
Belum puas tidur Juna, aktivitasnya itu sudah diganggu oleh kedatangan beberapa perawat yang mengetuk pintu ruangannya. Juna berdecak kesal, ia bangkit dengan mode dingin.
"Dokter Juna, ada yang ingin bertemu dengan Anda."
"Hem, suruh dia masuk." Juna sudah merapikan rambut juga wajahnya dari wajah bantal. Ia duduk tegak di kursi kebanggaannya.
Wanita paruh baya yang tadi datang menghampiri Juna. Pakaiannya terlihat sangat lusuh, membuat hati Juna terenyuh.
"Selamat sore, Dokter."
"Ya, sore."
"Maaf kalau menganggu waktu istirahat Dokter. Saya hanya bisa mengucapkan terima kasih." Juna mengusap punggung tangan wanita itu, lengkungan senyum terbit dari bibirnya.
"Tidak perlu sungkan, Bu. Saya ikhlas membantu, itu sudah menjadi tugas saya."
Wanita tadi mengeluarkan sesuatu dari sakunya, Juna mengernyitkan dahi sebentar saat tangannya ditarik ke bawah.
"Ini, untuk Dokter," ucapnya yang memberikan sebungkus roti.
"Apa ini, Bu?"
"Saya tahu, Dokter belum sempat makan. Saya tadi juga lihat, kalau Dokter berlari kencang. Satu pesan saya, tolong jaga kesehatan Dokter."
Juna menatap wanita di depannya tidak percaya. Gerak-gerik Juna yang lari tunggang langgang tadi begitu menyita perhatian orang-orang di rumah sakit rupanya.
"Terima kasih, Bu. Ini saya terima, ya."
"Saya permisi, Dok. Terima kasih sekali lagi," ucapnya yang menundukkan kepala berkali-kali.
Juna menatap punggung wanita itu yang sudah keluar dari ruangannya, lalu pandangannya beralih pada roti rasa srikaya. Kalau dilihat dari harganya, itu hanya sekitar lima ribuan. Tapi berhasil meluluhkan hati Juna yang dingin. Matanya berkaca-kaca, ia sempat mengusap bulir bening yang bertengger di ekor mata. Entah mengapa, ia menjadi haru.
Benar, Juna memang belum sempat makan. Setelah mengoperasi tadi, ia langsung menjemput Embun. Gadis bermata bulat yang kini tengah merajuk padanya.
Embun masih setia di dalam kamar, ia menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Ia sangat malu pada Galang. Menurutnya, Galang hanya ingin bermain hujan bersamanya. Namun, ia tidak bisa melakukannya.
"Embun, keluar dulu, Sayang," panggil Marni yang mengetuk pintu kamarnya. Embun pun menurut, ia membukanya. Wajahnya masih ditekuk, matanya sembab.
Marni mengusap rambutnya yang tergerai, lalu membawa gadis itu ke depan TV.
"Mbun, Om Juna melakukan yang terbaik untuk Embun."
"Tapi, Nek."
"Sayang, Om Juna menyayangi Embun. Bahkan sampe rela meninggalkan rumah sakit demi menjemput kamu."
"Ya, tapi Om Juna nggak suka sama Galang, Nek!"
__ADS_1
"Om Juna hanya khawatir sama kamu. Juna cuma pelampiasan amarahnya. Ngertiin Om Juna, ya." Embun mengangguk paham, Marni menyuruhnya untuk mandi. Sebenarnya, Marni juga setuju dengan Juna kali ini. Namun, itu akan menyakiti hati Embun.
Galang memang pria yang baik di mata Marni, tapi ada keraguan di hatinya. Ia takut kalau Galang tidak bisa melindungi Embun.
Di sisi lain, Galang menjambak rambutnya frustasi. Restu dari Juna tidak akan pernah di dapat olehnya. Belum lagi, Fandy yang menjadi saingannya saat ini.
"Argh...! Bodoh, bodoh, bodoh! Kenapa aku tadi paksa Embun hujan-hujanan!" teriaknya frustasi. Kini, harapannya memiliki Embun harus dikuburnya dalam-dalam.
Bayu juga Azriel memanggil Galang dari halaman depan rumahnya. Galang hanya melirik, tapi enggan bertemu dengan mereka berdua.
Ponselnya mendering dalam panggilan Azriel. Galang menatap layarnya dengan malas. Ia menolak panggilan itu.
Bayu dan Azriel yang merasa sahabatnya itu tidak baik-baik saja, langsung menyelonong masuk setelah dibukakan pintu oleh sang ibu.
"Lang, buka pintunya, dong."
"Ya, Lang. Kita tau kamu pasti lagi nggak baik-baik aja."
Ceklek
Daun pintu kamar Galang terbuka, Galang berjalan tanpa semangat. Ia duduk di tepi ranjang sambil menatap gitar yang bersandar di samping meja belajarnya.
"Kenapa tuh muka ditekuk begitu?"
Azriel langsung menyabet gitar dan memetiknya sekali.
"Galau, Bos," jawab Azriel menimpali pertanyaan Bayu yang ditujukan untuk Galang. Galang justru merebahkan diri di kasur empuknya dengan kedua tangan di belakang kepala.
"Lang, cerita sama kita, dong."
"Atau main basket, yuk!" ajak Azriel yang masih sibuk memutar kunci gitar.
"Aku lagi nggak mood ngapa-ngapain. Kalian aja, gih," ucapnya yang berbalik memunggungi kedua sahabatnya.
"Lang, kamu kenapa?"
Bayu menyuruh Azriel untuk berhenti bertanya dan mengajak Galang bermain, dari raut wajah Galang, ia bisa menebak kalau itu karena Embun.
"Kamu ada masalah sama Embun?"
Galang menatap tajam Bayu yang melontarkan kata-kata itu. Lalu menarik napas dalam.
"Cerita sama kita, Lang. Jangan diam, diam nggak akan nyelesain masalah."
Galang mengubah posisinya, yang tadi berbaring membelakangi mereka jadi duduk tegak.
"Aku udah buat kesalahan fatal sama Embun."
__ADS_1
"Apa? Kamu begituan sama Embun?"
"Nggak, aku belum kepikiran sampe sana."
"Terus?"
"Aku dimarahi Om Juna habis-habisan bahkan nggak dapet restu untuk tunangan sama Embun."
"Kalian mau tunangan?" tanya keduanya serentak dan saling tatap tidak percaya.
Galang terpaksa jujur dan mengangguk pelan. Ia tidak bisa menyimpan semuanya sendirian. Apalagi masalah ini menyangkut traumanya Embun.
"Embun trauma hujan," sambung Galang yang masih membuat keduanya tidak percaya.
"Oh pantes, Embun itu nggak pernah mau ikutan olahraga kalau cuaca lagi mendung."
"Terus gimana?" tanya Bayu kemudian.
"Aku berusaha untuk sembuhin traumanya dengan terus bersama Embun saat hujan di cafe tadi. Embun berkali-kali ngajak aku untuk pulang, tapi aku sengaja tidak mengiyakan."
Galang menunduk lemas setelah mengingat kejadian tadi, kemudian ia melanjutkan kata-katanya.
"Embun kesulitan bernapas, lalu jatuh pingsan. Om Juna menelepon kala itu, lalu aku yang panik langsung mengangkatnya. Saat Embun sadar, ia minta jemput Om Juna."
Kedua sahabatnya menepuk pundak Galang, mereka mengerti perasaan Galang. Ia sudah kehilangan muka dan dianggap pengecut oleh Embun. Belum lagi Juna yang sudah terlanjur membencinya.
"Menurut kalian, aku harus gimana?"
Kedua sahabatnya diam, mereka juga kehabisan ide jika sudah menyangkut Juna. Mereka tahu betul karakter Juna seperti apa.
"Coba besok, kamu temui Embun dulu. Tanya baik-baik. Kalau semuanya baik-baik aja, berarti kamu masih punya harapan."
Galang menurut dengan ide Bayu, ada benarnya memang. Sekarang, kedua sahabatnya itu mengajak Galang untuk bermain basket.
Galang pun setuju, untuk menghilangkan sedikit beban di hatinya, Galang memang melampiaskannya pada basket.
Badan mereka bertiga sudah dipenuhi dengan keringat, sudah hampir setengah jam mereka bermain. Galang juga sudah melepaskan stresnya.
Mereka beristirahat sejenak, Galang masuk mengambil minum untuk kedua sahabatnya.
"Jadi, Lang, teringatnya kapan kamu akan bertunangan sama Embun?"
"Besok malam rencananya."
"Gila! Kita dua nggak ada yang tahu. Kejem banget, Lang!" protes Azriel seraya meminum air mineral yang diambil Galang dari dalam.
"Kalian udah tahu sekarang, kan! Terus?"
__ADS_1