
Ketika aku sedang mengobrol dengan Febri, henry menelponku. Sepertinya dia sudah memiliki waktu luang sekarang. Aku menatap Febri seolah meminta izin untuk mengangkat telpon, setelah dia mengangguk. Aku memencet tombol hijau dan mendekatkan benda persegi itu ke telingaku.
"Hallo, kak henry" sapa ku.
"Ada apa Laura?" nada bicara Henry terdengar sangat penasaran.
"Aku, aku tadi mendapatkan paket"
" Ya Tuhan Laura, kau mau nelponku hanya untuk pamer kalau kau mendapatkan paket ?"
"Bukan begitu, paket itu berisi boneka Barbie yang berlumuran darah dan secarik kertas bertulisan kau akan mati " kataku sebelan mungkin agar tidak ada ya orang lain yang mendengarnya selain Henry .
" Apa kau memiliki musuh?"
"Tidak."jawabku mantap . Aku tidak pernah bertengkar dengan siapapun selama ini .
"Oke sekarang Tenangkan dirimu Laura , setelah aku kembali kita akan mencari tahu siapa pengirimnya . Tapi kau benar yakin jika kau tidak memiliki musuh ?"
Aku mencoba mengingat semua kejadian buruk yang yang pernah aku alami . Tiba-tiba terlintas nama Mona ada dalam pikiranku . " kakak ! Kak Mona , Dia pernah mengatakan bahwa dia akan Membunuhku . mungkinkah Dia pelakunya ?"
"Mungkin saja . Karena sampai sekarang dia dengan pacarnya itu juga belum ditemukan polisi "
Tubuhku terasa kaku mengingatmu Mona dan pacarnya . jika Henry benar dan si pengirim paket itu adalah mona. dan itu artinya aku sedang dalam bahaya .
" Halo? Laura ? Apa kau masih mendengarkanku ? kau jangan khawatir , setelah aku pulang nanti kita akan mengurus ini."
" Baiklah Kak, cepatlah pulang, aku akan menunggumu "
ku tutup sambungan telepon lalu ku masukkan kembali ponselku ke dalam saku coat Yang aku pakai . Aku mendekati Febri yang sedang menatapku menyelidik
" Apa ada masalah ?" tanya Febri menyelidik , Laura hanya menggeleng , kepalanya terasa sangat sakit sekarang.
__ADS_1
"Laura , Apa kau sakit ? Kau terlihat pucat sekali."
" Aku baik-baik saja , sebaiknya kita kembali masuk sekarang , hari sudah mulai gelap " Laura mati-matian menahan sakit kepalanya saat ia mendorong kursi roda Febri sampai ke kamar inap .
Setelah dia membantu Febri kembali ke ranjang, Dia berjalan menuju sofa . Namun baru beberapa langkah dari ranjang Febri , gadis terjatuh tak sadarkan diri. Febri yang melihatnya langsung melepas infus di tangannya dan mendekati Laura .
Disitu keranjangnya, yaitu tidak memperdulikan tulang rusuknya yang belum sepenuhnya sembuh dan Darah segar yang terus mengalir dari luka bekas infusnya .
Seorang dokter dan dua suster masuk ke dalam kamar indah Febri dengan membawa ranjang pasien tambahan . Sebelumnya Febri telah meminta pada suster agar Laura tetap berada di dalam ruangannya . seorang suster menangani Febri , sedangkan yang lainnya menangani Laura , terlihat dengan jelas kekhawatiran di wajah Febri saat ini .
" Tuan Diego , sepertinya kekasih Anda belum makan seharian ini . dan juga dia sedang mengalami stres " jelas dokter Park
" Saya sudah memberinya asupan melalui infus, Setelah dia sadar tolong beritahu kami" selanjutnya sebelum pergi .
Segera Febri mengambil ponselnya . dia ingin mengetahui masalah Laura . pada teori kedua , teleponnya diangkat . Suara khas orang bangun tidur menyapa Febri dari seberang telepon .
" Aku ingin kau menyelidiki tentang masalah yang sedang dialami Laura Cynthia dan hubungannya dengan Henry " data Febri tak terbantahkan, lalu menutup teleponnya begitu saja .
Febri menggenggam erat tangan Laura. " Laura, Apa yang sedang terjadi ?" tanya Febri sedih . Hatinya nyeri melihat Laura seperti ini . Apapun masalah yang sedang dialami Laura sekarang , Febri yakin itu pasti masalah yang besar. Pria itu berdecak , ya sudah tidak sabar ingin mendengar penemuan detektifnya .
Laura membuka matanya perlahan untuk menyesuai kan cahaya yang masuk ke retinanya . Febri mendesak lega melihat gadis itu sudah sadar , tangan Febri menekan tombol yang dihubungkan ke ruangan perawat . Tak lama kemudian seorang suster dan seorang petugas makanan masuk. Suster itu mengecek kondisi Laura lalu menulisnya di kertas yang ia bawa .
" Kondisi anda sudah lebih baik , dan makanlah setelah ini agar kondisimu cepat pulih "
" Terima kasih " ujar Laura lemah , walaupun suster tadi bilang jika kondisinya lebih baik tapi dia merasa tak punya tenaga
" Kau tidak mempunyai uang untuk membeli makanan ? Setahuku di perusahaanku mahasiswi magang juga mendapatkan uang makan "ucap Febri sinis. Pria iti sangat khawatir dengan kesehatan Laura. Gafis itu selalu saja tidak memperhatikan makanannya.
"Kepalaku saranya sangat berat." Laura kembali menutup matanya, dia merasa matanya sangat berat untuk terbuka lebih lama lagi.
Mereka seperti saudara kembar sekarang, jika yang satu sakit maka yang lainnya pun akan sakit. Apa hubungan mereka sudah sejauh itu? sampai Laura seperti ini . Saya beri tahu jika dua orang yang selalu bersama akan memiliki sebuah ikatan . Perasaan mereka akan semakin peka terhadap satu sama lain. Apa mungkin perasaan cinta laura pada Febri yang membuatnya menjadi sakit seperti ini?
__ADS_1
Febri tersenyum sendiri memikirkan hal itu . Sejak Laura ikut mewarnai kehidupan Febri , pria itu sering mendapatkan kebahagiaannya hanya dengan hal-hal kecil . Seperti sekarang ini , hanya dengan melihat aura yang sedang tertidur pulas dia sudah bahagia.
___
Matahari sudah bersemangat menyinari bumi . sementara itu seorang pria masih saja berada di dalam mimpinya . Ya , hari masih terlalu pagi untuk seorang Febri Diego membuka matanya pria itu tetap terjaga hingga pukul 03.25 pagi . Jadi walaupun sekarang Jam sudah menunjukkan pukul 09.10 , pria itu masih Ingin menutup matanya lebih lama lagi.
Laura yang merasa dirinya sudah baik seperti biasanya , pagi-pagi sekali Dia meminta suster untuk melepas infusnya. Dia juga sudah diizinkan atau pulang , maka dari itu sekarang dirinya sudah bersiap untuk berangkat ke kantor. Tadi pagi Laura meminta Hani untuk membawakannya pakaian ganti. beruntung sekali ukuran tubuhnya hampir sama dengan Hani jadi dia bisa meminjam pakaian Hani. Laura menulis catatan untuk Febri yang diletakkan di nakas sebelah ranjang sebelum dia berangkat .
___
pukul 11.45 am .
Febri mengerjapkan matanya untuk menyesuai kan cahaya ruangannya. dia menoleh ke samping , sudah tidak ada ranjang tambahan yang ditiduri Laura . Gadis itu pun sudah tidak ada di kamar inapnya . ketika Febri akan mengambil minum, dia dikejutkan seorang pria cantik yang berdiri di sebelah ranjangnya dengan membawa kertas pink .
Dia adalah salah satu orang kepercayaan Febri Diego yang bertindak sebagai mata-mata . Dia sangat cepat dalam menjalankan tugas-tugasnya , maka dari itu Febri sangat menyukainya. Tapi mungkin pernyataan Itu disimpan dulu untuk sekarang , saya beli sekarang menatapnya dengan tatapan tajam yang mematikan karena pria itu belum berhenti tertawa setelah melihat ekspresi Febri yang sangat terkejut tadi.
" Berhentilah tertawa, atau Aku tidak akan membiayai liburanmu ke Disneyland Paris untuk melihat musikal Frozen " pria itu langsung berhenti tertawa setelah mendengar ucapan tajam Febri .
" Kau sudah janji untuk itu, mana bisa dibatalkan begitu saja" jawabnya tak mau kalah.
"Pagi-pagi kau sudah kemari, Aku harap kau membawa informasi yang bagus ."
" Hai Febri! ini kau bilang pagi , bukalah matamu itu lihat keluar ini sudah siang "ucapnya menunjuk jam yang berada di dinding .
Febri pun menoleh ke arah jam, dan pria itu hanya tersenyum. " Bagaimana Apa yang kau temukan?" tanyanya to the point ..
" Laura , nggak di situ mendapat teror. Tapi aku belum tahu dia bicara oleh siapa "
" Lalu Bagaimana tentang kedekatannya dengan Henry ?"
~ Bersambung
__ADS_1