
Laura telah dipindahkan ke ruang rawat inap sejak 2 jam yang lalu, tapi Gadis itu masih menutup matanya . Penyakit maag-nya kambuh , dia juga mengalami dehidrasi dan gejala hipotermia . Kaki jenjangnya penuh dengan luka dan memar akibat hantaman benda yang keras . Punggung sebelah kirinya pun memar.
Febri segera menelpon detektif agar membuat Nathan dan Mona membusuk di penjara setelah mengetahui keadaan istrinya . Penyesalan pun tidak kunjung hilang karena tidak bisa melindungi Laura .
Dulu saat Febri, Laura lah yang menjaganya hingga dia sadar. Sekarang pria itu merasakan apa yang gadisnya rasakan dulu . Kegelisahan dan kekhawatiran memenuhi hatinya . Setengah jiwanya seperti pergi meninggalkan tubuhnya , sama seperti Laura dulu , Febri pun enggan untuk meninggalkan gadisnya barang sejenak .
Keesokan harinya nggak di situ mulai membuka matanya , dia masih merasakan sakit di tubuhnya walaupun tidak separah kemarin . Laura menoleh ke samping , dia melihat Febri yang sedang tertidur sambil menggenggam tangannya . Sinar matahari yang masuk ke dalam ruangannya dan mengenai wajah Febri membuat Gadis itu terpesona oleh ketampanan yang dimiliki oleh suaminya .
" Sayang ..." panggilnya pelan .
Febri langsung bangun setelah Laura memanggilnya . Senyum menghiasi wajahnya saat melihat keadaan istrinya yang sudah membaik . Ke pucatan dari wajahnya telah pergi digantikan dengan wajah segar gadis itu , bibirnya juga sudah memerah seperti biasanya .
" Aku ingin minum" ujar Laura . Febri mengambil gelas lalu membantu istrinya untuk minum .
" Kau sangat kehausan ?" Febri terkekeh saat Laura langsung menghabiskan satu gelas penuh air mineral .
Laura menatap seminya malas ," aku tidak makan sejak kemarin lusa "
" Mereka makan dengan enaknya sementara kau tidak diberi makan ?" tanya Febri tidak percaya , Mona yang dikenalnya dulu sangatlah baik . Dia tetap memberikan minumannya kepada anak kecil yang kehausan Walaupun dia juga sedang kehausan .
" Aku akan membuat perhitungan tentang itu dan kenapa kakimu sampai memar seperti itu? Apa kamu dipukuli mereka ?"
Laura mengangguk lemah , dia kembali mengingat Bagaimana kejamnya Mona yang memukul kakinya dengan tongkat baseball , " wanita ular itu yang memukuli kakiku dengan tongkat baseball "
" Maafkan aku karena tidak bisa menjagamu , sayang."
Petugas yang membawa makanan masuk ke dalam kamar rawat Laura , dia memberikan ke senampan penuh makanan untuk memulihkan kondisi gadis itu . dan dengan telatennya Febri menyuapi Laura hingga semua makanan itu habis . Dia juga tahu jika nafsu makan istrinya ini sangatlah tinggi , jadi tidak heran jika semua makanan habis tidak tersisa dibuatnya . Gadis itu sangat berbeda dengan pasien lainnya , biasanya pasien tidak mau makan saat sakit sedangkan dia , Lihatlah Bagaimana Laura mengalami scan makanannya .
__ADS_1
" Anak pintar " Febri membeli kepala Laura saat Gadis itu minum.
"Sayang, bisakah aku pulang sekarang? Aku tidak mau di rumah sakit lebih lama lagi "
" Kamu harus di sini sampai benar-benar pulih"
" Tapi aku tidak mau di sini " mata Laura mulai berkaca-kaca . Enggak di situ mulai merasa tidak nyaman berada di rumah sakit terlalu lama.
"Bertahanlah hari ini saja dan kita akan pulang besok pagi " Febri memeluk tubuh gadisnya , dia bisa merasakan apa yang sedang dirasakan Laura hanya dengan melihat raut wajah gadis itu.
Febri duduk di ranjang pasien agar istrinya merasa lebih nyaman. Pria itu terus membelai kepala Laura yang bersandar di dadanya . Lama-kelamaan Laura pun tertidur karena terbuai dengan kenyamanan yang Febri berikan.
Belum ada 30 menit Laura tertidur , tapi dia sudah mendapatkan mimpi buruk . Dahinya berkerut dan keringat mulai keluar dari pori-porinya . Sementara tangannya mencengkram erat tangan Febri hingga memerah. Di bawah alam sadarnya, Gadis itu terus memanggil nama ibu dan ayahnya .
Febri mencoba membangunkan Laura dengan menepuk-nepuk pelan pipi istrinya . Dia sangat yakin jika dalam mimpi Laura memutar kembali ingatan saat orang tuanya mengalami kecelakaan . Butuh waktu yang cukup lama hingga Laura terbangun dari tidurnya . Nafasnya di situ masih terengah-engah ketika membuka matanya , tangannya juga masih memegang dengan erat tangan Febri .
" Bisakah istriku pulang sekarang ? dia merasa tidak nyaman jika berada di rumah sakit . Kita lanjutkan perawatannya di rumah saja, bagaimana ?" tanya Febri
Fauzan melihat Febri dan Laura secara bergantian lalu meminta catatan medis Laurayang dibawa perawat di sampingnya. Fauzan tampak serius ketika membaca catatan medis Laura .
" Keadaannya sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. tapi sebaiknya habiskan dulu infusnya dan tunggu beberapa jam lagi ya Nyonya Diego , setelah itu Anda diizinkan pulang."
Febri menatap Laura seolah bertanya apakah dia tidak apa-apa berada di rumah sakit lebih lama lagi . istrinya mengangguk pasrah , mau bagaimana lagi jika dokter sudah berkata seperti itu . Hanya menunggu beberapa jam lagi bukan masalah yang besar bagi Laura asalkan Febri tetap berada di sampingnya .
" Baiklah kita akan pulang setelah infusnya habis ."
Fauzan menulis sesuatu di kertas yang ia pegang, " tebus resep ini , ini adalah obat tambahan sebagai pengganti infus. Jadi istrimu tidak perlu diinfus saat di rumah , tapi walaupun begitu Nyonya Diego tidak boleh beraktivitas hingga lusa " Febri mengganggu paham .
__ADS_1
" Sangat disayangkan kita bertemu lagi dengan keadaan yang tidak menyenangkan . Semoga lekas sembuh ya Nyonya Diego." Ujar Fauzan Seraya tersenyum , memperlihatkan Lesung pipinya .
" Terima kasih Dokter" jawab Laura , Gadis itu memperlihatkan senyumnya sebelum Fauzan dan perawat itu keluar dari ruangan inap Laura .
___
Febri membawa Laura pulang ke rumah besar karena dia merasa istrinya tidak akan kesepian di sini saat Febri mulai bekerja nantinya . Istrinya akan sembuh beberapa hari lagi , oleh karena itu Febri harus mulai menyelesaikan semua pekerjaannya sebelum mengambil cuti untuk liburan untuk berbulan madu bersama istrinya.
Bilang walaupun Laura bilang dia mampu untuk berjalan tapi Febri tetap menggendong istrinya sampai di kamar. Pria itu masih khawatir karena memar di kaki istrinya belum juga hilang .
Saat mereka sampai di rumah, semua anggota keluarga masuk ke dalam kamar Febri untuk melihat keadaan Laura . Mereka terlihat sangat khawatir dengan keadaan Laura yang terlihat sangat lemas . Bibi pun sama, dia juga mengkhawatirkan keadaan Laura . Saat ibu Febri memberitahu Bibi bawa Laura diculik , dia selalu berdoa untuk keselamatan gadis itu .
" Laura, Bagaimana keadaanmu sekarang? kami baru akan ke rumah sakit hari ini." Hana memeluk Laura.
" Aku sudah tidak apa-apa Kak ."
"Bukankah seharusnya Laura masih di rumah sakit sekarang ?" Ibu Febri bertanya kepada putranya yang berdiri di sampingnya .
semua mata tertuju pada Laura, namun Gadis itu hanya memberikan senyumnya .
" Laura merasa tidak nyaman di rumah sakit dan meminta pulang secepatnya " Febri menjawab pertanyaan ibunya.
" Apa Fauzan mengetahui ini?"
" Iya , dia juga sudah memberi obat untuk pengganti infus "
" Mama dan kakak tidak perlu khawatir , aku sudah merasa sangat baik sekarang " ujar Laura. Hana dan ibunya Febri mengangguk paham . Mereka meninggalkan Laura agar Gadis itu bisa beristirahat dengan nyaman .
__ADS_1
~ Bersambung