Embun Di Bawah Hujan

Embun Di Bawah Hujan
Dilamar Galang


__ADS_3

Juna memberikan helm yang biasa Embun pakai. Setelahnya, Embun duduk di jok belakang Juna. Ia memeluk tubuh Juna.


"Om, kenapa nggak bilang kalau jemput Embun?"


"Cih, ngapain Om bilang-bilang. Biasanya juga memang Om yang jemput kamu."


"Ya tapi tadi kan Embun nggak tahu kalau Om bisa jemput. Kalau Kakek udah datang jemput aku, gimana?"


"Nggak mungkin. Om udah telepon Kakek."


Embun tidak menjawab, hanya menghela napas. Wajahnya jutek dan merasa tidak senang dijemput Juna. Pasalnya, ia gagal pulang bareng Galang.


Kini kekasihnya itu justru mengantar sang sahabat. Galang dan Naura berada di jalur yang sama dengan Embun, hanya saja rumah Naura lebih dulu ketemu.


"Ra, ada yang mau aku tanyai soal Embun sama kamu."


"Embun?"


"Ya."


"Ada apa?"


"Kemarin waktu aku tinggalin Embun sebentar, dia kenapa gemetaran gitu? Terus tali sepatunya lepas, tapi dia nggak mampu mengikatnya. Kamu tahu kenapa?"


"Aduh, Lang. Aku nggak berani buka suara kalau soal itu. Kamu tanya sendiri aja sama Embun."


"Udah, tapi dia bilang masih butuh waktu untuk jujur."


"Nah, kalau gitu kamu tunggu aja waktunya. Aku nggak bisa kasih tau apa-apa."


Galang pun akhirnya pasrah. Tidak lagi bertanya apapun. Menurutnya, itu sama saja tidak akan mendapat informasi.


"Btw, kalian jadian nggak, sih?" tanya Naura penasaran. Galang hanya melirik sekilas gadis yang di belakangnya. Dia ogah memberi informasi.


Dia sudah berjanji pada Embun untuk merahasiakan kisah kasih mereka. Biar Embun sendiri yang memberitahukannya pada Naura.


Mereka sudah tiba, Naura turun dan tidak lupa mengucapkan terima kasih karena sudah diantar pulang. Galang buru-buru pergi, ia ingin cepat-cepat tiba di rumah. Galang ingin segera menelepon Embun.


Embun juga sudah sampai di pekarangan rumah Roy. Marni menyambut kepulangan anak dan cucunya. Embun mencium tangannya takzim diikuti oleh Juna.


"Bapak mana, Bu?"


"Lagi keluar sebentar. Ayo, siap-siap."


"Ya, Bu."


Embun dan Juna masuk bersamaan. Kamar mereka memang bersebelahan. Marni menyiapkan makanan untuk mereka.


Ponsel Embun langsung berdering, ia mengangkatnya dengan nada berbisik. Hal itu mengundang tanya pada Galang yang masih berada di atas motornya, lalu turun perlahan menuju rumahnya yang cukup besar.


"Kamu kenapa bisik-bisik gitu, sih?"


"Ada Om Juna. Aku takut."


"Hehe, kamu nggemesin tau nggak. Aku jadi nggak sabar pengen cepat-cepat pagi, biar bisa ketemu kamu lagi."


Embun tersipu malu mendengar yang diucapkan Galang. Ia tidak menyangka Galang yang sikapnya dingin di luar ternyata bisa bucin padanya.


"VC, dong."


"Takut ketahuan Om Juna. Lagian, aku sebentar lagi akan pergi ke makam orangtua aku. Bareng sama Nenek, Kakek juga Om Juna."


"Aku nggak diajak?"


"Apaan sih, Lang. Ke makam masa' mau ikutan."


"Ya, nggak apa-apa. Makamnya juga punya orangtua kamu. Sekalian aku bisa nyapa mereka."

__ADS_1


"Aneh, kamu."


Marni mengetuk pintu kamar Embun. Ia meminta gadis itu untuk makan, tidak lupa ia juga menyuruh Juna melakukan hal yang sama.


"Ya, Nek. Sebentar."


"Udah dulu, ya. Sampai ketemu besok."


Panggilan diakhiri, Galang sudah menelungkupkan tubuhnya di atas ranjang. Terlalu lelah hari ini, baginya. Namun, Embun pengisi semangat di jiwanya mulai hari ini.


"Lang, Galang."


Terdengar suara kedua sahabatnya memanggil. Galang bangkit dan menyingkap gorden, ia melihat Bayu juga Azriel sudah berdiri di bawah sana.


"Aish, mereka ngapain sih ke sini. Aku lagi pengen istirahat," gumamnya sendiri. Belum juga ia menjawab, kedua sahabatnya sudah masuk ke kamarnya.


Bayu sudah duduk di tepi kasur, sedangkan Azriel duduk di kursi meja belajar sembari memegang gitar. Galang berdiri berkacak pinggang di tengah-tengah mereka.


"Ngapain pada kemari?"


"Jadi, kita udah nggak boleh main ke sini, Lang? Biar kita bilang sama Tante Ambar kalau kita diusir Galang. Ya, nggak Zriel?"


"Ya," jawabnya sembari memetik tali senar.


"Eh, ada apa ini? Lagi pada kumpul kok muka kamu cemberut, Lang?" Ambar datang membawa camilan juga teh untuk Bayu dan Azriel.


"Makasih, Tante. Gini dong, Lang. Tamu dateng itu disambut, masa' diomelin."


Ambar hanya tersenyum seraya menggeleng pelan lalu pamit keluar meninggalkan mereka bertiga.


"Kalian mau apa, sih?"


"Masa' mau main aja harus ada perlu dulu, Lang."


"Gabut, nih. Keluar, yuk. Lagian, kamu juga nggak ada latihan hari ini, kan?"


Galang mengajak temannya ke halaman belakang rumah. Mengambil bola basket yang ada di kamarnya. Ia ingin bermain dengan kedua sahabatnya itu.


Sambil mendrible bola, Galang bertanya sedikit tentang Embun. "Kalian ada yang tahu makam orangtuanya Embun nggak?"


Bayu juga Azriel saling pandang. Ia tidak pernah mendengar Galang bertanya tentang gadis. Galang melakukan shot, dan tepat sasaran.


"Tumben, Lang. Kamu suka sama Embun?"


"Ngaco!"


"Cuma penasaran aja. Kalian kan tahu kalau Embun itu yatim piatu."


"Ya, sih. Kasihan, ya. Waktu dia umur lima tahun, orangtuanya mengalami kecelakaan di pinggir jalan besar sana. Tepat di depan supermarket."


"Oh, ya?"


"Lah? Kamu emang nggak tahu, Lang?"


Galang menggeleng, lalu Azriel mencoba melakukan shot tapi tembakannya melayang, justru mengenai kepala Galang. Galang oleng, bersyukur tubuhnya mampu menjaga keseimbangan.


"Sialan, kamu!" umpat Galang. Ia berpikir cukup keras. Mengingat kejadian sepuluh tahun silam. Ia ingat pernah melihat sebuah truk menabrak satu keluarga, dan dua orang tewas bersimbah darah.


Gadis kecil dengan membawa boneka berdiri dan memegang dada kedua orang tuanya. Berarti anak kecil yang ditutupi matanya oleh Galang, itu Embun.


Kedua sahabatnya menepuk bahu Galang. Ia tersentak kaget, buru-buru ia mendatangi Embun ke rumahnya. Tidak peduli dengan Juna yang overprotective.


"Lang, Galang. Mau ke mana?" teriak Bayu juga Azriel yang tidak dihiraukan Galang. Ia melajukan motor dengan cepat, berharap bertemu Embun sebelum mereka pergi.


Galang tiba di depan rumah Embun. Mobil sudah terparkir di depan dan siap akan berangkat. Embun sekeluarga keluar, Juna menatap bingung ke arah Galang.


"Eh, Bocah. Ngapain ke sini? Naura udah kamu anterin?"

__ADS_1


"Udah, Om. Om, aku mau ngomong sama Embun, boleh?"


Juna, Roy dan Marni melihat ke arah Embun. Embun meremas kedua jemarinya cemas. Ia takut salah bersikap justru jadi bomerang untuknya juga Galang.


Juna menaikkan sebelah alisnya. "Ada apa?"


"Please, Om. Aku mau ngomong sama Embun."


"Kita masuk mobil duluan aja, Jun. Biar nanti Embun menyusul." Marni mendorong pelan tubuh Juna. Namun, ia seolah tidak rela meninggalkan Embun berduaan saja dengan Galang.


Tubuh Juna kaku, hingga Roy harus mendorong kuat Juna untuk berada di balik kemudi.


"Kenapa mereka dibiarin sih, Bu."


"Mereka tuh anak remaja, butuh privasi. Biarin aja, yang penting kita masih tetap awasi mereka."


Ketiganya sudah menempati posisi duduk masing-masing. Namun, pandangan mereka tidak lepas dari Embun dan Galang yang saling berdiri berhadapan.


"Ada apa, Lang? Aku takut ketahuan sama Om Juna."


"Aku nggak peduli, Mbun. Aku cuma mau kasih tau kamu, kalau sepuluh tahun lalu aku juga ada di sana. Di bawah tetesan hujan yang sama denganmu."


"Maksudnya?" tanya Embun kebingungan.


"Mbun, aku anak laki-laki yang menutup matamu untuk tidak lagi melihat darah yang mengalir."


Embun tertunduk dan menangis. Galang tanpa peduli memeluk Embun. Juna kebakaran jenggot dan langsung turun dari mobil, tapi langkahnya ditahan oleh Roy.


"Kita lihat aja dulu. Biarkan mereka dewasa untuk menghadapi masalah."


"Tapi, Pak. Itu Embun Nangis."


"Ya, Bapak juga tahu. Pasti ada alasannya dia begitu."


Juna membuang wajah kasar, ia tidak tahan melihat keponakannya menangis. Apalagi sekarang, ia tengah dipeluk oleh laki-laki lain di depan matanya. Ia merasa patah hati terbesar, melihat hal itu.


"Pak, itu mereka bukan muhrim loh. Lagian masih bocah main peluk-peluk aja!" gerutunya kesal dan sedikit mengotot menunjuk ke arah Galang juga Embun.


Galang melepaskan pelukannya, ia merapikan rambut Embun yang keluar. Menyelipkannya di daun telinga. Ia mengusap air mata yang membanjiri wajah Embun dengan kedua ibu jarinya.


"Jangan nangis, Embun. Aku akan selalu lindungi kamu. Baik itu dulu, sekarang dan nanti. Oke?"


Embun mengangguk sembari mengusap pipinya dengan punggung tangannya. Galang mengantar Embun hingga ke mobil.


"Nek, Kakek, Om Juna. Maaf kalau saya buat Embun menangis. Saya akan datang lagi sama orangtua saya untuk melamar Embun."


"Apa?! Melamar?! Wah, gila ini bocah, nih! Kamu tuh masih kecil, main lamar-lamaran!" ucap Juna penuh emosi.


"Jun," timpal Roy.


"Datanglah, Nak. Tapi ... kalian tidak kami izinkan menikah sekarang. Bawa orangtuamu datang, kita akan bicarakan lagi nanti. Sekarang kami harus pergi."


"Ya, Nek. Hati-hati. Bye, Embun," ucap Galang yang melambaikan tangan pada Embun dan semuanya. Galang pulang dengan sedikit kegirangan. Embun yang dijaga begitu ketat oleh Juna akhirnya bisa menjadi miliknya.


Selama ini, tidak ada yang berani mendekati Embun. Juna terkenal galak dan tidak main-main pada pria yang dekat dengan Embun. Sekarang, justru Juna yang tidak bisa berkutik oleh sikap Galang yang begitu jantan.


"Pak, Bu, kenapa main suruh-suruh datang aja, sih. Mereka kan masih sekolah, Bu," protes Juna yang tidak terima dengan lamaran yang datang untuk Embun.


"Ahmad juga dulu melamar Ratna waktu masih sekolah."


"Tapi beda zaman, Bu."


"Habisnya, Ibu sama Bapak nunggu kamu tapi nggak melamar-melamar."


"Ck! Juna mikirin Embun, Bu. Juna belum mau menikah kalau Embun belum tamat sekolah. Perjalanan Embun masih panjang, Bu. Dia masih butuh sepuluh tahun lagi untuk selesai sekolah."


"Ya, kamu juga keburu tua. Kelamaan!"

__ADS_1


Juna memutar bola mata malas. Ia tidak ingin berdebat panjang lebar lagi. Embun hanya diam, ia tidak tahu harus berbuat. Ada baiknya memang kalau mereka menikah muda, terhindar dari dosa. Juga, pergaulan bebas yang akan menyesatkan. Namun, yang dikhawatirkan Juna adalah masa muda Embun yang akan terhalang oleh semuanya jika ja menikah.


__ADS_2