
Keesokan paginya Laura mau makan sarapannya di kamar . dengan sabar Febri menunggu istrinya sampai selesai makan . pria itu sudah berpakaian rapi untuk berangkat ke kantor , tapi dia ingin memastikan bahwa istrinya memakan semua sarapannya dan juga obatnya .
Gadis itu menghentikan kegiatan makannya lalu menatap Febri . " nafsu makanku baik , jadi kamu tidak perlu khawatir jika aku tidak menghabiskan makananku "
" aku akan menemanimu sampai kamu selesai makan , Jangan membantah dan cepat habiskan makananmu" perintah Febri. pria itu duduk di depan Laura, kedua matanya seakan tidak pernah lelah memandang gadis di depannya .
Gadis itu menurut begitu saja , dia kembali menyiapkan nasi ke dalam mulutnya . dia makan dengan tenang sampai suapan terakhir . Laura meminum air mineral sebagai penutup sarapannya . Laura tidak meminum susu seperti biasanya karena dia harus minum obat.
" minum obat mu " Febri mengambil beberapa kantung obat di nakas .
Inilah salah satu alasannya yang membuat Febri merasa harus menunggu Laura sampai selesai makan . nggak di situ tidak terlalu suka dengan obat , bahkan kemarin malam Febri Memergoki istrinya sedang membuang obat yang seharusnya diminum olehnya.
"aku akan meminumnya nanti"
" jangan membohongiku, kamu pasti akan membuangnya nanti saat aku tidak ada ."
Tidak ada jawaban apapun dari Laura, gadis itu terdiam. Pikirannya melayang pada kejadian tadi malam saat dia membuang obatnya. Saat itu dia menyuruh Febri untuk mengambilkan pudding, karena dia ingin memakan pudding setelah minum obat. Akan tetapi saat Febri sudah keluar dari kamarnya, gadis itu hanya meminum air mineral dan membuang obat-obatan itu ke tempat sampah.
“bagaimana jika aku memberimu ciuman di setiap kau menelan tablet itu”
“tawaran yang bagus. Baiklah aku akan meminum obat-obat itu sekarang” Laura mengambil tablet bulat yang paling besar diantara obat-obat itu lalu menaruhnya di lidahnya sebelum menelannya dengan bantuan air.
Selesai menelan tablet itu, Laura bisa merasakan bibir Febri berada diatas bibirnya. Menciumnya seperti biasanya. Gadis itu tertawa kecil saat melihat perubahan wajah Febri. Pahit, tentu saja bibir gadis itu terasa pahit.
Laura kembali menelan tablet keduanya, dia sengaja menahan rasa pahit dari obat itu di mulutnya sebelum menelan obat itu. Sehingga saat Febri menciumnya, rasa pahit semakin mendominasi bibirnya. Febri yang tahu jika istrinya sedang mengerjainya pun mendesah kasar.
“minum semuanya baru aku akan menciummu” ujar Febri yang tidak sanggup merasakan rasa pahit di bibir Laura lagi
__ADS_1
“masih tersisa 3 tablet, seharusnya aku masih mendapatkan 3 ciuman. Jika aku meminumnya semuanya sekaligus, aku hanya akan mendapatkan satu ciuman”
“aku akan menciummu lama”
Laura tertawa melihat wajah Febri yang sudah frustasi karena harus mencium Laura saat bibir gadis itu terasa pahit. Gadis itu menelan 3 tablet kecil itu sekaligus sebelum Febri menciumnya lagi.
Febri benar-benar menepati perkataannya. Pria itu mencium istrinya lebih lama dari sebelumnya, walaupun di harus mati-matian menahan rasa pahit yang dia rasakan dari bibir Laura.
Pria itu langsung meminum segelas susu miliknya selepas mencium Laura, berharap rasa manis susu itu bisa menghilangkan rasa pahit dari obat yang istrinya minum.
“aku akan berangkat bekerja sekarang. Aku sudah meminta mama untuk mengawasimu, jadi jangan coba-coba untuk membuang obatmu” ujar Febri
Laura mengangguk patuh, dia menahan tawanya dari tadi. Wajah Febri saat menahan rasa pahit sangatlah lucu bagi Laura. dia tidak pernah melihat Febri yang seperti itu sebelumnya “cari uang yang banyak untuk kita honeymoon besok. Aku mencintaimu ” Laura kembali menempelkan bibirnya pada bibir Febri. hanya mengecup lalu menjauhkannya lagi.
“aku tidak mau menciummu lagi saat bibirmu terasa pahit” Febri memakai jasnya lalu mencium kening Laura “istirahatlah. Aku mencintaimu” ujarnya sebelum pergi meninggalkan Laura di kamar mereka.
Laura sedang mengolesi salep di luka memarnya ketika Febri memasuki kamar mereka. Febri berniat mengajak istrinya untuk makan malam bersama. Pria itu duduk di samping Laura lalu mengambil salep yang di pegang istrinya.
“kenapa tidak memanggilku?” tanya Febri
“aku bisa melakukannya sendiri, sayang” Laura menaruh rambutnya ke depan saat Febri mulai menurunkan zipper dressnya.
Febri membantu mengolesi salep pada memar yang ada di punggung Laura. Pria itu sedikit meringis saat melihat betapa besarnya memar pada punggung gadis itu “apa masih sakit?” Laura menggeleng pelan
“bagaimana kau mendapatkan memar sebesar ini?”
Laura mencoba mengingat kejadian saat dia berusaha kabur dari rumah Nathan “mungkin aku mendapatkannya saat aku terguling jatuh ke jurang”
__ADS_1
“ke jurang? Kau jatuh ke jurang?” Febri memastikan bahwa pendengarannya tidak salah
“jurang itu tidak dalam, aku hanya berguling jatuh lalu ada pohon yang membentur punggungku sebelum aku pingsan” Laura menjelaskan kronologi dia mendapatkan memar di punggungnya.
Selesai mengoles salep Febri menaikan lagi zipper dress Nara, lalu memegang bahu gadisnya agar menatap Febri. Pria itu menatap wajah polos istrinya. Sejak Laura mengenalnya, banyak sekali kejadian buruk yang dialami oleh gadis itu. Febri berjanji dalam hatinya bahwa dia akan selalu menjaga Laura dengan baik hingga kejadian buruk tidak akan menimpanya.
Tatapan Febri tertuju pada bibir pink milik Laura. Pria itu mulai mendekatkan bibirnya, menempelkannya pada bibir Laura untuk sejenak sebelum menciumnya. ******* bibir pink milik gadisnya dengan bibirnya. Merasakan rasa manis yang ada di bibir gadisnya.
Laura memejamkan matanya menerima perlakuan Febri. beruntung dia sekarang sedang duduk di atas kasur. Jika dia sedang berdiri, mungkin dia akan merosot jatuh karena kakinya akan meleleh saat Febri menciumnya seperti sekarang ini.
Gadis itu memekik pelan saat Febri mengangkatnya duduk di pangkuan suaminya itu. tangan kanan Febri memegang tengkuk Laura saat dia memperdalam ciumannya. Tangan kiri pria itu pun tak tinggal diam, tangannya bergerak tak tentu arah di perut Laura lalu bergerak turun hingga paha gadis itu. membelai paha gadisnya hingga membuat dress yang sedang Nara pakai tersingkap keatas.
Ciuman Febri berpindah ke leher indah milik Laura, dia menghisapnya sampai menimbulkan bercak kemerahan. Ciumannya pun semakin turun ke dada Laura, gadis itu mendesah saat merasakan getaran aneh akibat perlakuan Febri.
Ciuman Febri kembali ke bibir Laura, merasakan kembali betapa manisnya bibir istrinya sebelum menyudahi kegiatan mereka “kita harus berhenti di sini sebelum aku tak bisa menahan hasratku untuk menidurimu” erang Febri frustasi
Pipi Laura merona saat mendengar kata terakhir Febri, dia menatap suaminya yang terlihat frustasi menahan gejolaknya “kenapa tidak melakukannya sekarang?”
“kau membutuhkan tenaga yang kuat untuk bercinta denganku” Febri memejamkan matanya sejenak untuk menenangkan dirinya “cepatlah sembuh dan kita bisa melakukan hal-hal yang tertunda” bisik Febri dengan penekanan di setiap katanya tepat di telinga Laura sebelum mengecup bibir istrinya. Hanya sebuah kecupan, tidak lebih.
“rapikan tampilanmu sebelum kita turun. mamak, kakak dan Chelsea sudah menunggu kita untuk makan malam di bawah” Laura berdiri dari pangkuan Febri lalu merapikan penampilannya di depan kaca. Gadis itu menaruh sebagian rambutnya kedepan untuk menutupi bercak merah di lehernya.
Febri dan Laura berjalan ke ruang makan sambil bergandeng tangan. Mereka sudah melewati masa-masa yang sangat sulit, dan sekarang adalah waktunya untuk mereka bahagia. Menjadi pasangan suami istri yang sangat bahagia di dunia ini.
Laura memandang Febri yang berada di sampingnya, dia sangat bersyukur karena dia mendapatkan suami seperti Febri. Seorang pria yang sangat mencintainya dan selalu menjaganya. Tak sia-sia selama ini dia berjuang mati-matian untuk mendapatkan Febri, usaha kerasnya selama ini berbuah manis. Sekarang yang Laura inginkan hanyalah menjalani kehidupan ini dengan bahagia bersama suaminya, dan seorang anak. Ya tentu saja dia menginginkan seorang anak yang akan ikut meramaikan kehidupannya.
~ Bersambung
__ADS_1