
Siang ini Laura pergi ke cafe, di mana dia akan bertemu dengan Henry . Gadis itu sudah lama tidak bertemu dengan Henry dan kebetulan Hendri meminta untuk menemuinya di kafe. Laura duduk di dekat jendela , tempat yang paling dia sukai saat berada di cafe.
Tidak lama setelah Laura duduk , Henry datang bersama Hani. Senyumnya mengembang di wajah kedua gadis itu .
" Hai lama tidak bertemu denganmu Laura " sapa Hani.
" Iya, sudah lama sekali kita tidak bertemu , Kakak apa kabar?"
"Agak buruk , pekerjaan di kantor sangat banyak dan sekarang tidak ada dirimu yang selalu membantu pekerjaanku "
" Kalian mau memesan apa?" tanya Henry menginstruksi obrolan mereka .
"Machiatto " jawab Hani cepat.
" Dan kau Laura ?"
" Aku juga, sama dengan Kak Hani .
Gak butuh waktu lama bagi Henry untuk mendapatkan macchiato mereka karena pelayan di cafe ini sangat cepat . Hendri datang dengan nampan yang berisi 3 machiato..
"Machiato datang " ujar Hendri Seraya duduk di samping hani.
"kak, sebenarnya apa yang ingin kamu bicarakan padaku?" tanya Laura , Dia sangat yakin jika ada maksud lain saat Henry meminta bertemu dengannya .
" Sebenarnya apa yang kau lakukan pada Febri ?"
Laura memikirkan perkataan Henry , seingatnya tidak dia tidak melakukan apapun pada Febri . sikapnya ke Febri sama seperti biasanya .
__ADS_1
"Akhir-akhir ini Febri tidak bisa bekerja dengan baik"
" Benarkah?" ujar Laura tidak percaya.
" Dia juga memutuskan kerjasama dengan perusahaan racel dan menanggung kerugian sebesar miliaran . Apa kamu yang menyuruhnya?"
Laura terkejut dengan perkataan Henry, bagaimana mungkin Febri melakukan hal itu ? Dia benar-benar menjauhi Rachel hingga menanggung rugi miliaran dan semua itu karena Laura .
" Sebenarnya aku benar hanya bercanda saat mengatakan bahwa aku sudah tidak mencintai Febri . Aku tidak menyangka kalau dia akan memutuskan hubungannya dengan Rachel."
"Bercandamu sangat keterlaluan Laura Chintya, sekarang Febri seperti mayat hidup. di kantor dia hanya duduk dan melamun "
" Benarkah ? Saat di rumah sikapnya padaku biasa saja . dia tetap baik padaku " Laura sambil mengingat kebersamaannya dengan Febri Setelah dia mengatakan tidak mencintai Febri lagi . Sikap pria itu masih sama seperti biasanya walaupun terkadang Laura mendapati Febri yang sedang melamun . Tapi Saat ditanya pria itu akan menjawab Dia baik-baik saja .
" Aku tidak menyangka akan seperti ini , aku harus menemuinya sekarang "
Laura berlari keluar cafe menuju perusahaan Febri , memang jarak kafe dengan perusahaan Febri cukup dekat . jadi Laura tidak harus menaiki bus atau kendaraan apapun . Gadis itu terlalu terburu-buru hingga dia tersandung dan terjatuh .
Di kantor Febri sedang duduk di kursi kebesarannya, tatapan kosongnya tertuju pada ponsel pintarnya yang terletak di atas meja . Bahkan suara pintu yang terbuka tidak mengalihkan perhatiannya . Sekarang Laura tahu betapa kacaunya Febri akibat perkataannya itu .
Gadis itu berjalan mendekati Febri dengan lutut yang masih mengeluarkan darah . "Febri ?"
Febi langsung berdiri begitu mendengar suara Laura, sedangkan Gadis itu langsung memeluk Febri erat . air mata Laura tidak terbendung lagi. Garam cairan bening itu sudah mengalir membasahi pipi Laura dan juga kemeja Febri .
" Ada apa Laura ?" tanya Febri khawatir , dia mengusap Puncak kepala Laura.
" Maaf.... Maafkan aku. Aku mohon jangan seperti ini lagi "
__ADS_1
"hei.. Ada Apa Denganmu ?" tatapan Febri menelisik Laura .
" Ya tuhan , lutut mu berdarah Laura "
Laura tidak menjawab , Gadis itu masih sesegukan dengan tangisnya . Dia merasa sangat menyesal, karenanya Febri sangat tersiksa dan perusahaan Febri bisa saja bangkrut .
Febri mendudukkan Laura di sofa lalu mengambil kuota obat yang ada di laci nakas. Pria itu menaruh kaki kanan Laura yang berdarah di atas pangkuannya. dengan hati-hati Febri membersihkan darah dan mengobati luka di kaki Laura .
" Sudah selesai , sekarang ceritakan padaku kenapa kamu sampai seperti ini?"
" Aku ....Minta maaf "
"Aku tidak butuh permintaan maaf Laura, jelaskan padaku apa yang terjadi " tuntut Febri .
Tenggorokan Laura terasa kering hingga dia tidak bisa mengatakan yang sebenarnya . Dia takut Febri akan marah padanya dan lebih parah Febri akan membencinya .
" Tidak ada apa-apa , aku hanya ingin menagih hadiah yang akan kamu berikan jika aku mendapatkan nilai A"
" Kamu ingin apa?"
Laura mengeluarkan sebuah amplop dari tasnya dan memberikannya pada Febri.
" Aku sudah tidak memiliki orang tua , jadi aku memintamu untuk datang di acara wisuda aku besok "
" Besok ? Kapan kamu wisuda?"
"Beberapa hari lagi "
__ADS_1
" Aku pasti akan datang Laura " senyum Febri mengembang di wajahnya , akhirnya hari yang dia nantikan telah tiba .
~ Bersambung