
" Apa ? Milik Febri dan kamu membawaku ke sini ?" tanya Laura dengan nada tinggi.
" Febri yang menyuruhku agar membawamu ke sini. Dia merasa kau akan aman jika tinggal di sini" Henry meletakkan koper kecil Laura di dekat tangga .
" Febri baru akan kembali besok , anggaplah ini seperti rumahmu sendiri . Kamarmu ada di lantai atas sebelah kanan , kamu bisa memasukkan barangmu ke sana "
" Apa Kakak juga akan tinggal di sini?"
" Aku akan pulang setelah ini , setiap pagi ada seorang pelayan akan ke sini untuk memasak dan membersihkan Apartemen ini . Tidurlah dengan nyenyak , aku akan pulang sekarang " jelas Henry yang dijawab dengan anggukan Laura .
" Aku juga akan pergi dari sini"
" Tidak Laura , kau harus tetap di sini "
__ADS_1
" Kakak ! Bagaimana aku akan melupakan Febri jika aku tinggal bersamanya ?" ujar Laura.
" Aku sangat yakin Febri tidak akan pernah bisa pergi dari hati kecilmu. " goda Hendri .
" Sudahlah , aku harus mempersiapkan bahan untuk rapat dan menata jadwal Febri malam ini. Aku pergi dulu ya "
___
Seperti lampu dinding dan lampu gantung yang Febri gunakan. Lampu itu bernama the vellum yang dari brabbu. Lalu ada juga meja tinggi ala burlesque dari koket .
Laura membawa kopernya menuju ke lantai 2, dia ingin membereskan barang-barangnya . Dia kembali dibuat kagum dengan interior kamar yang akan ditempatinya. Kesan minimalis dan mewah memenuhi kamar yang akan ditempati Laura kamar ini terbilang cukup luas dengan kamar mandi di dalam dan walk closet .
Di kamar ini ada kasur king size dan sofa, tidak lupa meja rias dan nakas di sebelah kasur. Laura melebarkan matanya tidak percaya ketika mendekati Diamond dari boca do Lobo yang dilengkapi dengan lampu meja turner dari the lightful. Betapa kayanya seorang Febri Diego hingga menghamburkan banyak uang hanya untuk barang mebel perlengkapan interior kamar ini .
__ADS_1
Jarum jam telah menunjukkan pukul 10 malam , tapi Laura belum juga tertidur . Dia terus bergerak gelisah di atas ranjangnya. Pikiran-pikiran buruk tentang yang akan terjadi padanya jika tertangkap oleh Nathan dan Mona berputar di kepalanya. Akhirnya Laura memutuskan untuk keluar kamar agar tidak memikirkan hal itu .
Langkah kaki Laura terhenti ketika melihat pemandangan kota pada malam hari . Sangat indah , kilauan lampu dan bintang memperindah pemandangan malam ini . Dia berjalan menuju piano yang berada tidak jauh darinya . Laura tidak menyangka Febri bisa bermain piano Gadis itu pun mulai ,menggerakkan jari-jari lentiknya di atas tuts Piano .
Laura terlalu larut dengan permainan pianonya hingga tidak menyadari seorang pria tengah berjalan mendekatinya . Febri Diego , dia langsung pulangsetelah mendengar kabar dari anak buahnya .
Sepanjang perjalanan dia sangat gelisah , pria itu berpikir jika Laura akan menolak Henry untuk pindah . Namun , dia bisa bernapas legah sekarang , Laura sudah berada di apartemennya .
Tubuh Laura membeku ketika melihat Febri sudah berdiri tidak jauh darinya . Pria yang sudah seminggu ini tidak pernah ia lihat . Pria yang selalu memenuhi pikirannya dan selalu menyakiti hati Laura dengan sikapnya pada gadis lain . Pria itu terlihat berbeda dari sebelumnya , terlihat lebih tampan. Rambutnya sedikit dipotong membuat kharismanya semakin menguar. Lengan kemeja yang digulung hingga siku dan jas yang berada di tangannya tidak membuat Kharisma seorang Febri Diego berkurang .
Febri terdiam menatap Laura, Dia sangat merindukan Gadis itu dan ingin sekali memeluk Laura . Tapi mengingat kejadian di klub itu , apa kalau orang masih mau di peluk olehnya? Laura pasti membencinya karena melihat dia dicium oleh Rachel .
~Bersambung
__ADS_1