
Embun perlahan mendaratkan bokong di tepi kasur, lalu perlahan bangkit. Begitu terus berulang, ia tidak tahu harus apa dan bagaimana. Sementara Galang duduk setia di kursi meja belajar, tapi jantung sudah berdebar tidak karuan.
Mereka berdua sama-sama canggung, hingga Embun menelan saliva dengan sangat berat.
"Emmh, Lang. Aku... aku haus, sebentar, ya." Galang mengangguk, Embun pun keluar dengan cepat dan membuang napas lega.
Ia menuju ke meja makan, meneguk segelas air hingga kandas. Di luar sudah senyap, Embun yakin kalau neneknya sudah tidur lelap di kamar belakang.
Embun berinisiatif membawa air minum ke kamar, kalau-kalau haus lagi akan mudah untuknya. Tidak perlu keluar lagi.
Embun memutar knop pintu, sebenarnya jantungnya sudah seperti genderang yang akan perang. Ia menarik dan mengembuskan napas berkali-kali. Lalu dengan langkah pasti, ia masuk ke kamarnya.
Ia meletakkan gelas yang ada di genggamannya, sedikit gemetar. Belum sampai di benda persegi itu, gelas yang dipegangnya meleset. Tumpah mengenai celana Galang.
Sontak Galang bangkit, ia menatap celananya yang basah persis seperti kencing di celana. Embun menutup mulutnya kaget, Galang melihat Embun dengan tatapan yang sangat sulit untuk diartikan.
"Maaf, Lang," ucap Embun yang kemudian sigap mengambil sapu tangan dari lemarinya. Tangan Embun cekatan mengelap, ada yang terlihat menonjol di sana.
Embun menatap Galang, posisinya ia berjongkok. Galang semakin tidak bisa mengontrol rasa dalam dadanya. Apalagi posisi Embun saat ini sangat menggoda imannya.
"Biar aku, aja, Mbun," ucap Galang yang menahan tangan Embun untuk bergerak.
"Tapi itu basah, Lang. Baju ganti kamu nggak ada, kan?"
Jakun Galang naik turun, ia menggigit bibir dalamnya kuat. Semampunya Galang menahan, Embun yang terlalu polos, menyenggol lumba-lumba Galang.
"Lang," panggil Embun masih di posisi tadi. Sedangkan Galang, sibuk menjernihkan pikirannya. Belum lagi, batu akik Embun terlihat jelas dari posisinya sekarang.
"Hem," jawab Galang dengan dada yang sudah naik turun, hidung kembang kempis menahan hasratnya yang membuncah.
"Ini, apa? Kok gerak-gerak?"
"Embun," ucap Galang yang membuat Embun mendongak, Galang langsung mengangkat Embun. Ia membawa gadisnya ke pembaringan. Ia sudah tidak tahan, semakin berusaha baik-baik saja, justru ia semakin tersiksa.
__ADS_1
"Maafin aku, Mbun," ucapnya yang kemudian mengecup buas bibir Embun. Meski Embun menyambutnya juga. Namun, saat lumba-lumbanya perlahan menuju goa, Embun tetap merintih.
"Sakit, Lang."
"Maaf, Mbun. Tapi aku udah nggak kuat. Aku nggak bisa biarin kamu gitu aja."
"Nggak apa-apa," jawab Embun yang sudah berada dalam kungkungan Galang.
Mereka melakukan perpaduan untuk pertama kalinya. Galang sudah sangat berusaha untuk menahan, tapi kejadian itu membuatnya tak kuasa.
"Argh!" rintih Embun yang sudah meremas ujung sprei seraya ekor mata mengeluarkan butiran bening. Begitu juga dengan Galang yang ikut merintih.
Lumba-lumbanya terasa sakit, tubuhnya sudah melemah. Peluh membanjiri tubuh Galang dan Embun yang sudah tanpa busana, sungguh ia tidak menyangka akan melakukan pelepasan hasrat malam ini.
Meninggalkan Galang yang terus sibuk dengan pergulatan malam pertamanya, Juna justru menekuk wajahnya. Ia sangat tahu apa yang pasti terjadi antara Embun dan Galang.
Ia pun sebagai pria tidak mungkin bisa melewatkan malam yang hanya ada sekali seumur hidup itu begitu saja. Pikiran Juna benar-benar, keriting. Ia mengusap wajah gusar, merebahkan diri di kasur yang ada di ruangan khusus dokter.
Juna menoleh ke arahnya, masih menanggapi dengan malas. Padahal, ia termasuk mentornya. Langkah pria berumur awal dua puluhan itu mendekat, Juna tetap memejamkan mata. Pasalnya ini sudah hampir pagi.
"Dok, saya masih kesulitan membaca USG. Dokter bisa bantu saya, nggak?"
"Ck! Besok pagi aja, sekarang saya ngantuk. Nggak konsen."
Mendengar jawaban Juna, Tian mundur beberapa langkah. Memilih tidur di atas, ranjang untuk istirahat dokter tingkat. Jadi, itu bisa menghemat ruangan.
Pagi tiba, sinar matahari menyingsing. Juna membuka pakaiannya, lalu melangkah mendekati loker yang memang bertuliskan namanya. Roti sobeknya terbentuk dengan sempurna, punggung lebarnya memang begitu menggoda para wanita untuk bersandar di sana.
Pantas, Nia juga Febby mengejarnya. Tian sepertinya tidak mau meninggalkan kesempatan yang ada di depan mata begitu saja. Ia mendengar kalau Juna beringsut turun dari ranjang tadi.
Mumpung suasana masih sepi. Juga, mesin USG portable itu belum digunakan jika masih pagi buta begini.
"Dok," panggil Tian yang sudah membawa mesin itu di depannya. Juna yang masih belum menggunakan baju, menatap tidak percaya anak magang bimbingannya ini.
__ADS_1
"Oke, coba di tubuh saya," ucap Juna yang kini berdiri di hadapannya dengan dada telanjang. Tian memberikan gel di alat yang akan ia gunakan untuk mempermudah gerak mesin.
Tian melihat mesin dan alat yang sudah ia letakkan di dada Juna bergantian.
"Dok, ini cara bacanya gimana?"
Juna menarik napas panjang, lalu bangkit. Ia akan memberi contoh pada Tian. Juna menyuruh Tian membuka bajunya. USG hanya bisa dilakukan saat langsung bersentuhan dengan kulit, merasa tidak sabar akan sikap Tian. Juna membantunya, ia tidak ingin berlama-lama.
Seorang dokter satu angkatan Tian masuk tanpa mengetuk, sontak keduanya menoleh. Posisi tangan Juna masih mengangkat baju Tian, juga menampakkan setengah perut Tian.
Mereka berdua melotot, lalu melihat apa yang mereka lakukan. Dokter wanita tadi urung untuk masuk, ia kembali menutup pintu pelan.
"Silakan dilanjut, Dok," ucapnya yang berlalu. Keduanya terbengong, Juna takut akan rumor yang tidak benar itu tersebar.
Juna mengambil langkah seribu, ia menghentikan langkah dokter magang yang bernama Kiki.
"Dokter Kiki," panggilnya yang membuat gadis bertubuh kecil itu menoleh dan menghentikan langkah.
"Ini nggak seperti yang Anda bayangkan." Gadis berambut di atas bahu itu mengangguk pelan dan terjeda. Juna menyatukan alis dengan sikap Kiki, tatapan matanya menunduk melihat ke arah bawah pinggang.
Juna jadi mundur satu langkah, bingung dengan tatapan Kiki. Selama ini sikap Juna memang selalu dingin terhadap wanita, mungkin itu juga yang membenarkan pikiran Kiki.
Tian keluar, ia berdiri di belakang Juna tidak jauh. Napasnya terdengar memburu, ia juga sama. Berusaha menjelaskan kesalahpahaman yang dilihat Kiki.
"Ki, ini nggak yang seperti kamu bayangin."
Kiki terlihat nyengir kuda, lalu berbalik melanjutkan langkah. Juna juga Tian menatap punggung kecil itu yang meninggalkan mereka berdua.
Juna berkacak pinggang, sebelumnya ia sudah memakai baju warna hijau. Ia berdecap kesal sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Gosip tentang dirinya pasti akan cepat tersebar. Sikap dinginnya terhadap wanita pasti akan memperkuat imagenya sekarang.
"Argh!" teriaknya frustasi.
"Maafin saya, Dok," ucap Tian yang menunduk dalam. Juna hanya mengembuskan napas berat.
__ADS_1