
Kita terasa Hari ini adalah hari terakhir Laura magang di perusahaan Febri Diego. Malam ini selesai bekerja Febri membuat perpisahan untuk pegawai magangnya di sebuah klub .
Di pesta ini hanya ada Mahasiswa magang dan beberapa staf yang bekerja dengan mereka . Febri memesan beberapa botol wine dan bir yang harganya sangat mahal untuk dinikmati malam ini.
Beberapa orang turun ke lantai dansa , mereka menggerakkan badannya sesuai dengan Irama musik.
Rico salah satu Mahasiswa magang mengajak Laura untuk turun ke lantai dansa, saat itu juga Laura menatap ke arah Febri seakan meminta izin , gadis itu tidak tahu kenapa dia merasa harus meminta izin kepada Febri terlebih dahulu, tapi yang pasti dia melakukannya .
Febri menggelengkan kepalanya , matanya tak lepas dari Laura yang duduk di depannya. Setelah melihat Febri, Laura menolak ajakan mahasiswa tampan itu .
Ponsel Laura bergetar pertanda ada pesan yang masuk . Gadis itu membuka ponselnya , dia menatap Febri sejenak sebelum menggeser gambar amplop di layar ponselnya tersebut .
To : Laura Cinthya
From : Febri Diego
Jangan berani untuk turun ke lantai dansa! Aku tidak mau kamu berdekatan dengan laki - laki di sana!
" Dasar tukang perintah" ujar Laura , yang disambut dengan tatapan bingung oleh Hani dan Henry yang duduk di sampingnya.
" Ada apa Laura?" tanya Henry .
Laura gelagapan memikirkan jawaban untuk Henry , tidak mungkin dia jujur pada Henry kalau tadi dia mengatai Febri .
__ADS_1
"Tidak apa-apa" Laura menyesap red wine nya untuk menghilangkan rasa gugupnya .
Sedangkan Febri yang melihat hal itu tersenyum puas. " Kalian tidak mau turun bersama mereka ?" tanya Febri.
" Apa kau sedang mengusir kami agar bisa berduaan bersama Laura ?" tanya Hani sinis.
" Kalau iya , bermimpi saja Febri Diego . Karena aku sedang malas untuk turun ke lantai dansa " lanjutnya.
Seorang wanita mengenakan mini dress berwarna merah dengan rambut yang diikat satu ke atas duduk di samping Febri , wanita itu tersenyum menyapa semua orang yang ada di sana .
" Untuk apa kau ke sini ?" tanya Hani sini , dia tidak bisa menyembunyikan rasa jengkelnya ketika bertemu dengan Rachel .
Mengingat kejadian tempo dulu saat di hotel club , Rachel sangat ingin merebut Febri dari Laura .
"Bukankah ini pesta hanya untuk pegawai FD company?" Hani menatap Febri dengan tetapan yang mematikan.
"Tadi siang Rachel mengajakku untuk minum wine , jadi aku ajak dia untuk bergabung bersama kita . Aku pikir ini bukan masalah yang besar" jawab Febri santai . sangat santai tanpa memikirkan perasaan seorang gadis yang dari tadi hanya diam dan memandang ke arah lain .
Henry menggenggam tangan Laura , pria itu tahu perasaan Laura saat ini . Hati gadis itu kembali hancur berkeping-keping setelah melihat Rachel yang berdekatan dengan Febri . Sebenarnya Febri bersikap biasa saja . Tapi Rachel, wanita itu terus saja menempel pada Febri .
" Saya permisi " Laura berdiri dari tempat duduknya lalu berjalan menuju toilet .
Laura berdiri di depan wastafel, Dia membasuh mukanya agar tidak menangis. Setelah mengeringkan wajahnya dengan tisu , Laura menatap pantulan dirinya di cermin.
__ADS_1
Dia memang tidak secantik Rachel , jika dibandingkan dia pasti akan kalah . Pantas saja jika Febri lebih tertarik pada gadis itu.
" Apa kau menyukai Febri ?" pertanyaan Rachel mengembalikan kesadaran Laura.
"Huh?"
" Kamu tidak pantas untuk Febri, Febri tidak akan terpikat pada gadis sepertimu . Dia memiliki keteria wanita idaman yang sangat tinggi . Jadi sadarlah Laura Cynthia, sampai kapanpun kau tidak akan pernah bisa menjadi pasangan seorang Febri Diego . Febri hanya akan menjadi pasanganku , mengerti "
" Hanya Febri yang berhak mengatakan jika aku tidak pantas untuknya . Yang aku tahu , Febri tidak menyukai wanita yang selalu memakai baju super seksi di depan umum karena dia tidak mau wanita murahan yang menjadi Ibu dari anak-anaknya" Sindir Laura .
Plakkkk!! sebuah tamparan mendarat di pipi Laura.
" Kita buktikan saja, dia pasti akan lebih memilihku daripada memilihmu " Rachel pergi meninggalkan Laura .
Gadis itu mengusap pipinya yang memerah akibat tamparan Rachel . Laura tidak percaya dengan apa yang barusan dia katakan . Bagaimana bisa dia mengatakan hal buruk pada Rachel .
Setelah dirasa pipinya sudah tidak terlalu merah, Laura pun keluar dari toilet . Tapi, Baru beberapa langkah dia berjalan dari toilet , tubuhnya menjadi kaku . Matanya menatap tidak percaya dengan pemandangan yang dilihatnya saat ini . Febri dan Rachel sedang berciuman, bibir mereka saling bertautan.
Dada Laura terasa sangat nyeri, hatinya bukan lagi hancur , melainkan sudah menjadi serbuk. Air mata yang tadi ditahannya langsung lolos begitu saja ketika melihat Febri dan Rachel .
Wanita itu membuktikan perkataannya jika Febri akan memilih Raja daripada dirinya . Sekarang sudah tidak ada lagi peluang Laura untuk menjadi istri seorang Febri Diego, dia sudah kalah . Laura berjalan melewati mereka seakan tidak melihat apapun.
Laura masih bisa menahan sakit hatinya saat Febri bergandengan dengan Rachel . Tapi sekarang , pria itu mencium Rachel . Daya tahan hati Laura sudah mencapai batasnya. Sepertinya dia memang harus melupakan Febri mulai sekarang.
__ADS_1
~ Bersambung