Febri Dan Laura

Febri Dan Laura
Episode 17


__ADS_3

Hari ini Laura mulai magnag lagi di perusahaan Febri. Setelah kurang lebih 19 hari dia tidak masuk. Hanya Hani dan Henry yang mengetahui alasan sebenarnya dia tidak bekerja.


Saat gadis itu memasuki ruang devisinya, beberapa orang menatapnya seperti orang asing. Mungkin karyawan disini melupakannya karena terlalu lama tidak masuk . Laura terus tersenyum menyapa mereka sampai mejanya.


Gadis itu mendesah ketika melihat tumpukan map yang ada di mejanya, sepertinya malam ini dia harus lembur.


Gadis itu mulai membuka - buka map yang ada di mejanya dan memulai pekerjaannya. Memang sungguh meleahkan setelah libur panjang, sekarang ia harus menyelesaikan tumpukan laporan yang ada di depannya.


Laura terlalu serius bekerja hingga tak terasa hari sudah sore. tinggal beberapa menit lagi , namun pikirannya sudah melayang memikirkan Febri yang sendirian di rumah sakit . 'Iya pasti sangat kesepian, seharian ini hanya di kamar inapnya saja ' pikir Laura .


Gadis itu merapikan meja kerjanya sebelum bergegas keluar . Saat sampai di resepsionis, dia dipanggil oleh Angel , penjaga resepsionis di perusahaan Febri . Laura berjalan mendekati Angel . " Ia ada apa ?"


"ini ada paket untukmu ." Angel menyerahkan kotak yang terbungkus kertas berwarna merah.


" Terima kasih Angel "Laura mengambil kotak itu lalu melangkahkan kakinya keluar dari kantor.


Laura menyusuri jalan menuju halte bus , Sesampainya di halte, dia membuka kotak berwarna merah itu. Laura sangat terkejut sekaligus ngeri ketika melihat isinya . Isi paket itu adalah boneka Barbie yang berlumuran darah dan secarik kertas yang bertulisan.


' kau akan mati Laura Cynthia ' . tubuh Laura bergetar ketakutan . Gadis itu melihat sekelilingnya , tidak ada orang yang mencurigakan namun perasaannya sangat tidak enak . dia membuang kota itu ke dalam tempat sampah sebelum naik ke dalam bus yang akan membawanya ke rumah sakit , tempat di mana Febri dirawat .


Pikiran Laura melayang memikirkan kejadian-kejadian yang akan menimpanya . Bagaimana jika si pengirim kota itu akan membunuhnya sekarang? dia harus meminta pertolongan , tidak mungkin Jika dia menghadapi pembunuh itu sendirian.


Di dalam kepala Laura terlintas nama Febri , pria itu selalu bisa diandalkan dan pasti mau menolongnya . Tapi mengingat keadaannya sekarang , sangat tidak memungkinkan untuk Laura bercerita kepadanya . dengan tangan yang bergetar Laura mencari ponselnyayang berada di dalam tasnya .


dia sudah tahu siapa yang akan membuatnya untuk menolongnya menangkap si pembunuh . Orang itu adalah Henry , sahabat Febri itu telah berjanji akan membantunya.


Satu kali ...

__ADS_1


Dua kali...


Tiga kali ...


Sudah tiga kali lah orang mencoba menghubungi Hendri, tapi tidak ada jawaban . Selalu saja suara merdu sama operator yang menjawabnya . Apa Henry terlalu sibuk sampai dia tidak bisa mengangkat teleponku? Laura menghela napas kasar . Gadis itu mengirimkan pesan kepada Henry untuk segera menghubunginya jika pekerjaannya sudah selesai .


Di depan ruang VIP nomor 9 Laura mengatur nafasnya. dari situ menenangkan dirinya sebelum bertemu dengan Febri dia tidak ingin memberitahu tentang teror yang sedang dialaminya.


Saat dia rasa ekspresinya sudah tenang dia melangkah masuk , terlihat seorang pria sedang serius dengan benda berwarna hitam di tangannya , saking seriusnya sampai dia tidak menyadari seseorang memasuki kamar inapnya .


"Apa keseharian hanya bermain PSP ?" tanya Laura Seraya berjalan mendekati Febri .


Febri mem- pause gamenya , lalu menaruh PSP itu di nakas sebelah ranjangnya. " Kenapa kau baru datang? Apa kau tidak tahu betapa tersiksanya aku hari ini ?"


"Pekerjaanku sangat banyak , sepertinya aku tidak akan betah manggang di perusahaanmu lagi ."


"Sebentar lagi masa mantanku akan selesai , Tolong berikan nilai yang bagus ya presdir." hujan Laura dengan nada yang manja .


"Tidak bisa , kau berhari-hari tidak masuk kerja , Bagaimana bisa kau menyuruhku untuk memberikan nilai yang bagus ?"


Laura menatap Febri malas ."Apa kau ingin berjalan-jalan di taman ? Cuaca sore ini sangat sejuk "Febri pun mengangguk dengan antusias.


Laura membantu Febri untuk duduk di kursi roda . dan di situ mengambil jaket untuk dipakai pada Febri . sekarang sudah memasuki musim gugur membuat suhu di luar menjadi sedikit lebih dingin . Laura mendorong kursi roda yang dinaiki Febri , ia membawa Febri untuk keliling ke taman rumah sakit.


Mereka berhenti di bangku yang terletak di bawah pohon . Daun-daun berwarna kuning dan orange mendominasi Taman ini . Dari sini mereka bisa melihat bunga-bunga yang muncul Selama musim gugur , seperti red Spider Lily , canola dan Cosmos


"Kau sedang memikirkan apa Laura?" tanya Febri yang sekarang sedang menatap Laura lekat .

__ADS_1


Laura yang terkejut dengan pertanyaan Febri segera menggelengkan kepalanya ."A... Aku tidak memikirkan apapun ."


" Aku tahu Sejak pertama kali kau datang , Ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu " Febri masih menatap Laura yang semakin gelagapan ketika Febri melontarkan pertanyaannya lagi .


" Aku memikirkan skripsiku "Dusta Laura, jemarinya saling bertautan untuk meredakan rasa takutnya . Entah kenapa dia takut jika Febri mengetahui teror yang dialaminya .


Febri mengganggu , Namun bukan Febri namanya jika percaya begitu saja dan ucapan Laura. Febri menyadari sesuatu sedang terjadi pada Laura dan Gadis itu mencoba menyembunyikan itu darinya . Secepatnya pria itu pasti akan mengetahui apa yang sedang terjadi melalui orang yang selalu bisa diandalkannya .


Febri Setia menjadi pendengar yang baik , sementara Laura selalu mendominasi pembicaraan mereka sekarang . Setelah memutuskan untuk tidak membahas alasan Laura pembicaraan mereka berlanjut membicarakan hal-hal lain. Aktivitas Laura seharian ini , film , hingga variety show yang sedang booming.


" Aku akan memberimu anak yang lebih lucu daripada song triplets " Febri nyengir .


Blusshh


Pipi Laura langsung merona mendengar perkataan Febri. Gadis itu tertawa pelan untuk menutupi rasa gugupnya . jantungnya terasa akan lepas dan lari dari tempatnya.


"Pipimu merona" bisik Febri di telinga Laura.


Gadis itu bertambah malu saat Febri menegurnya , terkutuklah pipinya yang langsung meronda begitu saja .


"Febri ! berhenti menggodaku "


"Aku merasa aku sedang menggodamu ?" Febri tersenyum geli.


Dering ponsel Laura berbunyi, Laura mengambil ponselnya yang berada di saku coat yang ia pakai. caller id di layar ponselnya menunjukkan nama Henry . garis itu menata Febri seolah meminta izin untuk mengangkat telepon . setelah Febri mengangguk Naura memencet tombol hijau dan berjalan agak menjauh dari Febri .


~ Bersambung

__ADS_1


__ADS_2