Embun Di Bawah Hujan

Embun Di Bawah Hujan
Mengenang Ahmad dan Ratna


__ADS_3

Galang pulang dengan buru-buru dan langsung mencari Ambar. Tidak peduli dengan kedua sahabatnya yang masih berada di halaman.


"Lang," panggil Bayu juga Azriel yang melihat Galang masuk. Mereka mengikuti langkah Galang.


"Mamaku mana?"


"Ada di dalam."


"Ma, Mama ...."


Ambar keluar dari kamar mandi lalu mengusapkan tangan di bajunya.


"Ada apa, Lang?"


"Ma, Galang mau melamar Embun."


"Apa?!" ucap mereka bertiga serentak. Mata Ambar membulat sempurna.


"Kamu gila, Lang?" tanya Azriel dengan kebingungannya.


"Ya, kita nih masih sekolah, Lang," timpal Bayu yang masih terkejut dengan kata-kata Galang.


Galang mengambil tangan Ambar, ia menatap Ambar penuh harap. Hanya Ambar yang mampu meluluhkan hati.Bram, ayahnya.


"Kamu yakin? Kamu masih enam belas tahun, Lang."


"Yakin, Ma."


"Nggak akan nyesel?"


"Nggak, Ma. Galang yakin. Mama kan tahu Galang."


"Oke, nanti malam kita bicarakan sama Papa kamu."


"Makasih, Ma."


Ambar berlalu menuju kamar. Ia tahu betul Galang seperti apa. Jika sudah memutuskan sesuatu, tidak akan pernah ragu dan goyah dengan itu. Apa pun halangannya, pasti ia tempuh.


Kini, ketiga lelaki yang bersahabat ini tengah duduk di ruang tamu. Bayu juga Azriel tidak habis pikir dengan Galang. Mereka berdua mondar-mandir seraya berkacak pinggang berjalan di depan Galang.


"Kamu gila, Lang?"


"Enggak, aku waras!"


"Kita tuh masih sekolah. Kamu udah mau nikah aja."


"Aku tuh cuma mau selalu jagain Embun, ngelindungi Embun, menjadi tempat sandaran bagi Embun saat dia nggak bisa ngomong sama orang lain, aku yang jadi tempat tujuannya cerita masalahnya dia."


"Udah kaya berjanji sama Tuhan, kamu."


"Bener, tuh kata si Azriel. Udah kayak berjanji di hadapan Tuhan tetangga sebelah, terus setelah melakukan perjanjian kalian ciuman. Ah, jadi pengen."


Galang menjitak kepala Bayu, sontak saja Bayu mengusap bekas pukulan Galang. Wajahnya ditekuk.


"Lang, kamu yakin?"


Galang mengangguk mantap. Kedua sahabatnya telah mengapit tubuh Galang. Galang menoleh ke arah keduanya bergantian.


"Minggir, sesak ini."


"Nggak ah, Lang."


"Minggir, nggak!?"


"Oke." Keduanya memberi jarak pada Galang. Mereka masih terus penasaran dengan hati dan pikiran sahabatnya. Pasalnya, Galang tidak pernah terlihat dengan gadis mana pun. Bahkan, dengan Embun saja ia menyembunyikannya.


"Lang, kita ini udah sahabatan dari orok nih, kan?"


"Ya, terus?" ucap Galang menyapu alis tebalnya dengan ibu jari, dahinya berkerut.


"Kamu tuh lagi cinta monyet ini, Lang. Entar jumpa cewek lain lagi, kamu pasti suka lagi."


"Siapa, bilang?"

__ADS_1


"Tuh, Bayu barusan bilang," tunjuk Azriel ke arah Bayu. Bayu menunjuk dirinya sendiri.


"Kalian tahu aku, kan? Apa pun keputusan yang aku ambil, aku nggak akan pernah berubah. Aku suka Embun itu udah lama."


"Serius, Lang?" tanya mereka kaget bukan kepalang. Galang mengangguk tegas. Bayu dan Azriel saling pandang dan mencoba menerka-nerka. Tadi perasaan Galang bilang nggak mungkin suka Embun, sekarang kenapa bisa berubah tiba-tiba, batin mereka berdua yang kini saling sikut.


"Aku suka Embun itu sejak TK."


"TK?" ucap mereka kompak.


"Ya. Gadis kecil yang tengah menangis di bawah hujan sambil memeluk boneka beruang di dadanya. Tepat di depannya tubuh kedua orangtuanya yang sudah bersimbah darah."


"Horor banget, sih, Lang. Jatuh cinta kok di waktu yang serem."


"Begitulah kisah cintaku dimulai. Hingga sekarang, rasa itu nggak pernah berubah."


"Cih, gaya kamu nggak pernah berubah?" cibir Bayu.


"Lah, emang. Buktinya, aku nggak pernah dekat sama cewek mana pun. Sampai akhirnya aku ada kesempatan untuk pacaran sama Embun."


"Jadi, kalian pacaran?" Lagi, mereka berdua kompak bertanya. Galang bangkit dan menarik kedua sahabatnya itu untuk pulang.


Jelas, Galang mengusir mereka. Galang sebenarnya tidak sengaja mengatakan kalau mereka pacaran, tapi karena keduanya sudah terlanjur mengetahui, Galang terpaksa menyuruh mereka pulang.


Setelah tiba di depan pintu, Galang langsung menguncinya. Bayu juga Azriel sibuk memanggil Galang. Galang amat sangat yakin, kalau keduanya pasti akan mencecarnya dengan pertanyaan macam-macam.


"Loh, Bayu sama Azriel mana?" tanya Ambar setelah mendengar mereka berdua merengek di depan pintu memanggil nama Galang.


"Tuh, di luar, Ma," tunjuk Galang ke arah daun pintu. Ambar hanya senyum dan menggeleng lemah. Galang pamit pada Ambar untuk masuk ke kamar.


Galang mengambil gitar dan duduk di tepi kasur. Tidak lupa memetiknya seraya bernyanyi.


Hidup adalah tentangmu


Selalu saja tentangmu,


Sepertinya kau adalah candu bagiku


Kau buat aku tak mampu


Menahan perasaanku atas dirimu


Pun aku merasakan getaranmu


Mencintaiku sepertiku mencintaimu


Sungguh kasmaran aku kepadamu


Lagu dari Jaz mewakili perasaannya saat ini. Lagu yang ia nyanyikan sebagai ungkapan hati. Puas mencurahkan kebahagiaannya, Galang mengambil ponsel. Ia menatap layar yang sudah terpasang foto Embun di sana.


Ia tersenyum sendiri melihat sang kekasih yang kini tengah menunduk menahan tangis di makam orangtuanya. Embun, Roy, juga Marni tampak mengusap bulir bening di ekor mata.


Terkecuali Juna yang masih kesal dengan lamaran yang datang pada Embun. Setelah berdoa, Juna menumpahkan uneg-unegnya.


"Kak, kalian tahu, kalau sekarang putri kesayangan kalian ini sudah ada yang melamar. Heh! Aku nggak habis pikir, gadis kecil yang selalu bermain di pangkuanku ini, sudah akan menikah."


"Juna," panggil Roy mengingatkan untuk Juna berhenti berkeluh kesah di makam.


"Ma, Pa, Embun kangen," ucap Embun yang sudah meneteskan air matanya. "Om Juna nggak kayak Papa," sambungnya lagi yang membuat Juna terperanjat dengan ucapan Embun.


"Om Juna egois, Pa. Om Juna nggak pentingin dirinya sendiri, Om Juna sibuk mementingkan Embun, Pa. Ma, bilangin ke Om Juna, kalau Embun nggak mau Om Juna begitu. Ya, Ma, Pa," ucap Embun lagi dengan mengusap batu nisan kedua orangtuanya.


Juna merasa terharu akan ucapan Embun. Kesal sesaat tadi mendadak hilang. Juna langsung memeluk Embun dari belakang, gadis itu menumpahkan tangisnya setelah mendekap erat Juna.


"Om, Embun sayang sama Om Juna."


"Ya, Om juga sayang Embun."


Marni dan Roy mengusap punggung lebar Juna. Suasana di makam sungguh menjadi sangat haru.


Mereka putuskan pulang, Juna masih yang berada di balik kemudi. Kini, mereka bukannya pulang justru pergi ke rumah Ahmad juga Ratna dulu.


Tempat di mana Embun sering bermain hujan. Perjalanan panjang akhirnya membawa mereka tiba di depan teralis besi berwarna hitam.

__ADS_1


"Om, ini rumah masih sama seperti dulu."


"Ya, Mbul. Om, Nenek sama Kakek sepakat menjaga rumah ini untuk tetap sama. Suatu hari nanti, saat kamu udah menikah dan ingin merenovasinya sesuai selera kamu, silakan. Untuk sekarang, kami mau kamu mengingat kenangan yang indah di rumah ini."


"Makasih, Om." Embun turun dengan penuh semangat. Ia menyusuri setiap sudut rumah yang memang tidak pernah berubah. Sama persis dengan tempat tinggal masa kecilnya dulu.


Embun menatap ke arah kolam renang. Di sana ia dulu berlari kecil dikejar Ahmad. Lalu digendong dan dilemparkan ke udara pelan. Tawa renyahnya dulu masih ia ingat hingga sekarang.


Mata bulat Embun mulai berkaca-kaca. Kini, pandangannya beralih ke arah sofa. Sofa tempat Ratna melipat pakaian dan menyimpan handuk saat dirinya mandi hujan tempo dulu.


Semua kenangan indah itu membekas di ingatan Embun hingga sekarang. Embun berjalan menuju kamar mandi. Ruangan kecil tempatnya dimandikan oleh Ahmad juga Ratna, semuanya indah kala itu.


"Embun." Suara Marni membuyarkan lamunannya. "Kamu nggak apa-apa, Sayang?"


"Nggak apa-apa, Nek. Rumah ini terlalu banyak kenangan indah," ucap Embun yang sudah mengambil bingkai foto mereka bertiga di lemari dekat TV.


"Ya, Sayang. Mama sama Papa kamu hidup dengan sangat bahagia. Apalagi, sejak kehadiran kamu. Hidup mereka sempurna."


Juna mengajak mereka bertiga untuk melangkah ke ruang makan. Di sana sudah tertata berbagai makanan. Sebelum datang ke rumah Embun, Juna sudah memberitahukan pada pengurus rumah untuk menyiapkan makanan.


Sepasang suami istri yang bertugas di sana tengah menyambut mereka di meja makan.


"Mbak Marni, Mas Roy, Juna. Silakan dinikmati, maaf cuma ini yang bisa kami hidangkan," ucap Sari yang sudah menata meja makan dengan menu ayam gulai, sayur rebusan dan sambal terasi.


"Nggak apa-apa, Sar. Ini juga udah alhamdulillah."


"Gimana? Kalian masih betah 'kan tinggal di sini?" tanya Roy yang sudah duduk di kursi meja makan.


"Ya pasti, Mas. Wong di sini enak. Insya Allah masih betah."


"Syukurlah. Ini Embun. Kalian pasti jarang ketemu dia, kan?"


"Pernah dulu, Ratna bawa gadis kecil dalam gendongannya. Kalau nggak salah masih tujuh bulan waktu itu."


"Ya."


Embun menyatukan kedua alis. Ia berpikir, itu sudah sangat lama. Lima belas tahun lalu berarti.


"Kamu jadi gadis yang cantik ya, Mbun," timpal Sari yang memandangi Embun intens.


"Makasih."


Mereka mulai mengambil piring masing-masing. Tidak lupa mengajak Sari juga Basuki untuk makan bersama. Mereka menganggap Sari juga Basuki keluarga, bukan penjaga rumah. Meski hanya saudara jauh dari Roy.


Tawa renyah menghiasi rumah yang biasanya sepi. Malam ini selesai makan, mereka akan pulang. Besok Embun masih harus sekolah.


Pukul delapan malam mereka meninggalkan rumah yang dibangun dengan penuh cinta dan berakhir juga dengan kebersamaan. Ya, sehidup semati Ahmad dan Ratna.


Kini, Roy yang mengambil alih kemudi. Ia paham, putra semata wayangnya itu pasti lelah. Sudah seharian bekerja, ditambah lagi perjalanan yang memang cukup panjang.


Juna menyandarkan diri di jok mobil. Roy menatap sekilas ke arah Juna.


"Kamu nggak ada kepikiran menikah, Jun?"


"Ck! Bapak, entar deh kalau udah kepikiran langsung aku nikahi. Nggak usah pake acara lamaran, langsung kawin, Pak."


"Bener, ya."


"Ya, Pak."


Embun yang sudah mulai mengantuk langsung menimpali ucapan Juna.


"Cewek yang semalam, nggak mau, Om?" tanyanya dengan suara parau. Juna sontak berbalik menatap Embun yang kembali menutup mata.


"Dasar Embul!" gerutu Juna yang sekarang perasaannya sudah campur aduk. Roy jelas penasaran dengan ucapan Embun barusan.


"Ada perempuan yang dekat sama kamu?"


"Nggak ada, Pak."


"Itu yang barusan Embun bilang?"


"Ucapan bocil kok didengerin sih, Pak," kilah Juna yang kini lidahnya menyapu bibir.

__ADS_1


"Ya siapa tahu aja bener!"


"Ck! Udah, ah, Pak. Aku mau tidur, besok harus dinas pagi."


__ADS_2