Febri Dan Laura

Febri Dan Laura
Episode 32


__ADS_3

Selesai ujian Laura pergi ke rumahnya, dia mendapat pesan bahwa Febri Ingin Bertemu Dengannya di rumahnya . Walaupun Laura sedikit ragu karena pengirim pesan itu tidak menggunakan nomor ponsel Febri, tapi dia tetap pergi ke rumahnya.


Sesampainya Laura di rumah , gadis itu langsung masuk ke dalam dia sangat merindukan rumahnya ini. terlebih lagi mie instan buatannya , Laura pergi ke dapur untuk membuat mie instan. Dia tidak menyia-nyiakan kesempatan makan mie instan ini karena di apartemen Febri dia tidak bisa memakan mie.


Laura tidak menyadari jika seseorang masukke dalam rumahnya dan meletakkan sesuatu di bawah meja makan . Setelah meletakkan barang bawaannya pria itu langsung pergi begitu saja.


Ponsel Laura berdering menunjukkan ada panggilan masuk . Febri Diego , pria itu menelpon Laura dengan cepat Laura menggeser tombol hijau di layar ponselnya.


" Apa yang kau lakukan di rumahmu Laura Cynthia ?" tanya Febri tanpa basa-basi .


" Bukankah kau yang mengirim pesan padaku agar aku pulang ke rumah?" kecurigaan Laura pun bertambah sekarang.


" Aku tidak pernah mengirim pesan apapun padamu , cepat pulang atau anak buahku yang akan memaksamu pulang sekarang "


Laura tidak mendengarkan ucapan Febri , dia sudah menjatuhkan ponselnya dari telinganya . Laura menajamkan indra pendengarnya karena ia mendengar sesuatu berdetik seperti timer. Laura berjalan mendekati meja makan lalu berjongkok agar lebih dekat dengan suara itu .


Betapa terkejutnya Laura saat melihat benda yang berdetik itu . Bungkusan merah dengan timer yang melekat. Laura melihat waktu yang tertera pada timer itu 01 : 02 . Waktunya untuk melarikan diri sebelum bom itu meledak hanya 1 menit . Laura berlari sangat cepat menjauhi rumahnya , tanpa memperdulikan Kakinya yang tidak memakai alas kaki . Gadis itu baru sampai di jalan depan pekarangan rumahnya saat bom itu meledak . Laura masih bisa merasakan efek bom itu hingga dirinya terjatuh. Walaupun itu hanya bom kecil , tapi mampu membuat rumah Laura hancur dan membuat pemiliknya menangis ketakutan .


Tidak lama kemudian sekeliling Laura mulai ramai , banyak orang yang datang ke depan rumah Laura setelah mendengar suara ledakan itu . Beberapa polisi dan pemadam kebakaran juga datang. tak hanya itu Febri dan Henry pun datang ke rumah Laura .


Febri dan Henry menerobos kerumunan untuk mencari Laura . Gadis itu menangis di sebelah mobil ambulans , saat melihat Febri dan Henry berada di depannya , Laura langsung berdiri dan memeluk Henry . Dia tidak memperdulikan tatapan tajam penuh cemburu dari pria yang berdiri di samping Henry.


" Henry!" Panggil Febri


Henry yang menyadari perubahan suara Febri pun langsung melepaskan pelukan Laura. Pria itu mengambil ponsel yang ada di sakunya


" Aku akan membatalkan meeting sore ini" ujar Hendri sebelum meninggalkan Febri dan Laura.

__ADS_1


" Apa ada yang luka?" tanya Febri yang dijawab dengan kepala Laura , Gadis itu masih terisak dengan tangisnya .


Tangan Febri terulur untuk memeluk Laura, membawa Laura dalam dekapannya hingga gadis itu merasa nyaman . Memang pelukan Febri memiliki pengaruh yang sangat besar pada Laura . Tubuh gadis itu sudah tidak bergetar ketakutan seperti tadi walaupun sampai sekarang Laura masih terisak dengan tangisnya .


Seorang petugas polisi dan dua petugas pemadam kebakaran yang membawa tandu korban mendekati mereka .


" Permisi tuan, kami menemukan dia di samping rumah mungkin dia adalah pelakunya " ujar sang polisi pada Febri .


Febri menatap miris orang mati yang berada di atas tandu itu . Keadaan orang itu sangatlah mengenaskan . Tubuhnya berlumuran darah , beberapa serpihan kaca memenuhi mukanya dan sebuah kayu menancap di samping perutnya .


" Jangan dilihat " bisik Febri saat Laura hendak melihatnya.


___


Hari sudah malam saat mereka memasuki apartemen Febri. mereka tidak langsung pulang tadi siang karena Laura harus memberikan keterangan kepada polisi terlebih dahulu. Mereka berdua masuk ke kamar masing-masing untuk membersihkan diri .


" Bagaimana keadaannya ?" tanya Bibi khawatir.


"Dia sudah baik-baik saja "


" Jagalah dia baik-baik , Aku akan kembali ke rumah sekarang , Chelsea sedang sakit sekarang"


" Benarkah ?Aku akan pulang ke rumah besok " Febri mengambil nampan yang telah disiapkan bibi lalu berjalan menuju ke kamar Laura.


Di kamarnya, Laura sudah tertidur . Gadis itu merasa sangat lelah hari ini , tubuhnya seperti tidak memiliki energi lagi .


" Laura ?" Febri membangunkan Laura yang baru saja masuk ke alam mimpinya .

__ADS_1


Laura membuka matanya, dia menata Febri sebel . Bisakah pria itu tidak mengganggunya sekarang ?Laura sangat ingin tidur sekarang , nggak di situ pun duduk dengan menyandarkan kepalanya pada sandaran ranjang.


" Kau harus makan dulu sebelum tidur, Bibi sudah membuatkan mau bubur ini. Aaa" Febri pun menyuapi Laura .


Laura berusaha membuat dirinya terus terjaga saat Febri menyuapinya . Namun setelah beberapa suapan , Gadis itu sudah tidak dapat membuat matanya terus terbuka . Dia tertidur kembali , Febri tersenyum melihat Laura , dari situ memang mudah sekali tertidur.


Febri menaruh mangkok bubur di atas nakas lalu membenarkan posisi tidur Laura .


" Tidurlah yang nyenyak " Ujar Febri sebelum mengecup bibir Laura sekilas .


___


Hari ini Febri berjanji menjemput Laura di kampus . mengingat kejadian kemarin , Febri merasa lebih tenang jika dirinya sendiri yang mengawasi Laura . Pria itu pun rela merubah jadwal kerjanya demi Laura .


Sore ini mereka akan ke rumah besar , selain untuk menjenguk keponakannya yang sedang sakit . Febri juga bermaksud untuk mengenalkan Laura pada keluarganya. mobil Febri terparkir di depan Cafe yang cukup terkenal . Di sini Febri ingin membeli cupcake kesukaan keponakan itu.


"Woaah, itu sangat lucu" ujar Laura riang , dia melihat sebuah boneka berukuran besar yang ada di outlet boneka sebelah outlet cupcake.


" Ayo kita masuk ke sana " Febri mengajak Laura memasuki outlet boneka.


Berbagai macam boneka yang lucu-lucu ada di outlet ini . Namun perhatian Laura hanya tertuju pada boneka Teddy Bear yang memakai pita dan baju berwarna pink.


" Aku mau membeli yang itu " ujar Febri pada Pelayan toko sambil menunjuk boneka yang diinginkan Laura .


" Febri tidak usah. Harganya pasti terlalu mahal " bukannya menjawab Febri malah mengeluarkan sebuah senyum termanisnya pada Laura .


Setelah membeli cupcake dan boneka , mereka melanjutkan perjalanan ke rumah besar . Tidak butuh waktu lama untuk mereka sampai . Hanya beberapa menit dari Toko tadi, mobil Febri kini telah terparkir apik di halaman rumahnya.

__ADS_1


~ Bersambung


__ADS_2