Febri Dan Laura

Febri Dan Laura
Episode 37


__ADS_3

Laura kembali melihat dirinya di pantulan cermin, sejak tadi pagi dia sudah bersiap untuk datang ke acara wisudanya. Dengan make up tipis dan rambut coklat tuanya yang di gerai Laura terlihat sangat cantik. Dia mengenakan rok pendek berwarna hitam dan kemeja putih yang dilengkapi dengan dasi dan blazer hitam.


Setelah merapikan baju wisudanya gadis itu keluar dari kamarnya. Tampak seorang pria dengan stelan jas berwarna abu-abu berdiri di samping piano memandang kearah luar.


“Febri, aku sudah siap”


Sejenak Febri terhanyut dengan kecantikan Laura, terlebih saat ini gadis itu sedang tersenyum manis. Ya gadis pilihan Febri itu memang sangat cantik


“Kau sangat cantik”


Mendengar pujian Febri membuat Laura tersipu malu, warna merah terlihat di kedua pipinya.


“Aku akan mengantarmu kekampus, setelah itu aku akan ke kantor sebentar untuk menemui Mr. Heneda” jelas Febri.


Sebenarnya pria itu ingin menemani Laura dari awal tapi karena rekan bisnisnya dari Jepang itu meminta bertemu sekarang maka dari itu Febri harus merelakan waktunya bersama Laura.


“Aku berjanji akan datang ke kampusmu sebelum kau memakai toga” Febri menggenggam  tangan Laura erat


 


Laura terdiam, sebenarnya ini juga salahnya. Jika dia tidak berbohong Febri pasti tidak bekerja dua kali lipat demi menutup kerugian perusahaannya. Dan yang pasti jika dia tidak berbohong, pria itu akan menemaninya dari awal acara sampai acara wisuda nanti berakhir. Gadis itu hanya mengangguk seraya tersenyum pada Febri.


____


Setelah pidato dari beberapa petinggi kampus di sampaikan, sebentar lagi pemakaian toga pada mahasiswa dan mahasiswi yang lulus dilaksanakan.


Laura menoleh kearah tempat duduk para wali, dia tidak melihat Febri di sana. Kesedihan kembali datang pada diri Laura.


 


Saat nama Laura dipanggil, gadis itu berjalan kedepan dengan pelan. Dia kembali menoleh kearah para orang tua, dan dia melihat Febri sudah duduk diantara mereka seraya tersenyum padanya. Senyuman mengembang di wajah Laura sampai pemakaian toga berakhir.


 


Setelah semua acara selesai, Laura langsung mencari Febri. Gadis itu sangat senang sekarang, dia sudah menjadi sarjana. Langkah kaki Laura terhenti ketika melihat Febri sudah berdiri di hadapannya. Pria itu membawa sebuket bunga mawar pink pastel yang dikombinasikan dengan baby’s breath.


“Selamat untuk kelulusanmu Laura” Febri memberi Laura bunga yang telah dia beli Khusus untuk gadisnya


Laura memeluk Febri tanpa menjawab perkataan pria itu. Dia sangat senang sekarang, bahkan matanya sudah berkaca-kaca.

__ADS_1


“Jangan menangis nanti make up-mu rusak” goda Febri


“Febri, berhenti menggodaku” Laura mengibaskan tangannya didepan matanya, berharap air matanya tidak menetes.


“Sekarang aku sudah menjadi sarjana, jangan memanggilku bodoh lagi”


“Gelar sarjana tidak bisa membuktikan jika kamu tidak bodoh” Febri tertawa geli


“Jadi kau tidak mau menjadikan aku pacarmu?”


“Jika pun kau bodoh bukan berarti aku tidak mau berpacaran denganmu. Aku mencintaimu Laura Cynthia” Febri mencium Laura sekilas. Membuat jantung gadis itu bekerja lebih cepat.


 ___


Laura terlihat sangat cantik dengan gaun berwarna pink pastel yang sudah Febri siapkan untuknya. Gaun yang panjangnya selutut Laura itu memiliki lengan panjang dengan hiasan pita di bagian pinggangnya.


Malam ini Febri mengajak Laura untuk makan malam di Pierre Gagnaire yang terletak di lantai teratas hotel Lotte. Restaurant paling bagus se-Asia ini menyajikan masakan Italia yang terkenal sangat lezat dan mahal.


Febri sudah memesan restaurant dan dekorasi ini sejak Laura memberitahunya tentang acara wisuda gadis itu. Kesan romantis sangat menonjol di restauran ini dengan lilin dan bunga sebagai dekorasinya.


Jangan tanya berapa harga untuk makan dan menyewa restaurant ini. Pasti kalian akan terkejut jika mengetahuinya. Hanya untuk menyewa restaurant ini saja membutuhkan biaya 500$.


Tak lama setelah mereka duduk datanglah dua pelayan membawakan appetizer yang dilanjutkan dengan hidangan utama berupa steak. Seperti biasanya, mereka makan dalam keheningan.


Sesekali mereka saling memandang hingga mata indah mereka saling bertemu lalu tersenyum. Jika di lihat-lihat mereka seperti pasangan yang aneh. Mereka tidak saling bicara dan hanya memberikan senyuman.


 


Makanan sudah selesai, sekarang waktunya bagi mereka untuk minum wine seraya mengobrol. Febri sudah memesan wine bernama Chateu Cheval Blanc yang berasal dari Prancis dan merupakan anggur terbaik sepanjang  masa dari kota Bordeaux.


 


Saat mereka sedang asik mengobrol tiba-tiba Febri berubah menjadi serius.  Malam ini Laura akan melamar Laura sesuai dengan janjinya.


 


Hmm... Febri. Laura, apa aku benar-benar sudah hilang dari hatimu?” 'Febri tak melepaskan Laura dari pandangannya.


 

__ADS_1


“Emm… Febri, sebenarnya aku ingin mengatakan sesuatu tapi sunbae harus berjanji tidak akan marah padaku” ujar Laura takut-takut. Jujur saja sampai saat ini perasaan takut akan Laura yang marah padanya jika dia jujur terus menyelimuti hingga sekarang.


“Katakan sekarang” tuntut Febri


“Aku hanya bercanda saat mengatakan bahwa kamu sudah tidak ada di hatiku” Laura menundukan kepalanya, dia tidak berani menatap karena sekarang.


“Maafkan aku karena sudah membuat semuanya kacau, aku tidak menyangka jika kamu akan memutuskan hubungan kerja dengan Mr. Mars dan merugi hingga miliyaran ”


 


Sebenarnya Febri sedikit marah dengan candaan Laura yang sangat keterlaluan hingga dia terpuruk beberapa hari dan perusahaannya menderita kerugian yang besar. Tapi jika dipikir lagi, dengan Laura mengatakan tidak mencintainya lagi Febri berhasil menjauh dari Rachel. Coba saja Nara tidak berbohong, pasti Rachel masih saja menempel padanya dan dia semakin menyakiti perasaan Laura.


 


Senyuman mengembang di wajah tampan Febri, pria itu menggenggam tangan Laura yang berada diatas meja


“Aku tidak marah padamu”


 


“Benarkah?”  Febri mengangguk mantap


“Hmm, tapi kenapa kamu langsung percaya begitu saja dengan perkataanku? Apa kamu tidak memikirkan perjuanganku selama ini? Aku tidak mungkin melepas mu begitu saja”


“Aku sangat takut jika aku kehilanganmu. Kau adalah oksigenku Laura Cynthia, tanpamu aku tidak bisa bernafas” Febri menghentikan perkataannya sejenak, dia menghirup udara untuk menenangkan hatinya yang semakin berdegup kencang.


“Aku tahu ini tidak akan mudah karena banyak perempuan di luar sana yang menginginkanku menjadi suami mereka dan kau akan cemburu setiap aku bersama dengan teman wanitaku, tapi aku ingin kau selalu bersamaku dan selalu mempercayaiku jika aku hanya mencintaimu. Maukah kau melakukan sesuatu untukku?”


 


Laura menatap Febri dengan tatapan menuntut agar pria itu menyelesaikan perkataannya


“Maukah kau menjadi istriku dan menjalani kehidupan ini bersama?” lanjut Febri seraya membuka kotak kecil berisi cincin berlian


Laura merasa sangat bahagia hingga tak bisa berkata lagi, dia hanya menganggukan kepalanya seraya tersenyum haru. Air mata kebahagiaan sudah menggenang di kelopak mata indahnya.


~ Bersambung


 

__ADS_1


__ADS_2