
"Enggak tahu, Kak. Eh?" Embun bingung harus memanggil apa. Febby bukan pacar atau tunangan Juna. Jadi terasa canggung memanggilnya sama seperti yang dilakukan Fandy.
"Panggil Kakak aja, Mbun. Nanti, kalau udah sah jadi tante kamu baru, panggilannya diubah," ucapnya ramah sembari tersenyum manis.
"Heran, ganjen banget. Jadi perempuan mahalan dikit napa sih, Kak!" gerutu Fandy kesal.
"Biarin. Kamu nggak tahu aja modelan Omnya Embun itu gimana. Kakak bahkan udah terang-terangan ngelamar di depan umum tapi ditolak!" ucap Febby bangga karena menyatakan cinta di tempat terbuka.
Embun bahkan sampai menganga tidak percaya dengan ocehan Febby. Febby termasuk wanita cantik dan berpendidikan tinggi justru melakukan hal gila itu untuk mendapatkan hati Juna.
"Ck! Jelas ditolak, aku juga ogah kalau ada cewek seagresif Kakak!" cibir Fandy tanpa menghentikan aktivitasnya mencatat dari buku Embun.
"Kakak seriusan udah ngomong sama Om Juna?" tanya Embun penasaran. Dia mengangguk penuh keyakinan.
Ponsel Embun berdering panggilan masuk dari Roy. Tidak biasanya Roy menelepon jika bukan karena ingin menjemput Embun. Embun juga sudah bilang bahwa akan pergi ke rumah Fandy terlebih dahulu diantar Galang.
"Ya, Kek."
"Embun, Om Juna ada di rumah Mama kamu. Kakek sama Nenek mau ke sana. Kamu mau ikut nggak?" Marni yang berada di sebelah Roy terlihat mengepal tangan geram. Ia sudah tidak sabar ingin menghabisi Juna.
"Enggak, Kek. Kakek sama Nenek aja, ya."
"Oke." Sebelum Roy mengakhiri panggilan itu, Embun melirik ke arah Febby yang masih berada di antara mereka.
"Eh, tapi, Kek. Ada satu orang yang mau ikut. Boleh?"
"Siapa? Galang?" terka Roy.
"Bukan, Kek. Kak Febby."
"Febby?" Roy merasa agak familiar nama itu, tapi dia lupa. Mendengar nama Febby disebut, Marni mengambil alih ponsel yang masih berada di genggaman Roy.
"Bilang tunggu di situ ya, Mbun. Nenek akan menjemputnya. Om kamu harus dikasih pelajaran."
Marni yang mengakhiri panggilan, dipikiran Marni saat ini, dia harus memaksa Juna untuk bertanggung jawab atas prilakunya yang kekanakan.
Sementara menunggu Febby dan Marni yang akan ke sana, si empunya nama justru tengah tersedak hingga wajahnya merah padam.
Uhuk!
__ADS_1
"Siapa sih yang lagi ngomongin. Heran, makan berkuah begini bisa tersedak," gerutu Juna yang tengah menyantap opor ayam.
"Makanya hati-hati makannya, Jun." Sari yang sibuk merapikan meja ikut berkomentar karena mendengar gerutuan Juna.
"Pasti ada yang nyeritain aku ini, Bulek."
"Ya, wajar dong. Kamu itu udah kabur dari rumah. Ya, kan?"
"Bulek kok tahu?"
Sari duduk di samping Juna, menemaninya yang masih sibuk mengunyah.
"Ndak baik kabur-kaburan, Jun. Kasihan Mbak Marni sama Mas Roy. Tinggal kamu anak mereka." Juna terlihat diam, ia mencerna ucapan Sari yang ada benarnya.
"Aku cuma lagi healing, Bulek."
"Healing kok kemari. Ke luar negeri gitu, Jun. Atau ya, paling dekat itu ke Anyer. Moso' yo kemari!" ucap Sari yang paham betul kelakuan Juna. Juna nyengir, tidak bisa berkilah lagi.
"Udah, ah. Bulek mau nyusul Paklekmu, dari tadi kok nggak kelar-kelar nyabut rumput di belakang."
"Ya, Bulek."
Sari menggeleng tanda bahwa bukan dia yang memberitahukan tentang Juna yang sudah dua hari ini ada di sini.
"Juna!" bentak Marni yang membuat Juna kicep. Ia tahu kesalahan yang dia buat.
"Sabar, Mbak." Sari mencoba menenangkan Marni yang terlihat begitu emosi.
"Duduk dulu, Mbak. Biar saya bawakan air hangat," tawar Sari yang buat Marni dan Roy hanya diam. Febby masih setia di luar sembari memandangi rumah tua yang tampak masih nyaman untuk ditinggali.
"Ibu nggak habis pikir sama kamu, Juna. Bisa-bisanya kamu lari dari masalah. Kamu itu udah tua, Juna. Udah tua!" ucap Marni penuh penekanan di akhir kalimat.
Juna menunduk dalam, ia tidak berani membantah. Surganya dia berada di telapak kaki ibunya.
"Kamu tahu, gosip tentang kamu itu udah menyebar ke seluruh desa. Kamu dibilang homo."
"Itu nggak bener, Bu!" sanggah Juna cepat lalu menatap manik Marni yang tampak meragukan.
"Siapa yang percaya? Ibu perlu bukti!"
__ADS_1
"Bukti?" Juna menatap Roy seolah meminta bantuan. Roy hanya memainkan mata dan mengendikkan bahunya.
"Diminum dulu Mbak, Mas." Setelah membawa teh itu, Sari undur diri. Bukan wewenangnya ada di situ untuk mendengar masalah intens keluarga sepupunya.
"Ibu mau kamu menikah!" ucap Marni. Jelas hal itu membuat Juna mengerutkan alisnya.
"Apaan sih, Bu. Kok jadi nikah?" protes Juna yang menurutnya itu tidak masuk akal.
"Ya, cuma itu pembuktiannya. Ibu udah pilih perempuan yang sesuai untuk kamu."
"Apa sih, Bu. Kok jadi dijodohin kayak gini!" protes Juna yang masih bersikeras tidak ingin menikah.
"Masuk, Nak," perintah Marni. Jelas yang merasa dipanggil melangkah masuk.
Febby yang memakai blouse model Sabrina bergaris lurus warna biru muda dipadukan celana jeans warna denim masuk dengan langkah pasti. Rambut ia kuncir kuda, menampakkan leher jenjangnya.
Juna menatap tanpa kedip, entah apa pikirannya. Ia seolah terhipnotis, bukan tidak pernah melihat wanita cantik. Tapi kali ini, ada sesuatu yang beda menggelitik hatinya.
"Sini, Feb."
"Ibu, mau kamu menikah hari ini juga!"
"Nggak! Juna nggak mau. Apalagi nikahnya sama dia. Pacar Juna gimana, Bu?" Meski ada desiran aneh, masih saja Juna ogah-ogahan dijodohkan.
..
"Putusin dia!"
"Nggak segampang itu!" jawab Juna yang kini sudah memalingkan wajahnya.
"Oke, kalau begitu. Besok bawa dia ke rumah. Ibu mau lihat dan ketemu sama dia. Setelahnya, Ibu yang menentukan menantu Ibu. Paham?"
"Ck!" Marni mengajak Roy pulang setelah mengatakan niatnya. Roy setuju untuk itu, mereka melangkah lebih dulu. Febby tertinggal di belakang.
"Aku tahu, kamu sekarang pasti lagi bingung bagaimana bawa pacar kamu itu, kan? Juna, aku lebih baik darinya, dalam hal apa pun," bisik Febby yang mencolek dagu Juna. Juna mengalihkan, atensinya, menatap ke sembarang arah.
"Satu lagi, jika kita menikah, akan aku pastikan servis terbaik hanya untukmu. Jadi, yang di bawah sana nggak perlu cari di luaran. Muach," ucap Febby sensual sengaja memancing gairah Juna. Lalu mendaratkan jari telunjuk dari bibirnya ke bibir Juna.
Juna memandang kepergian Febby dengan perasaan tak karuan. Tidak bisa dipungkiri, mendengar kalimat yang menurutnya vulgar itu berhasil membangunkan jagoannya dari bawah sana.
__ADS_1
"Ah, sial!" umpat Juna yang secara tidak sadar belalai itu ikut naik ke permukaan. Beruntung kaos yang ia gunakan besar, jadi mampu menutupi celana kolor yang sudah terlihat menonjol.