Embun Di Bawah Hujan

Embun Di Bawah Hujan
Fandy dan Febby


__ADS_3

Embun mengerjap cepat. Biasanya Galang tidak pernah seperti ini. Entah karena di hadapan Fandy. Embun menjadi sangat malu akan sikap Galang yang ramah mendaratkan kecupannya.


Galang pergi membelah jalanan yang sedikit berbatu, meninggalkan Fandy juga Embun. Embun masih berdiri mematung di depannya.


"Mau belajar di mana?" tanya Fandy yang mencoba mencairkan hatinya yang sudah sejak tadi beku di dalam sana.


"Di rumah kamu ada orang?"


"Ada, Mama sama Kakakku."


Embun mengerucutkan bibirnya, ia berpikir cukup lama. Jika belajar di dalam, mungkin ia akan aman karena tidak berduaan dengan Fandy. Tapi pasti akan terganggu oleh pertanyaan-pertanyaan seputar dirinya.


"Belajar di situ, aja," tunjuk Embun ke gazebo berkayu cokelat itu. Ia langsung melepaskan sepatunya untuk naik ke sana. Meletakkan tasnya dan mengeluarkan beberapa buku dari sana.


Fandy pamit masuk ke rumah untuk mengganti bajunya, serta membuatkan minum untuk Embun. Melihat sikap adiknya yang tidak biasa, Febby menaruh curiga.


"Tumben?"


"Apa sih, Kak?" jawabnya kesal dan langsung melangkah ke kamar. Embun masih fokus membuka buku-buku yang akan ia berikan pada Fandy.


Febby menjinjit, ia berusaha untuk melihat keberadaan gadis yang duduk di gazebo itu dari balik gorden.


"Tuh cewek siapa?" tanya Febby yang memang kepo maksimal.


"Apa sih, Kak. Kepo banget."


"Awas kalau macem-macem kamu, ya!"


"Ishh!" cibir Fandy yang langsung berjalan ke arah dapur. Ia terlihat sibuk mengambil dua gelas yang sudah di isi sari jeruk yang diambil dari kulkas.


"Repot bener," ejek Febby yang membuat Fandy memutar bola mata malas.


Febby melipat tangan di depan dada, lalu mengambil toples yang sudah berisi roti wafer di sana. Ia meletakkannya di atas nampan yang akan dibawa Fandy.


"Makasih, Kak."


Langkah Fandy cepat menuju ke arah gazebo tempat Embun duduk. Gadis manis berbando merah itu sibuk membuka halaman demi halaman bukunya.


"Mbun," panggil Fandy yang sudah meletakkan nampan di sampingnya.


"Repot jadinya kan, Fan."


"Nggak repot kok, Mbun."


"Kita mulai dari sini, ya," ucap Embun menunjuk bukunya di halaman tengah.


Fandy pun mulai menulis, Febby yang penasaran menyibakkan gorden melihat siapa gadis yang bersama dengan adiknya itu.

__ADS_1


Ia melebarkan matanya, ia sudah beberapa kali bertemu Embun.


"Itu... Embun?" gumamnya sendiri, kembali ia mempertajam pandangannya. Sekali lagi ia menatap intens keda remaja di sana.


"Ya, itu beneran Embun."


Bahunya ditepuk oleh sang ibu, ia terlonjak kaget. Ia jadi nyengir kuda, malu karena kepergok tengah mengawasi adiknya.


"Ngapain ngintip-ngintip gitu?" Sri mengajaknya untuk pergi dari sana.


"Udah, nggak usah ngintipin adikmu."


"Bu, itu Embun kan?" tanya Febby yang masih penasaran, Sri melongok keluar memastikan ucapan Febby. Ia mengangguk, setelah melihat Embun yang tengah fokus mengajari putranya.


"Iya, kenapa?"


"Nggak apa-apa. Cuma lagi kesel aja sama Omnya."


"Juna?" tebak Sri yang mengerti arti mimik wajah Febby yang menaikkan sudut bibir. Gadis berambut panjang ini mengangguk.


"Kenapa dengan Juna?"


"Febby lamar dia semalam, Bu."


"Apa?" tanya Sri bingung hingga alis melengkung hampir menyatu.


"Ya kamu yang apa-apaan? Kamu tadi bilang lamar Juna, harga diri kamu di mana?" omel Sri yang tidak menyangka dengan sikap anaknya. "Jangan bilang, kamu kamarnya sambil teriak di rumah sakit?"


Febby melangkah pergi, meninggalkan Sri yang masih mendikte sang anak. Febby seperti tidak ada beban, nyelonong ke kamar begitu saja.


"Febby!" teriak Sri yang membuatnya menghentikan langkah di ambang pintu.


"Ada apa ini, Ma?" Pria paruh baya dengan pakaian cokelat bermarga itu langsung kaget melihat istri dan anaknya tengah berdebat. Alfian yang sering dipanggil Pak Fian itu duduk di sofa membuka sepatunya.


"Febby bikin malu, Pa."


Fian menatap Febby penuh tanya, sembari melepaskan kaos kaki hitam dari kakinya.


"Kamu ngelakuin apa, Feb?"


"Nggak ada, Pa."


"Bohong!" teriak Sri yang membuat Embun dan Fandy tersentak kaget. Embun melebarkan mata bulatnya lalu berkedip cepat.


"Kayaknya aku salah milih tempat," kata Fandy yang merasa tidak kondusif suasana di rumahnya.


"Jadi? Mau kita akhiri, aja?"

__ADS_1


"Emmh, gimana ya, Mbun?"


"Atau mau pindah tempat?" usul Embun yang dia sendiri tidak nyaman dengan keributan yang terdengar di sana.


"Ke mana?" Embun mengangkat kedua bahunya, ia sendiri tidak tahu mau ke mana. Tempat ternyaman Embun itu ya di rumahnya.


Embun dan Fandy memutuskan untuk keluar dari rumahnya, masih belum ketemu tempat yang dituju. Mereka hanya berjalan menyusuri jalanan asri di daerahnya.


"Kamu pindahan dari Medan kan, ya?" Fandy mengangguk, Embun sangat mengenal Pak lurah tapi tidak dengan anak-anaknya. "Bukannya Pak Fian lurah di sini, kok kamu malah di Medan, sih?"


"Emmh, aku tinggal di rumah nenek, Mbun. Dulu aku nggak mau diajak kembali ke sini, karena betah tinggal di rumah nenek."


"Oh, berapa lama di sana?"


"Dari TK sih kayaknya."


Mulut Embun membulat, mereka berjalan santai tanpa tujuan. Meski tangan Embun masih memeluk buku. Dari jauh Juna memperhatikan kedua remaja yang tengah berbincang itu.


Ia sangat yakin jika itu Embun. Juna melakukan motor untuk mendekat.


"Embun, pulang!" perintah Juna yang membuat Embun menarik napas panjang, tidak ada lagi kata yang keluar. Memang benar, Juna tengah kesal sikap Embun kemarin. Tapi, Juna nggak bisa tinggal diam kalau Embun pergi dengan cowok-cowok nggak jelas menurutnya.


"Om Juna!" ucap Embun dengan mengerucutkan bibir.


"Naik!" perintah Juna yang menggeleng menyuruh Embun untuk naik ke atas motornya.


"Fandy, maaf ya. Besok kita sambung lagi."


"Nggak ada, nggak ada! Cukup selesai sampai di sini, nggak ada lagi hari esok!"


"Om Juna...!" pekik Embun semakin tidak suka dengan sikap Juna.


"Jangan berani-berani deketin Embun. Awas aja!" ancam Juna yang membuat Fandy terus memperhatikan Juna.


Motor Juna melaju cepat meninggalkan Fandy yang masih terpaku. Embun memukul bahu Juna bertubi-tubi. Juna diam saja, tidak membalas atau menghentikan Embun. Ia membiarkan Embun meluapkan emosinya.


Sesampai di rumah, wajah Embun ditekuk. Ia melemparkan tas asal hingga berbunyi barang-barang di kamarnya jatuh. Juna juga sama kesalnya dengan Embun, belum selesai masalah Galang. Ia sudah harus melihat Embun bermain dengan cowok lain.


"Embun kenapa, Jun?" tanya Marni yang sepertinya mendengar suara keras dari kamar Embun.


"Masalah yang sama, Bu."


"Soal Galang?"


"Bukan, temen satu kelasnya yang lain. Kata, Embun dia murid pindahan."


"Kamu tuh jangan terlalu ngekang Embun, Jun. Biarin dia bermain dan belajar, karena memang cuma itu tugasnya."

__ADS_1


"Tapi, Bu."


__ADS_2