
Ballroom
Febri terlihat sangat sibuk dengan para koleganya yang memberi ucapan selamat ketika ponselnya berdering. pria itu mengambil ponselnya yang berada di saku celananya . ID seller menunjukkan nama detektifnya , detektif kepercayaannya. Segera dia menggeser warna hijau di layar ponsel pintarnya .
" Ada apa?" tanya Febri tanpa basa-basi.
" Jaga Laura, anak buah Nathan sedang mengincar Laura sekarang "
Mendengar nama Laura , tubuh Febri seketika membeku . Dia menutup teleponnya dan berjalan menuju Henry yang sedang bersama Hani . Febri mengatakan jika dia ingin pergi menemui Laura dan menyerahkan pesta ini pada Henry .
Sampai dia di pintu Seorang pelayan memberi coat padanya . Setelah memakai coach, kakinya melangkah lebar menuju kamar Laura di resort .
Beberapa kali dia memencet bel tapi tidak ada jawaban . Pria itu mulai geram , Dia berjalan menyusuri taman dan pantai . Febri mendesah lega ketika melihat Laura berdiri menghadap pantai.
Febri mendekati Laura, pria itu melebarkan coachnya dan memeluk Laura dari belakang. Tubuh Laura yang kecil pun masuk ke dalam coach Febri .
" Febri?" ujar Laura pelan .
" apa aja yang sedang kau pikirkan ?" tanya Febri. pria itu menyandarkan dagunya di kepala Laura . Sedangkan tangannya yang berada di perut Laura mempererat pelukan mereka. Gadis itu menggeleng , tangannya meremas ujung dress yang dipakainya.
" Kenapa kau tidak kembali ke kamar Hmm?" tanya Febri tepat di telinga Laura . Febri itu sedikit merendahkan kepalanya sehingga menjadi sejajar dengan kepala Laura.
" Aku tidak ingin sendirian di kamar ."
" Mau ku temani?" Febri mengeluarkan smirknya. Pria itu mencium pipi Laura , lalu semakin turun ke leher putih Laura. Dia menghirup aromah Laura yang seperti bayi.
"Ayo masuk ke kamarmu, aku tidak iingin berlama - lama di sini dan melihat mereka bercumbu" mata Febri mengarah ke pasangan di samping mereka.
"Tapi aku masih ingin disini, kak Hani pasti belum kembali ke kamar"
"Kau tidak ingin kesepian sendirian di kamar atau kau memang ingin berlama - lama di dalam pelukanku?"
__ADS_1
Wajah Laura memerah setelah mendengar perkataan Febri. Pria itu selalu mengerti apa yang sedang dipikirkannya . Memang sebenarnya Laura masih ingin berada di pelukan Febri , dia tidak ingin jauh-jauh dari Febri. Mengingat waktu magangnya tinggal seminggu lagi. itu berarti hanya tinggal sebentar dia bisa melihat Febri setiap hari . Setelah itu dia akan kembali disibukkan dengan urusan kuliahnya lagi .
" Tapi aku tidak mau kau berada di luar terlalu lama . Aku bisa memelukmu di dalam kamarmu , mungkin di atas ranjang" Febri tertawa kecil menyadari apa yang sedang diucapkannya barusan.
Laura terdiam , dia tidak tahu harus mengatakan apa . Febri selalu saja menggodanya seperti ini . Tiba-tiba dia merasakan pelukan febri semakin erat.
" Febri ?"
" Kita harus masuk ke kamar sekarang!" ucap Febri menggandeng tangan Laura dan berjalan cepat memasuki Resort .
" Aku tidak bisa berjalan cepat dengan heels seperti ini " ujar Laura.
Febri menghentikan langkahnya lalu berjongkok di depan Laura . " Ayo naik " kata Febri tak terbantahkan.
Tidak lama kemudian mereka pun sudah berada di kamar , bukan kamar Laura , melahirkan kamar Resort yang ditempati Febri .
"Febri, sebenarnya ada apa ?" tanya Laura yang bingung dengan sikap Febri yang mendadak menjadi sedikit panik .
" Aku bukan nama kecil berusia 5 tahun yang dengan mudah bisa kau bohongi ."
"Lalu kenapa kau berbohong saat kau mendapatkan teror itu?"
" Apa Kak Hendri yang mengatakannya ?" tanya Laura menyelidiki , dia tidak percaya pria yang dipercayainya memberitahukan hal ini pada Febri.
Febri menggeleng ," Orang suruhanku yang memberitahukan hal itu padaku "
"Ah tentu saja kamu akan mengetahui Apapun yang kamu inginkan . Aku tidak berpikir sampai ke sana"
"Karena kau bodoh " ledek Febri yang diiringi dengan tawanya.
Laura menata Febri malas, selalu saja pria itu mengatakan bodoh . Bukankah Laura sekarang sudah jauh lebih baik daripada saat pertama bertemu dengannya. Sekarang nilai-nilai Laura sudah sangat memuaskan . Dia tidak bodoh seperti yang saya beri katakan lagi .
__ADS_1
____
Hari ini semua karyawan sudah kembali bekerja seperti biasa setelah kemarin lusa mendatangi pesta perayaan perusahaan mereka di pulau . Semua terlihat sangat sibuk dengan pekerjaannya . Laura pun begitu , dari tadi saat dia masuk sampai sekarang tiba waktu makan siang. Gadis itu belum pernah beristirahat sedikitpun . dia harus merevisi laporan yang akan diberikannya pada Febri Siang ini . Setelah selesai merevisi , Laura berjalan menuju ruangan Febri .
"Kak Henry, ini laporan yang diminta Bos " ujar Laura pada Henry yang berada di depan ruangan Febri .
" Masuklah, berikan sendiri padanya " sebenarnya bisa saja Laura memberikan laporan itu padanya tanpa harus menemui Febri , tapi Henry berpikir lebih baik jika Laura bertemu dengan Febri .
Laura mengangguk lalu melangkahkan kakinya memasuki ruangan Febri . Pria itu masih duduk tegap di kursi kebesarannya dengan dokumen berada di tangannya .
" Maaf Pak, ini laporan yang Bapak minta "
Febri mengalihkan pandangannya menatap Laura . " Aku akan melihatnya nanti , Apa kau sudah makan ?"
" Belum Pak , saya bertanggung jawab untuk menyelesaikan laporan ini sebelum jam makan siang berakhir "
" Ikutlah makan siang denganku" Febri berdiri dari tempat duduknya lalu menghampiri Laura . Dia menarik tangan Laura keluar dari ruangannya menuju lift yang akan mengantarkannya ke lantai dasar.
Sebuah mobil berwarna hitam sudah terparkir di depan pintu utama perusahaan . Seorang pegawai menyerahkan kunci pada Febri, tanpa mengucapkan terima kasih pria itu masuk ke dalam mobil yang diikuti dengan Laura.
Di sinilah mereka sekarang , sebuah restoran Italia yang terkenal dengan pastanya . Febri memesan 3 porsi pasta. Laura menata Febri bingung, mereka hanya berdua tidak mungkin Febri memakan dua porsi. dia tidak pernah makan begitu banyak .
" Kenapa memesan tiga pasta ?" tanya Laura bingung.
" Yang satu untuk.." kata-kata Febri terhenti . pria itu mengangkat tangannya sambil tersenyum .
Rachel , Wanita itu menghampiri Febri dan Laura Seraya tersenyum . Dia menyapa Febri lalu mencium pipi pria itu . " aku kira kita hanya makan siang berdua .
Febri tersenyum pada Rachel yang sedang pura-pura ramah. Laura seperti tidak ada di sana , Rachel hanya bicara kepada Febri, Laura melihat keanehan pada diri Febri , biasanya pria itu akan menghabiskan makanannya terlebih dahulu sebelum mengobrol panjang lebar seperti ini .
~ Bersambung
__ADS_1