
Febri yang mengetahui gadisnya sedang dilemah langsung berfikir cepat, dan sebuah ide konsep pernikahan muncul di dalam kepalanya
“Baiklah kita akan menikah di taman, tapi kita lakukan pestanya di dalam ruangan”
“Aku setuju denganmu ”
“Baiklah, aku sudah meminta kakak untuk menemanimu memilih gaun pengantin besok lusa”
“Kamu tidak ikut?”
“Aku harus ke china selama tiga hari. Dan saat itu aku ingin kau menjaga dirimu dengan baik”
Laura mengangguk “aku berjanji tidak akan ceroboh selama kamu pergi” Laura mengangkat tangannya sebagai tanda janji
“Tapi walaupun kau sudah berjanji aku tetap tidak yakin. Haruskah aku membawamu ke China?” mata Febri tidak berhenti menatap laura yang sedang memakan cake-nya
“Aku sudah bisa menjaga diriku sejak orang tuaku meninggal. Tenanglah”
“Tapi saat itu kau belum mengenal Nathan dan Mona” ujar Febri sangat pelan. Bahkan jika Laura tidak berada persis di sampingnya, gadis itu tak akan bisa mendengar Febri
Laura memeluk Febri, berada di pelukan Febri untuk mengumpulkan keberaniannya. Dia harus yakin jika Nathan dan Mona tidak akan menyakitinya saat Febri tidak bersamanya.
“Aku yakin aku akan aman karena orang-orang suruhan mu selalu menjagaku”
“Bagaimana kamu bisa tahu jika aku menyuruh orang untuk menjagamu?”
“Aku menyadarinya saat aku ke supermarket dengan Bibi siang tadi”
“Tapi itu saja tidak cukup sebelum kita menemukan peberadaan mereka” Febri menghembuskan nafasnya kasar
“Bahkan sampai sekarang detective terbaikku belum bisa menemukan mereka”
“Tapi, apakah benar jika anak buah mereka yang tertangkap lebih memilih bunuh diri daripada mengatakan di mana bos mereka?”
__ADS_1
Febri mengangguk “mereka sangat setia dengan majikannya”
“Aah, mungkin saja pikiran mereka di cuci oleh wanita ular itu. Seperti kamu dulu yang lebih mempercayai ucapannya”
“Wanita ular?”
“Itu sebutannya dari aku dan kak Hani. Aah, para karyawan di divisiku juga suka membicarakan dia”
“Aku tidak menggaji kalian untuk bergosip” Laura tertawa, suasana yang tadinya sedikit tegang sekarang sudah menghilang, digantikan dengan suasana ceria dari sepasang kekasih itu.
___
Matahari telah menampakan sinarnya. Suasana sangat sepi menyelimuti apartemen Febri. Sejak pria itu pergi melakukan perjalanan bisnis kemarin, hanya Laura yang menghuni apartemen ini. gadis itu juga tidak mengijinkan bibi untuk datang karena dia bisa memasak makanan untuk dirinya sendiri.
Suara bel berbunyi, tampak seorang wanita cantik di layar interkom. Hanna Diego wanita itu datang keapartemen Febri bersama putrinya untuk menjemput Laura. Hari ini mereka akan datang ke desainer ternama untuk memesan gaun pengantin.
“Maafkan aku membuat kakak harus menunggu” ujar Laura seraya mempersilahkan mereka masuk
“Hanya tinggal berganti baju. Kakak dan Chelsea mau minum apa? Biar aku buatkan”
“Kau ganti baju saja, biar nanti aku mengambil minum sendiri”
Laura berjalan cepat menuju kamarnya. Dia mengganti baju rumahnya dengan mini dress berwarna pink pastel. Gadis itu sangat menyukai warna pink, hingga isi lemarinya didominasi dengan warna pink.
Tak lupa Laura menyemprotkan parfum pada dress yang sedang dia pakai. Penampilannya sudah rapi sekarang. Mereka pergi ke desainer diantar oleh pak Didit, supir pribadi yang Febri pekerjakan untuk Hanna.
___
Laura dan Hanna sedang sibuk melihat-lihat desain gaun gaun pernikahan yang diberikan oleh pelayan di butik ternama. Mereka berdua sangat bingung saat menentukan gaun mana yang pantas di pakai Laura dihari pernikahannya karena semua gaun di sini sangatlah indah.
Mengingat pesta pernikahan akan diadakan di luar ruangan. Akhirnya Laura memilih gaun yang terbuat dari satin sutra, panjang gaun itu diatas lutut tapi memiliki ekor yang terbuat dari brukat terbaik dengan panjang yang menyentuh permukaan tanah. Gaun itu juga memiliki lengan panjang mengingat pernikahannya akan dilakukan di luar ruangan.
__ADS_1
“Kau sangat cantik dengan gaun itu” puji Hanna dengan mata yang berlinang. Tiba-tiba dia merasa iri dengan gadis yang berdiri di hadapannya. Dulu pernikahan wanita itu sangat sederhana, dengan gaun yang sangat sederhana dan tanpa pesta pernikahan.
“Kau sangat beruntung mempunyai Febri sangat mencintaimu. Tolong jaga dia”
“Pasti kak. Aku pasti akan menjaganya” Laura tersenyum pada Hanna, sebelum mengambil ponselnya yang bergetar diatas meja. Pesan itu dari Febri yang berisi bahwa dia akan sampai sore ini.
____
Setelah mendapat pesan dari Febri, Laura memutuskan untuk menjemput pria itu di bandara. Laura pamit pada Hanna dan menyuruh wanita itu untuk segera pulang karena Chelsea sudah mengantuk. Gadis itu baru saja turun dari taksi ketika ponselnya berdering, Febri menelfonnya.
“Aku berada di belakangmu” ujar Febri di sambungan telefon.
Laura langsung menoleh ke belakang. Di sebrang jalan Febri sedang berdiri di samping mobilnya. Gadis itu berlari mendekati Febri yang sudah dua hari ini tak di lihatnya.
“Jangan berlari!” Laura terjatuh di depan Febri tepat setelah pria itu berteriak padanya
Pria itu menolong Laura untuk berdiri lalu membersihkan debu yang menempel di lutut Laura. Febri menghela nafasnya, dia bersyukur karena gadisnya tidak terluka.
“Bukankah sudah kukatakan jangan berlari?” ujar Febri geram, pria itu mendongak menatap tajam kearah Laura
Febri kembali menghela nafasnya ketika melihat tali sepatu kanan Laura yang tidak terikat “Dasar ceroboh, kau harus mengikat tali sepatumu dengan benar” Febri mengikatkan tali sepatu Laura
“Tali sepatu bodoh itu yang melepaskan ikatannya sendiri”
“Bukan tali sepatu, tapi kau yang bodoh. Cepat masuk!” Laura menurut masuk ke mobil begitu saja.
Mereka tidak seperti pasangan pada umumnya yang bertemu dengan kekasihnya setelah tidak bertemu selama 2 hari. Bukannya mengobrol untuk melepas rindu, Febri malah meneruskan pekerjaannya, dia mengambil map yang sedang dibacanya sejak di pesawat. Sementara Laura tertidur sepanjang perjalanan menuju apartemen.
Karena tidak tega membangunkan Laura, akhirnya Febri menggendongnya sampai ke dalam apartemen. Pria itu membaringkan Laura di sofa ruang tengah karena dia sudah tidak kuat menahan berat tubuh Laura. walaupun tubuh Laura tidak terlalu berat, akan tetapi apartemen Febri berada di lantai 30.
Bayangkan saja, pria itu harus menggendong Laura dari pintu utama hingga ke dalam apartemennya. Berdiri di lift dari lantai dasar sampai lantai 30 dengan Laura di gendongannya. Sangat melelahkan bukan?
Pria itu menghela nafasnya setelah membaringkan Laura. Bukan Karena kecapekan, tapi karena melihat luka di lengan Laura. Luka goresan yang didapat saat terjatuh tadi. Febri mengambil kotak obat yang berada di dekat tv lalu kembali mendekati Laura yang masih tertidur pulas.
__ADS_1
~ Bersambung