
Suasana di kamar inap Febri tampak tegang. Beberapa suster sibuk mempersiapkan alat pemberi efek kejut dan suntikan , sementara sang dokter sedang memeriksa alat-alat yang menghubungkan monitor EKG dengan badan Febri . Semua alat masih menempel dengan sempurna.
"Berikan suntikan Adrenalin. " Perintah dokter paruh baya itu Seraya menekan dada Febri .
Setelah dokter memberikan suntikan beberapa saat kemudian monitor EKG menunjukkan garis zigzag . " detak jantungnya lemah , dok" kata suster yang memantau monitor .
" Berikan efek kejut." dokter itu beberapa kali menyentuhkan alat pemberi efek kejut pada dada Febri . Dan akhirnya mereka semua mendesak lega saat detak jantung Febri telah kembali normal.
____
Sudah tiga hari berlalu sejak kejadian menyeramkan itu terjadi hilangnya denyut jantung Febri Laura sangat beruntung karena Tuhan mengabulkan doanya . Saat Gadis itu dipaksa keluar dari ruangan Febri dia tak anti-hentinya berdoa hingga dokter yang menangani Febri keluar dengan kabar baik . Tapi walaupun begitu, sampai sekarang Febri belum juga membuka matanya sama sekali.
" Febri , aku mohon bukalah matamu " pinta Laura di sela tangisnya. Matanya terus saja menatap Febri yang sedang tidak sadarkan diri .
" Laura , istirahatlah . Kami akan menggantikanmu menjaga Febri " kata Hendri , saat dia dan Hani masuk ke kamar inap Febri. dia merasa iba pada gadis yang akhir-akhir ini semakin dekat dengannya.
Laura menggeleng , dia tidak ingin meninggalkan Febri sampai pria itu membuka matanya . Lihatlah penampilan Laura sekarang sudah tiga hari ini Dia tidak makan , dia hanya minum saja . mukanya tanpa polesan apapun . matanya sembab , bibirnya pun pucat . sudah 3 hari ini kerjaannya Hanya duduk di samping ranjang Febri dan menatap pria yang masih setia memejamkan matanya itu .
" setidaknya bersihkanlah badanmu itu , aku sudah membawakan baju untukmu "sambung hani.
" apa dia akan baik-baik saja ?"
" tentu, salah satu keinginan terbesarnya belum terpenuhi, Jadi aku yakin dia akan baik-baik saja" Jawab Henry.
__ADS_1
Laura menatap Henry penasaran " keinginan terbesarnya ?"
" melamarmu di saat kau lulus dengan nilai yang bagus " sambung hani.
" kalau begitu , kapan dia akan membuka matanya Kak ?" Laura kembali meneteskan air matanya .
" Secepatnya Dia akan membuka matanya . sekarang bersihkanlah dulu badanmu itu , lalu makan. aku yakin Febri tidak ingin kau sakit "
" yang Hani katakan itu benar , Febri akan membunuhku jika tahu aku tidak bisa menjagamu" sambungan Henry.
akhirnya dengan langkah gontai Laura mengambil paper bag yang dibawa Hani lalu masuk ke dalam kamar mandi yang ada di kamar rawat Febri , Sebenarnya dia tidak mau meninggalkan Febri barang sedetik pun, tapi dengan berat hati dia pergi karena Hani dan Henry akan terus bicara jika ia tidak segera mandi. Laura melihat wajahnya di cermin , wajahnya memang menakutkan . Bagaimana Febri akan menyukainya Jika dia seperti ini . dia sudah kurang pintar, sekarang ditambah penampilannya yang seperti gelandangan. pasti Febri akan semakin tidak menginginkannya . dengan segera Gadis itu mandi dan memakaikan lipstik Cherry pada bibirnya .
Laura terlihat lebih fresh setelah keluar dari kamar mandi. Hani yang melihatnya langsung menarik Laura untuk duduk di sofa . Hani sibuk membuka makanan yang sudah ia bawa .
selesai Laura makan , Hani dan Henry pamit untuk kembali ke kantor . selama Febri dirawat Henry lah yang mengerjakan pekerjaan Febri . dan Hani tentu saja mengerjakan pekerjaan Laura
selama Laura menunggu Febri , dia tetap dihitung masih bekerja jadi dia tetap akan mendapatkan nilai yang bagus dan gaji penuh .
Febri membuka matanya perlahan menyesuaikan dengan cahaya yang ada di ruangan. Memori sebelum dia tak sadarkan diri berputar di kepalanya seperti film. Ketika Laura disekap , Mona yang menghianatinya dan yang terakhir dia terguling dari tangga bersama Laura . ya bersama gadis yang sangat dia cintai .
" Laura ... Laura Cynthia ?" Lirih Febri.
Laura yang baru saja memejamkan mata langsung menatap Febri , kebahagiaan terpancar dari mata sebabnya .
__ADS_1
" Febria , syukurlah kau sudah sadar . apa Ada yang sakit ? Apa perlu aku panggilkan dokter ?"
Febri tak menghiraukan semua pertanyaan gadis itu . " bagaimana keadaanmu ? Apa kau terluka ?"
Laura menggeleng , " Aku sama sekali tidak terluka , aku akan memberitahu dokter jika senior sudah sadar ." bab langkah Laura melangkahkan kakinya , Tangannya sudah ditahan oleh Febri .
" Aku ingin duduk , Aku ingin melihatmu " ujar Febri .
Laura menekan tombol yang ada di samping ranjang Febri , otomatis bagian atas ranjang itu naik .Laura membenarkan posisi bantal Febri , seketika itu juga Febri menarik tubuh Laura hingga menempel padanya . memeluk Laura dengan potensi seakan Laura akan pergi meninggalkannya .
" Febri, lukamu "Laura Mencoba menjauh , tapi Febri kembali mempererat pelukannya.
" sebentar saja , biarkan aku mengisi energiku " mereka berdua berpelukan selama beberapa menit .
Febri mengakhiri pelukannya dengan kecupan singkat di bibir Laura "Terima kasih " katanya sambil tersenyum. walaupun wajahnya pucat , tapi dia tetap tampan di mata Laura . Oh tidak hanya di mata Laura , tapi di mata semua gadis yang melihatnya.
Laura Diam Terpaku menatap Febri , hatinya berdebar tak karuan. baru saja Febri menciumnya. Febri menciumnya lagi setelah sekian lama dia berusaha menjauhi pria itu .
" Apa yang kau pikirkan?" tanya Febri, dia kembali mencium Laura , sekarang lebih lama dari sebelumnya. bibir mereka hanya menempel namun sarat akan kerinduan yang dirasakan keduanya .
" Aku mencintaimu Laura Chintya. Aku sangat mencintaimu ."
Perkataan Febri membuat pipi Laura merona , walaupun ia tahu Febri tidak menginginkannya, tapi ia tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya .
__ADS_1
~ Bersambung