Embun Di Bawah Hujan

Embun Di Bawah Hujan
Kebingungan Galang


__ADS_3

"I-iya, Om," ucapnya kemudian yang langsung menunduk takut. Pahanya ditekan kuat oleh Juna. Wajah Juna mendekat hingga tak berjarak, Galang semakin ketakutan.


"Kalau sampai Embun hamil, itu," ucap Juna menunjuk ke arah bawah pinggang Galang. "Aku sunat habis!" tandas Juna, dada Galang sudah bergemuruh.


Embun kembali menghampiri kedua pria yang terlihat dingin dan salah satunya ketakutan. Ia keluar dengan handuk yang sudah berlipat di kepalanya. Juna sangat paham apa yang terjadi pada Embun.


"Kamu kenapa, Lang?" tanya Embun yang sudah bergabung dengan keduanya.Juna hanya menarik sudut bibir. Lalu pergi meninggalkan dua remaja ini.


"Om Juna udah selesai?" Juna hanya berdehem, melangkah pergi menuju kamarnya. Hari ini ia dinas sore. Meskinya ia memang masih dinas sore, hanya saja pernikahan Embun membuatnya berganti shift.


Lagi, lagi ia merebahkan diri di kasur empuknya. Mata panda masih melingkar di wajah tampannya. Pulang pagi, pasti kekurangan tidur. Meski di sana sempat memejamkan mata sebentar.


Juna sudah bersiap dengan posisinya, ia sengaja tidak mandi. Jika sudah mandi, maka hilang rasa kantuknya. Embun juga terlihat tengah ber siap-siap akan sarapan.


"Lang, kamu nggak sarapan?" tanya Embun yang sudah mengambil nasi di atas piringnya. "Mau aku ambilin?"


"He uh? Boleh," jawabnya yang masih dengan posisi cengo. Mereka berdua sarapan dengan santai, Galang masih belum bisa menetralkan hati atas perkataan Juna tadi.


Benar, Galang memang tidak menyiapkan apa-apa. Ia juga tidak tahu kalau akan berakhir dengan pernikahan siri.


"Lang, nanti pergi jalan-jalan, yuk."


"Heuh?"


"Kamu kenapa, sih? Kok bengong terus. Om Juna ada ancam kamu, ya?" terka Embun yang membuat Galang langsung menggeleng cepat.


"Aku teringat tadi malam, Mbun," ucapnya dengan menunduk dalam. Embun justru tersipu malu, wajahnya sudah memerah. Ia memegang kedua pipinya.


"Galang, ih. Masih pagi, ini. Kok udah inget yang begituan."


"Bukan begitu maksudku, Mbun. Aku tadi malam kan nggak pake helm saat masuk ke sawah itu," ucap Galang lagi dengan bahu yang ikut turun.


"Udah ah, Lang. Mudah-mudahan nggak terjadi apa-apa, ya."


Setelah makan, Embun juga Galang kembali ke kamar. Embun menyiapkan materi untuk besok saat akan kembali belajar bersama Fandy. Tidak seorang pun yang tahu kalau Embun dan Galang sudah menikah.


Hari Sabtu ini, memang tengah tanggal merah di kalender. Jadi, mereka libur sekolah. Tidak salah dong, kalau Embun menyiapkan materi untuk Fandy. Ponsel Galang bergetar diiringi nada dering, ia cepat mengangkat panggilan masuk dari Azriel.


"Hem," sahut Galang malas. Jelas malas, masih hangatnya pengantin baru, masa' ya diganggu dua kucrut itu.


"Lang, kamu di mana? Kok nggak ada di rumah?" tanyanya dari seberang telepon, kedua sahabatnya sudah memarkir motor di depan jendela kamar yang Galang yang tertutup gorden berwarna cream itu.

__ADS_1


"Aku lagi nggak mau diganggu. Bye." Galang langsung mematikan teleponnya. Kedua sahabatnya salih mendengus kesal.


"Gimana, Bay?"


"Udah lah, pulang aja, yuk."


"Nggak asyik, banget sih!"


Bayu berniat mengajak Naura pergi. Entah ke mana, yang penting ia sedang ingin saja mendekati Naura.


Setelah mengantar Azriel pulang, Bayu memutar motornya. Mengambil jalan yang berbeda untuk tiba di rumah Naura.


Gadis centil itu tengah memakai earphone mendengarkan musik. Ia merebahkan diri di atas kasur empuknya, sembari jemari yang menari di layar ponselnya.


Nama Bayu tertera di sana, Naura memutar bola mata malas. Ia mereka memang selalu saja berdebat dan ribut dalam hal apa pun.


"Ck! Ngapain sih, nih, anak. Ganggu kesenangan orang aja!" gerutunya kesal. Tidak cukup sekali, Bayu kembali menelepon. Ia tidak pantang menyerah.


Ting


"Ra, keluar bentar. Temeni aku makan bakso."


Meski malas, tapi yang namanya Naura, jika sudah menyangkut soal bakso. Ia tetap stand by, ke ujung dunia ia juga siap.


Sepuluh menit, akhirnya Naura d dari rumahnya. Bayu, tersenyum melihat gadis yang rambutnya dicempol itu. Memakai hoodie juga rok kotak-kotak apa-apa Korea yang sebatas lutut, membuat Naura tampak manis.


Bayu saja jadi bengong melihat Naura. Belum lagi, ia memakai liptint di bibirnya. Bayu sampai menelan ludahnya sendiri. Naura memukul bahunya.


"Woi, kok malah bengong, sih?"


"Eh, maaf."


"Tumben ngajakin aku makan bakso?"


"Lagi pengen aja."


"Awas kalau macem-macem, ya!" ancam Naura yang menunjuk wajah Bayu dengan satu jarinya.


"Nggak percayaan banget, sih! Buruan naik!" perintah Bayu, Naura duduk menyamping. Ya, dia memakai rok.


"Berat, banget sih kamu!"

__ADS_1


"Heboh banget, sih. Yang ngajakin juga kamu!"


"Ya, tapi nggak begitu juga duduknya."


Bayu protes, memang lebih sulit membonceng dengan posisi menyamping. Akhirnya mereka berdebat lagi dan lagi sampai ke tempat tujuan.


Mereka berhenti di gerobak biasa tempat langganan mereka. Ya, siapa lagi kalau bukan tempat Mang Diman.


"Kamu pesan apa?" tanya Bayu yang melihat Naura sudah duduk di bangku kayu panjang itu sambil menopang dagunya.


"Samain aja."


"Mang, mie ayam bakso dua, ya. Es teh manisnya juga dua."


Bayu duduk di samping Naura, ia cengengesan. Naura mengerutkan alisnya, ia bingung akan sikap Bayu sekarang.


"Kenapa?"


"Nggak apa-apa."


"Tumben ngajak aku, biasa kalian trio Ndablek nggak bisa pisah."


Bayu menarik sudut bibirnya, memang benar yang dikatakan Naura. Mereka tidak pernah pisah. Sekarang, Galang yang suka ngilang. Jelas, mereka tahu Galang dengan siapa.


"Galang nggak ada di rumahnya, Azriel aku antar pulang tadi."


"Terus? Kenapa ngajak aku, hah?"


"Aku suka sama kamu," ucap Bayu santai lalu menyendokkan mie ke dalam mulut. Naura melotot tidak percaya dengan ucapan Bayu barusan.


"Wah, udah gila ini, anak. Kalau mau PHP jangan begini, dong!" pungkas Naura yang masih ragu akan kata-kata yang terlontar dari Bayu.


"Aku nggak PHP. Aku suka kamu, kamu mau jadi pacar aku?"


Naura membuang napas kasar, ia memalingkan wajahnya sejenak. Perkataan Bayu berhasil membuatnya sesak napas. Tanpa ada kode, tahu-tahu nembak. Wah, nggak ada jeda lagi.


"Kamu gila?" tanya Naura yang kini memandang serius wajah Bayu. Bayu yang tadinya menatap lurus ke depan, beralih ke arah Naura.


"Aku serius, Ra."


"Bay, ini tuh nggak bisa dibuat bercandaan."

__ADS_1


"Aku nggak bercanda. Aku nyaman sama kamu, selama ini ngajak ribut kamu cuma untuk dapet perhatian dari kamu. Serius," ucap Bayu yang kini sudah memegang kedua tangan Naura.


"Nggak romantis banget, sih. Masa' nembaknya di gerobak bakso?"


__ADS_2