
"Lang?" panggil Embun yang membuat Galang menoleh kepadanya. Ia tidak ingin gadis yang dicintainya dekat dengan siapapun. Apalagi anak baru itu.
Kembali Embun memanggil Galang, ia menggoyangkan tubuhnya. Galang pun tersentak dan langsung mengambil tangan Embun membawanya di atas pahanya.
"Mbun, besok aku yang akan bilang sama Pak Santo kalau kamu menolak, ya." Embun mengangguk patuh, mereka melanjutkan perjalanan entah ke mana.
Sepeda motor Galang berhenti di sebuah cafe. Pandangan hijau terpampang di mata mereka, gunung terlihat dengan jelas. Mereka duduk di atas bean bag masing-masing.
Galang mendekati Embun, lalu duduk di sebelahnya. Sebelah tangannya memeluk bahu Embun. Embun yang manja, langsung meletakkan kepalanya di dada Galang.
"Mbun, kalau kita nikah muda, menurut kamu gimana?"
"Lang, kamu mikirnya kejauhan."
"Aku takut kehilangan kamu, Mbun."
"Om Juna nggak akan ngizinin."
"Kamunya gimana?"
Embun sendiri tidak tahu harus menjawab apa. Pacaran pun baru sekali ini dengan Galang. Kalau tiba-tiba menikah, kelanjutan kuliahnya pasti akan terhalang.
"Aku nggak tahu, Lang." Embun dapat merasakan detakan jantung Galang yang kian kencang. Telinganya tepat di sisi daging itu sambil memilih baju Galang.
"Kamu sayang aku, kan?"
"Kamu kok tanyanya gitu?"
"Kalau sayang, cium dong." Embun menoleh ke kanan kiri, ia jelas malu. Juga, tidak ingin menjadi kebiasaan Galang untuk meminta harus dituruti. Embun berkilah dan terus menyelimur, enggan menuruti permintaan Galang.
Baginya, berasa di pelukan Galang begini saja sudah cukup. Embun merasa dilindungi oleh sosok Galang.
Dua gelas es yang mereka pesan tiba, mereka saling mencicipi minuman masing-masing lalu tertawa bahagia bersama.
Cuaca yang tadinya cerah, Tiba-tiba saja hujan mengguyur keduanya. Embun terpaku, ia tidak bisa bergerak. Napasnya terasa sangat sulit, bahkan ia sampai meremas dadanya.
Embun meringis seperti orang kesakitan, tubuhnya terasa kaku. Galang memeluknya erat, Embun berkedip lambat menatap Galang.
"Ada aku, Mbun. Aku akan lindungi kamu."
__ADS_1
"L-Lang, antar aku pulang," ucap Embun dengan terbata seiring dengan menyempitnya udara yang masuk ke rongga dada.
Galang lebih mengeratkan pelukannya, semakin membungkus tubuh Embun. Embun menangis, tidak tahan mengingat kenangan masa silam yang menghancurkan dunianya.
"L-Lang, tolong antar aku pulang," mohonnya yang semakin tidak kuat dengan tetesan hujan yang seperti menusuk kulitnya dengan jarum.
Ponsel Embun berdering, Juna meneleponnya. Embun yang sudah tidak kuasa terhadap traumanya mendadak pingsan.
Galang kebingungan, ia menggendong tubuh Embun untuk berteduh meski sudah terlambat. Pipi Embun dipukul pelan oleh Galang, ia meminta siapa pun yang ada di cafe itu untuk menolong.
Galang dikerumuni orang yang melihat mereka. Embun kehabisan napas karena jantung dan psikisnya tidak kuat akan traumanya.
Seorang wanita membelah kerumunan dan langsung mendekati Embun. Ia memompa jantung Embun hingga gadis itu berhasil terbatuk dan berhasil sadar.
Galang mengangkat ponsel Embun yang sejak tadi berdering. Embun langsung berada di pelukan Galang.
"Halo, Om Juna."
"Kenapa kamu yang angkat? Mana Embun?"
"Embun...."
"Halo, Om," jawab Embun dengan suara yang lemah.
"Embun, kamu nggak apa-apa?"
"Om Juna, Embun mau pulang."
"Kamu di mana? Embun apa terjadi sesuatu sama kamu? Bilang sama Om, Embun...!" teriak Juna dari seberang telepon. Juna secepat kilat berlari tanpa mendengar jawaban Embun terlebih dahulu.
Maksud hati, Galang ingin menyembuhkan trauma Embun. Namun, yang terjadi justru sebaliknya.
Juna meninggalkan rumah sakit, tanpa memberitahu siapa pun. Ia berlari tunggang langgang menuju tempat parkir.
"Dokter Juna, mau ke mana?" tanya salah satu perawat yang melihat Juna berlari sekencang-kencangnya.
Juna menyalakan motor dan langsung menancap gas. Meski tidak tahu di mana letak persisnya Embun berada, ia tidak peduli. Ia bisa menelepon Embun lagi nanti.
Saat hampir sampai di lingkungan rumah, Juna menelepon Embun. Ia menelepon Embun, lama sekali baru diangkat.
__ADS_1
"Embun, kamu di mana? Om jemput kamu sekarang, ya."
"Embun di cafe Bening," ucap Embun memelas. Saat begini, hanya Juna yang Embun butuhkan meski ada Galang di sampingnya.
Galang sebenarnya tidak terima dengan sikap Embun yang seolah menatapnya tidak ada. Namun, semua yang dialami Embun hari ini memang salahnya. Niat Galang memang baik, ingin Embun sembuh. Tapi, itu justru membuat Embun tersakiti.
"Mbun, kamu biar aku aja yang antar pulang, ya."
Embun menggeleng lemah, ia tidak ingin siapapun. Hanya ingin Juna, sejak kejadian memilukan itu, cuma Juna yang berhasil memenangkan Embun.
Juna tiba di tempat yang dimaksud Embun, ia langsung berlari pelan mencari keberadaan Embun. Wajahnya tampak marah menatap ke arah Galang dengan tajam. Belum lagi, tubuh Embun yang basah kuyup.
"Kamu apain Embun? Katakan!" bentak Juna yang semakin melotot meminta penjelasan dari Galang. Galang hanya diam, ia tidak berani mengatakan yang sebenarnya.
"Om, bawa Embun pulang," lirih Embun yang perlahan mata Juna menuju ke arah Embun. Juna memapah Embun menuju motornya. Tubuh Embun masih sangat lemah.
Juna menaikkan Embun ke atas motor, melingkarkan tangan Embun di pinggangnya. Ia takut Embun terjatuh sebelum tiba di rumah. Tidak peduli lagi mengenai jas putih yang ia kenakan akan kotor.
Hanya Embun yang menjadi prioritas Juna saat ini. Meninggalkan pekerjaannya begitu saja memang membuat Juna menjadi orang yang tidak bertanggungjawab. Namun, Embun tetaplah embun bagi Juna yang akan selalu menyejukkan hatinya meski siang telah datang.
Meski embun hanya datang waktu fajar lalu hilang diterpa sinar mentari yang mulai tinggi.
Sesampai di rumah, Galang menggendong Embun di punggungnya. Ia masuk setelah Marni menyambut mereka dengan panik.
"Letakkan di sini aja, Jun. Ibu segera ambil air hangat untuk Embun."
Juna memeriksa denyut nasi Embun yang tampak lemah. Ia mengambil stetoskop dari saku jasnya. Beruntung tidak terjadi apa-apa. Punggung tangan Juna letakkan di dahinya, ia mengernyit.
Suhu tubuh Embun naik beberapa derajat, Marni diminta Juna untuk membawakan handuk kecil untuk mengompres Embun.
Di ambang pintu, Galang tampak menyesali perbuatannya yang terkesan memaksakan Embun untuk sembuh. Ia berjalan perlahan lalu berlutut di samping Embun terbaring.
"Mbun, maafin aku, ya. Aku cuma mau kamu sembuh."
"Apa maksud kamu?" tanya Juna yang sudah menarik baju Galang. Tatapannya bagai elang yang akan menghabisi mangsanya hidup-hidup.
Tubuh Galang hingga terangkat berdiri, Juna melotot meminta penjelasan dari Galang. Pria bertubuh tinggi itu hanya menunduk dalam. Ia siap jika Juna menghajarnya habis-habisan demi menebus rasa bersalahnya pada wanita yang amat dicintainya.
"Om... gara-gara aku.... "
__ADS_1
"Kenapa?" bentak Juna yang sudah menampak urat di lehernya, suaranya begitu menggelegar.