
Pagi ini suasana hati Febri belum juga membaik, perkataan Laura semalam tentang gadis itu yang sudah tidak mencintainya terus berputar di kepalanya . Bahkan pria itu tidak menyelesaikan pekerjaannya semalam.
Febri dan Laura sekarang telah berada di meja makan, siap untuk menikmati masa akan bibi . Laura terlihat seperti biasanya , cantik dan ceria. Sangat berbeda dengan Febri yang tampak lesu , pria itu seperti tidak tidur semalaman .
"Laura , aku ingin membicarakan tentang perkataanmu tadi malam " Febri membuka percakapan di antara mereka .
" Bukankah semuanya sudah aku katakan ? Perasaanku padamu tidak seperti dulu lagi"
" Ini tidak mungkin Laura Chintya "
" Semuanya mungkin terjadi, hatiku juga memiliki batas rasa sakit "
" Lalu dengan mudahnya aku hilang dari hatimu ? Dengan mudahnya aku menghapus Namaku dari hatimu"
Laura mengangguk " Febri , sekarang aku akan lebih berhati-hati dalam mencintai seseorang . Aku tidak ingin merasakan sakit seperti dulu lagi"
" Jika aku menjauhi Rachel akankah kau akan kembali mencintaiku?"
"Aku tidak tahu , tapi kita lihat saja nanti " Laura memasukkan sesendok nasi terakhirnya .
" Aku tidak akan berhubungan lagi dengan Rachel mulai saat ini "
" Tapi perusahaanmu bekerja sama dengan perusahaannya ."
" Aku akan memutuskan kerjasama perusahaanku dengan perusahaannya "
Laura tersenyum " Aku akan pulang terlambat hari ini dan aku janji aku akan menjaga diriku dengan baik . Jadi kamu bekerja saja tidak perlu menjemputku"
" Laura , Apakah secepat itu ?"Febri menatap Laura nanar .
"Aku harus berangkat sekarang " ujar Laura mengabaikan pertanyaan Febri . Gadis itu pergi meninggalkan Febri yang masih larut dalam pikirannya.
___
Hari sudah hampir sore, tapi belum ada satupun pekerjaan yang diselesaikan oleh Febri. Sedari tadi Febri Hanya duduk di kursi kebesarannya tanpa melakukan apapun . Dia membiarkan tumpukan dokumen yang ada di atas meja kerjanya . Pikirannya sedang tidak bisa fokus untuk bekerja sekarang .
Henry mendesak kesal melihat Febri seperti itu , ada banyak pekerjaan yang harus diselesaikan tapi bosnya itu hanya terdiam diri seperti patung .
" Astaga Bos , cepat kerjakan pekerjaanmu!" bentak Henry
Febri sama sekali tidak marah seperti biasanya pada Henry, jika biasanya pria itu akan marah jika Henry membentaknya . Sekarang Febri tidak menanggapi Henry.
__ADS_1
" Sebenarnya aku sedang memikirkan apa sih ?"
" Laura , dia sudah tidak mencintaiku lagi " kejar Febri lemah .
"Tidak mungkin, dia akan selalu mencintaimu "
" Tapi dia sendiri yang bilang seperti itu " Febri melanggarkan dasinya , tiba-tiba dia merasa sangat sesak .
Henry terlihat sedang memikirkan sesuatu , Seingatnya Laura masih menanyakan kabar Febri , itu berarti Laura masih mencintai Febri .
"Benarkah?"
" Apa yang harus kulakukan Henry "
" Cobalah rebut perhatian Laura lagi , jangan menyakiti hatinya "
Febri terdiam memikirkan perkataan Henry.
"Putuskan kerja sama dengan perusahaan Rachel !" perintahnya tegas .
" Apa kau sudah gila ? Kita akan rugi miliaran" Henry menatap Febri tak percaya. Bagaimana bisa bosnya ini memutuskan hal yang sebesar ini .
" Aku tidak peduli dengan itu . Beritahu perusahaan race sekarang tentang hal ini "
___
Jarum jam sudah menunjukkan pukul 09.00 malam, tapi sampai sekarang Laura belum juga pulang. Febri memakai jaketnya lalu berjalan keluar apartemennya . dia berniat untuk menunggu Laura di luar .
Langkah kaki Febri terhenti tepat di depan pintu utama apartemen. Laki-laki yang bersama Laura adalah Roni , Febri sangat ingat padanya karena pernah magang di perusahaannya .
Mata Febri menatap Laura dengan tatapan mematikan . Tidak sedikitpun Febri menghilangkan Laura dari pandangannya .
Setelah mengucapkan terima kasih pada Roni , Laura membalikkan tubuhnya dan berjalan masuk ke apartemen . Betapa terkejutnya dia ketika melihat Febri dengan tatapan nangintimidasinya. Gadis itu terlihat sedang mengatur nafas dan detak jantungnya yang bedegup kencang.
" Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Laura saat dia sudah berada di hadapan Febri.
"Dari mana saja kau Laura ? Apa kau tidak mempunyai jam ?!" bentak Febri
" Febri? Aku kan sudah izin tadi pagi "
" Lalu dengan begitu Kamu pikir aku akan memberimu kebebasan untuk berduaan bersamanya seharian ? Apa yang kalian lakukan ?"
__ADS_1
Laura tidak menjawab, Dia sangat takut dengan Febri sekarang hingga memegang coachnya dengan sangat erat. Matanya juga sudah berkaca-kaca .
" Bagaimana aku akan menyukaimu lagi jika kamu bersikap seperti ini " ujarnya pelan .
Laura berjalan masuk ke apartemen mendahului Febri. dia tidak bisa berlama-lama di hadapan Febri sekarang , suasana hati Febri sedang tidak baik . Laura tidak ingin berdebat dengan Febri sekarang .
Febri merutuki dirinya karena baru saja membentak Laura hingga membuat Gadis itu ketakutan. Pria itu berlari mengejar Laura yang semakin jauh darinya . hingga sampai di depan lift , akhirnya Febri bisa menggenggam tangan Laura.
" Maafkan Aku "ujar Febri penuh penyesalan .
Enggak di situ menggelengkan kepalanya, " Aku tidak marah padamu " Laura tersenyum pada Febri .
Febri tidak berkata apapun lagi , dia hanya diam, begitupun dengan Laura . Dari mereka masuk ke dalam lift , Hingga sekarang mereka sudah berada di dalam apartemen hanya ada keheningan yang menyelimuti mereka .
Febri akan pergi ke kamarnya ketika Laura memegang tangannya. " kamu bisa menemaniku makan ?"
Febri mengganggu , dia duduk di sofa Seraya menonton TV . Sedangkan Laura duduk di karpet yang berada tepat di bawah Febri . Laura membalikkan badannya, tangannya membawa sendok berisi seblak .
"Aaaa" ujarnya Seraya mengarahkan sendok itu ke mulut Febri.
Tanpa disuruh mulut Febri terbuka dan memakan seblak itu. Matanya tidak lepas dari Laura yang terlihat sangat lucu jika sedang makan . Gadis itu seperti anak kecil yang baru saja bisa makan .
" Aku yakin Ini pertama kalinya kamu memakan seblak " tebak Laura, kini nggak di situ duduk di samping Febri.
"Dasar sok tahu, aku juga sering memakannya saat aku pergi keluar bersama Henry ."
" Wah itu pasti seru sekali, sekali-sekali aja lah aku makan seblak sama Kak Henry." Laura kembali menyuapkan Febri seblak .
" Jika kamu mau , aku akan membelikan ini setiap hari"
" Jangan makan seblak terlalu sering"
Laura memasukkan seblak terakhirnya ke dalam mulutnya . " selalu saja seperti ini , apa kau tahu ? kau itu terlalu banyak aturan "
"Jangan bicara ketika ada makanan di mulutmu , apalagi makan sampai belepotan seperti itu" ucap Febri sebelum mengecup bibir Laura sekilas .
" Tidurlah , ini sudah malam "
"Baiklah , tapi kamu juga harus tidur dan Ingat jangan tidur di ruang kerja"
Febri tersenyum, dia menggandeng tangan Laura sampai di depan kamar gadis itu . "selamat malam " ucap Febri Seraya tersenyum manis .
__ADS_1
~ Bersambung