Embun Di Bawah Hujan

Embun Di Bawah Hujan
Galang vs Fandy


__ADS_3

"Oke, karena sudah ada enam orang. Kita akan bagi. Three on three, ya. Kita latihan, untuk pertandingan lusa." Pelatih berkepala plontos itu membagi enam murid didiknya.


Galang memimpin tim satu dan Fandy masuk di tim dia. Dia akan menjadi saingan Galang hari ini. Pelatih dengan kumis di sekitar bibir itu memperhatikan dalam-dalam.


Tatapan Galang dan Fandy saling mematikan. Fandy memang kapten basket di sekolahnya dulu, Galang memang bukan kapten, tapi kehadirannya di tim sangat diperlukan. Jika Galang absen, maka tim basket sekolahnya akan kalah.


Galang paling banyak melakukan shot jarak jauh yang membuat tinggi poin. Saat diminta menjadi kapten basket, Galang menolak mentah-mentah. Bukan tidak baik, hanya saja ia terlalu malas untuk berhubungan dengan organisasi-organisasi di sekolah itu. Ia ingin bebas tanpa perlu menanggung beban atas nama tim.


Galang dan Fandy telah dibagi menjadi dua kelompok. Galang memimpin untuk sementara karena Fandy menantangnya. Koin dilempar oleh pelatih, Fandy memilih kepala sedangkan Galang ekor.


Keberuntungan memang memihak Galang kali ini, Galang mendribel bola dengan tatapan mematikan yang tujukan pada Fandy. Fandy kembali dengan mata tajam penuh hasrat.


Ia tidak ingin kalah dari Galang, begitupun Galang. Bukan karena Embun, Galang masih belum tahu soal Fandy yang meminta Embun menjadi pacarnya secara terang-terangan.


Embun menatap keduanya dengan perasaan yang campur aduk. Ia tahu, kalau Fandy melakukan itu demi mendapat perhatian darinya. Permainan basket pun dimulai.


Fandy dan Galang saling adu kemampuan. Fandy tidak mau kalah dengan Galang, begitu juga dengan Fandy. Keduanya sama-sama berambisi, Galang mempertahankan harga diri. Sedangkan Fandy, memili menjadi diri di hubungan mereka berdua.


Cukup lama mereka bermain dengan sengit, hingga akhirnya pelatih meniup peluit. Ia menghentikan permainan dengan skor seri. Tidak ada yang lebih unggul.


"Oke, kamu diterima di tim basket Elang ini."


Fandy tersenyum penuh kemenangan, tidak dengan Galang yang berkacak pinggang sambil membasahi bibir dengan lidahnya. Ia sudah menaruh curiga dengan Fandy yang begitu tiba-tiba.


Setelah pelatih pergi, Galang mendorong baju Fandy. Fandy hanya menaikkan sudut bibirnya. Ia begitu terhibur melihat sikap Galang barusan. Fandy menyapu bekas tangan Galang yang tertinggal di bahunya.


Fandy melangkah pergi malas untuk meladeni Galang. Galang yang merasa diacuhkan, melempar bola basket itu kuat ke samping Fandy. Pemuda dengan tinggi yang hampir imbang dengan Galang itu menoleh, mengangkat satu alisnya.


Galang mendekat, menarik kerah baju Fandy. Ia tidak terima dengan sikap Fandy yang seperti mempermainkannya.


"Maksud kamu apa?" tanya Galang dengan wajah beringas. Embun langsung turun untuk menghentikan sikap angkuh Galang yang tidak biasa.


"Ck!" Fandy masih saja berdecap sembari membuang wajahnya. "Kamu ada masalah sama aku?"

__ADS_1


"Banyak omong!" teriak Galang yang sudah mengepal tangannya dan siap melayangkan pukulan di wajah tampan Fandy.


Embun menghalangi tepat di berada di antara keduanya. Tangannya direntangkan lalu matanya terpejam saat pukulan itu hampir saja mengenai wajah cantiknya.


"Embun," lirih Galang yang menghentikan tangannya yang sedikit saja ia hilang kesadaran akan menyakiti Embun.


Pandangannya tertunduk, perlahan tangan Galang turun. Sebelah tangannya lagi melepaskan kerah baju Fandy.


"Tujuanku ke sini, cuma mau bilang. Kalau aku juga suka sama Embun!" tandasnya yang kemudian berlalu dengan tangan yang diletakkan di saku celananya.


"Hei...!" teriak Galang tidak terima. Meski Embun menghalangi, Galang tetap mengejar Fandy yang begitu jujur mengatakan perasaannya di depan Galang.


Galang kalap dan membabi buta, ia melayangkan satu pukulan di wajah Fandy. Hingga ia terjatuh di lapangan basket. Galang menindih tubuhnya dan ingin menghabisi Fandy.


Embun menarik tangan Galang, ia sekuat tenaga untuk melindungi Galang dari masalah. Ia tidak ingin, pacarnya itu mendapat hukuman.


Darah segar sudah mengalir di ujung bibir Fandy, ia mengusapnya kasar lalu terkekeh. Bukannya marah, ia hanya tersenyum meremehkan.


Fandy semakin tertantang untuk mendapatkan Embun. Gadis bermata bulat itu langsung membawa Galang pergi. Ia melihat tangan Galang yang sudah bengkak.


"Lang," ucap Embun yang membuat Galang mengalihkan tatapannya pada gadis berbando merah di sampingnya. "Kamu kenapa kayak gitu tadi?"


"Ck!" Galang membuang wajahnya sebentar, ia tidak percaya dengan pertanyaan Embun barusan.


"Lang," panggil Embun lagi yang kini sudah membawa wajah Galang untuk menatapnya. "Aku pacar kamu. Aku nggak akan khianati kamu, Lang."


"Tapi dia punya perasaan sama kamu, Mbun!"


"Lang, kita nggak bisa nyuruh orang untuk jatuh cinta sama siapa pun."


"Ya, tapi kamu itu pacar aku!" ucap Galang yang memang terlihat sangat marah. Embun menghela napas pelan, bahunya melemah. Pandangan mata Embun tertuju pada punggung tangan Galang.


"Kasihan diri kamu, Lang. Jadi, sakit sendiri. Harusnya kamu nggak perlu takut, nanti malam kita juga udah tunangan."

__ADS_1


Galang mengerjap, matanya tertuju pada Embun yang masih terus melihat tangannya. Atensinya beralih ke arah bibir pink alami Embun. Ia mengecupnya sekilas.


Cup


Embun terkejut, ia memukul pelan bahu Galang. Sementara Galang tersenyum, Embun menutup mulutnya dengan tangan lalu celingukan. Ia takut ada yang melihat dan melaporkan mereka sebagai pasangan mesum.


"Lang, agresif banget, sig."


"Gemes, Mbun. Kamu kalau lagi khawatir gitu, imut."


"Ck! Cukup, ya. Nggak lagi-lagi ada adegan kayak hari ini."


"Kalau adegan yang barusan? Boleh?"


"Ish!" Embun mengerucutkan bibir, ia melempar es yang tadi ia pakai untuk mengompres tangan Galang. Lalu pergi meninggalkan Galang. Sebenarnya, Embun malu dengan sikap Galang yang begitu.


Embun menaiki anak tangga, ia berjalan menuju kelas. Fandy masih duduk bersebelahan dengan Galang. Embun menarik napas dalam, ia merasa tidak nyaman.


Belum lagi, ia akan mengajari Fandy untuk mengejar ketertinggalannya. Naura menggoyangkan tubuh Embun yang sudah sibuk mengambil buku dari tasnya.


"Mbun, katanya tadi Galang sama Fandy berantem, ya?"


Embun mengangguk, membenarkan apa yang didengar Naura. Fandy terus saja menatap ke arah Embun yang tampak kecewa dengan sikapnya.


"Terus, sekarang Galang di mana, Mbun?"


"Hem, entahlah."


Santo kembali masuk ke kelas mereka. Entah mengapa, selalu saja Santo yang datang. Semua anak yang melihat kedatangan Santo terlihat lemas.


Santo yang menyadari itu, celingukan bingung. Ia sepertinya sadar, jika murid-muridnya tidak mengharapkan kehadirannya.


"Eh, eh. Kok pada lemes semua ini? Mana semangatnya," ucapnya dengan semangat empat lima.

__ADS_1


"Ya, Pak," jawab semuanya kompak tapi masih tidak ada semangat.


"Kalian nggak suka ya sama keberadaan saya?"


__ADS_2