
Juna putuskan tidur. Ia malas mendebat dengan sang ayah. Ujung-ujungnya ia pasti disuruh cepat-cepat bawa perempuan yang dimaksud Embun.
Nia saja yang gencar mendekati Juna tidak merespons, apalagi gadis yang baru ia temui di gerobak sate. Marni dan Embun sudah terlelap, hanya Roy yang masih harus terjaga.
Ia melihat kedua wanita yang berada di jok belakang dari kaca persegi di depannya. Mata tertuju pada Embun. Sebenarnya dia juga masih tidak percaya kalau gadis berbibir mungil itu akan dilamar.
Tapi, dia juga tidak bisa menolak. Sebab, pamali menolak lamaran yang datang. Apalagi mereka berdua masih dikatakan remaja, emosinya masih sangat labil.
Meski menyetujuinya, tapi hati kecil Roy masih tidak rela. Cucu satu-satunya harus ia relakan pada orang lain yang tidak ada hubungan darah dan keluarga dengannya.
Di sisi lain, Galang masih terus menatap layar ponselnya. Ia sama sekali tidak menerima kabar apa-apa dari Embun. Mata tertuju pada jarum jam dinding yang terus bergerak hingga pukul sebelas. Namun, Embun masih saja belum membalas pesan darinya.
"Apa Embun menolak lamaran aku, ya? Aku cuma mau menjaga dia, seperti dulu aku menutup matanya dari hal buruk di depannya. Argh!" gerutu Galang seraya menggaruk kepalanya.
Bram ayahnya sudah menyetujui keinganan Galang untuk melamar Embun. Jelas ada campur tangan Ambar di sana. Ambar meyakinkan Bram, bahwa putranya bersungguh-sungguh.
Bram tidak ingin menahan keputusan Galang yang sudah menetapkan hati. Bram membiarkan Galang bertanggung jawab atas pilihannya, hanya saja ia tetap mengarahkan jalan mana yang harus ia ambil.
Sabtu malam, mereka berniat mengunjungi rumah Embun. Hal itu yang membuat Galang gusar dan gelisah. Ia takut kalau Embun menolaknya.
**
Pagi sudah tiba, Galang buru-buru pergi tanpa sarapan. Ia berlari kecil menuruni tangga. Ambar dan Bram masih sarapan, bahkan roti panggang belum disentuh oleh mereka.
"Lang, sarapan dulu, Sayang," teriak Ambar yang tidak dihiraukan Galang.
"Biarin aja dulu, Ma. Pasti ada hal yang mendesak. Kita sarapan aja, ya?"
Ambar mengangguk lemah, tetap saja ada rasa sedih di hatinya. Galang sudah melajukan motornya menuju ke rumah Embun.
Kini, ia sudah berada di pekarangan rumah Roy. Roy, Marni, Juna juga Embun bertanya-tanya siapa gerangan yang datang pagi buta begini. Mereka semua heran, tidak biasanya ada tamu pagi-pagi, apalagi mengendarai motor.
Embun juga Marni saling tanya. Juna beranjak dari kursi menuju halaman depan. Ia langsung melihat Galang yang sudah berdiri di depan pintu.
"Hei, bocah. Ngapain kemari pagi-pagi?"
"Pagi, Om. Embunnya ada?"
"Ada, tapi masih sarapan."
Cukup lama Juna berdiri bersama Galang. Roy, Marni juga Embun langsung menyusul.
"Eh, ada temennya Embun. Siapa namanya?" tanya Marni ramah.
"Galang, Nek."
"Ada apa pagi-pagi begini kamu kemari?" telisik Roy yang melihat raut wajah Galang tampak gelisah.
"Em, orangtua saya udah menyetujui kalau saya melamar Embun, Kek, Nek."
"Apa?!" Juna kaget bukan kepalang. Itu artinya, ia akan dilangkahi oleh keponakannya sendiri. Malang bener nasibmu, Jun, batinnya.
"Ya sudah, kapan mereka mau datang?"
"Sabtu malam, Nek."
Embun memegangi jantungnya yang sudah seperti roller coster, naik turun dan memacu adrenalin. Sedangkan Juna mengepal tangan geram, urat-urat tangannya bermunculan ke permukaan.
Jika saja dia bukan dokter, mungkin dia sudah menonjok wajah Galang. Penting bagi seorang dokter untuk tetap melindungi tangannya. Sebab, itu merupakan aset yang patut dijaga.
"Kamu sudah sarapan?"
"Belum, Nek."
"Ayo, masuk. Kita sarapan."
Galang pun menurut. Juna mengalah mengingat kursi meja makan hanya empat. Semua orang sudah duduk di tempat masing-masing.
Juna beranjak menuju kamar. Lelaki berahang tegas itu masih ada sedikit rasa kesal juga cemburu. Juna bersiap-siap akan berangkat kerja, meninggalkan semua orang yang tengah sibuk mengunyah.
Juna berdiri di depan kaca lemari yang berbentuk persegi panjang. Ia menyisir rambut dengan tangannya. Kaos oblong menampakkan bentuk tubuhnya ia padukan dengan celana kain berwarna cream.
__ADS_1
Tidak lupa menyemprotkan parfum maskulin di sekitar pergelangan tangan juga belakang leher.
"Ah, ini baru Juna dengan penampilan perfect. Sempurna," katanya dengan menggerakkan kelima jarinya mengikuti salah satu ilusionis ternama Indonesia.
Juna keluar dari kamar, ia menatap tajam ke arah Galang yang tampak akrab dengan Marni, sedangkan Embun menunduk malu. Ia pun mengunyah dengan sangat pelan dan tidak berbunyi.
Juna mendekat lalu mengambil sepotong roti. Sedetik kemudian pergi. Di ambang pintu ia berkata, "Kamu nggak perlu Om antarkan, Mbul?"
Embun menaikkan sudut bibirnya. Galang menatap Embun dan Juna bergantian dengan menaikkan sebelah alisnya.
"Nggak!" jawab Embun ketus.
"Bagus."
Juna langsung tarik gas sepeda motornya dengan membelah jalanan pagi di Bogor. Raut wajahnya sangat kesal. Marni menghalau pandangan Galang untuk melanjutkan makan.
"Udah, Om Juna memang begitu. Nggak usah diambil hati."
"Ya, Nek."
Embun bangkit hingga kursi berderit, pamit menuju kamar. Ia ingin mempercantik diri sebelum akhirnya pergi ke sekolah.
Embun keluar dengan jepit rambut berbentuk matahari. Ia merasa harinya dipenuhi bunga saat ini. Lima hari lagi ia akan menjadi tunangan Galang. Tas ransel biru sudah berada dalam gendongannya.
"Lang, ayo berangkat."
"Ya, kalau gitu Galang pamit dulu, Nek. Terima kasih untuk sarapannya."
"Ya, sama-sama."
"Kek, Nek, kami pergi ya. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Galang sudah berada di atas motornya. Tanpa diminta, Embun langsung naik. Tidak lupa ia melambaikan tangan pada Marni juga Roy yang mengantar hingga ke depan pintu.
Dalam perjalanan, Galang mencurahkan seluruh kekhawatirannya. Ia meracau apa pun itu. Embun hanya mengulum senyum, perlahan tangan Embun melingkar di pinggang Galang. Sedetik kemudian, Embun menyandarkan kepalanya di bahu Galang.
"Mbun, kamu kok dipanggil Mbul sama Om Juna."
Embun langsung mencebikkan bibirnya. Lalu menarik tangannya. "Om Juna itu ngeselin. Dari dulu panggil aku Embul tanpa lihat sikon."
Galang mencari-cari tangan Embun, saat dapat ia langsung melingkarkannya kembali di pinggangnya.
"Jangan ngambek, dong."
"Ya, maaf."
"Oke, kita udah sampe."
Embun turun dan akan langsung pergi. Ia masih belum mau satu sekolah tahu tentang mereka. Namun, Galang menghentikannya dengan menarik tas Embun.
Embun berhenti dan langsung melihat ke arah tangan Galang yang masih setia di ranselnya. "Lang, anak-anak bisa tahu loh."
"Biarin, biar mereka tahu kalau aku punya kamu."
"Malu ah, Lang."
Sela-sela jari Embun sudah terpaut oleh jemari Galang. Embun berusaha menariknya.
"Mbun, jangan bandel deh. Aku mau semua orang tahu."
"Aduh, Lang. Aku belum siap. Please, ya."
"Oke. Tapi cium dulu, dong."
"Lang."
"Cepat cium," ucap Galang menunjuk pipinya. Beberapa siswa tampak melintas dan melihat ke arah mereka.
"Lang, banyak orang. Entar waktu istirahat aja, ya."
__ADS_1
"Oke, kamu hutang dua, ya."
"Kok dua?"
"Ya dong, sekarang dan istirahat. Jatah aku kan dua."
Galang perlahan melepaskan genggamannya. Embun berlari kecil untuk cepat-cepat meninggalkan tempat parkir. Sorot mata semua siswa dan siswi seolah menginterogasi Embun.
Ya, dia sadar betul siapa yang mengantarnya hari ini. Bintang basket di sekolah kebanggaannya ini. Hal itu tidak terlepas dari Naura. Ia langsung menarik tangan Embun untuk menepi di kamar mandi.
"Mbun, kamu kok bisa bareng Galang? Kalian pacaran, kan? Ya, kan?"
Embun mengatupkan bibir rapat-rapat. Ia ingin berlalu meninggalkan sahabatnya. Belum mau dia menjawab jujur pertanyaan Naura.
"Mbun, anak-anak banyak yang benci sama kamu!"
"Apa?!"
"Makanya jawab jujur! Mereka semua bergosip tentang kamu sama Galang."
"Oke. Ya, aku pacaran sama Galang."
Naura menghentakkan kakinya. Ia merasa ditipu oleh sahabatnya sendiri. Naura berlalu menuju kelas.
"Aku kecewa sama kamu, Mbun."
"Ra ... Ra, bukan aku sengaja sembunyiin dari kamu. Aku juga baru pacaran sama Galang."
Naura terus saja diam dan meninggalkan Embun yang mengekor di belakangnya. Embun memohon, tapi Naura seolah tidak menganggap Embun ada.
"Ra, aku minta maaf. Tapi kamu orang yang pertama tau, Ra."
"Kamu yakin?" tanyanya menyorot tajam dengan tangan yang sudah ia lipat di depan dada.
Embun mengangguk, lalu atensinya beralih ke arah Bayu juga Azriel yang tengah bersiul. Tidak lupa Galang juga berada di sana.
"Kedua bocah di sana udah tahu lebih dulu dibandingkan aku!" tandasnya yang membuat Embun menyatukan alisnya.
Embun menghela napas kasar, ia beranjak ke meja Galang. Galang menatap Embun dengan perasaan yang tidak enak. Sebab, ia tidak sengaja mengatakannya pada kedua sahabatnya itu.
"Lang, kita bicara sebentar." Embun langsung menarik pergelangan tangan Galang. Tidak peduli lagi tanggapan satu kelas.
Embun merasa harus menyelesaikan ini sekarang juga. Mereka berdua keluar dan berada di sudut balkon kelas.
"Kamu bilang sama Bayu juga Azriel kalau kita pacaran?"
"Emh, itu nggak sengaja, Mbun."
"Ya, tapi kita 'kan udah sepakat."
Galang memegang pundak Embun, ia berusaha meyakinkan kekasihnya itu. Status mereka bukan penghalang besar untuk cinta mereka.
"Kamu harusnya makasih, loh sama mereka."
"Makasih?"
"He eh, karena mereka aku jadi lamar kamu." Embun menautkan alisnya, ia masih belum mengerti dengan ucapan Galang.
"Ya, berkat mereka aku tahu kalau kamu gadis kecil yang aku lindungi dulu."
"Maksudnya?"
Suara bel berbunyi, Galang sengaja menggantung ucapannya membuat Embun penasaran saja.
"Masuk, yuk. Istirahat nanti kita lanjutin lagi. Ingat, kamu punya utang dua kiss sama aku," goda Galang yang langsung didorong Embun pelan tubuhnya.
Galang hanya terkekeh sebentar melihat Embun yang meninggalkannya seorang diri di sana. Baju seragam yang selalu tidak dikancing itu menjadi saksi bisu.Embun mendorongnya.
Galang pun melangkah masuk, sampai di mejanya ia meraih ponsel sebelum guru datang.
"Embul, ingat ya!" Tulisnya dengan menambahkan emotikon cium di akhir kalimat. Embun sontak berbalik menatap Galang dengan tajam setelah membaca pesan teks itu.
__ADS_1
Naura menyikut Embun, ia memberi kode kalau guru sudah hadir ditengah-tengah mereka.