
Naura bersungut-sungut. Memang, tidak ada romantisnya cara Bayu mengungkapkan perasaannya. Meski begitu, sebenarnya hati Naura sudah bertalu. Ia juga memiliki perasaan yang sama untuk Bayu, hanya saja gengsi untuk mengakuinya terlebih dahulu.
Naura tidak menjawab, ia justru melepaskan genggaman tangan Bayu. Ia fokus ke bakso yang mienya sudah mengembang. Ia mengaduk teh manis dan menyeruputnya.
Sementara Bayu masih setia menanti jawaban Naura. Ia memandangi gadis itu penuh harap. Jantungnya sudah deg-degan, takut ditolak. Jika Naura menolak, maka situasi mereka akan canggung.
"Ra, jadi gimana?" tanya Bayu yang sudah hampir mati penasaran. Meski centil, tapi Naura menjunjung tinggi harga diri. Ia tidak mau terlihat murahan.
"Tergantung sama usaha kamu, Bay."
"Hah? Usaha?"
Naura melirik Bayu sambil memegang sedotan. Bayu tampak menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Meninggalkan Bayu dan Naura yang masih menggantung status hubungannya, berbeda dengan Embun yang kini justru sibuk dengan pernikahan dininya.
"Lang, kok kamu bengong?" tanya Embun saat melihat Galang duduk di tepi kasur sambil melamun. Wajahnya terlihat penuh beban, perkataan Juna memang berhasil memporak porandakan perasaannya.
"Mbun, kalau kami hamil gimana?"
"Kan kita udah buat perjanjian, aku bakalan home schooling."
"Kamu nggak sayang kehilangan momen remaja kita?" tanya Galang yang kini Embun melangkah mendekat padanya. Embun duduk di sampingnya, menggenggam jemari Galang.
"Lang, anak itu anugerah dan titipan. Jadi, aku akan jaga titipan itu seandainya ada. Lagian, jadi mama muda juga enak."
Sebenarnya ini bukan karakter Embun, tapi entah mengapa gadis yang selalu dimanjakan oleh Juna ini bisa bersikap dewasa.
Juna langsung memeluknya, mengusap punggung Embun lembut. Embun melingkarkan tangannya di pinggang Juna. Juna menangkupkan wajah Embun dengan kedua tangannya, mencium bibir mungil itu sekilas. Namun, Lama-lama justru **********.
"Emh, Galang," rintih Embun manja. Ya, bibir Embun selalu menjadi candu untuk Galang. Ia sudah beberapa kali meraup manisnya benda kenyal di hadapannya itu.
"Mbun, kalau bisa secepatnya kita pindah ke rumah Mamaku, ya." Embun mengangguk, Galang kembali mendekapnya.
Juna sedikit terusik dengan suara bisik-bisik mereka. Memang, hanya berbatasan papan membuat Juna bisa mendengar, meski tidak jelas. Ia menggaruk kepala bagian belakang yang tidak gatal. Menutup pintu dengan sedikit dibanting, ia langsung menyambar handuk di gantungan kamarnya.
__ADS_1
"Ck! Dasar bocah mesum! Pagi-pagi gini udah bisik-bisik aja, sih! Nggak tau apa dia, kalau aku dinas malam. Argh!"
"Kamu kenapa?" tanya Marni yang tiba-tiba muncul di hadapan Juna. Juna melirik tajam ke arah kamar Embun, hingga ia tidak sadar kalau ibunya sudah berdiri di depannya.
"Nggak apa-apa, Bu! Aku mau langsung ke rumah sakit aja. Mau istirahat di sana!" ucap Juna yang sedikit merapatkan giginya.
"Jun, kamu kok nggak ada liburnya, sih?" tanya Marni yang mengekori Juna. Hingga tubuh tegap itu hilang dibalik pintu kamar mandi.
"Kalau Juna libur, pasien-pasien Juna gimana, Bu?" Bukannya memberi jawaban Juna justru membalikkan pertanyaan.
"Memangnya dokter di rumah sakit itu cuma kamu?" Entah mengapa Marni jadi cerewet begini, biasanya tidak pernah mencampuri pekerjaan Juna.
"Ya, nggak, Bu. Cuma kan udah divisinya masing-masing," ucap Juna sembari menggosok giginya.
"Jadi, kalau kamu menikah nanti gimana? Kamu tetap nggak bisa libur juga?" Marni menekankan kalimat nikah di sana. Juna enggan menanggapi ocehan ibunya itu. Ia diam dan sibuk membasahi tubuhnya.
Keluar dengan wajah segar, Juna langsung menuju kamar. Mengambil celana kain juga kemeja lengan pendek miliknya yang berwarna abu.
"Juna," panggil Marni yang membuatnya menoleh ke arah wanita paruh baya itu. Helm full face sudah ia kenakan. Marni berlari kecil menghampiri Juna.
"Ada apa, Bu?"
"Hari Minggu nanti Ibu mau arisan. Kamu libur, ya?"
"Nggak bisa, Bu. Yang arisan kan, Ibu. Kenapa bawa-bawa Juna?" Marni memukul pelan bahu anak semata wayangnya itu, ya semenjak Ratna meninggal, Juna satu-satunya anak yang dimiliki Marni.
"Pokoknya, kamu harus libur! Bantuin Ibu, sekalian Ibu kenalin sama anak temen-temen Ibu!" tandas Marni yang membuat Juna jengah mendengarnya. Juna langsung melajukan motornya cepat.
Walau Embun sudah menikah, Juna masih belum memikirkan tentang hidupnya. Belum lagi di rumah sakit rumor tentangnya sesuka sesama jenis santer terdengar.
Juna melangkah dengan gagahnya, ia menuju ruangan. Belum tiba di ruangan, para perawat atau dokter muda yang masih melakukan pendidikan sontak berbisik-bisik saat melihatnya.
Ya, Juna tahu. Mereka membicarakan dirinya yang terkena skandal dengan dokter magangnya sendiri. Namun, Juna tidak peduli akan hal itu. Hidupnya hanya lurus dan lurus saja.
__ADS_1
"Jun, kamu udah dengar gosip soal kamu?" tanya Nia yang berdiri menyandarkan tubuhnya di kusen pintu sambil bersedekap tangan.
Juna yang baru saja tiba di ruangannya hanya berdehem. Nia melangkah masuk dan duduk di depan mejanya.
Juna mengambil jas dokter yang disangkutkan di gantungan belakang kursinya.
"Kamu, nggak mau menyangkalnya?"
"Nggak perlu, Ni. Hidupku bukan cuma untuk menutup mulut orang-orang itu. Pekerjaanku juga masih banyak."
"Ya, tapi sikap kamu yang dingin seolah membenarkan."
"Aku nggak peduli!" tandas Juna yang kini justru memakai jubah dokternya dan berkeliling memeriksa pasiennya. Meninggalkan Nia yang masih di ruangannya. Gadis itu tidak mengerti dengan sikap Juna.
Bertahun kenal, tidak cukup untuk Nia memahami pikiran dan hati Juna. Juna terkenal karena sikap dinginnya. Nia menghela napas pelan, ia tidak bisa berbuat apa-apa lagi jika Juna sudah mengambil keputusan itu.
Juna berkeliling diikuti beberapa perawat dan asistennya. Ya, pria kemarin yang menciptakan rumor itu. Juna bersikap profesional, tidak goyah hanya karena gosip.
"Gimana keadaan pasien?" tanya Juna pada salah satu anggota keluarga yang sedang menemani.
"Sudah lumayan membaik, Dok. Hanya saja, bekas jahitannya yang buat dia masih merintih kadang-kadang," jelas wanita muda yang sepertinya istri dari pasien yang beberapa hari lalu dibedah oleh Juna.
"Oke." Matanya tertuju pada asistennya, bergerak meminta untuk meninjau bekas jahitan yang berada di perut sebelah kiri. Paham dengan gerak mata Juna, Tian dengan sigap meminta pasien membuka baju.
Beberapa menit mengamati, Tian menatap Juna yang masih memasang wajah ramah terhadap. keluarga pasien. Seperti mengerti akan tatapan Tian, Juna berinisiatif untuk memastikannya sendiri. Ia tidak ingin membuat kegaduhan atas kebodohan asistennya.
"Bekas jahitannya terlihat baik-baik saja, Bu. Makan harus tetap dijaga, juga jangan sembarangan, ya."
"Terima kasih, Dok."
"Ya." Juna mengakhiri kunjungan itu dan meminta Tian untuk masuk ke ruangannya.
"Kamu, ikut saya!" perintah Juna sembari menunjuk ke wajah Tian. Tatapannya dingin dan siap mematikan orang.
__ADS_1