Febri Dan Laura

Febri Dan Laura
Episode 40


__ADS_3

Febri duduk di bawah, dengan hati-hati dia membersihkan luka Laura dengan antibiotik lalu mengoleskan salep agar lukanya cepat mengering dan tak berberkas. Dia melakukannya dengan sangat pelan agar tidak membangunkan Laura. Setelah diolesi salep, Febri menempelkan plester.


___ 


Siang ini Nara pergi ke pemakaman ayah dan ibunya. Dia ingin menemui orang tuanya karena seminggu lagi dia akan menikah. Gadis itu meletakan bunga diatas batu nisan orang tuanya lalu duduk diantara dua makan itu.


 


“Ayah, ibu, bagaimana kabar kalian? Maaf aku baru bisa mengunjungi kalian sekarang. Aku sangat merindukan kalian” cairan bening mulai memenuhi mata Laura


 


“Ayah, ibu lihatlah, sekarang anakmu ini sudah tumbuh dewasa. Sekarang aku sudah menjadi sarjana, dan sebentar lagi aku akan menikah dengan Febri. Kalian masih mengingatnya kan? Pria yang selalu aku ceritakan pada ayah dan ibu. Setelah perjuangan yang sangat melelahkan, akhirnya kau mendapatkannya. Bukankah sekarang aku sudah menjadi gadis yang paling bahagia? Aku berjanji akan selalu mencintainya” Laura mengusap air matanya yang telah menetes. Dia merasa sangat sedih karena orang tuanya tidak bisa menemaninya saat dia menikah.


 


Walaupun sudah tiga jam lebih gadis itu berada di pemakaman, tapi dia belum ingin pergi. Dia masih ingin bersama orang tuanya. Menceritakan semua kejadian yang dia alami selama ini, dan sesekali gadis itu terisak oleh tangisnya.


 


Di tempat lain, guratan khawatir bercampur emosi terlihat jelas di wajah Febri. Pria itu bermaksud untuk mengajak Laura makan siang bersama, tapi tidak ada siapapun diapartemennya. Dan saat Febri menelfon Laura, dia mendengar nada dering berasal dari ponsel Laura yang terletak diatas meja ruang tengah.


 


Pikiran buruk tentang Laura melintas begitu saja di kepalanya. Segera dia menyuruh anak buahnya untuk mencari di mana keberadaan gadis itu. walaupun sudah mengerahkan semua anak buahnya untuk mencari Laura, akan tetapi pria itu tidak hanya diam. Dia juga ikut mencari dengan mendatangi tempat-tempat yang sering dikunjungi Laura.


 


Dari café, restaurant, toko buku, hingga perpustakaan yang biasanya di kunjungi Laura telah di masuki Febri dan semuanya tidak menunjukan adanya gadis yang dicintainya itu. Umpatan terus saja keluar dari mulut Febri ketika tidak menemukan Laura di tempat yang ia datangi. aku berjanji akan memasang alat pelacak pada Laura setelah ini.


 


Matahari sudah tenggelam, jarum jam di arloji Kyuhyun telah menunjukan pukul 19:00 KST. Pria itu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi setelah mendapatkan kabar dari salah satu anak buahnya bahwa Laura terlihat berjalan pulang.


 


Mata tajam Febri menatap nyalang punggung Laura yang sedang memasukan password apartemen. Setelah pintu terbuka dengan kasar Febri menarik tangan Laura dan menghempaskan gadis itu ke sofa.


“Dari mana saja kau? Kenapa tidak membawa ponsel? Dan kenapa menyuruh mereka tidak mengikutimu? Tidak tahukah kamu betapa khawatirnya diriku?” bentak Febri


 

__ADS_1


Gadis itu bergetar ketakutan, bahkan dia tidak berani untuk menatap Febri. Laura memainkan jarinya untuk mengurangi rasa takut yang hinggap pada dirinya


“Maafkan aku . Aku…. Aku tadi menemui…”


 


“Jangan keluar dan renungkan kesalahanmu” geram Febri. Pria itu keluar dari apartemen dan menutup pintu dengan keras.


 


Perasaan menyesal menggelayuti Laura. Kenapa dia begitu ceroboh, lupa memberi tahu Febri dan lupa membawa ponsel. Kesalahan yang tak bisa dimaafkan. Laura tahu Febri membentaknya karena terlalu khawatir. Ini semua memang salahnya, telah membuat Febri memarahinya.


 ____


Sudah empat hari Febri tidak pulang keapartemen, mungkin pria itu pulang kerumah besar. Sudah empat hari juga Laura dilanda rasa bersalah. Berkali-kali gadis itu mengirim pesan dan menelfon Febri, tapi tak ada jawaban.


 


Sore ini Laura akan menghadiri pesta pernikahan Henry dan Hani. Dia kembali mengirim pesan pada Febri, menanyakan apakah mereka akan datang bersama. Sama seperti sebelumnya, tetap tak ada jawaban dari Febri. akhirnya Laura memutuskan untuk datang sendiri.


 


Mata Laura menjelajahi seluruh ruangan, dia mencari Febri. Tubuh Laura membeku ketika melihat Febri bersebelahan dengan Rachel. Ya benar, Rachel wanita saingan Laura dulu. Walaupun Febri pernah mengatakan bahwa dia hanya mencintai Laura, tetap saja hati gadis itu kembali merasakan nyeri.


 


 


Gadis itu mengejar Febri sampa di depan Ballroom tempat pesta pernikahan diadakan. “Febri! Ini sudah sangat keterlaluan”


 


Febri menghentikan langkahnya lalu berbalik, menatap Laura yang sedang berjalan mendekatinya sambil menghentakan kakinya kesal “keterlaluan kau bilang?”


“Ini sudah empat hari, dan lusa kita akan menikah”


 


“Kau yang memulai semua ini” ucap Febri datar. Dia tidak menunjukan ekspresi apapun selain wajah datarnya


 

__ADS_1


“Febri, tolong jangan diamkan aku seperti ini. Kalau kau ingin menghukumku jangan dengan hukuman ini”


 


“Lalu dengan hukuman seperti apa?” Febri berusaha menahan tawanya saat melihat Laura frustasi seperti ini. Pria itu berusaha untuk tetap menunjukan ekspresi datarnya


 


Laura menggeleng, dia terdiam sesaat “kalau kamu ingin membatalkan pernikahan kita, batalkan saja. Aku tidak apa-apa tapi jangan diamkan aku seperti ini” ujar Laura tanpa berfikir terlebih dahulu, dan sekarang dia menyesalinya. Bagaimana jika Febri membatalkan pernikahan mereka?


 


Febri tertawa “Jika kau ingin pernikahan kita batal, maka bermimpilah. Aku sudah menginginkannya sejak lama” Febri memeluk Laura erat


“Maafkan aku telah mendiamkanmu tapi ini satu-satunya cara agar kau tidak mengulanginya lagi”


 


Laura memukul dada Febri pelan “Kau sangat menyebalkan” katanya di sela-sela tangisnya


 


Febri menangkupkan kedua tangannya dipipi Laura, menghapus air mata Laura yang membasahi pipinya. Sedangakan mata pria itu terus menatap mata Laura dengan tatapan yang berbeda dari sebelumnya. Sebuah tatapan lembut penuh cinta.


“Jangan menangis, aku mencintaimu” pria itu mencium bibir Laura.


 


Pria itu mengambil sesuatu dari saku jasnya lalu memakaikan benda berwarna perak itu dileher Laura.


“Jangan pernah melepas kalung ini”


 


Gadis itu tersenyum ketika merasakan sebuah kalung swarovski terpasang manis dilehernya. Kalung dengan bandul dua cincin yang saling dikaitkan terlihat sangat apik “Aku tidak akan pernah melepasnya”


 


“Ayo masuk, kita beri selamat pada Henry dan Hani”


 

__ADS_1


Laura mengangguk, dia menautkan tangannya dillengan Febri lalu masuk kembali ke dalam ballroom untuk menemui sepasang raja dan ratu pada hari ini.


~ Bersambung


__ADS_2