Embun Di Bawah Hujan

Embun Di Bawah Hujan
Kecemburuan Galang


__ADS_3

Semua murid mengacuhkan perkataan Santo. Mereka lebih fokus kepada Fandy yang memang tengah bersitegang dengan Galang tadi.


Galang terlihat melangkah masuk ke kelas setelah mengetuk pintu. Ia masih duduk bersebelahan dengan Fandy. Mereka berdua saling mengabaikan.


Galang membuang wajah kasar, lalu menginjak kaki Fandy yang masih saja memandang Embun meski hanya punggung dan rambut lurusnya yang terlihat.


"Alihkan pandanganmu!" perintah Galang dengan suara berdesis dan tatapan yang kian nyalang. Bayu dan Azriel sampai merinding mendengar ucapan Galang.


Keduanya menoleh dan berpindah posisi duduk jadi menyamping. Bayu juga Azriel melirik mereka bergantian.


"Lang, kamu baik-baik aja?"


"Hem."


Galang tidak melepaskan pandangannya dari Fandy. Galang begitu posesif terhadap Embun. Mungkin, bunga yang baru bermekaran di dadanya, tidak ingin dibiarkan layu dan berlabuh pada Fandy.


"Kamu tahu, kalau hari ini aku akan seharian sama Embun," ucap Fandy menaikkan sudut bibir, terlihat jelas kalau ia sedang mengejek dan berusaha menjadi duri dalam hubungan mereka.


Galang mengepal tanga geram, jika saja tidak ada Santo mungkin Galang sudah melayangkan satu pukulan lagi di wajah tampannya.


Kedua cowok ganteng ini saling tatap yang mematikan. Tidak ada yang ingin mengalah. Galang yang biasanya bisa mengendalikan emosi, menjadi pencemburu jika menyangkut Embun.


Teng Teng Teng.


Suara bel pulang terdengar, Embun tengah bersiap-siap memasukkan buku ke dalam tas. Galang langsung bangkit, menarik pergelangan Embun. Tidak lupa membawa tasnya, ia melangkah menuju ruang basket.


"Lang, sakit," pekik Embun yang membuat Galang melemahkan cengkeramannya.


Embun sudah duduk di kursi kayu di depan lemari para pemain. Galang berlutut di depannya, menatap wajah Embun yang manis itu.


"Mbun, coba jelasin ke aku."


"Jelasin apa?" tanya Embun yang sudah bersungut. Hanya ada mereka berdua di ruangan bercahaya minum itu. Atap transparan yang memancarkan cahaya matahari siang, dibantu lampu kecil sebagai perlengkapan pencahayaan di ruangan kecil itu.


"Maksud Fandy tadi apa? Dia bilang kamu akan sama dia seharian."


Embun menarik napas panjang dan dalam, Galang terlihat memperhatikan dengan saksama bahasa tubuh Embun.

__ADS_1


"Bee," panggil Galang yang sengaja mengubah panggilan sayangnya. Embun terkejut, mata bulat Embun melebar.


"Maksud'a?"


"Mulai sekarang, aku panggil kamu Bee. Oke?" Perlahan Galang bangkit, mengecup pelipis Embun. Ia duduk di sampingnya, menggenggam erat tangan lembut Embun.


"Lang," panggil Embun yang sudah menoleh ke arahnya, Galang merapatkan bibirnya menatap Embun intens. "Aku diminta Pak Santo untuk bantuin Fandy belajar. Kemarin waktu kita jalan, aku pengen ngomong itu. Cuma nggak keburu, udah pingsan duluan."


Embun menunduk dalam, ia merasa bersalah dengan Galang atas kejadian kemarin. Embun yakin, harga diri Galang tercoret karena sikapnya.


"Nggak apa-apa, Bee. Besok-besok, kalau lagi sama aku, jangan telepon Om Juna, ya?"


Embun mengangkat wajahnya, kedua wajah itu sudah tidak berjarak. Getaran di dada keduanya semakin kencang, jika saja jantungnya keluar mungkin sudah terjadi gempa bumi.


Perlahan tangan Galang menelusup ke leher Embun, ia memiringkan kepalanya dan mendaratkan kecupan hangat di sana. Tidak ada perlawanan dari Embun, gadis itu justru ikut memejamkan matanya.


Tidak lama memang, hanya beberapa detik. Embun mengulum senyum setelah Galang melepaskan pagutannya. Galang menyapu lembut bibir bawah Embun yang basah karenanya.


"Setia sama aku, ya, Bee."


"Udah?" tanyanya yang menyipitkan mata menatap ke arah Galang. Sepertinya ia tahu apa yang sudah keduanya lakukan di dalam ruangan yanga hanya ada mereka berdua.


"Udah apa?" tantang Galang yang mencoba mengartikan tatapan Fandy. Pandangannya turun melihat bibir Embun yang sedikit membengkak karena Galang tadi.


"Aku tahu kalian ngapain!"


"Sok tahu! Aku bukan pria mesum, seperti yang otak kami pikirin. Awas aja kalau kamu macam-macam sama Embun!" ancam Juna yang menunjuk ke arah wajah Fandy. Fandy hanya mengusap bibirnya dengan lidah, ia sama sekali tidak gentar dengan ancaman Galang.


Baginya, selama janur kuning belum melengkung, Embun masih bebas memilih. Fandy juga tidak menutup kemungkinan akan mendapatkan Embun.


"Aku antar kamu ya, Bee."


"Ck!" Fandy membuang wajah gusar, tangan Embun yang sudah berada di genggaman Galang ditahan oleh Fandy. Melihat Fandy mencegahnya, Galang membuangnya kuat hingga tangan Fandy mengudara.


"Aku nggak ada urusan sama kamu! Tuntun jalan, aku akan antar Embun."


Fandy akhirnya pasrah, ia mengendarai motornya lebih dulu. Diikuti oleh Galang dan Embun. Fandy sesekali melirik ke arah motor di belakangnya, Embun duduk manis di boncengan Galang.

__ADS_1


Tangan Galang menggenggam jemari Embun, sesekali mengecup punggung tangan itu lembut. Embun memukul pundak Galang, ia teramat malu diperlakukan begitu di depan umum.


"Lang, malu ih."


"Malu kenapa sih, Bee? Entar malam aku udah sah jadi tunangan kamu."


"Ck! Masih tunangan, belum jadi istri."


"Oh, jadi kamu mau langsung jadi istri aku?"


Embun mengerucutkan bibir, ia sama sekali belum siap untuk menjadi istri bagi siapa pun. Namun, rasa yang muncul di dada keduanya seolah tak ingin berpisah. Benar, alangkah lebih baiknya jika mereka menikah saja.


Mengingat zaman sekarang, pergaulan remaja yang tidak bisa dikontrol. Belum lagi, jika terjebak dengan **** bebas dan obatan terlarang. Semua cita-cita anak bangsa akan hancur karenanya.


Di depan terlihat pertigaan, motor besar warna hitam dengan liat merah itu belok ke kiri. Arah berlawanan dengan rumah Embun.


"Belok kiri, Lang. Itu Fandy mengambil jalan yang ke kiri."


"Siap, Tuan Putri."


"Apaan sih, Lang."


Mereka berhenti di rumah yang cukup besar, pagar tinggi menjulang terlihat di sana. Belum lagi pepohonan yang menambah rimbun rumah itu.


Fandy membuka pagar, lalu melajukan kembali motornya. Ia menghentikannya di halaman rumah yang lumayan luas, di sudut kanan rumah itu terdapat gazebo.


Galang masuk terlebih dahulu, ia ingin memastikan pacarnya akan aman dan baik-baik saja. Bagaimanapun, itu tetap rumah seorang pria yang jelas-jelas menyukai Embun.


"Apaan?" tanya Fandy yang menatap curiga ke arah Galang. "Mau maling?" sambungnya lagi yang membuat Galang murka.


"Itu mulut dijaga, ya! Nggak sudi maling, duit di tabungan aku lebih dari cukup untuk beli harga diri kamu!" tandas Galang yang menunjuk-nunjuk tepat di wajah tampan Fandy. Fandy hanya melengos seraya berkacak pinggang.


"Udah sana pergi!" usirnya yang semakin membuat Galang naik pitam, ingin sekali ia menghajar mulut rongsokan Fandy itu.


"Beruntung ini rumah kamu. Aku tunggu kamu besok!" ancam Galang yang semakin tidak suka melihat Fandy.


"Bee, entar pulang aku jemput, ya. Kalau ada apa-apa, kabari aku," ucap Galang yang menyapu lembut bahu Embun. Ia menarik sedikit kepala Embun untuk lebih dekat dengannya, mengecupnya sekilas.

__ADS_1


__ADS_2