
"Ya, kita dua juga mau diajak untuk nemenin kamu tunangan sama Embun, Lang."
Galang berdecak, sambil mendribel bola. Pasalnya, ia sendiri masih tidak tahu lamarannya akan diterima atau tidak. Sikap Juna tadi langsung membuat nyalinya menciut.
Ambar membawa nampan berisi biskuit, juga tas tangan. Ia hendak pergi untuk keperluan pertunangan Galang besok. Niatnya, ia ingin mengajak Embun. Biar bisa sekalian dicoba cincinnya.
"Mama mau ke mana?"
"Mau beli keperluan untuk besok. Sekalian mau ngakak Embun." Ambar dengan percaya diri akan melangkah pergi menuju mobil sedannya. Galang menghalangi niat Ambar, ia takut orangtuanya malu.
"Mending, nggak usah dulu deh, Ma."
"Loh? Kenapa? Bukannya kemarin kamu ngebet banget minta Mama sama Papa untuk melamar Embun?" tanya Ambar dengan wajah santai.
"Kok aku takut ditolak ya, Ma?"
Ambar mencolek bahu Galang, bibirnya maju beberapa centimeter ke depan.
"Anak muda, wong belum perang kok sudah takut kalah. Udah ah, Mama mau pergi dulu. Bye, Sayang," ucap Ambar pamit yang langsung duduk dibalik kemudi.
"Ma, Mama," panggil Galang yang hanya dilihat lewat kaca spion oleh Ambar. Ia dengan santainya mengemudikan mobil kesayangannya itu menuju rumah Embun.
Pakaian yang tidak terlalu mencolok ia padukan dengan celana kain goyang panjang. Wajahnya sumringah, matanya berbinar. Tidak ada penolakan darinya saat Galang memutuskan untuk melamar Embun.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam," jawab Marni yang menyambut baik kedatangan Ambar. "Masuk, Bu."
"Terima kasih."
"Tumben ibunya Galang main ke sini."
"Ya, saya mau ngakak Embun pergi sebentar. Boleh, Bu?"
"Boleh, sebentar saya tanya Embun dulu, ya." Ambar mengangguk, Marni pergi menemui Embun yang tengah gundah gulana. Matanya sembab karena terus saja menangis akibat perkataan Juna beberapa jam yang lalu.
"Mbun, keluar, Sayang. Ada ibunya Galang ini datang."
Embun langsung mengusap wajahnya, matanya yang sembab sebisa mungkin ia tutupi dengan make up tipis di bagian itu.
"Mbun," panggil Marni lagi seraya memutar kenop pintu.
"Sebentar, Nek."
Embun menyempatkan diri untuk berganti pakaian, ia malu mengenakan baju yang sudah basa tadi.
Beberapa menit kemudian, Embun keluar dengan wajah segar. Meski mata masih terlihat bengkak. Ia duduk manis di samping dua wanita hebat menurutnya.
__ADS_1
"Siang, Tante."
"Eh, Embun. Kamu cantik, ya," pujinya, selama ini Ambar hanya melihat Embun sekilas saja. Itu pun karena melintas di depan rumahnya kala Juna mengajak Embun berkeliling.
"Makasih, Tante."
"Ikut Tante, yuk."
Embun menatap Marni seolah meminta izin padanya. Tatapannya penuh harap, ia takut jika Marni tidak memperbolehkan ia pergi dengan keluarga Galang. Sebenarnya, Marni bukan tidak setuju, hanya menjaga perasaan Juna.
"Pergilah, tapi pulang sebelum Magrib, ya."
"Makasih, Nek."
Ambar langsung membawa Embun ke mobil setelah mendapat izin. Ambar tampak begitu senang, ia punya teman untuk pergi berbelanja.
Baginya memang memiliki anak perempuan ada kebahagiaan tersendiri. Ia bisa berbagi dalam hal apapun. Terutama tentang fashion.
Sekitar setengah jam perjalanan, mereka tiba di toko emas langganan Ambar. Embun melihat ke arah Ambar, tatapannya meminta penjelasan.
"Ayo, Mbun."
"Kita ngapain ke sini, Tante?"
"Mau beli cincin untuk kamu."
"Ya, Mbun. Besok kamu kan mau tunangan sama Galang."
Embun hanya bisa menurut, ia mengikuti saja apa yang sudah Ambar rencanakan. Mereka berdiri di etalase kaca. Memilih cincin logam mulia.
"Tan, kalau bisa jangan yang mencolok, ya. Aku nggak mau jadi pusat perhatian temen-temen di sekolah."
Ambar terlihat menipiskan bibirnya, ia tampak berpikir sambil melihat benda bulat yang terpajang di toko.
"Bu Ambar mau cari yang gimana?"
"Ini, loh. Cincin tunangan tapi, jangan mencolok. Kayak yang biasa aja tapi punya arti gitu."
"Oke, sebentar, ya." Pria yang tampak sebaya dengan Ambar pun masuk. Ia mengambil koleksi terbarunya. Sengaja ia menunjukannya pada Ambar, karena Ambar pelanggan tetapnya.
"Model begini, nggak mau, Bu?"
Ambar melihat cincin dengan permata kecil di atasnya. Sisi cincin itu memiliki ukiran.
"Dicoba, Mbun?"
Embun mencobanya, jemari Embun yang kecil membuat cincin itu longgar. Embun yang tadinya sumringah mendadak menjadi murung.
__ADS_1
"Kebesaran ini."
"Tenang, Bu Ambar. Kita bisa ukur sesuai dengan jarinya."
Setelah membeli cincin, Ambar mengajak Embun untuk memilih pakaian. Bukan kebaya, hanya dress untuk ia kenakan besok.
Mereka berjalan menuju butik langganan Ambar. Banyak memang toko yang menjadi pilihan Ambar, ia hobi berbelanja.
"Mbak Ambar? Tumben ada temennya, biasa juga sendiri."
"Ya, mulai sekarang saya ada temennya kalau datang ke sini. Cariin baju yang cocok untuk dia," ucap Ambar yang meminta pegawai toko memilihkan pakaian untuk Embun.
Embun manut saja, ia bukan tidak punya pilihan. Hanya saja, mengikuti keinginan Ambar menjadi lebih diutamakan sekarang.
Sebenarnya hubungannya dengan Galang masih terganjal dengan restu Juna. Juna begitu menentang pertunangan yang akan diadakan besok.
Di tempat lain, Juna sudah bersiap-siap akan pulang. Jam kerjanya sudah selesai, Juna menyampaikan jas dokternya di kursinya. Ia melangkah keluar, Nia sudah menunggu di sana.
"Nggak pulang?" tanya Juna datar dan terkesan biasa saja.
"Temenin aku makan dulu yuk, Jun."
"Aku capek, Ni. Mau langsung pulang."
"Sebentar aja, Jun. Please," mohon Nia dengan menyatukan kedua tangan di bawah dagu. Juna menarik napas panjang. Akhirnya pasrah, ia tahu bagaimana sifat Nia.
Jika tidak dituruti maka, besok-besok Nia akan terus mengejar Juna. Juna terlalu malas jika berurusan dengan wanita. Bukan tidak normal, hanya saja gadis bukan prioritas dalam hidupnya.
Hanya Embun yang menjadi prioritas Juna. Juna dan Nia memilih makan di warung depan rumah sakit. Juna malas harus pergi jauh. Setelah duduk, Juna menyuruh Nia untuk cepat-cepat pesan makanan.
"Cepetan pesan, Ni. Aku capek pengen pulang."
"Sabar dong, Jun. Ini juga baru duduk."
Nia memanggil salah satu pekerja dan memesan satu porsi ayam goreng tepung tanpa nasi. Juna mengernyit heran dengan ucapan Nia.
"Nggak pake nasi?"
"Malas, Jun. Karbohidrat itu."
"Hem, terserahlah."
Juna melengos menatap ke arah lain. Pandangannya tertuju pada gadis di seberang tempatnya duduk. Febby, ia melihat Febby di sana. Gadis itu tampak cengengesan sambil menelepon. Juna berdecap tidak percaya dengan respons gadis gila itu.
Juna menganggapnya begitu, bagaimana tidak. Febby selalu saja bertindak sesukanya. Baru beberapa jam yang lalu ia menolak Febby mentah-mentah, tapi gadis itu justru sudah tertawa lebar.
Sedangkan Juna masih memiliki sebongkah rasa dongkol di hatinya. Tatapan mereka bertemu, Febby memudarkan tawanya. Matanya beralih ke arah Nia yang duduk tepat di samping Juna. Ada kemarahan di sana. Juna hanya membalas tatapan yang menyorot pada Nia.
__ADS_1
"Nia, kamu jadi sorotan seseorang," bisik Juna.