Embun Di Bawah Hujan

Embun Di Bawah Hujan
Galang Murka


__ADS_3

Juna mengusap bahu Embun tidak henti-hentinya. Ia berharap gadis itu bisa tenang. "Berhenti hujan kita pulang aja, ya, Mbul."


Embun mengangguk pasrah, ia tidak ingin lagi menonton. Saat ini ia hanya ingin pulang dan menutup telinga dan matanya dengan bantal.


Setiap tetesan air hujan yang turun, mengulang semua kejadian masa lampau. Entah sampai kapan memori itu bisa hilang dari ingatan Embun.


Menit demi menit ditunggu oleh Juna juga Embun. Embun masih terus mendekap tubuh atletis Juna. Meski Juna sebenarnya sudah ingin cepat-cepat pulang. Ia tidak tega melihat keponakannya yang masih saja menangis hingga bajunya basah.


Perlahan-lahan, hujan pun reda. Juna menuju motornya yang sudah basah di pinggiran toko. Ia mengelap bekas air yang tumpah dari langit. Embun berjalan mendekati Juna.


"Om, kita pulang, kan?"


Juna yang masih sibuk mengelap joknya menatap Embun iba, ia menarik napas dalam lalu menggangguk.


"Ya."


Selesai dengan kegiatannya, Juna menghidupkan motornya. Tanpa diminta Embun langsung duduk di belakang Juna. Ia memeluk tubuh Juna dengan menyandarkan kepalanya di bahu Juna. Matanya sembab akibat menangis terlalu lama.


"Mbul, nggak mau makan dulu?" tawar Juna melirik ke arah Embun yang tampak memejamkan matanya.


"Mbul," panggil Juna lagi. Gadis itu mengangkat kepalanya.


"Enggak, Om. Aku mau cepet-cepet sampe rumah," jawabnya lesu.


"Ok. Pegangan yang erat, ya."


Juna melajukan motor sedikit ngebut, ia takut jika hujan datang lagi sebelum mereka tiba di rumah. Ia tidak ingin melihat Embun ketakutan hingga susah bernapas.


"Ok, kita udah sampe," ucap Juna yang membuat Embunn langsung turun dan membuka helmnya. Juna mengambilnya tanpa menahan Embun yang tampak buru-buru menuju ke kamarnya.


Embun langsung merebahkan diri di kasur menenggelamkan wajahnya di bantal. Sementara Juna terus menatap kamar Embun dengan rasa iba.


Marni dan Roy menghampiri Juna yang masih berdiri di ambang pintu kamarnya.


"Embun masih takut hujan?" tanya Marni menatap Juna intens.


Juna mengangguk, "Masih, Bu."


Marni menghela napas panjang. Ia tidak tahu bagaimana caranya agar Embun bisa sembuh dari phobianya. Tidak mungkin ia menghentikan hujan yang turun.


Roy menyapu lembut bahu Marni. Mereka bertiga sangat tahu sikap Embun kala hujan. Namun, saat di dalam ruangan, Embun hanya menutup mata juga telinga. Tidak seburuk saat berada di luar.


**


Galang menelepon Embun sejak semalam, tapi Embun tidak merespon. Hal itu menciutkan niat Galang untuk menjemput Embun di rumahnya.


Benar, Embun sengaja menghindar dari Galang. Ia masih ngambek akibat ulah Galang semalam. Pagi ini, Embun minta diantar oleh Juna. Beruntung, Juna masuk kerja di shift siang.


Jadi, Juna punya banyak waktu untuk mengantar Embun sekalian berjalan-jalan menyusuri tempat tinggalnya. Ia sudah lama tidak menikmati indahnya pemandangan sekitar yang masih asri dan hijau.


"Om, udah siap?"


"Udah," jawab Juna yang hanya mengenakan kaos oversize dengan celana pendeknya. Sandal jepit juga sudah ia kenakan saat memanaskan motornya.


Embun pamit pada Roy juga Marni. Ia mencium punggung tangan mereka takzim. Ransel sudah berada di punggungnya, seragam sekolah juga sudah rapi ia kenakan.


"Ayo, Mbul."


"Ya."


Mereka menyusuri jalanan aspal hitam yang belum lama ini diperbaiki. Embun sengaja berangkat lebih awal agar tidak bertemu dengan Galang, sebab ia masih belum mau melihat Galang pagi-pagi buta begini.

__ADS_1


"Mbul, kamu nggak kepagian ini?"


"Nggak, Om. Aku emang sengaja pergi pagi. Mau ke perpustakaan."


Mulut Juna membulat, Juna kerap kali usil dengan Embun. Sepeti saat ini, ia mencubit punggung tangan Embun untuk memecah keheningan pagi mereka.


"Aw, sakit, Om."


"Masa? Om aja nggak terasa," godanya yang menyunggingkan senyum meledek Embun.


"Ish! Om yang cubit! Coba sini, gantian!" balas Embun yang mencubit pinggang Juna hingga ia menggelitik.


"Embun, Om lagi bawa motor ini. Stop, dong!"


"Biarin, aku enggak terasa, tuh!"


"Kalau Om jatuh, kamu juga ikutan jatuh, Mbul ...."


Embun mengerucutkan bibirnya, benar yang dikatakan Juna. Embun kalah telak kalau urusan usil. Juna memang juaranya. Mereka sudah tiba di depan gerbang sekolah.


Embun beranjak turun dari motor Juna. Embun mencium punggung tangan Juna takzim. Juna mencubit gemas pipi Embun.


"Dadah, Embul. Belajar yang giat, ya. Tapi ini kamu beneran nggak apa-apa? Ini masih sunyi, loh. Mau Om tungguin sampe rame, nggak?"


"Ish! Om, apaan sih? Guru-guru juga bentar lagi pada datang. Embun nggak apa-apa, Om. Ntar kalau ada apa-apa, Embun telepon Om."


"Janji, ya?"


"Ya, Om. Udah sana," usir Embun mengibaskan tangannya di depan Juna. Embun melangkah masuk setelah kepergian Juna, ia berjalan melewati lorong-lorong menuju perpustakaan.


Asyik berjalan, tasnya ditarik seseorang dari belakang, hal itu membuatnya langsung berbalik badan. Wajahnya dengan wajah Galang hampir tak berjarak. Embun terhenyak, diam beberapa saat dan menatap nanar Galang.


"Embun, aku rindu kamu," ucap Galang yang membuat Embun tidak bisa berkutik. Ia terpaku tanpa berkedip. Entah setan atau memang Embun tergoda oleh pria tampan di hadapannya. Embun mengecup bibir Galang sekilas.


Lalu berbalik karena malu, ia merutuki dirinya sendiri yang tidak bisa menahan gejolak di dada. Beruntung sekolah masih sepi. Pinggang ramping Embun ditarik mendekat oleh Galang, sebelah tangan Galang menyentuh pipi Embun.


Galang ******* bibir Embun lembut. Meski ini pertama kalinya bagi mereka berdua, Galang cukup lihai. Keduanya saling ******* menumpahkan rasa yang ada di dada mereka.


Embun memejamkan matanya, ia ingin mengingat momen ini. Beberapa detik berlalu, Galang melepaskan ciuman pertama mereka. Embun menunduk malu, wajahnya sudah merah seperti tomat.


Embun langsung berlari meninggalkan Galang. Hatinya bertalu-talu, ia tidak menyangka akan mendapat sarapan indah pagi ini. Embun melangkah menuju toilet, ia menangkupkan wajahnya.


"Ya, Tuhan. Aku malu," ucapnya yang kemudian menyapu bibirnya dengan lidah. Ia masih bisa merasakan manisnya bibir Galang. Ia memegangi dadanya yang tidak berhenti berdetak kencang.


"Ya Tuhan, jantungku kenapa hampir copot gini, rasanya," ucapnya lagi.


Ponselnya berdering, ia mengambilnya dari saku kemejanya. Galang yang mengirim pesan.


"Embun, kenapa kamu lari?"


"Maaf, Lang."


"Kamu tinggalin aku," balas Galang yang diikuti emotikon sedih.


Embun keluar dari tempat persembunyiannya. Ia ingin menghampiri Galang, tapi langkahnya terhenti oleh Siska dan teman-temannya.


Mereka mengepung Embun di depan kamar mandi. Embun mengernyit heran, ia memandang ketiga gadis di hadapannya dengan tatapan bingung.


"Minggir, aku mau lewat," usir Embun yang ingin pergi dari hadapan ketiganya. Namun, langkahnya dijegal oleh Siska hingga ia tersungkur di lantai.


Embun bangkit dan menyapu tangannya yang kotor. Siska menjambak rambut Embun, tatapannya kian nyalang.

__ADS_1


"Heh, perempuan nggak tahu diri! Kamu punya kaca nggak sih, di rumah? Hah?!"


"Siska, kalau Galang pilih aku, itu artinya kalian nggak cukup menarik untuk dia."


Siska semakin menggila mendengar ucapan Embun. Memang, Siska sejak awal menyukai Galang. Berkali-kali Siska mendekat dan memberi kode pada Galang, tapi Galang tutup mata.


Siska semakin menarik rambut Embun hingga ia mendongak, Embun memegangi rambutnya agar tidak terlalu sakit ketika Siska menjambaknya lebih kuat.


"Siska!" bentak Galang yang tiba-tiba ada di antara mereka. Rupanya, Bayu yang mengadu saat mendengar bentakan Siska saat ia akan melangkah ke toilet.


Dengan tergesa-gesa Bayu mencari keberadaan Galang yang dengan santai berjalan menuju kelas. Bayu ikut di belakang Galang. Siska langsung melepaskan Embun dengan membanting tubuh Embun di lantai.


Refleks Galang langsung mendekati Embun dan membantunya bangkit. Galang menatap tajam ke arah Siska setelah menyerahkan Embun pada Bayu untuk dibawa ke kelas.


Embun memeluk dirinya sendiri dan berjalan di depan Bayu. Galang melangkah mendekati Siska yang berjalan mundur, tatapan Galang mematikan. Ia siap menerkam Siska.


"Lang, ini salah kamu yang memilih Embun!"


"Heh! Otak kamu yang salah, Siska!" bentak Galang yang menunjuk kepala Siska. Gadis itu tertunduk sebentar. Lalu kembali mengangkat wajahnya.


"Kamu yang salah, Galang! Kamu nggak pernah melirik ke aku!" teriaknya yang sudah kesetanan.


Galang menarik paksa lengan Siska. Ia akan membawanya ke ruangan guru bimbingan. Ia tidak bisa lagi menerima perlakuan yang mungkin akan lebih membahayakan Embun ke depannya.


"Lang, lepasin!" bentak Siska yang berusaha melepaskan diri sekuat tenaga dari cengkeraman Galang.


"Nggak!"


"Galang, lepasin ...!" teriaknya yang terus memberontak. Siska terus memukul tangan berurat Galang yang sama sekali tidak bergeming akan pukulannya.


Galang tidak ingin kejadian hari ini terulang lagi. Ia sudah berjanji akan melindungi Embun. Embun duduk di mejanya setelah diantar oleh Bayu.


"Bay, kira-kira Galang bakal berbuat apa pada Siska?"


"Paling juga Galang menyeret-nyeret Siska ke ruang BP atau kalau Siska nolak, dia bakal bikin perhitungan sama tuh anak," jawab Galang yang sangat tahu sikap asli Galang.


"Perhitungan?" tanya Embun yang menyatukan kedua alisnya. "Kira-kira, perhitungan yang gimana?"


Bayu mengangkat kedua bahunya. Kalau soal perhitungan, Bayu sendiri tidak yakin. Sebab, Galang tidak pernah menunjukkan kemarahannya yang di luar nalar. Juga, Galang belum pernah berpacaran sebelumnya.


"Galang ngapain tuh, Bay?" tanya Azriel yang tiba-tiba merangkul bahu Bayu.


"Biasalah."


"Biasa apa?" tanya Azriel mengerutkan dahi, menatap keduanya bingung.


"Tadi, Siska jambak rambut aku, Zriel."


"Apa?!" Ketiganya langsung menoleh ke arah Naura yang sudah hadir tanpa bersuara di tengah-tengah mereka.


"Naura?"


"Ngomong sama aku, Mbun!" bentak Naura yang sudah menggebrak meja.


"Ra, Galang udah urusin soal itu. Udah, ya. Lagian, aku juga nggak apa-apa, kok."


"Kamu tuh, ya. Selalu aja kayak gitu! Biar dia nggak kebiasaan, Mbun!"


"Ra, please!"


Bayu juga Azriel mundur perlahan untuk meninggalkan kedua sahabat yang tengah berdebat itu. Mereka tahu, jika wanita sudah bertengkar maka hanya mereka sendiri yang bisa menyelesaikannya.

__ADS_1


__ADS_2