
Jarum jam sudah menunjukkan pukul 11.00 A.M. tapi Gadis itu belum juga terbangun dari tidurnya . bahkan suara berisik dari alat-alat kesehatan yang saat suster mengganti perbannya tadi pagi tidak mengganggu Laura sama sekali . pria itu tersenyum saat pikiran jahil melintas di kepalanya . dia mulai mengecup bibir Laura . lama-kelamaan kecupan itu berubah menjadi ciuman yang berlangsung lama.
Tidur laura terusik saat ia merasakan sesuatu yang lembut menjamah bibirnya. Gadis itu terbangun dari tidur nya. Matanya melebar saat melihat wajah Febri menempel dengan wajahnya. Febri menciumnya. Laura yang shock menutup kembali matanya.
Febri berdecak melihat Laura yang masih menutup matanya. " Aku tahu kau sudah bangun." kata Febri.
"Bagaimana kau bisa tahu?" Laura menguap. Dia terkejut ketika melihat jam di ponselnya. " Astaga!! Jam setengah 12? Kenapa kamu tidak membangunkan aku sejak pagi?"
"Kau tidur seperti orang mati, tidak mudah terganggu oleh apapun" ucap Febri
"A...Apa?" Laura menatap kesal kearah Febri
"Hani membawakanmu makanan dan pakaian ganti." kata Febri sambil menunjuk paperbag yang ada di atas sofa.
"Kak Hani kemarin ? dan kau tidak membangunkanku ? Aduh aku tidak percaya ini , dia pasti akan berpikir yang tidak-tidak tentang aku ."
" mandilah , walaupun kau tidak bekerja kau harus tetap mandi ."
Laura berdecak , tiba-tiba dia merasa Febri sangat menyebalkan . jika di situ beranjak dari ranjang dan memungut paper bag yang ada di sofa lalu berjalan ke kamar mandi . Butuh Waktu hampir satu jam sampai Laura menyelesaikan Ritual mandinya . setelah keluar dari kamar mandi Laura serpihan lebih segar , wangi strawberry menguarkan dari tubuhnya .
" Apakah harus membutuhkan waktu yang lama hanya untuk mandi?" tanya Febri. nggak di situ berjalan ke arah Febri dengan tatapan bingung.
" aku sangat kesepian saat kau tinggal mandi "
" Apa hasilnya benar-benar sudah baik-baik saja?" Laura mengetik seluruh tubuh Febri dengan menempelkan punggung tangannya pada dahi pria itu .
"Kenapa ?"
__ADS_1
"Tak biasanya, kamu bersikap seperti ini"
Terdengar suara ketukan pintu, seorang petugas pembaa makanan masuk mengantarkan makan siang untuk Febri.
"Silahkan di nikmati makan siangnya tuan. " ujar petugas ittu yang di balas dengan anggukan oleh Febri.
"Terima kasih" ucap Laura sebelum petugas itu keluar.
"Seharusnya senir mengucapkan terima kasih padnya." Laura duduk di samping ranjang Febri dengan cekatan dia membuka penutup makanan di meja kecil yang ada di ranjang Febri.
Febri menatap jijik makanan di depanya. Bubu dan sayuran " aku sangat tidak menyukainya." ucap pria itu.
"Tapi sayangnya kau harus memakan ini semua ini."
"Kau sendiri belum makan"
"Aku rasa kau bisa makan sendiri kan."
"Kita makan bersama." ucap Febri.
Laura mengangguk, dia mengambil makanan yang dibawakan Hani untuknya. Sekotak nasi, sayur, dan beberapa potong daging. Laura menangkupkan tangannya dan mulai berdoa seblum memakan makanannya.
Febri tersenyum melihat Laura yang sedang makan.Gadis itu makan dengan lahap , sedangkan Febri hanya dia memperhatikan Laura makan . Merasa di perhatikan Laura pun menghentikan makannya.
"Kenapa kau melihat ku terus? kau juga makanlah"
"Makananmu terlihat lebih enak." Febri mengambil daging lalu memakannya. Saat pria itu hendak mengambil daging lagi, Laura dengan cepat menghentikannya.
__ADS_1
"Febri makan lah, makanan yang sediakan rumah sakit, harga makanan in sangat mahal. Lagi pula bubur dan sayuran itu sangat enak."
"Kalau begitu kita bertukar makanan saja, bagaimana?" Febri tersenyum jahil.
"Mana boleh seperti itu, berikan sendoknya" Laura mengambil sesendok bubur dan sayuran lalu menyuapkannya pada Febri.
"2 hari ini kau bertingkah aneh, sebenarnya ada apa?"
Febri terdiam mendengar pertanyaan Laura, dia sendiri juga bingung kenapa dia bersikap seperti ini pada Laura. Setelah dia bermimpi Laura akan meninggalkannya saat koma kemarin.
Dia hanya ingin berdekatandengan Laura, dia tidak thu dengan perubahan sikapnya yang menjadi sangat manj pada Laura saat ini. Pria itu tersenyum, menunjukkan senyum yang paling manis di matanya.
"Aku ingin kau selalu bersamaku." ujarnya sebelum Laura menyuapinyaagi.
Gadis itu tersenyum, hatinya bersorak gembira mendengar bahwa Febri menginginkannya. Sekarang Laura tidak peduli dengan status memreka. Selama Febri ingin bersamanya, tiadk ada yang perlu di permasalahkan dengan hubungan mereka.
___
Hari sudah mulai gelap saat Henry datang dengan wajah yang sangat lusuh. Mungkin pekerjaan Febri terlalu banyak hingga dia terlihat sangat capek seperti sekarang ini.
"Ada apa denganmu kak Henry?" tanya Laura.
"Aku merasa mau mati mengerjakan pekerjaan Febri yang sangat banyak"
"Kalau begitu mati saja." celetuk Febri yang membuat Laura menahan tawanya.
~ Bersambung
__ADS_1