Febri Dan Laura

Febri Dan Laura
Episode 9


__ADS_3

Sebelum masuk ke kantor Laura memantapkan hatinya dan berdoa agar tidak bertemu dengan Febri. Setelah hari itu Laura menepati perkataannya untuk menjauhi pria itu . Dia menekan perasaannya sebisa mungkin agar tidak menyukai Febri , walaupun ia tahu tindakannya itu sia-sia tapi setidaknya ia telah berusaha bukan ? Di kantor Laura selalu menghindar dari Febri.


Jika mereka menaiki lift yang Sama , Gadis itu akan mengalah untuk keluar . Seperti sekarang ini , walaupun Laura sudah dari tadi menunggu lift tapi ketika Febri datang dan ikut masuk ke dalam lift itu , Laura langsung keluar begitu saja . Tanpa Laura sadari, perilakunya telah membuat Febri sangat geram .


Febri tidak langsung ke lantai 20 di mana ruangannya berada . Dia malah menunggu Laura di depan pintu lift lantai 10. Semua orang keluar menyapa Febri kecuali satu orang .


Gadis yang keluar dari lift tanpa melihatnya , gadis yang selama beberapa hari ini berusaha untuk menghindarinya .


Febri menarik pergelangan tangan Laura agar Gadis itu berhenti berjalan . Namun tak Berapa lama Laura menghempaskan tangannya , Membuat Febri melepaskan tangannya .


Saat Laura mulai berjalan lagi Febri segera menarik bahu Laura dan menempelkan punggungnya di situ ke tembok . Febri tidak peduli Jika ada yang melihat mereka , yang dia inginkan hanya bertanya pada Laura kenapa sikap Gadis itu berubah .


"Presdir, apa yang anda lakukan ?"


" Laura , kita harus bicara."


Laura melihat keadaan sekitar sebelum menatap mata Febri . Untung saja tidak ada orang.


"Tentang apa Presdir? Jika tentang laporan keuangan bisa di tanyakan pada Kak Mona."


"Kenapa kau menjauhiku seakan aku adalah sampah yang harus kau jauhi ?" tanya Febri langsung .


Laura menghela nafas, " Bukankah anda sendiri tidak menginginkanku ? Jadi aku akan mundur secara teratur untuk itu ."


Febri terdiam mendengar perkataan Laura . Dia tidak menyangka pikirannya akan bekerja sangat lambat seperti sekarang . Biasa nya Laura yang seperti ini, tapi hari ini malah Febri yang seperti itu . Pria yang sangat jenius dan selalu berbicara ceplas-ceplos , sekarang terdiam kaku di depan seorang Laura Cynthia .


"Permisi Presdir, saya harus bekerja" Laura melangkah kan kakinya pergi meninggal kan Febri yang hanya mampu menatap punggung gadis yang disukainya pergi .

__ADS_1


____


Jam makan siang telah tiba , Laura pergi ke kantin bersama Hani temannya di bagian accounting. Tidak seperti biasanya, hari ini kantin sangatlah ramai sampai semua kursi pun penuh .


" Semuanya penuh?..." tanya Hani


Laura mengangguk , pandangan nya telah beredar ke seluruh penjuru kantin. Dia melihat dua kursi kosong di sebelah dua pria yang sedang makan .


" Kak, di sana ada kursi kosong ? Tapi..." Laura menuju ke arah pria tadi dengan dagunya .


" Itu Henry , kita bisa makan bersamanya. Ayo." Hani berjalan mendekati mereka yang sedang asyik makan itu . Setelah menyapa , dia duduk di samping Henry .


Sedangkan Laura masih terlihat ragu untuk bergabung bersama mereka . Laura merasa mengenali sosok pria yang duduk di depan Henry dan membelakangi nya itu . Rambut coklatnya , punggungnya , mirip sekali dengan milik Febri . Ya Laura yakin sekali itu Febri , tapi bukan Kak Febri tidak suka makan di kantin perusahaan? Lalu apa yang dilakukannya di sini ? Apa mungkin Laura salah mengenali orang ?


" Laura Apa yang kau lakukan, ayo cepat sini !" Hani sedikit berteriak karena jarak mereka cukup jauh .


" Presdir, apakah kau sudah memeriksa laporan keuangan dengan benar?" tanya Hani tiba-tiba membuat Laura melotot ke arahnya .


" Tentu saja , aku memeriksanya dengan teliti" jawab Febri tanpa mengalihkan pandangan nya dari makanan di depan nya .


" Hei Hani Monalisa! Apa kau meragukan kerja bos kita? Asal kau tahu , dia itu sangat jenius " ujar Hendri dengan nada yang di buat-buat seakan dia sedang marah .


" Aku tidak meragukannya dan aku tahu kalau seorang Febri Diego sangat lah jenius ," jawab Hani dengan cepat


"Hanya saja, Laura menemukan beberapa pembengkakan dana di beberapa proyek kita bulan lalu . " lanjut Hani


Febri langsung menatap Laura tajam, ia tidak percaya gadis di sampingnya akan menyebarluaskan berita yang belum tentu kebenarannya itu . Sementara Laura hanya menunduk , ia takut jika Febri akan membencinya . Tapi bukankah itu lebih baik ? Laura akan mempunyai alasan untuk membenci Febri dan membuang pria itu dari hatinya .

__ADS_1


" Benarkah ? Laura Apakah itu benar ?" Henry terlihat sangat antusias dengan topik pembicaraan ini.


"Iya, dan sekarang aku sedang mengumpul kan bukti-bukti, agar seseorang bisa percaya padaku"


Febri mendesah kasar , " aku sudah selesai , aku akan pergi dulu dan Henry jangan lupa menyiapkan berkas yang diperlukan untuk rapat nanti " Febri berdiri dari tempat duduknya dan berlalu begitu saja .


" Siapa tersangkanya?" Henry masih penasaran.


" Kepala devisi keuangan"


" Oh Mona, aku tahu itu." jawab Henry


" Apa? Kau tahu kalau wanita ular itu melakukan korupsi?" Suara Hani naik satu oktaf.


" Bukan, aku tahu kalau Kepala Divisi kalian adalah Mona . tapi apa kau yakin Laura ?"


Laura mengangguk , dia kembali memasukkan roti ke dalam mulutnya. " apa kau percayaan padaku?" tanya Laura dengan mulut yang penuh berisi roti .


" Tentu saja , karena aku juga sudah mencurigainya sejak lama. Tapi Febri terlalu percaya padanya . walau pun begitu , kau tenang saja aku akan membantu mu."


" Wah kita menjadi satu tim yang kompak untuk membasmi wanita ular itu ." ujar Hani girang . Hani memang sangat membenci Mona sejak awal mereka SMA . Dan saat Laura mulai dekat dengannya lalu mencerita kan semua yang ditemukan nya , Hani langsung memberikan dukungan 100% pada Laura .


Dia juga mau membantu Laura untuk mengumpulkan bukti bahwa Mona telah melakukan korupsi. Dan sekarang dia semakin gembira karena ada satu orang lagi yang akan masuk ke dalam tim mereka . Tim yang dibuatnya sendiri dan diberi nama ' pembasmi hama' sekarang total anggota tim nya ada tiga orang , yaitu Laura , Henry dan dirinya sendiri .


" Aku harus kembali bekerja sebelum Presdir galak kita melontar kan sumpah sarapahnya kepada ku " Henry Melambai kan tangan nya lalu pergi meninggal kan Laura dan Hani .


" Dia lucu sekali" ucap Hani seraya tersenyum , pipi nya merah merona dan mata nya masih saja menatap punggung Henry yang berjalan menjauh . Laura hanya tersenyum melihat tingkah teman nya itu, seperti nya dia menyukai Henry .

__ADS_1


~Bersambung


__ADS_2