
Selama mereka berkutat dengan pikiran masing-masing, suasana Hening menyelimuti mereka . Febri berdeham untuk memecah keheningan diantara mereka .
" Apa kamu tidak bisa memainkan lagu bahagia ? dua kali aku melihatmu bermain piano dan kau selalu menyanyikan lagu ballad."
Laura tadi sedang memainkan lagu milik Narsha yang berjudul I'm In Love .
"Semuanya tergantung pada mood ku " jawab Laura singkat .
Febri lebih mendekat pada Laura dan memeluk gadis itu . Ternyata semua tak sesuai dengan apa yang dipikirannya . Gadis itu tidak menolak pelukannya. Senyum Febri mengembang saat menyadari itu .
" Aku sangat merindukanmu Laura Chintya"
Laura tidak menjawab, Dia terdiam diperlukan Febri . Selalu begini , Laura tidak bisa marah pada Febri dan niat untuk melupakan Febri selalu menguap ketika dirinya berada di pelukan Febri seperti sekarang ini .
" Apa kamu juga akan selalu memeluk Rachel seperti ini ?"
"Tidak , aku hanya memeluk dirimu"
" Tapi kau mencium Rachel malam itu" ujar Laura pelan.
Deg!!!
Jantung febrisia akan berhenti setelah mendengar pernyataan itu. Dia tidak menyangka jika Laura akan mengatakan hal itu .
" Dia yang menciumku ."
' Apa ? Rachel yang mencium Febri? apa Wanita itu sudah gila , dia merendahkan dirinya demi membuatku patah hati dan menjauhi Febri' Laura dalam pikirannya. Sepertinya Rachel sangat menyukai Febri , sekarang Laura harus lebih berhati-hati Jika dia tidak ingin kejadian yang kemarin terulang kembali .
"Apa kamu sudah makan ?"tanya Febri saat melepaskan pelukannya .
" Belum ,tadi aku ingin mencari makanan di dapur sebelum langkahku terhenti di depan piano ini"
" Ayo kita membuat makanan sebelum kita mati kelaparan " Febri berjalan menuju dapur . Dia membuka kulkas yang ternyata tidak ada bahan makanannya . Hanya ada minuman kaleng dan susu .
Pria itu mendesah pelan teringat pesanannya pada pelayannya agar tidak membeli bahan makanan dulu untuk 4 hari ini karena Febri ada perjalanan bisnis di Jepang.
" Sepertinya pelayan belum mengisi kulkas dan mereka akan mengisinya besok pagi . Lebih baik kita membeli makanan saja"
" Febri, aku membawa beberapa mie instan tadi . Kita makan itu saja."
__ADS_1
" Tidak ada mie instan untuk malam ini atau kapanpun Laura Chintya." ujar Febri penuh penekanan di setiap katanya .
" Hanya malam ini saja , aku berjanji tidak akan memakan makanan seperti ini lagi . Lagi pula jika memesan Makanan itu sangat membutuhkan waktu yang lumayan lama ."
" Tidak "
" Tapi aku sudah lapar"
" Aku bilang tidak ya tidak Laura Chintya !" Febri menggeram .
" Aku tetap akan memasaknya , jika kamu ingin memesan makanan ya udah pesan saja sana ."
Setelah melalui perdebatan kecil , Akhirnya Febri pun mengalah . Mereka pun memasak mie instan bersama . Laura memasak 3 bungkus mie instan untuknya dan Febri mengutamakan malam mereka malam ini.
" Ini belum 3 menit " ujar Febri saat Laura sudah mengangkat panci mie instannya .
"Berhenti selalu mengikuti aturan "Laura berjalan menuju meja makan yang diikuti oleh Febri .
" Kenapa kau tidak menambahkan telur ?"
Febri kamu tidak tahu cara menikmati mie instan . Jangan dah makan apapun untuk menikmati rasa kaldu ayamnya " Laura mengambil mie lalu meletakkannya di atas Tutup panci sebelum Memakannya.
"Menikmatinya dengan cara begini terasa lebih enak, apa kau tidak pernah menonton TV . Ini sering dilakukan di drama-drama Korea "
Febri tidak bicara lagi dan mulai ikut makan mie instan bersama Laura . Mereka makan dalam keheningan, tidak ada satupun dari mereka yang bicara . Sangat berbeda ketika Febri makan bersama Rachel, dia terus bicara menanggapi Perkataan wanita itu .
Laura tersedak gua mie yang lumayan pedas hingga matanya berair . Hanya memikirkan Rachel saja dia sudah celaka. Febri dengan Sigap mengambilkan segelas air minum untuk Laura .
" Apa yang sedang kau pikirkan hingga tersedak seperti ini ?" tanya Febri tanpa basa-basi .
Laura hanya menggelengkan kepalanya sambil terus meminum air mineral itu hingga habis .
"Haaaah, ini sungguh menyakitkan."
" Laura , untuk beberapa hari ke depan, aku minta kamu berhati-hati . Dan tolong jangan terlalu sering berada di luar apartemen"
"Apa ini karena Nathan ? apa situasi sekarang benar-benar buruk?" kekhawatiran terpancar jelas dari raut wajah Laura .
" Sampai sekarang aku belum bisa menemukan keberadaan mereka . Anak buah mereka yang berhasil ditangkap oleh detektifku lebih memilih bunuh diri dengan pistolnya daripada mengatakan di mana persembunyian majikannya" Febri memijat keningnya , dia sudah lelah dengan rasa kekhawatiran dan ketakutan akan Laura celaka yang terus bersarang dibenaknya .
__ADS_1
Perasaan Laura sedikit senang dengan fakta yang baru saja dia temukan , Febri sangat menghadirkan tentang keadaannya .
" Kamu istirahat lah ini sudah larut "
" Aku akan mencuci ini lalu pergi tidur " lanjut Laura .
" Biar pelayan yang membersihkan ini besok "
" Tidak usah aku bisa melakukannya."
" Baiklah , setelah selesai kau harus masuk ke kamarmu " perintah Febri , dia mencium kening Laura sebelum berjalan menuju kamarnya .
___
Seperti biasa , Laura bangun di saat hari masih terbilang sangat pagi . Setelah merapikan penampilannya , keris itu turun menuju dapur. Di dapur dia melihat seorang wanita berbahaya yang sedang berkutat dengan plastik-plastik belanjaan .
" Selamat pagi Bi " siapa Laura Rama .
" Laura Chintya ?"
" Bagaimana bibi mengetahui Namaku ?"
" Tuan Febri yang sudah memberitahuku kemarin. akan ada gadis bernama Laura Sintia Yang akan tinggal bersamanya ."Laura pun mengganggu paham .
" Bibi akan memasak apa ? Apa aku boleh membantu ?"
"Kamu mau membantu ? tentu saja boleh " ujar bibi. Wanita paruh baya itu menyukai Laura Sejak pertama. Laura gadis yang riang dan baik , pantas saja Febri menyukainya .
Laura dan Bibi terlihat asyik mengobrol sembari menyiapkan sarapan untuk pagi ini . mereka membicarakan banyak hal, Bibi juga menceritakan tentang masa kecil Febri yang membuat Laura terhibur .
" Laura , Tolong bangunkan Febri " ujar Bibi pada Laura yang telah selesai menata meja makan .
"A.. Aku yang akan membangunkannya ? Tidak tidak Bibi saja "
" Cepatlah, nanti dia bisa terlambat "
Laura mengangguk pada Bibi sebelum berjalan menuju ke kamar Febri . Gadis itu sudah mengetuk pintu beberapa kali , namun tidak ada jawaban . Tangannya bergerak untuk membuka pintu , sepi, tidak ada siapapun di sini.
~ Bersambung
__ADS_1