
"Lah, aku kan pacar kamu," balas Galang tertawa renyah. "Awas aja kalau selingkuh!"
"Idih, emang mau diapain?"
"Ada, deh. Udah dulu, Pacar. Tidur, gih. Udah malam. Sampe ketemu besok di sekolah, ya." Galang hendak mematikan panggilannya, tapi suara Embun menahannya.
"Emmh ... Lang, bisa nggak kalau di sekolah jangan ada yang tahu," pinta Embun dengan mimik wajah ragu. Takut jika Galang akan menolak permintaannya.
"Ya. Kita backstreet dari anak-anak, ya. Aku juga nggak mau kalau Azriel sama Bayu tahu. Tahu sendiri kan mereka, gimana."
"Ya, oke bye."
"Bye, Pacar."
Embun sontak mengulum senyum. Ini pertama kalinya dia pacaran. Ah, apa yang akan Juna lakuin kalau dia sampe tahu Embun pacaran. Bisa-bisa Galang dijadikan perkedel.
Juna overprotective banget sama Embun. Entah kenapa dia begitu, mungkin karena hanya dia yang Embun punya. Hingga dia lupa untuk mengurus dirinya sendiri.
Juna tengah menatap langit-langit kamarnya dengan meletakkan kedua tangan di belakang kepala. Ia teringat ucapan Embun tadi.
Tapi sekali lagi dia tegaskan dalam hatinya, belum ingin memiliki tambatan hati untuk saat ini. Rasa kantuk mulai menyerang Juna, ia pun terlelap.
Pagi-pagi buta Juna sudah berangkat ke rumah sakit. Jam masuk pukul tujuh, saat shift pagi berlangsung. Embun saja masih mandi, Juna sudah harus berangkat.
Juna mengendarai motornya cepat agar tidak terlambat. Embun mencari-cari keberadaan Juna yang tidak biasanya menghilang.
"Om Juna ke mana, Nek?" Marni yang sibuk menyiapkan sarapan pun ikut sebal oleh Juna.
"Om kamu tuh, buru-buru banget. Mana nggak sempat sarapan, lagi."
"Ya, mungkin waktunya mepet, Nek." Embun melirik jam yang masih pukul enam. Roy ikut bergabung dengan mereka berdua di meja makan dengan mngenakan sarung juga kaos putih oblong.
"Kamu nanti biar Kakek aja yang antar, ya."
"Ya, Kek. Mungkin Juna buru-buru biar bisa pulang cepat. Kita 'kan udah janji mau ziarah ke makam Ratna juga Ahmad."
Marni menghela napas sebentar, benar yang dikatakan Roy. Itu sebabnya Juna bergegas ke rah sakit.
Embun berhias secantik mungkin, karena hari ini ia sudah punya seseorang yang ingin ia temui. Siapa lagi kalau bukan Galang, pacar yang belum dijawab oleh Embun soal perasaannya. Namun, bocah lelaki itu tetap yakin dengan hati Embun.
Tidak salah, Embun memang menyukai Galang. Bando berwarna merah muda sudah bertengger di kepalanya. Tidak lupa menyemprotkan parfum di sekitar leher juga di pergelangan tangan.
Tas ransel sudah berada di punggungnya, ia pun segera sarapan sembari menantika Roy yang masih membersihkan diri.
Sepiring nasi goreng sudah di hadapannya.
"Nek, boleh nggak kalau aku bawa bekal aja."
Marni menatap intens Embun, sebab tidak biasanya cucu kesayangannya itu membawa bekal. Biasanya Embun selalu menghabiskan sarapan di hadapannya.
"Kok tumben?"
"Lagi, pengen aja, Nek. Boleh kan?"
"Boleh dong, Sayang. Sebentar, ya."
Marni mengambil wadah untuk mengisi nasi goreng juga telur di sana. Embun tersenyum kegirangan. Ia sengaja membawa bekal untuk sarapan bareng Galang. Ia ingin berduaan dengan pujaan hatinya, juga untuk mempersingkat waktu.
Embun jelas ingin berlama-lama dengan Galang meski hanya di dalam lingkungan sekolah. Roy sudah siap dan menuju mobil yang sudah dipanaskan olehnya tadi.
"Udah, Mbun?"
"Udah, Kek."
"Ada yang ketinggalan lagi nggak?" tanya Marni memastikan.
"Kayaknya nggak ada deh, Nek. Bekal Embun mana, Nek?" Marni memberikan tas kecil pada Embun. "Embun berangkat, Nek. Assalamualaikum."
"Walaikumsalam."
Di dalam mobil tidak banyak obrolan di antara mereka. Suasana sepi, berbeda saat diantar Juna. Banyolan receh dan berdebat pasti mereka lakukan hingga ujung-ujungnya Embun ngambek.
Tiba di sekolah, Galang bersama motornya sudah menunggu di depan pagar. Sebuah senyuman sudah terlukis di wajah Galang. Ia tampak semringah saat Embun melangkah mendekat setelah Roy pergi.
__ADS_1
Galang ingin sekali menggandeng tangan Embun dan berjalan bersama atau mungkin Embun berada di boncengannya, sembari memeluk dirinya. Ah, indah sekali, pikir Galang membayangkan.
Embun tampak mengangkat tangannya ingin menyapa. Namun, Azriel dan Bayu terlebih dulu memanggil Galang. Mereka berdua kini melintasi Embun, Galang membalas sapaan keduanya.
Embun menarik turun tangannya lalu berpura tidak mengenal Galang. Bersikap senormal mungkin, meski hati sudah tak karuan rasanya.
"Wuih, Embun. Tumben-tumbenan pake bando, biasa juga diikat aja."
"Lagi pengen, Ra. Emang nggak boleh, ya? Aneh, ya?"
"Ck! Kamu itu pesimis banget, sih. Kamu cantik, Embun. Juga sejuk seperti embun pagi, apalagi bola mata bulatmu ini. Jadi pengen lihat orangtua kamu."
"Bener," ucap Galang tersenyum manis seraya menyapu bibir dengan ujung jarinya.
"Apanya yang bener, Lang?"
"Hah? Bukan apa-apa." Pandangan Galang terus tertuju pada Embun juga Naura.
"Aku parkir motor dulu, kalian duluan gih ke kelas."
Kedua sahabatnya mengacungkan ibu jari. Galang sengaja meminta Bayu juga Azriel pergi terlebih dahulu. Ia berniat menyapa sang pacar.
Sesampai di tempat parkir, Galang merogoh saku di dada, mengeluarkan ponselnya. Ia melakukan panggilan pada Embun yang ia lihat sudah mulai menapaki anak tangga.
"Embun, aku tunggu di tempat parkir motor, ya." Pesan teks itu dikirim Galang, ia menanti dengan gelisah. Berkali pandangannya menyapu keberadaan Embun dengan gusar.
"Aduh, apa dia nggak baca pesan aku, ya." Galang menepuk-nepuk benda pipihnya, ia menyapu layar melihat jam.
Sepuluh menit lagi bel akan berbunyi. Embun yang baru saja masuk kelas sontak mengecek ponsel. Ia baru sadar kalau ada pesan masuk dari Galang sekitar lima menit yang lalu. Buru-buru Embun pergi, meninggalkan Naura yang menjerit memanggilnya.
Embun berlark tunggang langgang menuju tempat Galang menantikan dirinya. Namun, saat tiba di sana Galang tidak ada. Embun menyorot mencari keberadaan Galang.
Ia berdecap kesal sendiri karena tidak dapat menemukan Galang. "Aduh, Embun. Kenapa bego banget, sih. Kenapa belum mulai belajar hp udah disilent. Argh!" gerutu Embun kesal.
Dari belakang, mata Embun ditutup oleh seseorang dengan kedua tangannya. Embun meraba-raba tangan yang sudah berurat itu meski halus.
"Siapa, nih? Jangan macem-macem, deh."
Galang tersenyum dan tidak mengeluarkan suara. Ia sengaja ingin membuat pacarnya itu kesel seperti dirinya yang sudah menunggu cukup lama.
"Coba tebak siapa?"
Embun memukul tangan itu pelan, jelas ia tahu siapa orang yang berada di belakangnya. Suara pria itu tersimpan di pendengaran Embun sudah cukup lama.
"Lepasin, Lang. Aku tahu ini kamu, ya kan?"
Galang perlahan melepaskan tangannya dari mata bulat Embun. Gadis itu langsung berbalik dan memukul bahu Galang bertubi-tubi.
"Aw, sakit, Mbun."
"Syukurin." Embun bersedekap tangan dan mengerucutkan bibir.
"Maaf, ya," ucap Galang yang menyentuh rambut Embun. Ia merapikan sisa-sisa anak rambut yang keluar dari bandonya.
Galang membawa tangan Embun, dan menggenggamnya erat. Jemari mereka sudah bertaut, senyum bahagia tergambar di wajah keduanya.
"Udah mau bel. Kita masuk, yuk!" Embun mengangguk lalu mereka berpisah dengan memberi jeda yang cukup lama, agar tidak ada yang curiga.
Meski berada di kelas yang sama, Embun juga Galang sepakat untuk menutupi kisah asmara mereka.
Embun masuk tapi dari arah toilet. Membuat alibi, siapa tahu Naura menanyakannya. Embun mengusap kedua tangan di rok abu-abunya bekas percikan air.
"Kamu dari mana, Mbun?"
"Dari toilet, kebelet banget tadi makanya buru-buru."
"Ya elah, kirain ada apa. Untung aja Miss Rosi belum datang."
"Syukur, deh."
Tak lama berselang, Galang masuk tanpa dosa. Tangannya diletakkan di saku celana lalu menatap Embun sekilas. Dia duduk di tempatnya.
"Lang, kamu dari mana aja?"
__ADS_1
"Dari parkiran. Kan tadi udah bilang."
"Ya, tapi kok lama amat?"
"Parkiran penuh, jadi benerin motor anak-anak lain dulu."
"Oh."
Galang mengirim pesan pada Embun. "Aku lupa tanya kamu tadi."
"Tanya apa?"
"Kamu udah jadi pacar aku belum?"
"Mmmmh ...."
Embun hanya membalas itu, Galang terkekeh sebentar. Dasar Embun, batinnya. Embun menoleh ke arah Galang yang tampak santai.
Embun melukis senyuman tipis, lalu kembali berbalik. Saat kedua sahabatnya lengah, Galang memainkan sebelah matanya. Sontak Embun melotot, pandangannya beralih ke arah Bayu, Azriel juga Naura.
Bersyukur mereka bertiga tidak fokus memperhatikan. Ah, backstreet emang menegangkan.
"Mana jawabannya?" Kembali ponsel Embun bergetar dan melihat pesan dari Galang.
"Udah aku jawab, kok."
"Mana?"
"Ih, kamunya aja yang nggak peka. Salah sendiri."
Miss Rosi sudah tiba di kelas. Kegiatan belajar mengajar pun di mulai. Aku fokus mendengarkan juga mencatat pelajaran Bahasa Inggris.
"Mbun, aku perhatiin Galang lihatin kamu terus, tuh," bisik Naura yang menyikut lengan Embun. Embun menoleh, diikuti Naura.
"Biarin aja, Ra. Matanya dia."
"Em, semalam nggak terjadi apa-apa di antara kalian?"
"Maksud kamu?"
"Ya, semalam kan kalian pulang bareng. Kali aja dia nyatain cinta sama kamu."
"Ck! Kamu kira ini sinteron, pulang bareng terus ditembak? Hidup kita sekarang di real life, Ra. Jangan kebanyakan nonton drama, deh," ucap Embun panjang lebar. Sebenarnya dalam hati ia sudah berbunga-bunga sejak semalam. Galang memaksakan cintanya, yang memang Embun menyukainya juga.
"Hem, nggak asyik banget, sih Mbun."
"Fokus, Ra."
"Ya, ya." Naura bersungut sedangkan Bayu dan Azriel sibuk menggoda Galang yang kemarin sore tiba-tiba menghilang begitu saja. Belum lagi motornya ia minta dibawa pulang oleh mereka berdua.
"Lang, semalam kamu ke mana?"
"Nggak ke mana-mana."
"Nggak ke mana-mana, tapi motor kamu, kita yang bawa pulang."
"Ya, mana aku lihat si Embhn sendirian hujan-hujanan. Kasihan tahu, Lang."
Galang sontak menatap kedua sahabatnya bergantian. "Kalian lihat Embun?"
"He eh," jawab mereka kompak.
"Terus?"
"Kita panggilin dia, tapi dia diam aja, Lang. Mana hujannya deras banget, mau nolonginnya gimana? Kita aja udah basah kuyup di atas motor."
"Kamu nggak lihat? Padahal nggak lama mereka pergi kamu kan pergi juga."
Galang nampak berpikir keras. Ada apa dengan Embun? Harusnya jika dia baik-baik aja, pasti menyahut panggilan Bayu juga Azriel.
"Yang kalian lihat, Embun sama siapa? Bukannya dia pulang bareng Naura?"
"Sendirian, Lang. Tau dah Naura ke mana. Nggak ada nampak batang hidungnya."
__ADS_1
Seketika Galang terdiam menatap punggung Embun intens seraya bertanya-tanya dalam hati, kenapa kekasihnya begitu. Saat ia temui kemarin, memang Embun tampak kesulitan. Bahkan, untuk mengikat tali sepatunya saja ia tidak mampu.