
Juna bersiap-siap akan menjemput Embun. Ia masih kesal dengan ucapan Marni tadi. Juna memang bukan ayah kandung Embun, tapi kasih sayang yang diberikan Juna tak kalah dengan Ahmad.
"Jun, Ibu nggak mau tau. Kamu harus minta maaf sama Febby!" teriak Marni dari dapur. Juna hanya berdecap kesal. Ia sangat malas berurusan dengan wanita yang disebutkan ibunya tadi.
"Juna, kamu dengar, kan?"
"Ck! Ya, Bu. Nanti sekalian pulang jemput Embun."
"Ya udah, Ibu tunggu."
Juna keluar menuju garasi untuk mengambil motornya. Ia yang masih senggang menyempatkan diri menjemput Embun.
Embun penuh peluh dan kepanasan karena habis dihukum hormat pada tiang bendera bersama dengan Galang. Galang menyodorkan minuman dingin pada kekasihnya, Embun langsung menegak botol bertutup biru itu.
"Hehe. Maaf, ya, Mbun. Kamu jadi dihukum gara-gara aku."
"Nggak apa-apa, Lang. Aku juga lagi pengen sama kamu."
Galang mengacak-acak rambut Embun diiringi tawa yang membuat matanya hilang dibalik itu. Embun terus saja mengelap sisa-sisa keringat di lehernya. Galang yang sadar akan sikap Embun langsung menyodorkan sapu tangan miliknya tadi.
"Aku bisa sendiri, Lang," ucap Embun yang dibantu Galang ia menyeka keringat.
"Pulang nanti kita jadi nonton, Mbun?"
"Kayaknya nggak, ya, Lang. Aku capek."
"Oke. Kasihan pacar aku!"
Embun bersungut manja, Galang begitu menyayangi Embun. Kini, mereka putuskan untuk kembali ke kelas. Ini pelajaran terakhir sebelum akhirnya waktu pulang akan tiba.
Baru saja mereka mendaratkan bokongnya di kelas, suasana ricuh dan ramai dengan bisik-bisik dari teman-temannya. Tanpa terkecuali Naura, Azriel dan Bayu.
"Lang, udah dengar kalau bakalan ada anak baru?" tanya Azriel yang membuat Galang menggeleng pelan.
"Katanya, di kelas kita, Lang."
"Cewek apa cowok?" Bayu ikut nimbrung pembicaraan antara Galang juga Azriel.Naura menatap tajam ke arah Bayu.
"Kalau cewek lumayan untuk cuci-cuci mata," sambung Bayu lagi. Naura melempar penggaris besi ke arah Bayu.
__ADS_1
"Ye, kamu kenapa? Cemburu?" tanya Bayu pada Naura yang jelas menunjukkan wajah tidak suka.
"Berisik, tau nggak!" pungkas Naura yang memang sebenarnya hatinya tengah terbakar cemburu. Semenjak Galang berpacaran dengan Embun, Naura menjadi dekat dengan Bayu.
"Ra," panggil Naura yang mengaburkan pandangan Naura yang tengah menatap Bayu dengan wajah sengit. Bayu justru menaikkan sebelah sudut bibirnya.
"Ya, Mbun."
"Kamu kenapa?"
"Nggak apa-apa."
Pak Santo datang memasuki kelas kami. Ia datang dengan seorang murid tinggi dan berkulit putih. Rambut terlihat berponi dan terbelah dua.
Santo terlihat terbanting berdiri di samping murid lelaki berwajah tampan itu. Santo mendongak seraya bergumam, "Tinggi banget. Ke banting banget aku jadinya."
"Selamat siang, anak-anak. Kalian kedatangan teman baru, ya. Dia pindahan dari Medan. Silakan perkenalkan diri kamu."
"Selamat siang, teman-teman. Saya Fandy. Senang berkenalan dengan kalian," ucapnya yang membuat semua wanita di kelas Embun bersorak kegirangan dan berlomba untuk berkenalan dengannya.
"Kamu bisa duduk di samping Galang," tunjuk Santo yang melihat Galang duduk sendirian.
Kini, Fandy sudah berada di samping Galang. Ia tersenyum ramah sekadar menyapa. Galang melirik tidak suka, pasalnya ia tahu tatapan mata Fandy terus tertuju pada kekasihnya itu.
Bel sekolah berbunyi tanda proses pembelajaran usai. Mereka semua berhamburan keluar. Tak jarang para gadis remaja mendekati Fandy yang merupakan murid baru di sekolahnya.
Mereka telah kehilangan sosok idola setelah Galang terang-terangan berpacaran dengan Embun. Semua berkerumun mendekati Fandy, tapi pria bermata ideal dengan bulu mata lentik itu mendekati Embun yang tampak tidak peduli akan kehadirannya.
"Maaf, ya," katanya yang mengejar Embun. Embun dan Naura pulang bersama, sebab Juna sudah menunggu di depan.
"Kamu nggak pulang bareng Galang, Mbun?"
"Mana bisa, Ra. Lihat, tuh. Om Juna udah nunggu di depan," kata Embun menghela napas panjang.
"Maaf," ucap Fandy yang sudah berada di belakang keduanya. Embun juga Naura langsung berbalik menatap Fandy yang tengah tersenyum.
"Aku baru di sini, ada yang bisa tunjukkan arah jalan pulang?"
"Emang, rumah kamu di mana?" tanya Naura seraya memegang tali ranselnya.
__ADS_1
"Di mana, ya. Aku lupa. Pokoknya nggak jauh dari sini," kata Fandy seraya menggaruk kepala bagian belakangnya.
"Ya udah, Ra. Kamu anterin dia, Om Juna udah jemput aku, tuh."
"Loh, kamu nggak mau bareng aja sama kami?" Embun menggeleng lalu berjalan menghampiri Juna yang sudah memarkir motornya di depan gerbang sekolah.
"Aku duluan, Ra. Bye," ucapnya melambaikan tangan setelah duduk di atas motor Juna.
"Itu tadi siapa, Mbul. Om kok baru kali ini lihat. Pacar Naura?"
"Ih, Om Juna kepo. Sejak kapan Om Juna perhatiin teman-teman aku?"
"Mbul, kalau masih seputaran Curug aja, masa' ya Om Juna nggak hapal wajah-wajahnya. Orangnya juga itu-itu aja!"
"Hem, ya. Terserah Om aja, deh. Dia itu emang murid pindahan dari Medan."
Juna malas melanjutkan bertanya, ia takut akan mengusik Embun. Saat ini suasana hati Embun tengah baik. Mereka pulang dengan bercerita apa saja.
Seketika Galang melewati mereka. Galang menyapa Juna, yang hanya dibalas Juna dengan deheman.
"Om, gimana kalau aku aja yang anter Embun pulang?"
"Ck! Saya masih nggak percaya sama kamu. Di depan mata saya aja kamu berani pegang-pegang Embun!" Embun mengibaskan tangannya mengusir Galang. Ia tidak ingin pacarnya itu terlibat perdebatan dengan Juna.
Mimik wajah Galang tetap tenang, ia tidak menuruti perintah Embun. Ia sudah siap menghadapi Juna apa pun resikonya. Juna menancap gasnya untuk membawa Embun tiba di rumah lebih cepat dan meninggalkan Galang jauh di belakang.
Galang hanya geleng kepala melihat sikap Juna yang dia anggap tidak dewasa.
"Untung dia Om kamu, Mbun," gumam Galang yang menarik sudut bibirnya.
Sesampai di rumah, Marni menyambut keduanya. Jelas Marni mencecar Galang dengan pertanyaan yang sama sebelum ia berangkat menjemput Embun tadi.
"Gimana? Kamu udah minta maaf sama Febby?"
"Ck! Ibu, aku buru-buru, Bu. Ini mau langsung siap-siap ke rumah sakit."
"Kamu itu gimana, sih, Jun! Ibu nggak mau tahu, pokoknya kamu harus secepatnya minta maaf sama Febby. Kalau tidak?"
"Kalau tidak apa, Nek?" tanya Embun yang sebenarnya ia masih bingung kenapa Marni begitu marah pada Juna.
__ADS_1
"Kalau nggak Nenek akan jodohkan Om kamu sama Febby. Kamu nggak boleh nolak, Juna!" tandas Marni yang langsung buang badan meninggalkan keduanya. Juna menggaruk kepalanya frustasi.