
"Presdir. Ini sudah dekat dengan rumahku , aku bisa pulang sendiri Setelah membeli ramen ."
" Apa ? Kau masih saja mau makan makanan sampai itu ?" kata Febri menatapnya tidak percaya .
Setelah itu Laura tidak berani mengatakan apapun sampai mereka sampai di rumah Laura . Gadis itu terus menatap keluar , pikirannya melayang memikirkan sikap Febri . Tidak mau bersamanya , seharusnya dia itu menjauhinya ,bukan malah bersikap seperti ini .
Febri juga masih menunjukkan perhatiannya pada Laura . Dan itu membuat hari-hari Laura menjadi . Febri benar-benar sangatlah egois , tidak pernah memikirkan Bagaimana perasaan Laura yang semakin tersiksa setiap harinya.
Sesampainya di rumah Laura , Febri tidak langsung pulang melainkan ikut masuk ke dalam rumah . Sewaktu di mobil tadi Febri sudah memesan beberapa makanan dan Tak lama kemudian makanan itu pun datang . Febri berjalan ke konter dapur untuk menaruh makanan yang dipesannya ke piring dan melihat tempat sampah . it,u hanya dipenuhi dengan bungkusan mie instan ' apa dia tidak memikirkan tentang kesehatan ya ' Pikir Febri .
"Presdir?" Panggil Laura membuyarkan pikiran Febri .
" Laura ! Apa kau tidak mempunyai uang untuk membeli beras dan sayuran untuk kau masak?" tanya Febri .
"A.. Apa?"
" Kenapa kok masih saja memakan makanan sampah itu ?kau harus memikirkan tentang kesehatanmu . Apa kau tidak tahu kalau makanan-makanan yang selama ini kau konsumsi itu sangatlah berpengaruh buruk untuk tubuhmu."
" Ayolah aku sudah lapar dan tidak ingin mendengar celotehan Presdir, lebih baikPresdir diam dan kita makan " Laura mengambil makanan yang ada di konter dapur lalu membawanya ke meja .
Saat makan ,pikiran Laura kembali ke masalah keuangan di perusahaan Febri . Ada uang dalam jumlah besar yang hilang begitu saja . " Presdir" Panggil Laura pelan .
" Apa ?" Febri menjawabnya dengan sinis
"Emm... Aku menemukan data yang tidak sesuai di keuangan perusahaannya . Ada sejumlah uang yang hilang dan ada pembengkakan dana di beberapa proyek bulan lalu . Aku berpikir salah satu karyawanmu ada yang korupsi ." kata Laura pemberitahuan hasil penelitiannya pada Febri.
Febri menghentikan makannya, " apa kau yakin dengan apa yang kau ucap kan itu?" tanya Febri.
Laura mengangguk mantap.
"Lalu apa ada orang yang kau curigai?" tanya pria itu lagi.
"Kak Mona." ucap Laura.
"Tidak mungkin, dia sangat loyal dengan perusahaan. dia tidak mungkin melakukan tindakan hina itu." kata Febri menyangkal dugaan Laura.
"Tapi aku sangat yakin kalau dialah yang melakukannya.."
"Apa kau punya buktinya?"
Laura menggelengkan kepalanya tapi kemudian dia berkata, " tapi aku akan membuktikannya" kata Laura.
__ADS_1
"Jangan sembarangan menuduh orang."
Febri memikirkan perkataan Laura, jika gadis itu benar, Febri tidak akan memberikan pengampunan pada Mona. Tapi yang di tuduh itu Mona, teman masa kecilnya ynag bekerja sangat loyal dengan perusahaannya. Tidak mungkin dia mencuri uang, lagi pula gajinya juga sudah kelewat banyk untuk golongan karyawan perusahaan. Febri segera menepis pikiran buruknya tentang Mona, mungkin Laura salah orang.
____
Jam baru menunjukkan pukul 9 pagi, namun Febri sudah meluapkan kekesalannya pada gadis yang ada di hadapannya. Sesampainya di kantor Febri menyuruh Mona untuk menemuinya. Dia ingin membicarakan soal pekerjaan yang dii berikan kepada mahasiswa magang itu.
Mona berjalan mendekati Febri dengan gerakan yang sangat sensual, pakaian yang minim membuat tampilanya menjadi tambah seksi.
"Jadi kau mempercayai mahasiswa magang itu? Dia terlalu melebih - lebihkan. Aku tidak memberikan pekerjaan yang sangat banyak padanya." kata Mona.
"Aku melihatnya sendiri Mon, dia bekerja sampai larut malam."kata Febri.
"Mungkin dianya saja yang lamban, tapi aku lihat dia memang kurang cekatan" kata Mona, tersenyum miring.
Febri tampak memikirkan perkataan Mona,, mungkin Mona benar . Karena setahu Febri , Laura memanglah kurang cekatan.
" Ada lagi yang ingin kau bicarakan ? Kalau tidak aku akan kembali , aku harus menyiapkan beberapa file untuk meeting nanti ."
Febri mengangguk " maaf atas kesalah pahamanku Mona . "
Mona tersenyum sebelum keluar dari ruangan Febri , dengan langkah Bar - bar Dia berjalan menuju ruangannya. dia sudah mendapatkan ide untuk membalas Laura .
___
Terdapat banyak sekali pintu di setiap lokernya , saat Laura sibuk mencari arsip, tiba-tiba lampu penerangan mati dan terdengar suara pintu dikunci . Laura tidak bisa merasakan apapun lagi , tubuhnya lemas , keringat dingin membasahi tubuhnya .
Nafasnya pun mulai tersengal-sengal , Gadis itu sangatlah takut dengan kegelapan , bukan sekedar takut , tapi dia mengiap trauma claustrophobia. Dan sekarang dia malah terkunci di ruangan ini. Laura ingin berteriak namun suaranya tercekat di tenggorokannya.
Dadanya seperti tidak di masuki oksigen. Ia meringkuk menunggu seseorang untuk menolongnya. Dia berharap teman - temanny amenyadari kalau dia sudah terlalu lama meninggalkan pekerjaannya.
Di sisi lain , Febri yang sedang meeting dilanda perasaan cemas dari tadi ia terlihat sangatlah gelisah , pikirannya terus saja tertuju pada Laura.
"Presdir, anda tidak apa-apa?" tanya Mona .
"Meeting hari ini cukup sampai di sini "kata Febri langsung meninggalkan ruangan . Ia berjalan terbiasa menuju ruangan accouting untuk mencari Laura , namun gadis itu tidak berada di mejanya .
"Tadi dia bilang akan memberikan laporan kepada Kak Mona, tapi sampai saat ini dia belum juga kembali" kata salah satu teman Laura .
Febri mulai panik kaki jenjangnya membawanya ke ruangan CCTV . Dari ruangan ini dia bisa melihat semuanya dan menemukan Laura.
__ADS_1
Febri duduk di depan layar-layar yang menampilkan seluruh ruangan di perusahaannya . Matanya tertuju pada ruangan penyimpanan berkas . Terlihat seorang gadis duduk meringkuk, ruang itu gelap sehingga Febri tidak bisa melihat dengan jelas sosok gadis itu , tapi hatinya mengatakan kalau Gadis itu adalah Laura .
Febri berlari menuju ruangan penyimpanan berkas yang ada di lantai 4 dan meminta petugas keamanan untuk membawakan kunci ruangan tersebut. Begitu pintu terbuka pria itu langsung menyalakan lampu dan masuk ke dalam untuk mencari Laura ,di sini banyak sekali lemari besi yang tinggi-tinggi , di dalam ruangan ini bagai labirin . Febri merututi dirinya yang bodoh karena tidak melihat dengan jelas di mana posisi Laura.
" Laura!"teriaknya namun tidak ada jawaban.
Febri terus berjalan mencari Laura, " Laura Cynthia ."
Laura mendengar suara Febri yang memanggil namanya. Ingin ia menjawab tapi lagi - lagi suaranya tercekat di tenggorokan. Untuk bernapas saja sulit, apalagi berteriak. Dia memegang enggan untuk masuk ke dalam paru parunya.
Tak lama Febri melihat Laura, dari situ menggigil dengan nafas yang tersengal-sengal .
"Ya Tuhan Laura, kau mengidap claustrophobia?" satu hal lagi yang belum ia ketahui tentang gadis itu. Kenapa ia tidak mengetahui apa - apa tentang gadis itu? Padahal gadis itu tahu semua hal tentangnya.
Pria itu melepaskan jasnya lalu memakaikannya keLaura. " Bagaimana bisa kau berada di sini?" tanya Febri.
Febri meletakkan tangannya di punggung dan kaki Laura. Sambiil menggenddong gadis itu ia berjalan keluar menuju ke ruanganya. Ia membaringkan Laura di Sofa yang ada di ruangannya dan menyelimut gadis itu dengan selimut tipis.
____
Dari situ memang belum membuka matanya, namun nafas Gadis itu sudah mulai kembali teratur . mukanya yang pucat masih perlahan-lahan sudah kembali memerah . Sebenarnya Febri ingin membawa Laura ke rumah sakit , tapi Febri ingat kalau Laura sangat takut dengan rumah sakit . Jadi Febri memanggil dokter ke kantornya untuk memeriksa Laura . Laura mengalami tekanan mental dan kehilangan cairan tubuh yang sangat banyak , sehingga jarum infus harus menancap di lengan kirinya.
Sudah 2 jam , tapi Laura masih terlihat enggan untuk membuka matanya. Febri berniat meninggalkannya sebentar untuk menyelidiki siapa pelaku yang telah membuat Laura seperti ini . Tapi dia mengurungkan niatnya saat melihat tangan Laura bergerak . Perlahan Gadis itu membuka matanya , dia mendesah lega karena sekarang sudah tidak berada di tempat yang gelap itu lagi. Laura menoleh dan mendapati Febri yang sedang tersenyum kepadanya .
" Harus berapa kali ku katakan untuk tidak membuatku khawatir ?"
Laura hanya mengedipkan matanya , kesadarannya belum sepenuhnya kembali .
" Siapa yang telah membuatmu seperti ini?"Tanya Febri lagi.
Laura tidak menjawab lagi , dia hanya menggelengkan kepalanya.
" Kok benar-benar tidak ingat ?"
" Aku tidak tahu , saat itu aku sedang mencari berkas dan tiba-tiba saja lampunya Padam Dan aku mendengar suara pintu terkunci " raut wajah Laura menunjukkan bahwa dia sangatlah ketakutan .
" Aku akan ke ruangan CCTV untuk melihat Siapa yang telah menguncimu " Febri berdiri dari duduknya. tapi sebelum ia melangkahkan kakinya , pergelangan tangannya dicengkram oleh Laura.
"Senior, jangan Pergi . aku mohon Tetaplah di sini sebentar saja . Aku berjanji tidak akan mengejarmu lagi jika senior menemaniku saat ini ." kata gadis itu
Febri kembali duduk di samping Laura , tatapan sendu tersirat dari matanya . Mata yang tidak pernah berhenti memandang gadis yang sedang terbaring di sampingnya itu . Tanpa Laura sadari , kata-katanya telah mengacaukan perasaan Febri . pikiran Febri pun melayang menyimpulkan perkataan Laura . Apa Laura sudah tidak menyukainya lagi? Jika benar Laura telah Menemukan Penggantinya , Lalu bagaimana dengannya ?
__ADS_1
~ Bersambung