. Apalagi, sekarang Embun sudah bukan lagi bulan-bulanannya.


"Ada lagi yang mau disampaikan, Dok?"


Juna tampak merapatkan bibir, berpikir apalagi yang harus ia sampaikan. Sedangkan, Tian tampak menanti jawab dari Juna.


"Nggak, kamu boleh pergi."


Tian mengangguk cepat dan segera keluar, masih di ambang pintu, Juna memanggilnya.


"Tian," ucapnya yang membuat Tian menoleh ke arahnya. "Mau jadi pacar saya?" tanyanya dengan wajah serius, Tian langsung bergidik, bahkan bulu kuduknya ikut menegang.


"Maaf, Dok. Saya normal," jawabnya yang membuat Juna tertawa terbahak-bahak. Wajah Tian sungguh menggelitik hatinya.


"Saya juga normal. Maksud saya, biar yang dengar semakin meyakinkan hubungan kita, haha," ucap Juna lagi yang semakin tertawa kencang.


"Ck! Dokter Juna memang aneh!" gerutu Tian yang berlalu keluar.

__ADS_1


"Tian, jangan kecewakan nilai yang saya kasih," ucap Juna setelah mengekor di belakang Tian. Tian mengangguk mantap, ia sudah berjanji pada diri sendiri untuk menjadi dokter terbaik seperti Juna.


Memang, sikap Juna yang iseng itu jarang terlihat oleh orang-orang di rumah sakit. Bahkan, Nia sendiri kadang masih sukar menerka sikap randomnya.


Nia yang mendengar tentang cutinya Juna langsung menyelonong masuk ke ruangan dokter tampan dan dingin itu. Wanita cantik ini langsung bersedekap tangan berdiri tepat di depan Juna.


Juna hanya meliriknya sekilas lalu menyandarkan punggungnya di kursi empuk berwarna hitam itu.


"Jelasin sama aku, Jun!"


"Ck!" Juna membuang wajahnya ke sembarang arah. Ini salah satu yang buat Juna enggan berkomitmen apa pun pada seorang gadis. Nia saja yang bukan siapa-siapa minta penjelasan.


"Juna!" bentak Nia yang tidak sabar dan langsung mendekati Juna. Ia menunduk memandang mata Juna. Jarak mereka sangat dekat, hingga terdengar embusan napas kasar mereka berdua.


Terutama Nia, dia berada di atas Juna. Jantungnya jelas saja berdebar hebat. Ingin sekali ia mengecup bibir ranum Juna yang berwarna peach itu.


Juna menghempaskan kasar kedua tangan Nia yang berada di kedua sisi jas dokternya. Nia terkesiap dan langsung bangkit membenarkan rambutnya.


"Jelasin sama aku, Jun," ucapnya lagi yang kembali merengek.


"Udah sana, Ni. Aku masih banyak kerjaan ini, sebelum akhirnya cuti. Sana, sana," usirnya dengan diikuti gerakan tangan meminta keluar. Nia mengerucutkan bibirnya lalu sedikit menghentakkan sepatu high heelsnya. Juna hanya menggeleng melihat sikap Nia. Dia hapal betul, gelagat sahabatnya sejak dulu.


Juna sibuk menarikan pena di secarik kertas yang entah kapan akan berakhir. Keputusannya yang meminta cuti mendadak membuatnya menjadi tidak bisa bersantai.


Ponselnya berdering, ia melihat di layar. Nama Embun tertera di sana. Entah ingin apa gadis itu, harusnya dia merepotkan suaminya kenapa harus Juna. Juna juga masih sedikit kesal dengan keponakannya yang bermata bulat itu.


"Om Juna nggak angkat teleponnya, Nek."


"Duh! Juna ini, setiap diperlukan pasti selalu sok sibuk," omel Marni yang tampak gelisah.


"Jadi, gimana Nek?"


"Ya, mau gimana Mbun. Om kamu itu memang ada kumat-kumatnya, kan?"


Embun mengangguk, membenarkan ucapan Marni. Galang hanya diam tidak mengerti dengan situasi yang sedang Marni dan Embun khawatirkan saat ini.

__ADS_1


"Nenek tumben minta telepon Om Juna saat jam kerjanya?"


"Gimana nggak, coba? Tadi waktu Nenek belanja, banyak ibu-ibu yang bilang kalau Om kamu itu LGBT. Jelas Nenek syok, Mbun," ucap Marni yang sudah sakit kepala memikirkannya, malu juga. Kabar di desa seperti ini akan langsung berembus bagai angin yang langsung menyebar ke seluruh umat yang ada di sana.


"Astaghfirullah, nggak mungkin itu, Nek."


"Itu, makanya. Nenek juga nggak percaya. Tapi, lihat? Om kamu nggak angkat telepon, kan?" Embun mengusap punggung Marni dan menyuruhnya untuk duduk, lalu mata Embun mengisyaratkan Galang untuk ke dapur mengambil air.


"Minum dulu, Nek." Marni menegak air yang dibawa Galang tadi hingga kandas. Benar-benar cemas ia memikirkan nasib putranya. Bukan tidak mungkin, melihat sekarang banyak perilaku yang menyimpang.


"Nenek harus ambil tindakan ini, Mbun!" geram Marni seraya mengepalkan tangannya. Ia sepertinya memang sudah punya ide brilian untuk Juna. Marni menarik lengkungan senyum yang tampak mengerikan di mata Embun.


"Nenek nggak apa-apa?" tanya Embun memastikan.


"Embun, telepon Kakek kamu. Bilang pulang sekarang!"


"Ya, Nek."


Embun melakukan apa yang diminta oleh Marni. Ia langsung menelepon Roy. Tidak butuh waktu lama untuk Roy tiba di rumah.


"Ada apa ini, Bu?"


"Pak, kita harus melamar anak Pak Lurah untuk Juna."


"Kenapa buru-buru, Bu?" Dari raut wajah Roy yang bingung, jelas Marni yakin jika suaminya itu belum dengar desas-desus mengenai putranya.


"Juna barusan telepon, katanya dia mau menikah, Pak," ucap Marni yang jelas saja bohong. Embun menangkap kode dari Marni yang hanya berkedip sebentar.


"Ya, Kek. Embun sama Nenek juga kaget," kata Embun yang ikut berbohong. Tapi, Galang langsung menarik Embun untuk menjauh sebentar dari mereka.


"Embun, kamu kok ikutan bohong," bisik Galang yang sepertinya tidak setuju dengan kedua wanita itu.


"Udah, Lang. Kamu calm down, ya. Ini biar aku sama Nenek yang atur."


Embun kembali bergabung dengan keduanya, sedangkan Galang hanya memilih diam. Memang, dia baru masuk di keluarga Embun, jadi tidak bisa terlalu masuk ke dalam.

__ADS_1


__ADS_2