
" Selamat datang di FD Company , Aku harap kalian bisa bekerja dengan baik sehingga aku akan memberi nilai yang baik juga untuk kalian nanti . Jika ada kesulitan bertanyalah pada Kepala Divisi masing- masing dan ingat , kedisiplinan adalah nomor satu di perusahaan ini ." ucap Febri melirik ke arah Laura yang masih saja menunjukkan kepalanya. Gadis itu tidak mau menatap Febri.
" Sekarang kalian boleh keluar , kembali bekerja . kecuali Laura Cynthia , kamu tetap di sini !"
Setelah semua keluar Febri berjalan mendekati Laura. Ia menaruh tangannya di pipi laura lalu menyuruh Laura untuk menatapnya.
"Kenapa kau tidak menghubungiku ?" tanya Febri menuntut.
" ponselku hilang , dan saat aku pergi ke cafe , kau sudah tidak bekerja di sana lagi ." dusta Laura . Sebenarnya dia berniat untuk melupakan Febri.
" Aku sangat merindukanmu Laura."bisik Febri tepat di telinga Laura, kemudian ia menarik gadis itu ke dalam pelukannya.
Laura nya dia menerima perlakuan Febri , Gadis selalu berpikir lambat ketika berhadapan dengan seorang Febri Diego . Dalam hatinya ia berteriak ' aku juga merindukanmu Febri Diego' tapi raganya hanya diam saja . ia ingat dengan kata-kata terakhir Febri .
Febri bilang jika dia tidak ingin berpacaran dengan Laura . Dada gadis itu tiba-tiba menjadi sesak , bagaimana dia bisa melupakan Febri jika pria itu terlalu manis seperti ini ? Matanya pun mulai berkaca-kaca .
" Maaf Pak, saya harus kembali bekerja ." ujar Laura , suaranya tercekat menahan tangis .
" Makan siang lah bersamaku " Febri melepaskan pelukannya, dan membiarkan Laura pergi.
" Tidak bisa , aku harus menyelesaikan laporan yang akan diperiksa setelah makan siang "
" Aku tidak menerima penolakan Laura Chintya !"
Laura mengangguk sebelum akhirnya meninggalkan ruangan Febri. jantungnya bekerja lebih cepat karena perlakuan Febri tapi hatinya sakit jika mengingat perkataan terakhir Febri.
Kenapa dia harus bertemu lagi dengan Febri ? Dia sudah susah payah untuk melupakan Febri sedikit demi sedikit setiap harinya tapi hari ini dia kembali merasakan kehangatan pelukan Febri , dia kembali terjerumus semakin dalam pada perasaannya terhadap pria itu.
" Kenapa kamu lama sekali di ruangan Presdir? Padahal yang lain sudah kembali sejak tadi " kata Mona dengan nada menyelidiki .
"Presdir mengingatkanku agar lebih disiplin, karena tadi aku terlambat masuk ke ruangannya ."
" Kerjakan ini semua dan ini harus selesai besok pagi" belum sempat Laura menjawab, Mona sudah pergi begitu saja . Laura melihat tumpukan kertas di atas mejanya lalu mendesah, belum ada sehari yang bekerja tapi pekerjaannya sudah menumpuk seperti ini .
Jam sudah menunjukkan waktu istirahat tapi Gadis itu masih saja sibuk dengan pekerjaannya sampai tidak menyadari ada seorang pria tampan berdiri di hadapan meja kerjanya.
__ADS_1
"Kau melupakan janji makan siang bersamaku " ujar Febri . Laura mengalihkan pandangannya Gaara pria yang berada di depannya .
"Febri? Mmm... Maksudku Pak. Maaf aku tidak bisa , karena aku harus menyelesaikan laporan ini secepatnya." kata Laura .
"Lupakan laporan itu, dan ayo kita pergi " Febri menarik tangan Laura .
Laura mengikuti langkah Febri ,mereka berjalan menuju basement tempat mobil Febri terparkir, dan tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang sedang menatap mereka dengan tatapan sinis .
___
" Pak, kenapa kita tidak makan di kantin perusahaan saja ? aku harus kembali bekerja secepatnya "
" Aku tidak suka makan di sana , di sana terlalu ramai ."
Laura dan Febri makan di restoran elite di daerah Gangnam . Keheningan menyelimuti mereka . Laura sesekali melirik Febri yang sibuk dengan makanannya . Selang beberapa saat pria itu meletakkan pisau dan garpu, lalu mengambil tisu untuk mengelap bibirnya. Kedua tangannya diletakkan di atas meja dengan siku sebagai tumpuannya .
" Jadi bagaimana keadaanmu?" tanya Febri memecahkan keheningan .
" Seperti yang bapak lihat , saya-baik , sangat baik" jawab Laura
" Aku butuh penjelasan kenapa kau tiba-tiba menghilang Laura Chintya ."kata Febri penuh penekanan di setiap perkataannya.
" Bukankah aku memang seharusnya menghilang dari kehidupanmu ? Kau tak menginginkanku, dan jika aku tetap bersamamu itu hanya akan menyiksaku , Bisakah kau memahami perasaanku?"
"Bukankah aku sudah bilang aku mencintaimu ?"
" Ya memang kau mengatakannya , tapi kau bilang Aku Tak pantas untukmu. Dan kini aku menyadari ,aku memang tak pantas denganmu ."
" Aku yang menentukan kau pantas atau tidak " geram Febri .
" Aku hanya ingin kau berubah menjadi lebih dewasa , aku tahu jika kau terus mengejarku seperti dulu kau akan tetap seperti itu . Tapi lihatlah sekarang, kau sudah berubah menjadi gadis yang pintar dan lebih dewasa."
Laura terdiam mendengar perkataan Febri .
" Kenapa cara berpikirmu masih saja lamban ? Dasar bodoh ."
__ADS_1
"Berhenti mengataiku dengan sebutan bodoh , aku sudah tidak bodoh lagi, apa kau tahu aku setiap semesternya mendapatkan IP cumlaude berapa semester ini . " dengus Laura .
" Lalu... Apa sekarang kita pacaran?" tanya Laura hati-hati . Sebenarnya ia tidak mau menanyakan hal ini lagi , tapi sikap Febri yang tidak mau memperjelas hubungan mereka membuat Laura sangat ingin menanyakannya .
" Belum..."
" Belum?" ulang Laura dengan tetapan tak percaya .
" Apa kau sudah selesai makannya? Aku ada meeting jam 2." Laura mengangguk , mereka pun pergi meninggalkan restoran untuk kembali bekerja.
___
Seminggu magang di perusahaan Febri membuat seluruh badan Laura terasa sangat sakit. Bayangkan saja , Laura harus duduk di depan komputer dari pagi sampai malam . Terkadang ia harus bolak-balik ruangan presdir dan ruang arsip .
Ia ingin menyerah pada hari ketiga , tapi Laura meyakinkan dirinya kalau dia bisa bertahan sampai masa magangnya habis . Sekarang Gadis itu sedang meneliti keuangan dari 3 bulan lalu sampai bulan ini .
Ia menemukan kejanggalan pada beberapa berkas yang ada di depannya . Sepertinya ada seseorang yang melakukan korupsi , Laura sudah melaporkan ini pada Mona , tapi wanita itu menyuruh Laura untuk membiarkannya , dan bahkan wanita itu menyuruh Laura untuk berhenti melanjutkan penelitiannya .
Bulan sudah muncul dari beberapa jam yang lalu . Semua bagian accouting juga sudah pulang , hanya tinggal Laura seorang yang masih setia dengan pekerjaannya . Sebelum pulang Febri menyempatkan datang ke ruang accounting untuk menemui Laura. Febri berdiri di depan meja Laura sambil berdeham .
"Presdir, Apa ada yang bisa saya bantu ?" tanya Laura
" Ini sudah waktunya pulang , kenapa kau masih di sini ?" Tanya Febri
" Aku masih punya banyak pekerjaan, dan aku harus menyelesaikannya secepat mungkin" jawab Laura sambil melirik tumpukan kertas di sebelah komputernya .
" Aku rasa pekerjaan Mahasiswa magang tidak sebanyak itu ." kata Febri mengernyitkan dahinya.
" Tapi Presdir bisa lihat sekarang, aku harus dibayar mahal untuk semua rasa sakit di tubuhku." balas Laura sambil memijit bahunya yang sudah terasa sangat pegal .
" Sudah hentikan , kau harus pulang sekarang . ini sudah jam 10.30 " Febri meraih tangan dan tas Laura .
Saat mereka berjalan menuju tempat parkir , suasana di kantor sangatlah sepi . Mungkin mereka berdua adalah orang terakhir yang keluar dari kantor itu . Febri melajukan mobilnya menembus malam yang sepi.
"Presdir , tolong berhenti di minimarket depan , aku harus membeli sesuatu ."
__ADS_1
"Tidak."
~ Bersambung