Febri Dan Laura

Febri Dan Laura
Episode 12


__ADS_3

Sebuah tinju mendarat di muka Henry , tidak hanya sekali , tapi beberapa kali sampai membuat wajah Henry memar dan sudut bibirnya berdarah .


" Kau mengajariku sampai aku mati pun tidak akan membawa Laura kembali ke sini . Tenanglah , yang terpenting sekarang adalah menemukan di mana Laura "


Febri menghentikan kegiatannya memukuli Henry, yang dikatakan Henry , yang terpenting sekarang adalah menemukan keberadaan Laura . Bisa jadi Mona membunuh Laura , agar Laura tidak membuka mulut selamanya . Sebelumnya Mona juga telah berani mengunci Laura di ruang arsip.


Febri membuka aplikasi di ponselnya, dia mulai melacak keberadaan Laura dengan ponselnya . Beruntung sekali Laura membawa ponselnya , sehingga Febri dapat melacaknya dengan mudah.


" Dia berada di gudang bekas penyimpanan barang milik lee grup. " Febri memencet dial speed di ponselnya. Tak menunggu waktu lama , terdengar jawaban dari orang yang dihubunginya .


" Di bawa beberapa anak buah kita ke gudang milik K grup yang sudah tak terpakai ." perintahnya tegas .


Febri melesatkan mobilnya menuju tempat Laura disekap . Gadis itu mengidap clautrophobia . Jika di gudang itu gelap, maka Laura tidak akan bisa melawan mereka . Dalam perjalanan Febri terus mengumpat dan memaki Henry yang duduk di sampingnya .


" Aku sudah memperingatimu tentang hal ini "


" Aku tidak bisa menggantikan Laura, dia terlalu berambisi untuk membuktikannya padamu"


" Jika sampai Laura terluka parah , Jangan harap kau bisa melihat matahari esok "ucap Febri penuh penekanan . Amarahnya sudah berada di Puncak, tapi sebenarnya dia juga ikut bersalah dalam hal ini. Jika dulu dia mempercayai Laura dan berkata pada Laura dia akan menyelidikinya sendiri, mungkin Laura tidak akan menyelidikinya dan tertangkap oleh mereka. gadis itu sangat ceroboh dalam mengambil keputusan nya, Iya tidak pernah memikirkan akibat yang akan terjadi.


Febri menghentikan Mobilnya di depan pintu gudang . disusul dengan mobil para pengawalnya yang ia hubungi sebelumnya . Dengan langkah besarnya Febri masuk ke dalam gudang , Untung saja penerangan di sini cukup. setidaknya dia yakin jika phobia Laura tidak kambuh . Mata lelangnya melihat ke seluruh arah, dia tidak melihat siapapun di sana . Tapi dia melihat ponsel pink milik Laura , di bawah ponsel itu Terdapat kertas dengan bertuliskan .


' JIKA KAU MENGINGINKAN GADIS INI SELAMAT, TEMUI AKU DI RUANGAN YANG ADA DI LANTAI DUAGEDUNG IN. PASTIKAN KAU DATANG SENDIRI'


Febri meremas kertas itu dan membuangnya dengan kasar . Ruang mana yang dimaksud ? Febri menaiki tangga dengan langkah barbar . Akhirnya dia mendengar suara Laura berteriak minta tolong, dibukanya pintu yang ia yakini tempat Laura di sekap .


Febri mendekati Laura lalu memeriksa keadaannya . tidak ada luka apapun selain memar di pergelangan tangan . " syukurlah kau tidak apa-apa " Febri memelukhorat tubuh Laura .


"Manis sekali . Aku belum pernah melihatmu berlaku manis seperti ini Feb." kata Mona yang baru saja memasuki ruangan bersama dengan Nathan.


" Mona brengsek "desis Febri.


" Bawa gadis itu ke sini" perintah Nathan pada bodyguard-nya , dia membawa 6 pria bertubuh kekar untuk memisahkan Febri dengan Laura .


Dengan mudahnya Laura sekarang sudah berpindah ke tangan salah satu Bodyguard Nathan. Sedangkan Bodyguard lainnya menghalau Febri untuk mendekati Laura .


" Aku akan mendapatkan dia jika kau mau menandatangani ini" Mona memberikan kertas kepada Febri . Pria itu melebarkan matanya ketika membaca isi dari kertas itu .


" Jangan gila kau Mona! Aku harus memberikan 50% sahamku padamu dan melimpahkan proyek bernilai miliaran kepada perusahaan Nathan?"

__ADS_1


" Anggap saja kau membeli gadis sialan ini " Mona menarik rambut Laura .


"Awww!!!"erang Laura.


" Baiklah , lepaskan Laura dan aku akan menandatanganinya. Tapi jangan harap kau akan hidup tenang setelah ini "


"Presdir, jangan lakukan itu " teriak Laura, matanya menatap dalam mata Febri, memohon agar Febri tidak memberikan sahamnya pada Mona .


" Kak Mona sudah mengambil uang perusahaan banyak sekali "


PLAKKK!!


Mona menampar Laura .


" Seharusnya kami tidak melakukan ini . Tapi karena gadismu melakukan hal yang bodoh jadi dengan terpaksa kita melakukan ini "ujar Nathan .


" kau hanya perlu menandatanganinya saja." lanjutnya .


"KRIS NATHAN!!! Untuk apa kau melakukan ini?"


" Aku ingin K grup Berada di posisi pertama, dan disegani oleh perusahaan lain Di dunia ini. Menggeser posisi FD Coorporation. Aku ingin perusahaanku menjadi besar seperti milik mu " jelas Nathan .


" Perusahaan itu tidak menghasilkan apa-apa dan hanya menguras uang perusahaanku saja" bantah Febri .


" Tidak hanya itu , karena perusahaannya bangkrut ayahku mengalami serangan jantung dan meninggal seketika itu juga . Kau harus membayar untuk semua itu Febri Diego " ujar Nathan sarat akan kemarahan di dalam dirinya .


Febri melihat ke sekelilingnya , pintu di belakangnya tidak dijaga oleh Bodyguard Nathan . Semua pria berbadan besar itu ada di depannya .sebuah ide muncul di kepala Febri .


" Biarkan Laura mendekat padaku dulu . Aku harus memastikan bahwa gadis itu tidak cacat sedikitpun "


" Itu tidak ada gunanya , walaupun dia terluka apa kau akan menghajar ini ? Kau sendirian Febri Diego" Nathan tertawa


" Bawa dia padaku!!!" Nada bicara Febri naik satu oktaf.


Nathan dan Mona saling bertatapan meminta pendapat masing-masing, setelah Mona mengangguk. Laura berjalan mendekat ke arah Febri , ia tidak tahu Apa rencana Febri setelah ini . Tapi dia akan Mengikuti alur permainan ini . Febri langsung merengkuh tubuh Laura , memeluknya erat dan sesekali mencium bibir gadis itu .


" Setelah ini kau harus berlari dan aku tidak ingin kau berhenti ataupun terjatuh " bisik Febri tepat di telinga Laura .


" Febri ?" Febri kembali mencium bibir Laura .

__ADS_1


" Aku akan selalu bersamamu , begitu aku melepaskan pelukanku . Kita akan berlari menuju lantai 1 . Anak buahku dan beberapa polisi telah berjaga di sana." jelas Febri di sela-sela ciuman mereka .


" Aduh Lihatlah , seorang bos telah jatuh cinta pada tikus kecil ini " cibir Mona.


" Cukup Tuan Febri, tanda tangani kertas itu lalu kau bisa melanjutkannya di ranjang ."


Febri melepaskan pelukannya dan berlari keluar sambil menggenggam tangan Laura . Mereka harus berlari melewati koridor lalu menuruni tangga . Melihat itu Nathan , Mona dan anak buahnya mengejar Febri.


Nathan mengambil pistol yang berada di dalam jasnya . saat Laura dan Febri telah menuruni setengah tangga . suara keras dari pistol Nathan terdengar . Laura dan Febri jatuh berguling sampai di lantai 1 . Sedangkan Nathan dan Mona berlari ke arah yang berlawanan karena polisi mengejarnya. Febri tergeletak sambil memeluk Laura yang berada di atasnya. Gadis itu Bangun untuk memastikan keadaan Febri.


Pelipis dan dadanya yang tertembak mengeluarkan darah . Henry yang melihat itu dengan cekatan memerintahkan anak buah Febri untuk membawa bosnya masuk ke dalam mobil. Henry melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi , sedangkan Laura dan Febri berada di kursi penumpang .


"Bos... Bos, buka matamu !" air mata Laura mengalir membasahi pipinya. tangannya terus mengusap pipi pria yang tak sadarkan diri itu .


___


2 jam sudah berlalu tapi belum ada dokter ataupun perawat yang keluar dari ruangan penanganan Febri . Hal itu membuat Laura semakin khawatir , dia terus saja menangis dan berdoa untuk keselamatan pria yang sangat dicintainya itu .


"Maafkan aku Laura, Ini seharusnya tidak terjadi . Febri sudah berulang kali memperingatkanku untuk menghentikanmu , tapi aku malah membantumu hingga semua ini terjadi " Henry menepuk pundak Laura yang bergetar karena tangisnya.


Seorang dokter keluar dari ruangan di mana Febri diperiksa ," Apa kalian keluarga pasien ?" Laura dan Henry mengangguk ." kita sangat bersyukur karena peluru itu tidak mengenai jantungnya , tapi walaupun begitu kita belum bisa tenang begitu saja, pasien sekarang dalam keadaan koma. selain luka tembak di dadanya dan pelipis yang terluka . Dua tulang rusuknya juga patah. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin , berdoa saja agar dia cepat ciuman"


Laura semakin terisak oleh tangisnya setelah mendengar penjelasan dari dokter paruh baya itu .


" Apa boleh kita menemuinya , dok ?" tanya Henry


" Iya boleh, Setelah dia dipindahkan ke ruang rawat " kata dokter itu sebelum pergi .


___


Semalaman Laura terjaga di samping Febri . tangannya Setia menggenggam tangan Febri yang tidak terpasang infus . Sudah semalam , namun keadaan Febri belum ada perkembangan apapun . Sepertinya Febri mengalami mimpi yang sangat indah hingga ia belum ingin terbangun .


" Febri, aku mohon bukalah matamu . Kau tidak boleh meninggalkanku "kata Laura di sela Isak tangisnya.


"Aku berjanji akan mengabulkan semua permintaanmu. Jika kau tak ingin bersamaku aku akan menjauh . Jika kau tak ingin melihatku lagi , aku akan pergi dari kehidupan mu selamanya , tapi aku mohon bukalah matamu sekarang"


'Tuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuut'


Bunyi detak yang tidak berhenti dari alat pendeteksi detak jantung memekakkan telinga Laura . mata Gadis itu langsung menoleh ke arah monitor yang berada di samping Febri . Dengan panik Laura memanggil dokter , tak lama kemudian seorang dokter dan beberapa perawat pun masuk ke dalam ruangan Febri.

__ADS_1


~ Bersambung


__ADS_2