Embun Di Bawah Hujan

Embun Di Bawah Hujan
Manisnya Ciuman Pertama


__ADS_3

"Ra, udah, ya. Aku nggak apa-apa. Mendingan kita ke kantin, ya. Aku yakin kamu belum sarapan." Embun memeluk lengan sahabatnya lalu berjalan keluar kelas.


Mereka sengaja bolos untuk pelajaran pertama. Biar dihukum juga mereka berdua tidak peduli, yang penting kebersamaan. Selagi langkah mereka berjalan ke arah kantin. Empat mata mereka menangkap Galang juga Siska di ruangan guru pembimbing.


"Mbun, itu Galang kan, ya?"


"He uh."


"Mereka ngapain?" tanya Naura penasaran yang perlahan mengendap menguping di balik dinding. Embun memukul pelan lengan atas Naura. Ia tidak ingin ikut campur urusan Galang memberi hukuman pada Siska.


"Ra, ayo. Entar kita ketahuan bolos, loh."


Naura tidak peduli, ia justru sibuk mempertajam pendengarannya. Embun menoleh ke kanan dan kiri mengawasi sekitar. Meski melarang Naura, ia tetap juga menjaga gerak-gerik sahabatnya itu.


"Pak, saya datang kemari ingin mengadukan kelakuan Siska terhadap Embun," tegas Galang pada Santo guru pembimbinh berkepala pelontos dengan tubuh gempal itu.


Santo menatap Siska dan Galang bergantian. Ia mengernyit bingung, korban yang bersangkutan tidak ada di hadapannya. Justru Galang yang tidak ada hubungan dengan keduanya yang datang menyeret Siska.


"Kenapa kamu yang datang, Galang? Embunnya mana? Harusnya dia yang mengadu pada saya. Bukan ka-mu," ucap Santo dengan sedikit bergurau. Galang meletakkan sebelah tangannya di atas paha.


"Embun terlalu baik untuk mengadukan Siska kemari, Pak. Jadi, saya yang bertindak!" jawab Galang lagi yang membuat Embun tersipu malu mendengar sang pacar membelanya.


Siska terlihat jengah mendengar pujian Galang untuk Embun. Santo manggut-manggut.


"Apa yang kamu buat pada Embun, Siska?" Atensi Santo tertuju pada Siska yang tengah memutar bola mata malas. "Apa saya harus memanggil Embun untuk dihadirkan di sini?"


"Nggak usah, Pak. Saya yang akan menjelaskannya pada Bapak," timpal Galang yang kini maju paling depan melindungi Embun.


"Baiklah, silakan."


"Siska telah lama suka sama saya, Pak," ucap Galang mengawali kata-katanya yang dibalas dengan melengos oleh Santo. Bibir bawahnya maju beberapa centimeter ke depan.


"Hem, perasaan! Sok ganteng kamu, tapi emang gantengan kamu sih, daripada saya. Silakan dilanjutkan," ucapnya yang sadar diri. Galang terkekeh sebentar. Lalu melanjutkan kata-katanya.


"Saya tidak pernah melihatnya sebagai wanita, Pak."


"Jadi, kamu lihat dia sebagai apa? Bentuknya saja wanita, kok," potong Santo yang perlahan membuat Galang diam menatap tegas ke arah Santo. "Maaf, maaf."

__ADS_1


"Saya tidak pernah suka sama Siska. Saya suka sama Embun, dan kami pacaran sekarang."


"Terus hubungannya apa? Kok kamu berbelit-belit, sih, Lang!" protes Santo tidak sabar.


"Siska menjambak Embun, dan saya tidak suka itu!" ucap Galang penuh penekanan. Santo terlihat kaget dan melongok menatap Galang yang sudah bangkit dari tempat duduknya.


"Saya harap Bapak bisa bertindak tegas pada Siska. Permisi."


"Lang, Galang!" teriak Santo yang berusaha bangkit mengejar Galang. Namun, langkahnya terhenti saat ingat Siska di hadapannya.


Naura terkesiap berdiri menghitung semut di dinding, sementara Embun salah tingkah.


"Kalian ngapain di sini?" Mata Galang tertuju pada Embun.


"Mbun, aku masuk ke kelas dulu, ya. Bye." Naura pamit meniggalkan keduanya. Embun juga bingung harus ke mana, sebenarnya ia masih gugup mengingat kejadian pagi tadi.


"Aku, masuk ke kelas duluan ya, Lang." Embun buru-buru pergi, tapi Galang menghadangnya. Ia menggenggam pergelangan tangan Embun.


"Temani aku bolos, Mbun."


"Tapi, Lang."


"Mbun, aku sayang banget sama kamu."


"Tangan aku keringatan, Lang."


Galang mengulum senyum lalu melepaskan tangan Embun sebentar, merogoh saku celananya. Mengambil sapu tangan dan mengusap telapak tangan Embun.


"Masih keringatan?" Embun menggeleng. "Coba lihat sana, Mbun," tunjuk Galang ke arah ranting. Embun mengikuti arahannya, mendongak melihat sekeliling. Galang mengecup lembut bibirnya. Embun tersentak kaget dan mengedarkan pandangannya, ia takut kalau ada yang melihat.


"Ck! Kamu hobi banget nggak lihat situasi!" protes Embun yang menunduk malu dan menyelipkan rambutnya di daun telinga.


"Udah, yuk. Kita jalan lagi."


"Mau ke mana, Lang? Kalau ketahuan Pak Santo gimana?"


"Nggak apa-apa, aku rela dihukum asal sama kamu."

__ADS_1


"Gombal banget." Mereka berdua berjalan santai sambil menikmati taman belakang sekolah yang asri.


"Embun, Galang!" teriak Santo dari ujung pintu taman. Beliau mengangkat tangannya yang menunjuk ke arah keduanya. Galang juga Embun bukannya lari ketakutan malah tersenyum geli.


"Gara-gara kamu ini," bisik Galang pada Embun yang terkekeh mengingat ucapannya tadi. Santo mendekat ke arah mereka dengan langkah seribu.


"Kalian berdua, hormat pada tiang bendera!" perintahnya yang membuat keduanya bersungut, beruntung matahari pagi menyehatkan.


Keduanya berlari menuju tempat yang dimaksud, meninggalkan Santo yang masih kepayahan mengejar keduanya.


"Embun ... Galang ...!" teriaknya dengan napas yang sudah ngos-ngosan.


Kenakalan remaja memang membuat masa muda menjadi lebih hidup. Embun dan Galang tengah mengalami masa pubertas yang baru merasakan cinta dan selalu ingin bersama meski Juna melarang mati-matian tapi dia bisa apa. Tidak semua insan sama dengannya yang fokus untuk mengejar mimpinya menjadi seorang dokter bedah.


Juna masih berleha di kamar, ia bekerja siang. Ia berbaring menatap langit-langit kamarnya. Gadis yang kemarin terlintas dalam pikirannya. Bukan tentang cinta, tapi rasa aneh mengingat sikap sang gadis yang membuatnya berdoa agar tidak bertemu lagi dengannya.


Juna bergidik, ia tidak membayangkan jika gadis itu tidur di sampingnya dan menjadi istrinya.


"Sumpah, deh. Jangan ketemu lagi sama gadis nggak waras itu, hih!" ucapnya yang langsung bangkit mencari Marni.


"Bu," panggilnya begitu ia keluar dari kamar. Juna berjalan menuju dapur tapi tidak menemukan malaikat tanpa sayapnya. Juna menyusuri rumah hingga ke halaman belakang. Hanya ada Roy di sana yang setia dengan gunting besarnya.


"Ibu mana, Pak?"


"Ibumu ke pasar."


"Oh, Bapak nggak nganterin?"


"Ibumu yang nggak mau." Mulut Juna membulat, ia berdiri di samping Roy. Kemudian mengambil sapu, mengumpulkan rumput bekas potongan Roy. Ia berlutut memungut sisa rumput hijau.


"Pak, apa nggak sebaiknya kita tolak saja ya lamaran untuk Embun."


"Emang kenapa?"


"Aku rasa Embun masih terlalu kecil, Pak."


"Lang, tidak baik menolak lamaran yang datang. Itu pamali. Biarkan saja dulu, kita juga nggak boleh egois. Jika Embun benar-benar menyukai Galang, gimana? Kita harus pertimbangkan juga perasaan Embun."

__ADS_1


"Tapi, Pak. Aku saja belum kepikiran ke arah sana. Ini, Embun, Pak," protes Juna yang begitu khawatir akan masa depan Embun. Meskipun Embun sudah berumur lima belas tahun, tapi Juna masih saja melihatnya seperti anak TK.


__ADS_2