
"Hmm... Laura Bagaimana hubunganmu dengan Presdir? Kenapa kalian tidak saling menyapa ?"
Laura tersedak air yang sedang diminumnya , ia tidak pernah berpikir Hani akan menanyakan hal ini lagi padanya. Sejak Hani melihat Febri menggendong Laura saat itu wanita yang usianya 4 tahun lebih tua darinya itu , selalu saja bertanya tentang hubungannya dengan Febri .
" Kami tidak ada hubungan apapun ." ucap Laura
" Itu tidak mungkin, dia terlihat sangat mengkhawatirkanmu saat kau pingsan." Hani menatap Laura dengan tatapan menyelidik. dia tentu saja mendesak Laura untuk menceritakan semuanya , namun usahanya terus saja gagal . Laura tidak pernah memberitahu Hani tentang hubungannya . tapi , Bukankah mereka memang tidak memiliki hubungan apapun?
" Febri bilang dia menyukaiku, tapi dia mengatakan kalau dia tidak mau menjalin hubungan apapun denganku " Laura menghela nafas kasar . akhirnya dia menceritakan hal ini pada hari setelah sekian lama wanita itu terus saja memaksanya untuk bercerita .
" Mulutnya memang berbisa , Laura dengarkan Aku . mungkin ini semua karena Febri belum pernah menjalin hubungan dengan gadis manapun, jadi dia bingung harus bertindak seperti apa " jelas Hani , tangannya menepuk pundak Laura seolah memberi kekuatan pada gadis yang terlihat lesu itu.
" Bagaimana kakak tahu jika dia belum pernah mendekati seorang gadis ?"
" Kami dulu sekelas saat SMA, jadi sedikit banyak aku tahu tentangnya "
Laura menatap kagum Hani , pantas saja dia Tidak segan untuk berbaur dengan Henry ataupun Febri. pertemanan mereka terjalin sejak SMA ternyata .
" Banyak gadis yang menyukai Febri dan terang-terangan mengejarnya ." ujar hani.
" Iya termasuk aku , yang mengejarnya secara terang-terangan " potong Laura
" Tapi sikapnya padamu itu berbeda dengan sikap pada gadis lain. Aku belum pernah melihatnya khawatir seperti saat kau pingsan . Bahkan dulu saat kakaknya masuk rumah sakit , Dia terlihat sangat tenang "
" Sudahlah Kak, Aku ingin mengubur perasaanku ini . Aku sudah lelah dengan semua ini, cinta yang tidak bertepuk sebelah tangan tapi tidak bisa bersatu, Bukankah itu sangat menggelikan?" Laura menertawai betapa mirisnya kisah cintanya . mendengar semua perkataan Hani , hatinya sangat senang .
Jika perkataan Hani benar , maka Febri memang benar-benar Mencintainya. Tapi hatinya juga sakit karena Febri mengatakan tidak mau berpacaran dengannya . Laura merasa dirinya memang bodoh seperti yang dikatakan Febri selama ini .
Hani mendekati Laura dan memeluk gadis itu, Laura menangis meluapkan semua rasa yang ia pendam selama ini . Baru kali ini dia merasa nyaman dengan orang lain . Setelah orang tuanya meninggal , Laura tidak memiliki siapa-siapa lagi untuk diajak bercerita. dia juga tidak dekat dengan teman-teman di kampusnya .
Namun setelah bertemu dengan Hani , akhirnya dia punya tempat untuk meluapkan perasaannya yang selama ini dia pendam sendiri . Hani sudah dianggapnya seperti Kakaknya sendiri .
"Tenanglah, suatu saat nanti Febri akan sadar dengan apa yang dilakukannya itu . Jangan terlalu dipikirkan ."
Laura mengganggu, diambilnya tisu yang ada di meja untuk menghapus air matanya , " Terima kasih Kak."
__ADS_1
Hani tersenyum, " kita harus segera kembali bekerja jika tidak mau mendengar celotehan wanita ular itu Tapi sebelumnya kita harus ke toilet untuk membenarkan make up mu dulu ."
Laura tertawa pelan, bagaimana bisa Hani memikirkan make up nya saat jam istirahat sudah habis . Telat semen saja Mona pasti akan mengomel habis-habisan .
___
Sore hari Henry berjanji menemui Laura dan Hani di cafe . Mereka akan membahas temuan terbaru Laura dan strategi untuk menangkap basah Mona . Henry masuk ke ruangan Febri , dia berniat untuk meminta izin pulang lebih awal .
Seharusnya dia bekerja lembur karena harus menyiapkan dokumen-dokumen yang akan dibawa untuk rapat besok. Namun Henry sudah sangat penasaran dengan perkembangan kasus Mona yang sedang mereka tangani .
" Bos, aku ke sini untuk meminta izin pulang lebih awal."
" Apa pekerjaanmu semuanya sudah selesai ?"
Henry menggeleng," Aku akan mengerjakannya setelah aku menemui seseorang."
" Siapa ?" Febri mengangkat kepalanya untuk menatap Henry .
" Laura Cynthia "mendengar nama Laura , perhatian Febri langsung tertuju pada laki-laki di depannya itu.
" Tentu saja, dia gadis yang selalu ceria dan baik. mungkin aku akan menjadikannya pacarku setelah ini" jawab Hendri santai
" Dan akan kupastikan kau akan mati sebelum itu terjadi "desis Febri . Dia tahu jika Henry selalu bicara tanpa berpikir , tapi dia tidak menyangka sahabatnya akan berkata seperti itu .
" Lalu kenapa kau tidak pacaran saja dengannya? Bukannya kau sudah tahu bahwa Laura itu sangat mencintaimu?"
" Itu bukan urusanmu ."
" Tentu saja bukan urusanku , karena urusanku adalah membantu Laura untuk mengumpulkan bukti "
" Kalian masih menyelidiki Mona ?"
" Iya , aku rasa Laura tidak akan mau menyerah begitu saja"
" Dan kau malah membantunya " Febri mulai geram . " Ayolah Henry , kau itu tahu Mona dengan baik kan ."
__ADS_1
" Maka dari itu aku akan bersama dengan Laura untuk melindunginya."
" Hentikan tindakan konyol kalian ini!"
" Laura pasti tidak akan mau , dan aku tidak akan membiarkan Laura menyelidiki hal ini sendiri ."
" Dan jika sampai terjadi hal buruk pada Laura, kau yang akan bertanggung jawab "
" Aku akan memastikan kalau dia akan baik-baik saja ." Henry melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Febri .
Iya tahu Febri pasti akan marah jika seseorang tidak menuruti perintahnya . Dan sudah menjadi kewajibannya untuk menuruti perintah Febri . Tapi untuk Sekali Ini Saja Henry akan membangkang karena dia tidak mau membuat Laura berkecil hati . Laura bertekad akan membuktikannya ke Febri dan Henry juga begitu.
___
Hani dan Laura sampai lebih dulu di cafe yang telah mereka sepakati . Laura memilih duduk di kursi paling ujung yang berada di samping jendela . Tiba-tiba saja Dia teringat masa lalunya saat berusaha mendapatkan perhatian Febri . Dia sering duduk di kursi samping jendela untuk melihat Febri bekerja .
" Laura, kau melamun ?" Hani menggerakkan tangannya di depan wajah Laura .
" Aku teringat masa-masa sulitku" Hani menatapnya bingung.
" dulu, Setiap hari aku datang ke cafe tempat di mana Febri bekerja, itu semua hanya untuk mendapatkan perhatiannya ." Laura tersenyum miris.
" Laura .... Cobalah untuk membuka hatimu Agar kau tidak terlalu memikirkan Febri , atau mungkin agar pria lain bisa masuk"
" Hai gadis-gadis , maaf aku terlambat "suara Henry menghentikan percakapan mereka.
"Jadi , apa kabar bagus yang akan disampaikan hari ini ?" lanjutnya.
" Mona tidak bekerja untuk dirinya sendiri. Setahuku dia bekerja untuk orang lain , dan mungkin saja itu pacarnya" jelas Laura
" Tunggu dulu ,pacarnya ? Dia tidak menyukai Febri ? Mereka terlihat sangat dekat " Hani menyampaikan pandangannya ,Membuat Laura berpikir kembali .
" Tapi saat di toilet aku tidak sengaja mendengar percakapannya ditelepon ."
" Aku setuju dengan Laura , Febri tidak dekat dengannya. Selama ini dia menjaga jarak dengan Mona " ujar Hendri .
__ADS_1
~ Bersambung