
Saat Laura melangkahkan kakinya kebali ke dapur. Pandangannya mengarah pada pintu yabg sedikit terbuka di sebelah ruang santai di lantai dua. Dia baru menyadaei jika lantai dua apartement Febri sangat luas.
Laura membuka lebih lebar pintu ruangan tersebut. Sepertinya ruangan ini adalah ruang kerja Febri. Terdapat banyak rak buku yang berada di sisi - sisi tembok. Satu set sofa dan meja berada di tengah ruangan ini.
Sedangkan meja kerja beserta Febri yang sedang tertidur berada di paling ujung ruangan. Tepatbya di dekat kaca yang menampilkan pemandangan kota.
Gadis itu berjalan mendekati Febri, banyak kertas kertas penting yang ada di atas meja kerjanya. Febri yang tertidur di kursi kerjanya terlihat sangat kelelahan.
'Beginilah kehidupanmu, hanya kerja dan kerja tidak ada waktu untuk beristirahat!' batin Laura.
"Febri bangulah, ini sudah pagi"ujar Laura pelan.
Senyum Febri mengembang saat melihat Laura berdiri di dekatnya. Pria itu langsung memeluk Laura.
"Pagi ini terasa berbeda"
"Cepatlah mandi jika tidak ingin terlambat mendatangi rapat bernilai miliaran pagi ini"
"Bagaimana kamu bisa tau? " Febri melonggarkan pelukannya dan menatap Laura.
Laura menunjukkan ponsek milik Febri yang menampilkan pesan dari Hnery tentang rapat pagi ini. Febri tersenyum kecil lalu beranjak dari kursi kerjanya. Mereka berjalan keluar dari ruang kerja menuju ke kamar mereka masing - masing untuk membersihkan diri.
Tak lama kemudian mereka sudah berada di meja makan. Menikmati sarapan mereka dalam keheningan. tidak ada yang memilih percakapan di antara mereka berdua saat makan .
" Apa kamu nggak ke kampus ?" tanya Febri setelah meminum jus yang sudah dibuatkan oleh pelayan .
" Enggak , hari ini aku akan belajar di rumah untuk ujian besok "
"Ujian?"
" Aku mengambil lagi mata kuliah yang mendapatkan nilai C pada semester awal"
"Bagus , aku akan memberimu hadiah jika kau bisa mendapatkan nilai A" Febri berdiri dari tempat duduknya .
__ADS_1
" Aku berangkat , belajarlah yang rajin " ujar Febri sebelum mencium kening Laura .
Laura tersenyum senang setelah Febri menghilang di balik pintu. Febri seperti seorang suami yang pamit kepada istrinya untuk pergi bekerja . Betapa bahagianya jika Laura benar-benar bisa menjadi istrinya Febri .
Bibi yang melihat pemandangan itu pun tidak kalah senangnya dengan Laura. Akhirnya Febri mendapatkan gadis yang diinginkannya selama ini .
Selesai sarapan Laura membereskan meja makan dan mencuci piring piring kotor. sebenarnya Bibi sudah melarangnya , tapi lauras untuk membantu . Gadis itu tidak hanya membantu dalam hal sarapan,melainkan dalam segala hal. Seperti sekarang , Laura sedang membersihkan apartemen Febri dari Butiran Debu.
Jarum jam menunjukkan pukul 10 . .00 semua pekerjaan telah Laura dan Bibi selesaikan, Sekarang mereka hanya duduk-duduk sambil mengobrol di balkon apartemen . Sifat Laura yang terbuka membuat bibi semakin merasa dekat dengan gadis itu .
" Apa bibi lelah?"tanya Laura setelah memperhtikan raut wqjah bibi.
"Tidak, semua terasa ringan berkat dirimu"
"Kenapa bibi tidak tinggal di sini?"
"Aku bekerja sebagai kepala pelayan di keluarga Diego, jadi aku harus memeriksa pekerjaan di rumah besar juga."
" Kamu sangat baik , pantas saja Febri mencintaimu " Laura menatap Bibi penasaran .
" Aku mengenal Febri sejak dia lahir, dia tidak pernah seperti ini sebelumnya , jarang sekali tersenyum sebelum bertemu denganmu. Dan perlakuannya pada Musa Andi meja makan tadi yang buat ku yakin jika Febri sangat mencintaimu " jelas bibi.
Senyum Laura mengambang setelah mendengar penjelasan bibi . Dia sangat bahagia karena bisa mengobrol dengan bibi dan memperoleh fakta-fakta tentang Febri . Laura teringat dengan ucapan Febri tadi pagi , dia akan diberi hadiah oleh Febri jika bisa mendapatkan nilai A.
"Bi, aku akan ke kamar untuk belajar sekarang " pamit Laura pada bibi . Gadis itu berjalan menuju kamarnya sambil tersenyum puas . Sekarang dia harus belajar dengan sungguh-sungguh agar bisa mendapatkan nilai yang sempurna .
___
Hari sudah berganti malam , sedangkan Laura Masih betah di atas kasurnya . Berkutat dengan buku-buku yang dipelajarinya, dia meninggalkan buku-buku itu hanya untuk mandi . Bahkan Laura belum makan sejak siang tadi.
Sekarang Febri telah berada di meja makan ,Menunggu Laura untuk makan malam bersama . itu dari tadi dia belum melihat gadis itu , saya pulang bekerja tadi Dia menanyakan Laura pada bibi. Iya itu tersenyum melihat semangat Laura untuk mendapatkan nilai A. Tanpa harus dipaksa sekarang gadis itu tentu tahu akan kewajibannya untuk belajar .
Kembali Dia menatap tangga, tidak ada tanda-tanda Laura akan turun untuk makan malam bersamanya .
__ADS_1
"Bi, apa Laura belum keluar juga ?" Tanya Febri mulai khawatir .
" Dari tadi siang Laura belum keluar kamar, bahkan dia tidak memakan makan siangnya. dia hanya makan cemilan yang aku bawakan ke kamarnya tadi siang "
Kaki Febri melangkah cepat menuju lantai 2. Dia mengetuk pintu Laura sebelum membukanya . " Laura ?"
" Febri, Jangan masuk!"Ujar Laura tangannya terus memegangi hidungnya yang mengeluarkan cairan berwarna merah.
Febri yang melihatnya langsung mendekati Laura , pria itu mengambil beberapa tisu di atas nakas lalu membersihkan tangan dan wajah Laura . kekhawatirannya terlihat jelas diraut wajah Febri .
"Aku tidak apa-apa , ini sudah sering terjadi " Laura mendongakkan kepalanya agar pendarahan pada hidungnya berhenti .
" Cukup Laura Chintya! Ini sudah keterlaluan " Febri membereskan buku-buku yang ada di atas kasur.
" Lihatlah, aku baik-baik saja . darahnya juga sudah berhenti mengalir "
" Kau tidak harus belajar sampai seperti ini ."
" Kalau aku tidak belajar , bagaimana aku akan mendapatkan nilai A?"
" Tapi tidak seharusnya aku mengabaikan kesehatanmu . Sekarang waktunya makan malam , kok belum makan sejak siang tadi kan ? Aku mau terbaring di rumah sakit?" Laura menggelengkan kepalanya dengan cepat sebelumFebri menggandeng tangannya menuju ke ruang makan .
Laura melihat sekeliling , apartemen ini sangat sepi . dia juga tidak melihat bibi .
" apa Bibi sudah pulang ke rumah besar ?"
" Iya Bibi akan kembali besok pagi , sekarang makan lalu beristirahatlah "
" Oh ya Febri, bilang pada Bibi untuk tidak usah datang ke sini lagi besok . biar aku yang membuat sarapan dan mengurus Apartemen ini "
Febri menatap Laura tajam, namun kemudian pria itu mendesah pasrah . Tidak ada gunanya berdebat dengan Laura , nggak di situ sangat keras kepala
~ Bersambung
__ADS_1