Embun Di Bawah Hujan

Embun Di Bawah Hujan
Juna Healing


__ADS_3

Roy sebenarnya masih tidak yakin dengan penuturan Marni. Pasalnya, beberapa hari yang lalu ia masih membahas hal ini dengan Juna. Jawaban Juna masih tetap sama.


Sadar dengan akal bulus Marni, Roy mencoba untuk percaya dan mengikuti apa yang istri dan cucunya rencanakan.


"Ya udah, Ibu siap-siap, gih. Biar langsung beli perlengkapannya. Nggak mungkin kita datang dengan tangan kosong."


Merasa mendapat lampu hijau, Marni dengan penuh semangat masuk ke kamar. Berdandan ria untuk menemui calon menantunya. Sejak awal, Febby menjadi kandidat kuat Marni untuk Juna. Namun, sayang Juna sama sekali tidak tertarik pada Febby.


Roy berjaga di depan pintu, ia mengetik pesan yang ditujukan pada Juna. Roy harus berhati-hati, soalnya insting seorang istri itu kuat. Sekali saja gerak-geriknya tertangkap, hancur semuanya.


"Jun, Ibu kamu lagi siapin pertunangan kamu. Buruan pulang, sebelum semuanya berjalan lancar!"


Roy kembali ke mode santai dan pura-pura bersiul saat Marni sudah selesai dengan penampilannya.


"Bapak gitu aja?"


"Ya, Bapak harus apa? Udah ganteng juga," jawab Roy diiringi candaan.


"Ya ganteng!" ucap Marni yang memonyongkan bibirnya lima centimeter ke depan.


Juna yang melihat pesan dari Roy, biasa saja. Merasa tidak ada yang perlu untuk dibahas dan didatangi. Persetan dengan komitmen, ia sudah bertekad tidak akan pulang ke rumah.


Ia akan menginap di rumah Ratna, mungkin juga akan tinggal di sana. Mengajukan untuk pindah rumah sakit terdekat. Jika memungkinkan, Juna tidak akan kembali lagi ke kampungnya itu. Suasana di sana sudah menyesakkan Juna.


Embun kembali menghubungi Juna. Mereka kewalahan tidak mendengar kabar apa pun dari Juna sejak pagi. Bahkan, sampai saat ini yang sudah hampir malam Juna juga belum ada tanda-tanda kembali.


"Gimana ini, Pak?" tanya Marni yang tampak khawatir dengan persiapannya.


"Gimana apanya sih, Bu?"


"Ibu udah janji loh sama istri Pak Lurah, kalau besok kita mau datang melamar."


Embun duduk di samping Marni, ia mengusap bahu neneknya pelan.


"Nek, kita do'ain aja Om Juna nggak kenapa-kenapa."


Ting!

__ADS_1


Pesan di ponsel Embun dan Roy masuk bersamaan. Keduanya saling lirik, lalu menatap layar.


"Jangan khawatirkan aku. Aku hanya liburan."


Juna langsung menghidupkan mode pesawat di ponselnya. Ia tidak ingin diganggu siapapun. Dia ingin fokus ke dirinya sendiri.


Juna sudah merebahkan diri di kasur empuk rumah kakaknya. Ia meletakkan kedua tangan di belakang kepala, memandang langit-langit kamar yang usang dengan hati yang gembira.


"Ah, ternyata begini rasanya tidak bekerja."


Juna tersenyum bahagia, rona wajahnya tidak kelelahan. Biasanya, dia selalu pulang pagi atau tengah malam. Hari ini dia pulang pukul tujuh dan menikmati sisa malam di kamarnya sendirian tanpa gangguan dari Embun, Marni atau Nia.


Tidak peduli dengan potongan gaji yang sudah menantinya di rumah sakit, yang penting sekarang happy aja dulu. Ya, tagihan pasien yang kemarin ditanggung Juna.


Juna mengistirahatkan pikiran dan tubuhnya. Sedangkan di tempat lain, Marni menempel sisi kepalanya dengan koyo, dia memegang kedua sisi sambil menunduk.


"Juna, Juna. Kenapa mempermalukan Ibu seperti ini, sih, Jun!"


"Nek, udah, ya. Ini juga cuma ide kita. Harusnya kita tahu kalau Om Juna nggak mau menikah dalam waktu dekat,"


"Tapi, Mbun! Om kamu itu sudah dewasa, sudah tiga puluh tahun. Mau jadi apa dia? Bujang lapuk?" omel Marni yang membuat Embun diam dan melihat ke arah Galang yang sejak tadi hanya memperhatikan.


Embun mengangguk lalu bangkit dari kursi, sesekali menoleh ke arah Marni. Embun memeluk lengan Galang untuk masuk ke kamar.


"Lang, menurut kamu, aku sama Nenek salah, ya?" tanya Embun yang sudah duduk di tepi kasur.


"Menurut aku sih, ya. Kalian terlalu memaksakan kehendak, jadi begini akibatnya."


"Om Juna nggak pernah kayak gini sebelumnya, Lang. Biasanya, Om Juna selalu nurut apa pun permintaan aku sama Nenek."


Galang menangkup wajah Embun, memandang mata Embun dalam-dalam.


"Bee, pria itu tidak suka dipaksa. Berbeda dengan kalian, harus dipaksa dulu. Meski awalnya menolak, akhirnya kalian kaum wanita bisa menerima. Lelaki tidak begitu, Bee. Sekali kami bilang tidak, itu sulit untuk berubah menjadi ya."


Galang mencium kening Embun lama, lalu Embun memeluk tubuh Galang. Kepala Embun diusap lembut oleh Galang, menghirup aroma rambutnya yang wangi.


"Jangan buat begitu lagi, ya. Kasih ruang buat Om Juna memikirkan dirinya."

__ADS_1


Embun mengangguk dan semakin mengeratkan dekapannya. Hingga Galang yang usil jadi terbatuk.


"Uhuk, uhuk! Nggak bisa napas aku, Bee," ucap Galang yang iseng. Embun melepaskan pelukannya melotot melihat mimik wajah Galang yang tampak dibuat-buat.


"Iseng banget, sih!" gerutu Embun kesal yang memukul lengan berotot Galang bertubi-tubi. Lalu melemparkan bantal ke arahnya.


"Tidur di lantai!" perintah Embun yang membuat Galang menghela napas kasar.


"Bee, kamu tega?" ucap Galang mengiba. Embun langsung berbalik dan membelakangi Galang.


"Baru malam kedua, udah dapet bokong aja, sih!"


"Salah sendiri!" pungkas Embun yang masih dengan posisi tadi.


Galang hanya bisa pasrah, dia pun mulai meringkuk di lantai. Posisi sama, membelakangi Embun. Nasibnya malam ini dibuat karena keisengannya sendiri, jadi mau tidak mau Galang harus menerimanya.


Ponsel Galang menjadi ramai tiba-tiba. Pesan masuk dari dua sahabatnya tidak berhenti. Mereka mempertanyakan kebenaran soal Juna. Itu artinya, kabar burung tentang Juna sudah tersebar luas. Entah siapa yang menebar rumor tak berdasar itu.


Galang lebih memilih memainkan games daripada membalas yang bukan wewenangnya. Biar saja mereka yang sibuk menjadi wartawan.


***


Pagi, Embun dan Galang berangkat lebih awal karena mereka akan singgah dulu ke rumah Galang mengambil perlengkapan sekolah di rumahnya.


"Masuk aja, Bee," pinta Galang yang menyuruh sang istri untuk ikut ke kamar. Embun masih terlihat segan pada orang tua Juna yang saat ini berada di meja makan.


"Kamu sudah sarapan, Mbun?" tanya Ambar pada menantu satu-satunya itu.


"Sudah, Tante."


"Eh, kok masih panggil Tante, sih. Ma-ma," ucapnya yang mengeja kata 'Mama' Embun mengangguk ragu. Sementara Galang sudah masuk ke kamarnya.


"Gimana malam pertamanya?" tanya Ambar yang penasaran. Wanita cantik ini suka kepo soal percintaan anak muda. Embun menunduk malu, wajahnya memerah jika mengingat kembali saat pertama kali belalai Galang bersarang di goanya.


"Mama apa-apaan, sih. Kayak nggak pernah muda aja," timpal Bram yang sudah bergabung bersama istri dan menantunya. Keduanya tersenyum melihat Embun yang salah tingkah.


"Mama sama Papa pasti lagi isengin Embun, kan?" Galang terlihat menuruni anak tangga dengan seragam lengkap. Ransel sudah digendong di sebelah kanan bahunya.

__ADS_1


"Pa, Ma, kami berangkat, ya," ucapnya mencium punggung tangan Ambar dan juga Bram. Diikuti oleh Embun, kedua sudah duduk di atas motor Galang.


"Lang, semalam nggak pake pengaman, kan?"


__ADS_2