Febri Dan Laura

Febri Dan Laura
Episode 34


__ADS_3

Pagi ini suasana hati Febri belum juga membaik, perkataan Laura semalam tentang gadis itu yang sudah tidak mencintainya terus berputar di kepalanya . Bahkan pria itu tidak menyelesaikan pekerjaannya semalam.


Febri dan Laura sekarang telah berada di meja makan, siap untuk menikmati masa akan bibi . Laura terlihat seperti biasanya , cantik dan ceria. Sangat berbeda dengan Febri yang tampak lesu , pria itu seperti tidak tidur semalaman .


"Laura , aku ingin membicarakan tentang perkataanmu tadi malam " Febri membuka percakapan di antara mereka .


" Bukankah semuanya sudah aku katakan ? Perasaanku padamu tidak seperti dulu lagi"


" Ini tidak mungkin Laura Chintya "


" Semuanya mungkin terjadi, hatiku juga memiliki batas rasa sakit "


" Lalu dengan mudahnya aku hilang dari hatimu ? Dengan mudahnya aku menghapus Namaku dari hatimu"


Laura mengangguk " Febri , sekarang aku akan lebih berhati-hati dalam mencintai seseorang . Aku tidak ingin merasakan sakit seperti dulu lagi"


" Jika aku menjauhi Rachel akankah kau akan kembali mencintaiku?"


"Aku tidak tahu , tapi kita lihat saja nanti " Laura memasukkan sesendok nasi terakhirnya .


" Aku tidak akan berhubungan lagi dengan Rachel mulai saat ini "


" Tapi perusahaanmu bekerja sama dengan perusahaannya ."


" Aku akan memutuskan kerjasama perusahaanku dengan perusahaannya "


Laura tersenyum " Aku akan pulang terlambat hari ini dan aku janji aku akan menjaga diriku dengan baik . Jadi kamu bekerja saja tidak perlu menjemputku"


" Laura , Apakah secepat itu ?"Febri menatap Laura nanar .


"Aku harus berangkat sekarang " ujar Laura mengabaikan pertanyaan Febri . Gadis itu pergi meninggalkan Febri yang masih larut dalam pikirannya.


___


Hari sudah hampir sore, tapi belum ada satupun pekerjaan yang diselesaikan oleh Febri. Sedari tadi Febri Hanya duduk di kursi kebesarannya tanpa melakukan apapun . Dia membiarkan tumpukan dokumen yang ada di atas meja kerjanya . Pikirannya sedang tidak bisa fokus untuk bekerja sekarang .


Henry mendesak kesal melihat Febri seperti itu , ada banyak pekerjaan yang harus diselesaikan tapi bosnya itu hanya terdiam diri seperti patung .


" Astaga Bos , cepat kerjakan pekerjaanmu!" bentak Henry


Febri sama sekali tidak marah seperti biasanya pada Henry, jika biasanya pria itu akan marah jika Henry membentaknya . Sekarang Febri tidak menanggapi Henry.

__ADS_1


" Sebenarnya aku sedang memikirkan apa sih ?"


" Laura , dia sudah tidak mencintaiku lagi " kejar Febri lemah .


"Tidak mungkin, dia akan selalu mencintaimu "


" Tapi dia sendiri yang bilang seperti itu " Febri melanggarkan dasinya , tiba-tiba dia merasa sangat sesak .


Henry terlihat sedang memikirkan sesuatu , Seingatnya Laura masih menanyakan kabar Febri , itu berarti Laura masih mencintai Febri .


"Benarkah?"


" Apa yang harus kulakukan Henry "


" Cobalah rebut perhatian Laura lagi , jangan menyakiti hatinya "


Febri terdiam memikirkan perkataan Henry.


"Putuskan kerja sama dengan perusahaan Rachel !" perintahnya tegas .


" Apa kau sudah gila ? Kita akan rugi miliaran" Henry menatap Febri tak percaya. Bagaimana bisa bosnya ini memutuskan hal yang sebesar ini .


" Aku tidak peduli dengan itu . Beritahu perusahaan race sekarang tentang hal ini "


___


Jarum jam sudah menunjukkan pukul 09.00 malam, tapi sampai sekarang Laura belum juga pulang. Febri memakai jaketnya lalu berjalan keluar apartemennya . dia berniat untuk menunggu Laura di luar .


Langkah kaki Febri terhenti tepat di depan pintu utama apartemen. Laki-laki yang bersama Laura adalah Roni , Febri sangat ingat padanya karena pernah magang di perusahaannya .


Mata Febri menatap Laura dengan tatapan mematikan . Tidak sedikitpun Febri menghilangkan Laura dari pandangannya .


Setelah mengucapkan terima kasih pada Roni , Laura membalikkan tubuhnya dan berjalan masuk ke apartemen . Betapa terkejutnya dia ketika melihat Febri dengan tatapan nangintimidasinya. Gadis itu terlihat sedang mengatur nafas dan detak jantungnya yang bedegup kencang.


" Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Laura saat dia sudah berada di hadapan Febri.


"Dari mana saja kau Laura ? Apa kau tidak mempunyai jam ?!" bentak Febri


" Febri? Aku kan sudah izin tadi pagi "


" Lalu dengan begitu Kamu pikir aku akan memberimu kebebasan untuk berduaan bersamanya seharian ? Apa yang kalian lakukan ?"

__ADS_1


Laura tidak menjawab, Dia sangat takut dengan Febri sekarang hingga memegang coachnya dengan sangat erat. Matanya juga sudah berkaca-kaca .


" Bagaimana aku akan menyukaimu lagi jika kamu bersikap seperti ini " ujarnya pelan .


Laura berjalan masuk ke apartemen mendahului Febri. dia tidak bisa berlama-lama di hadapan Febri sekarang , suasana hati Febri sedang tidak baik . Laura tidak ingin berdebat dengan Febri sekarang .


Febri merutuki dirinya karena baru saja membentak Laura hingga membuat Gadis itu ketakutan. Pria itu berlari mengejar Laura yang semakin jauh darinya . hingga sampai di depan lift , akhirnya Febri bisa menggenggam tangan Laura.


" Maafkan Aku "ujar Febri penuh penyesalan .


Enggak di situ menggelengkan kepalanya, " Aku tidak marah padamu " Laura tersenyum pada Febri .


Febri tidak berkata apapun lagi , dia hanya diam, begitupun dengan Laura . Dari mereka masuk ke dalam lift , Hingga sekarang mereka sudah berada di dalam apartemen hanya ada keheningan yang menyelimuti mereka .


Febri akan pergi ke kamarnya ketika Laura memegang tangannya. " kamu bisa menemaniku makan ?"


Febri mengganggu , dia duduk di sofa Seraya menonton TV . Sedangkan Laura duduk di karpet yang berada tepat di bawah Febri . Laura membalikkan badannya, tangannya membawa sendok berisi seblak .


"Aaaa" ujarnya Seraya mengarahkan sendok itu ke mulut Febri.


Tanpa disuruh mulut Febri terbuka dan memakan seblak itu. Matanya tidak lepas dari Laura yang terlihat sangat lucu jika sedang makan . Gadis itu seperti anak kecil yang baru saja bisa makan .


" Aku yakin Ini pertama kalinya kamu memakan seblak " tebak Laura, kini nggak di situ duduk di samping Febri.


"Dasar sok tahu, aku juga sering memakannya saat aku pergi keluar bersama Henry ."


" Wah itu pasti seru sekali, sekali-sekali aja lah aku makan seblak sama Kak Henry." Laura kembali menyuapkan Febri seblak .


" Jika kamu mau , aku akan membelikan ini setiap hari"


" Jangan makan seblak terlalu sering"


Laura memasukkan seblak terakhirnya ke dalam mulutnya . " selalu saja seperti ini , apa kau tahu ? kau itu terlalu banyak aturan "


"Jangan bicara ketika ada makanan di mulutmu , apalagi makan sampai belepotan seperti itu" ucap Febri sebelum mengecup bibir Laura sekilas .


" Tidurlah , ini sudah malam "


"Baiklah , tapi kamu juga harus tidur dan Ingat jangan tidur di ruang kerja"


Febri tersenyum, dia menggandeng tangan Laura sampai di depan kamar gadis itu . "selamat malam " ucap Febri Seraya tersenyum manis .

__ADS_1


~ Bersambung


__ADS_2