Embun Di Bawah Hujan

Embun Di Bawah Hujan
Langsung Menikah?


__ADS_3

Juna tidak ada jawaban, ia memilih masuk ke kamar. Bersiap-siap akan berangkat, tapi ia dinas malam. Itu artinya ia masuk jam sepuluh malam hingga tujuh pagi. Sedangkan sekarang, masih pukul empat sore.


Juna tidak tahu harus berbuat apa saat pikirannya suntuk begini. Juna kembali keluar kamar, mencoba mencari kesibukan. Ia melangkah menuju halaman belakang.


Seperti biasa, Roy tengah merapikan taman kebanggaannya. Marni entah ke mana, tidak terlihat sejak Juna masuk tadi.


Juna menyapu rumput yang sudah dipotong Roy. Roy sangat paham dengan anaknya, ia sudah menduga jika Juna tengah kusut pikirannya.


"Kamu kenapa lagi? Masih masalah Embun?"


Juna mengangkat kedua alisnya, ia berjongkok mengutip rumput di tanah untuk ia buang.


"Jun, kami tahu kamu sayang sama Embun. Begitu juga Bapak sama Ibu, tapi Embun berhak punya pilihan. Jika dia masih umur tiga tahun, kita sebagai orang tua yang memilihkan untuk dia. Tapi sekarang, Embun sudah lima belas tahun. Ajarkan dia untuk memilih dan bertanggung jawab atas pilihannya."


Juna hanya menarik napas dalam, benar memang yang dikatakan Roy. Embun sudah bisa menentukan pilihan. Roy menepuk pundak Juna, ia mengusapnya pelan.


"Sudah saatnya kamu memikirkan dirimu, Jun. Kami juga pengen timang cucu dari kamu."


"Ck! Bapak, Juna belum mau, Pak."


"Mau sampe kapan? Umur kamu itu udah kepala tiga. Anak Pak Lurah tuh, cantik. Gaet sana!" perintah Roy yang membuat Juna menaikkan bahunya geli.


"Kenapa kamu?"


"Nggak ada perempuan lain apa, Pak? Dia tuh udah Juna tolak lamarannya," ucap Juna santai sembari melakukan hal yang sama seperti tadi. Marni tiba-tiba datang memukul bahu Juna kuat.


Plak!


Pria tampan mirip Rezky Aditya ini langsung meringis dan menyapu bekas pukulan Marni.


"Sakit, Bu."


"Rasain! Kamu tahu, banyak pemuda di desa ini yang mau melamar Febby. Lah, kamu udah dilamar malah ditolak." Marni begitu sewot dengan ucapan Juna, Juna kini berdiri, masih meringis.


Pukulan Marni sampe mengeluarkan bunyi. Roy masih terbengong, ia dia tidak paham dengan situasinya. Roy hanya dengar kalau anak Pak Lurah baru kembali dari luar negeri.


"Ibu aja sana yang nikah sama Febby. Juna nggak mau!"

__ADS_1


Roy mendorong tubuh Juna hingga ia hampir terjungkal. Ia menatap heran orang tuanya.


"Kamu itu, ngomong kok nggak disaring. Ibu itu sudah punya Bapak."


"Masa' kamu kalah sama Embun," timpal Marni lagi yang memang sudah naik tensi akibat ulah Juna. Marni melengos masuk meninggalkan kedua pria itu.


Juna menarik sudut bibir yang kesal. Juna baru ingat, kalau malam ini Galang dan keluarganya akan datang. Pantas, sejak tadi Marni terlihat menghilang, pasti sedang menyiapkan segala sesuatunya.


Juna melenggang meninggalkan Roy sendirian yang masih menatap cengoh anak istrinya. Ia bergumam sendiri meluapkan kekesalannya.


"Anak sama Ibu sama aja! Pergi tanpa pamit!" omelnya yang didengar Marni.


"Ngomong apa, Pak?" sahut Marni dari dalam dengan kedua gigi yang sudah merapat.


"Ibu sama anak, sama-sama baik," kilah Roy yang tidak ingin menambah rumit keadaan.


Juna berdiri di samping Marni yang sibuk bertelepon dengan Ambar. Mereka memesan camilan dari salah seorang teman Ambar yang memang terkenal dengan kuenya yang aneka macam dan enak.


Juna mengikuti pergerakan Marni, meski tangan masih melekatkan benda pipih itu di daun telinga, Juna tetap saja ikuti.


"Bu, malam ini Embun tunangan?"


"Ibu nggak ngelarang?"


"Ngapain dilarang, wong Embunnya mau. Malahan, kalau bisa Embun nikah sekalian."


"Bu!" bentak Juna yang tidak terima dengan celotehan Marni barusan. "Embun itu masih kecil, Bu. Main nikah-nikah aja!"


"Malah bagus, kamu tahu pergaulan di luar sana seperti apa? Zina, dan **** bebas itu di mana-mana. Malahan, Ibu kurang setuju kalau Embun cuma tunangan."


"Ibu nggak masuk akal!" tandas Juna yang kembali ke kamar, ia uring-uringan dengan perkataan Marni barusan. Ia selalu ingat, jika ucapan itu doa dan... Juna takut itu beneran terjadi.


Juna mengusap wajah gusar, ia berkacak pinggang dan berjalan seperti setrikaan. Berkeluh kesah sendiri, penuh rasa khawatir di dadanya. Tak jarang ia menggaruk kepala bagian belakangnya yang tidak gatal, melainkan pusing.


Malam pun tiba, keluarga Galang sudah datang bertamu ke rumah mereka. Berpakaian rapi, Galang mengenakan kaos oblong lengkap dengan jas casual. Embun memakai dress yang dibelikan Ambar kemarin. Wajahnya tampak polos, hanya perona pipi ia taburkan sedikit saja agar tidak pucat.


Rambut ia gerai bergelombang, tampilan manis anak remaja. Marni dan Roy juga berpakaian lengkap dan rapi. Juna keluar dengan mengenakan celana pendek, juga kaos oversize, sangat tidak sopan memang. Sebab, dari awal ia tidak pernah menyetujui pertunangan ini.

__ADS_1


"Juna, pakaian apa yang kamu kenakan itu!" bentak Marni melotot ke arah Juna. Juna sangat santai dengan kedua tangan yang ia letakkan di saku celananya.


"Yang tunangan itu Embun, Bu. Bukan Juna."


"Nggak apa-apa, Bu. Kami nggak permasalahkan hal itu. Ini," ucap Ambar yang sudah membawa beberapa orang untuk membantu aneka kue yang sudah disepakati oleh keduanya.


Marni dengan senang hati menerimanya, juga menyambut kedatangan mereka dengan mengajak makan di ruang keluarga. Sebelum menyampaikan niat baiknya, keluarga Galang mencoba mengakrabkan diri.


"Pak Roy sekarang apa kegiatannya?"


"Ya, biasa, Pak. Cuma mondar-mandir ngukur jalan," jawab Roy yang tampak mengusap pahanya. Juna tampak berdecak kesal, ia tahu semua pembicaraan ini terlalu klise.


Galang terlihat curi-curi pandang ke arah Embun. Juna yang mengerti lirikan itu langsung menutup wajah Embun dengan duduk di depannya. Embun memutar bola mata, ia jengah dengan sikap Omnya itu.


"Kedatangan kami ke sini, sebenarnya ingin melamar Embun untuk Galang. Apakah diterima?"


"Terima kasih sudah mengatakan niat baiknya, sejujurnya keputusan itu ada di tangan Embun. Hanya saja, kalau untuk bertunangan saya takut," ucap Roy yang menggantung kalimatnya.


"Takut? Takut apa?" tanya Ambar yang tampak terkejut dengan penuturan Roy. Juna juga Galang terlihat menyatukan alisnya. Pembahasan ini tidak ada melibatkan Juna.


"Anda tahu sendiri, pergaulan anak muda sekarang. Saya takut, mereka kebablasan."


"Lalu bagaimana? Apa kami ditolak?"


"Tidak, hanya saja ... bagaimana kalau mereka menikah."


"Menikah?" tanya semua orang yang menatap Roy juga Marni bergantian dan bingung.


"Tapi mereka masih sekolah," ucap Bram ayahnya Galang.


"Benar, menikah secara agama saja."


"Bu! Itu akan merugikan kita, pihak perempuan!" protes Juna yang tidak terima dengan usulan Marni juga Roy.


"Kita bisa menikahkan mereka kembali setelah lulus. Mereka tetap bisa melanjutkan kuliah dan menggapai cita-cita. Nggak ada yang beda," jelas Marni.


"Kalau Embun punya anak nanti gimana, Bu? Mereka masih harus sekolah."

__ADS_1


"Ibu yakin, mereka sudah dewasa. Jadi, bisa berpikir cara untuk mencegahnya."


__ADS_2