
" bagaimana dengan keadaan Mona dan Nathan?"
" mereka berhasil kabur , para polisi kurang cepat mengejar mereka " Laura diam sesaat .
" Apakah mereka akan kembali ? dan membunuhku karena telah membocorkan rahasianya ?" ketakutan sangat terlihat dari suara Laura .
" tidak akan kubiarkan mereka menyentuhmu walaupun hanya sehelai rambutmu . aku akan melindungimu dengan saja " Febri menggenggam erat tangan gadis yang berada di depannya .
suara ketukan terdengar, Seorang suster masuk ke dalam dengan beberapa peralatan di nampan yang di bawahnya .
" Tuan Diego sudah sadar?" Suster itu berdeham kecil.
" maaf mengganggu , saya akan memeriksa keadaan Tuan Diego sebentar " ujar Suster itu membuat Laura sedikit menjauh dari ranjang Febri.
" Bagaimana keadaannya?" Tanya Laura saat Suster itu selesai menulis hasil pemeriksaannya.
" kondisi Tuan Diego sudah membaik, Saya rasa sinar matahari pagi sangat baik setelah beberapa hari ini dia berada di dalam ruangan terus menerus."
" tapi apakah benar tidak apa-apa? Maksudku, Bukankah lu katain baknya parah?"
" lukanya sembuh dengan cepat, jika ada keluhan silakan Panggil kami. Ingin dipertanyakan Kalau tidak ada yang ingin dipertanyakan lagi saya permisi." Laura pun menganggap paham.
Febri kembali menarik Laura untuk dekat dengannya setelah Suster itu menutup pintu. Dia tersenyum melihat Laura yang mengkhawatirkannya, garis itu terlihat sangat menggemaskan di mata Febri.
__ADS_1
" aku baik-baik saja, Jadi kau tidak perlu khawatir lagi."
" istirahatlah, Besok pagi aku akan membawamu berkeliling di taman rumah sakit."
" Kau mau ke mana?" Tanya Febri
" aku akan duduk di sofa" Laura menunjuk sofa yang ada di belakangnya.
Febri menarik Laura sehingga Gadis itu jatuh di ranjang. Febri yang tidur menyamping bisa memandang Laura dengan leluasa. Dia membayangkan hari kelulusan Laura, pada hari itu dia akan melamar Laura. Tapi, jika Kejadian ini terjadi lagi sebelum kelulusan Laura dan dia tidak akan selamat. Dia pasti akan sangat menyesalinya, lalu apa dia harus melamar Laura setelah ini?
" Febri?" Panggil Laura mengembalikan Febri ke dunia nyata.
" kemarin aku bermimpi Jika kau akan meninggalkanku dan aku tidak ingin hal itu terjadi" kata Febri.
Laura terdiam mengingat kejadian sebelum Febri kehilangan denyut jantungnya. Dia mengatakan Jika dia akan pergi dari kehidupan Febri. ' Mungkinkah Febri mendengar semua perkataannya?' Pikirnya. Pikirannya kembali melayang mengingat film yang pernah ia tonton. Di film itu sang suami terus bicara kepada istrinya yang sedang koma, Tak lama kemudian istrinya pun sadar dari komanya. Laura meretuki dirinya yang bodoh sampai hal sepele seperti ini saja tak diketahuinya.
Laura kembali terdiam, baru kali ini dia mendengar permohonan dari seorang Febri Diego. Pria yang terkenal dengan ucapan pedasnya dan perintahnya. Dan sekarang pria itu sedang memohon pada Laura untuk tidak menjahuinya.
Laura mengangguk kecil di pelukan pria itu, pria itu tersenyum lalu mengusap kepala gadis itu dengan lembut. Laura yang merasakan kenyamanan pun tak bisa menghindari rasa kantuknya, dia terlelap di pelukan Febri.
___
Pagi harinya, Henry dan Hani dibuat terkejut dengan pemandangan yang dilihatnya. Laura tidur dipelukan Febri di atas ranjang pasien .
__ADS_1
" rupanya Febri sudah sadar semalam " bisik Henry di telinga Hani . Gadis itu mengangguk Seraya tersenyum melihat Laura yang tidur dengan pulas diperlukan Febri .
Febri yang merasa ada orang memasuki kamar anaknya membuka mata. dia melihat Henry dan Hani berdiri tak jauh dari ranjangnya . perlahan dia melepaskan pelukannya pada Laura dan mencoba untuk duduk .
" aku rasa sia-sia mengkhawatirkanmu saat melihat kalian seperti ini" Sindir Hendri
" ya, Teganya tak memberitahu kami saat kau sudah sadar " sambung hani.
"Ssss, Diamlah kalian . jangan sampai Laura terbangun " Febri menataplah wajah Laura yang masih tertidur pulas.
" Dia terlihat seperti tidak tidur selama setahun " lanjutnya .
" memang dia tidak tidur hanya untuk menunggumu selama kau belum sadar " ujar Hani .
" Benarkah ?" Febri tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.
"harusnya kau melihat seberapa kacanya dia , penampilannya melebihi gelandangan" Henry tertawa setelah menyampaikan pendapatnya .
" aku membawakan pakaian ganti dan makanan untuknya , pastikan Dia menghabiskan makanannya karena saat menunggumu , dia tidak mau makan apapun ."
Febri kembali menatap Laura , hatinya terasa nyeri setelah mendengar perkataan Hani . ' Bagaimana bisa Laura bertindak bodoh seperti itu?Membahayakan dirinya hanya untuk menungguku yang sedang koma, pantas saja jika dia terlihat lebih kurus dari biasanya dan matanya juga terlihat sangat sembab. apa dia menguras air matanya saat aku sedang koma?' Febri terlarut dalam pikirannya tentang Laura sampai melupakan Henry dan Hani yang sedang menjenguknya
" baiklah, sepertinya Presdir kita masih menginginkan waktu berdua bersama Laura . kalau begitu Kami akan pergi ke kantor dulu."ucap Hani menyadarkan Febri .
__ADS_1
" kami akan kembali mengunjungimu setelah pulang kerja " ucap Henry sebelum menghilang di balik pintu.
~ Bersambung