
Galang terbengong tidak bisa menjawab. Faktanya memang dia belum sempat membuat persiapan untuk itu. Namun, nafsu lelakinya juga tidak mampu menahan gejolak yang tiba-tiba hadir menyesakkan bagian bawahnya.
"Aku belum ada persiapan, Mbun. Maaf, ya." Kalau sudah begini, hanya kata itu yang mampu keluar dari mulut Galang. Embun tidak dapat merespon apa-apa. Mereka memang masih gejolak muda yang selalu penasaran jika belum mengeksplore semua.
Hal itu juga yang membuat Marni juga Roy mengambil keputusan untuk menikahkan keduanya meski masih sekolah. Mereka takut jika Galang dan Embun melakukan zina sebelum menikah.
Mereka sudah tiba di lingkungan sekolah. Fandy tampak menunggu seseorang sambil menendang batu kerikil kecil di sana. Sebelah tangannya ia letakkan di saku celana.
"Lang, aku turun di sini aja, ya?" pinta Embun yang ingin masuk bersama Fandy. Bocah manis itu tersenyum ke arah Embun. Galang justru menatap tajam dan membawa Embun hingga ke tempat parkir.
"Lang, kok malah di sini, sih?" protes Embun yang kini Galang tengah membuka helmnya dari kepala gadis miliknya itu.
"Aku nggak suka kamu dekat-dekat dia," ucap Galang yang kepalanya tertoleh ke arah kanan mengisyaratkan tempat Fandy berada tadi.
"Ya tapi kan ada Naura juga nanti di sana."
"Bee! Kamu berani bantah suami kamu?" Sorot mata Galang tajam dan buat Embun menunduk dalam sambil cemberut.
Embun memutar bola mata malas dan langsung meninggalkan Galang yang masih kesal dengan Embun yang pergi begitu saja.
"Wait, wait!" Azriel juga Bayu mendengar kalimat yang dilontarkan Galang tadi. Bayu menepuk-nepuk pelan pundak Galang.
"Wuih, temen kita udah ngerasain malam pertama ternyata," ejek Azriel yang sudah menaikkan kedua alisnya, "gimana rasanya? Enak?"
"Ck! Apaan sih kalian berdua!" Galang berlalu seraya membenarkan posisi tasnya. Bayu juga Azriel mengekor. Galang berhenti dan berbalik, "Awas kalian berdua kalau ember!"
"Lang, jadi kamu sama Embun beneran udah nikah?"
Galang hanya mendelik dan pergi, terlalu malas untuk menanggapi kedua sahabatnya yang receh. Embun sudah duduk bersama Naura. Fandy juga sudah berada di tempatnya.
"Awas aja kalau kamu ganggu pacar aku!" ucap Galang yang masih berdiri di sisi meja.
"Kalau pacar kamu yang tergoda, bukan salahku. Itu karena pesona kamu yang kurang," ucap Fandy yang sudah menyeringai lalu berjalan ke arah meja Embun. Galang menatap punggung Fandy datar.
"Mbun, ini gimana? Aku masih kurang paham." Fandy membuka buku melingkari beberapa pertanyaan yang memang membuatnya cukup pusing.
Bel berbunyi, Miss Siti sudah masuk dengan mengucapkan, "Good morning, student."
"Morning, Miss." Fandy kembali ke posisi duduknya.
__ADS_1
"Oke, kita mulai dengan pelajaran conversation di hotel. Oke?"
Proses belajar mengajar pun berlangsung, Embun begitu serius saat sedang belajar. Kini, Embun dan Galang diminta berperan sebagai konsumen dan resepsionis. Awalnya semua berjalan lancar, hingga di akhir percakapan.
"Embun, i love you," ucap Galang yang membuat kegaduhan di kelas. Miss Siti tersenyum menanggapinya.
Belum selesai suara kehebohan di kelas, Fandy justru ikut-ikutan.
"Mbun, i want you. Want you to be a girlfriend?"
"Uh...!" sorak semua teman-teman Embun. Galang justru menatap tajam Fandy yang terang-terangan mengatakan isi hatinya.
"Heh, Embun itu pacar aku!" tandas Galang yang tidak terima.
"Sudah, sudah! Miss akhiri pelajaran kali ini sampai di sini. Silakan kerjakan conversation di halaman berikutnya. Home work, ya. See u."
Embun langsung beranjak menuju meja Galang yang duduk bersebelahan dengan Fandy. Ia menggebrak meja. Keduanya melotot dan tersentak ke arah Embun.
Bayu juga Azriel ikut kaget karenanya. Embun selalu bersikap lemah lembut, jarang emosi. Masalah dengan Siska kemarin saja masih bisa dia tenang. Kali ini, kedua pria tampan ini tampaknya cukup menaikkan aliran darah Embun.
"Kalian pikir ini lelucon? Kalian pikir, aku berbunga-bunga dengan sikap kalian barusan? Picik tau nggak!"
"Apa? Mau ikut?" tanya Embun yang membuat Galang melirik ke arah tulisan di atas kepalanya. Itu toilet wanita, Galang spontan menggeleng lemah.
"Aku tunggu di sini, Bee."
"Nggak perlu!"
Galang menyandarkan punggungnya di dinding kamar mandi. Ia dengan sabar menanti Embun, kedua tangannya di saku celana.
Embun keluar seraya merapikan rambutnya. Ia berlalu begitu saja, seolah tidak menganggap kehadiran Galang.
"Bee," panggil Galang yang sudah menggenggam pergelangan tangannya. Embun menepis kuat, memalingkan wajahnya.
"Bee, kamu gitu aja kok marah, sih?"
"Gitu aja? Lang, bukan cuma itu masalahnya. Kamu buat aku malu, Lang."
"Maaf, Bee." Galang berusaha memeluk Embun, Embun meletakkan tangannya di dada Galang. Ia enggan menerima pelukan sang suami nakalnya itu.
__ADS_1
"Nggak ada sentuhan fisik di sekolah, Lang!" Embun kembali ke kelas. Galang masih tidak percaya dengan sikap Embun, ia menolak sentuhan fisik? Lah, kalau tiba-tiba belalainya menegang bagaimana?
Galang menggaruk kepala bagian belakangnya frustasi. Selama ini, Embun mau-mau aja kalau disentuh, peluk, bahkan cium. Ya, meski di tempat sepi.
"Bee, kamu kok berubah?" tanya Galang yang menghampiri Embun di mejanya.
"Nggak ada yang berubah, Lang. Semuanya masih sama. Cuma cemburu kamu yang kelewatan!" tandas Embun yang masih melotot melihat Galang.
"Bee, harusnya kamu seneng dong aku cemburu."
"Stop! Kalian ini, ribut di samping kuping aku. Bisa nggak sih, berantemnya pas lagi berdua aja," gerutu Naura yang terganggu dengan sikap Galang.
"Sana, Lang. Kamu mau aku lebih marah sama kamu?" ucap Embun yang membuat Galang kembali ke mejanya. Fandy justru tersenyum penuh kemenangan. Bukan karena senang melihat Embun dan Galang bertengkar, hanya saja sikap Galang yang tunduk sama cewek idamannya itu yang buatnya merasa tergelitik.
Galang mengeluarkan ponselnya, ia mengirim pesan pada Embun.
"Pulang bareng, Bee."
Ting
Masuk pesan balasan dari Embun yang membuat Galang menaikkan sebelah alisnya.
"Enggak. Aku mau ke rumah Fandy lagi untuk belajar bareng."
"Aku antar. Kalau nggak, nggak usah pergi! ingat, aku suami kamu!"
Embun sontak menoleh, melirik ke arah Galang yang tersenyum licik. Embun memicingkan matanya, menyorot tajam ke arah Galang.
"Malam tidur di luar!"
Galang tertunduk lemah setelah membaca pesan Embun. Bahunya juga ikut turut serta. Sadar akan helaan napas Galang yang frustasi, Fandy tersenyum sembari menutupi mulutnya dengan tangan.
Memang begitu jelas terlihat wajah frustasi Galang. Tanpa sadar Fandy terkekeh hingga mengeluarkan suara. Galang langsung melirik tajam ke arahnya.
"Eh, kenapa ketawa nggak jelas? Apanya yang lucu?"
"Nggak ada!"
"Ketawain aku, ya?"
__ADS_1